NovelToon NovelToon
Jejak Cinta Nirmala

Jejak Cinta Nirmala

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / CEO / Percintaan Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama / Berondong
Popularitas:420
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Nirmala Dizan tak pernah menyangka bahwa ia akan mendapatkan ujian yang begitu besar dan tak terduga. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan dan kemudian ia harus menghadapi kekejaman dunia bisnis yang penuh intrik sendirian. Di saat dirinya putus asa terbitlah sebuah asa, pertemuan dengan Aleandra Nurdin seorang mahasiswa yang mampu mengubah hidup Nirmala yang kelam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kekacauan yang Terjadi

Rini tersenyum tipis. Di barisan depan, para bankir dan pejabat yang telah ia ancam hanya bisa menunduk, tak berani menatap mata sang ratu yang haus darah itu.

Tepat saat Rini hendak mengangkat segelas sampanye untuk merayakan kemenangannya, pintu ganda ballroom yang setinggi lima meter itu terbanting terbuka. Suara benturannya bergema seperti guntur, membungkam pidato Rini seketika.

Tiga sosok melangkah masuk menembus cahaya lampu sorot. Di tengah, Januar Suteja berdiri tegak dengan setelan jas hitam yang rapi, meski gurat kelelahan dan dendam masih tertinggal di wajahnya. Di sisi kirinya, Aleandra Nurdin melangkah dengan waspada, matanya menyapu ruangan layaknya seorang prajurit. Dan di sisi kanannya...

Nirmala Dizan.

Gadis itu tidak lagi mengenakan daster lusuh. Ia mengenakan gaun sutra biru tua yang sederhana namun memancarkan aura seorang putri yang sesungguhnya. Rambutnya terurai, wajahnya tenang namun matanya berkilat penuh tekad yang tidak bisa dipatahkan.

"Hentikan sandiwara ini, Bibi Rini!" suara Nirmala membelah keheningan, jernih dan kuat.

Seluruh tamu undangan terkesiap. Para jurnalis dari berbagai media nasional yang meliput acara itu segera mengarahkan kamera mereka, lampu kilat menyambar-nyambar seperti badai petir.

Januar melangkah maju menuju podium, mengangkat sebuah map cokelat tinggi-tinggi. "RUPS ini tidak sah! Segala keputusan yang diambil oleh Elias Dizan dan Rini Susilowati atas nama Dizan Holding adalah ilegal di mata hukum!"

"Apa-apaan ini?!" bentak Elias yang duduk di kursi direksi, wajahnya memucat seketika.

"Ini adalah surat pernyataan resmi yang ditandatangani oleh Nirmala Dizan sebagai ahli waris tunggal dan pemegang saham mayoritas mutlak mendiang Marwan Dizan!" seru Januar, suaranya menggelegar melalui mikrofon cadangan. "Nirmala tidak pernah memberikan kuasa kepada Elias Dizan. Segala dokumen yang kalian tanda tangani selama sebulan terakhir adalah hasil manipulasi dan pemalsuan wewenang. Rini Susilowati, kau tidak punya hak atas satu rupiah pun di gedung ini!"

Kekacauan pecah. Para pemegang saham mulai berdiri, berbisik panik. Media berebut mendekati podium. Rini hanya berdiri mematung di belakang mik, tangannya mencengkeram pinggiran podium hingga kuku-kukunya yang merah meruncing seolah ingin menembus kayu.

****

Rini menundukkan kepalanya sejenak. Bahunya mulai berguncang. Semua orang mengira ia akan menangis atau pingsan karena skandal ini terungkap di depan publik. Namun, perlahan, suara itu muncul.

"Mmph... Hmph... Hahahahahaha!"

Rini mendongak, tawanya meledak lebih keras dari biasanya. Ia menarik selendang sutranya, menutupi mulutnya sambil tertawa histeris hingga air matanya membasahi kain tersebut. Ia sama sekali tidak terlihat panik. Ia terlihat seperti seseorang yang baru saja mendengar lelucon terbaik di dunia.

"Nirmala sayang... Januar yang malang..." Rini menyeka ingusnya dengan tisu, matanya berkilat penuh kegilaan yang murni. "Kalian pikir selembar kertas bisa menghentikan badai yang sudah kukirim?"

Rini melirik ke arah balkon lantai dua ballroom. "Kalian bicara soal hukum? Di dunia ini, hukum hanya milik mereka yang punya senjata paling banyak."

Tiba-tiba, Rini menjentikkan jarinya.

TARRR! TARRR!

Suara desing peluru memecah langit-langit kristal ballroom. Pecahan kaca jatuh menghujani tamu undangan seperti hujan berlian yang mematikan. Jeritan ketakutan pecah seketika. Para sosialita dan pengusaha kaya merangkak di bawah meja, mencari perlindungan sementara para jurnalis berusaha menyelamatkan kamera mereka.

Dari lantai balkon, muncul sepuluh pria berseragam taktis hitam tanpa atribut resmi. Mereka menenteng senapan serbu otomatis. Wajah mereka kasar, berlatar belakang konflik yang jauh dari tanah ini.

"¡Aseguren las puertas! ¡Nadie sale de aquí vivo sin el permiso de la Reina!" (Amankan pintu! Tidak ada yang keluar dari sini hidup-hidup tanpa izin sang Ratu!)

Suara dalam bahasa Spanyol itu menggelegar, memerintah dengan otoritas yang brutal. Itu adalah anggota kartel Kolombia yang selama ini menjadi sekutu bayangan Rini. Mereka tidak peduli pada kamera media; mereka hanya peduli pada perintah wanita gila yang berdiri di podium.

****

Nirmala terpaku, Ale segera menariknya ke belakang pilar beton yang besar. Januar mencoba berlari ke arah Rini, namun sebuah tembakan di dekat kakinya membuatnya terpaksa tiarap.

Rini berdiri di tengah panggung yang kini bersimbah cahaya merah dari lampu darurat. Ia melebarkan lengannya, membiarkan selendang sutranya berkibar tertiup angin dari ventilasi yang rusak. Di sekelilingnya, desing peluru masih sesekali terdengar, menghancurkan botol-botol sampanye dan dekorasi mewah.

"Kalian ingin Dizan Holding?" teriak Rini di sela tawa histerisnya. "Ambillah! Tapi kalian akan menerimanya dalam keadaan terbakar! Jika aku tidak bisa memilikinya, maka tidak akan ada seorang pun yang bisa!"

Liana, asistennya, berdiri di sampingnya dengan wajah dingin, memegang sebuah detonator kecil. Rini menatap Nirmala yang bersembunyi di balik pilar dengan pandangan haus darah.

"Pesta ini baru saja dimulai, Keponakanku tersayang," bisik Rini, suaranya tertutup oleh teriakan dalam bahasa Spanyol yang terus menggema di seluruh ruangan.

Bau mesiu memenuhi udara yang tadinya beraroma parfum mahal. Di tengah kepanikan massal dan todongan senjata otomatis, Nirmala menyadari bahwa surat pernyataan di tangan Januar kini hanyalah selembar kertas yang tak berdaya melawan peluru-peluru kartel.

Keberanian Ale, ambisi Januar, dan hak waris Nirmala kini sedang diuji di bawah laras senapan para algojo asing.

****

Debu dari langit-langit kristal yang hancur masih melayang di udara, bercampur dengan bau mesiu yang menyengat lubang hidung. Jeritan para tamu undangan kini berubah menjadi isak tangis yang tertahan di bawah todongan moncong senjata para pria Kolombia. Di tengah kekacauan itu, Rini Susilowati berdiri tegak di atas podium, wajahnya berseri-seri seolah ia baru saja menerima tepuk tangan berdiri, bukan desing peluru.

"Januar... kau pikir keberanian bisa mengalahkan peluru?" suara Rini melengking, membelah keheningan yang mencekam.

Januar Suteja tidak menjawab. Matanya menyala oleh amarah yang purba. Dengan gerakan yang tak terduga, ia menyambar sebuah botol sampanye besar dari meja terdekat dan melemparkannya ke arah lampu sorot, menciptakan ledakan cahaya dan percikan api yang membutakan sesaat.

"Ale! Bawa Nirmala ke pintu darurat sekarang!" teriak Januar.

****

Pertarungan pecah dalam sekejap mata. Dua orang anggota kartel melompat dari balkon, mendarat dengan dentuman berat di atas meja prasmanan yang hancur. Aleandra Nurdin, dengan insting atletnya, menarik Nirmala di belakang tubuhnya. Saat salah satu pria asing itu mengayunkan pisau taktisnya, Ale menghindar dengan gerak tipu yang cepat, lalu mendaratkan pukulan telak ke rahang lawan hingga pria itu terkapar menabrak dekorasi bunga.

Namun, Januar adalah sasaran utama. Pria itu menerjang ke arah panggung, berusaha mencapai Rini. Ia bergulat dengan salah satu algojo berwajah kasar. Tinju bertemu daging, darah menyiprat ke atas dokumen-dokumen RUPS yang kini terinjak-injak. Januar berhasil merebut sebuah pistol dari pinggang lawan, melepaskan dua tembakan ke udara untuk menciptakan celah.

"Nirmala, pergi!" raung Januar sambil menahan lengan pria Kolombia lainnya yang mencoba mencekik lehernya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!