Dibenci atasan dan rekannya, itulah Rangga. Dia memang seorang polisi yang jujur dan baik, Rangga semakin disukai masyarakat karena paras tampannya.
Inilah kisah Rangga yang siap dan bekerja keras menyelesaikan berbagai kasus kejahatan. Suatu hari sebuah kasus menuntunnya pada titik terang menghilangnya kakak iparnya. Kasus itu juga membawanya kembali bertemu dengan kakak kandungnya. Maka saat itulah Rangga menyusun rencana balas dendam. Ia tak akan peduli dengan siapapun, bahkan atasannya yang bobrok dirinya hancurkan kalau perlu. Bagaimana ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12 - Membuktikan
Wajah Rangga memerah karena dua perempuan melihatnya dalam tampilan setengah telanjang.
"Ini ada yang kami mau bicarakan. Makanya kami masuk," ujar Astrid yang masih terpana.
"Kalian duduk saja dulu ya. Aku mau pakai baju," sahut Rangga sembari beranjak masuk ke kamar.
"Nggak perlu pakai baju juga nggak apa-apa, Ga!" balas Astrid. Ia tersenyum senang. Namun saat melirik Cindy, dirinya dipelototi tajam. Meskipun begitu, Astrid tak peduli, dia malah balas menatap tajam. Baginya Cindy hanyalah bocah ingusan.
"Astrid!" tegur Rangga dari kamar. Dia bergegas mengenakan pakaian.
"Tuh kan. Rangga kenal sama aku. Jadi dipastikan aku bukan orang asing baginya!" ungkap Astrid. Dia lalu merangkul Cindy dan berbisik, "Asal kau tahu ya, aku dan Rangga bahkan pernah pacaran. Bisa dibilang aku mantannya. Sampai sekarang sepertinya kami masih sulit saling melupakan..."
Cindy tampak kaget. Dia langsung memasang ekspresi kecewa. "A-aku masih nggak percaya..." ungkapnya dengan perasaan goyah.
"Ya sudah, pastikan saja nanti sama Rangga. Aku pergi duluan, sudah telat ternyata." Astrid bergegas meletakkan plastik ke atas meja makan.
Bertepatan dengan itu, Rangga keluar dari kamar.
"Ga! Itu aku belikan kamu lontong sayur. Tapi aku harus pergi sekarang. Aku sudah telat," ujar Astrid. Dia segera berlari keluar dari rumah.
"Oh iya, Trid. Makasih," tanggap Rangga. Kini dia menatap Cindy yang masih berdiri mematung di tempatnya.
"Cindy? Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan?" tanya Rangga.
"Apa benar kau dan cewek tadi pernah pacaran." Cindy balas bertanya.
"Emm... Iya, pernah," jawab Rangga.
"Benarkah? Lalu apa kau masih menyukainya?" Mata Cindy tampak berkaca-kaca.
Rangga sempat terdiam. Dia berpikir ini adalah kesempatannya untuk membuat Cindy menjauh dan berhenti berharap padanya. Jujur saja, Rangga merasa tidak nyaman dengan perhatian gadis itu yang terbilang terlalu ketara. Hampir setiap hari Cindy memberi sesuatu kepadanya. Septi saja tidak sampai seperti itu kepada dirinya. Lagi pula Cindy masih sangat muda, Rangga tak mau dirinya menyia-nyiakan waktu gadis itu.
"Aku rasa begitu... Kemarin tanpa sengaja kami bertemu lagi. Aku sangat--"
Brak!
Ucapan Rangga terpotong karena Cindy membanting kotak bekalnya.
"Ternyata kau sama saja seperti lelaki lain!" geramnya. Lalu pergi dengan langkah menghentak dari rumah Rangga.
Rangga mendengus kasar. Dia tentu merasa bersalah, tapi dirinya tak punya pilihan lain. Rangga tak mau memanfaatkan perasaan gadis muda seperti Cindy hanya untuk mendapat makanan.
Rangga segera mengambil kotak bekal milik Cindy yang terjatuh. Dia buka kotak bekal itu.
Senyuman tipis terukir di wajah Rangga. Isi bekal Cindy terasa begitu tulus. Akan tetapi pikiran Rangga justru teringat pada kakak iparnya. Siapa lagi kalau bukan Dita. Perempuan itu dulu rajin menyiapkan bekal untuknya. Masakan Dita bahkan selalu enak.
"Kangen lagi deh..." gumam Rangga. Faktanya dia masih menyukai Dita, bukan Astrid.
Di sisi lain, tepatnya di polsek Batu Wangi, Pak Adi menyuruh Riki dan Gary memasukkan Dian ke penjara. Mumpung gadis itu sedang tidur lelap.
"Terus gimana selanjutnya, Ndan?" tanya Riki.
"Aku akan beritahu Pak Tony kalau pelakunya sudah ditangkap," jawab Pak Adi. Dia segera menghubungi Pak Tony yang tak lain adalah ayah dari Nadia.
Sementara di dalam penjara, Dian terbangun. Hawa dingin penjara yang menusuk membuat tidurnya tak tenang. Dia sama sekali tak kaget saat menemukan dirinya ada di dalam penjara.
"Aku akan bertahan demi kamu, Dek..." gumam Dian sambil mengingat Mirna. Dia menggenggam kalung liontin hadiah dari adiknya.
Tak ada yang tahu, dibalik dendam Dian, ada cerita pilu yang tidak diketahui orang lain. Dimana sebenarnya Mirna adalah korban pembullyan dari Nadia dan Fira. Bahkan ada video telanjang Mirna yang tersebar karena ulah dua gadis tersebut. Karena video itu, Mirna dikeluarkan dari sekolah dan dikucilkan. Alhasil akibat tekanan itu, Mirna memutuskan mengakhiri hidupnya sendiri dengan menggunakan seutas tali yang digantung di tiang kamar rumahnya.
Dian semakin marah, saat dirinya mencoba menuntut Fira dan Nadia, dia malah disudutkan. Tidak ada orang yang mau membantunya. Kekesalannya bertambah dua kali lipat saat melihat Nadia dan Fira tertawa gembira, mereka terlihat menjalani hidup dengan tenang tanpa ada rasa bersalah. Sehingga Dian pun tak punya pilihan selain membalas dengan caranya sendiri.
udahlah gk mau aku jodoh"in lg,kumaha km we lah rangga rek dua" na ge teu nanaon,kesel
Untuk Dita & Astrid harus nyadar diri bahwa cinta tak harus memiliki & harus merelakan bahwa mereka berdua adalah masa lalu bukan masa depan Rangga & mereka berdua harus nyadar diri mereka gak bersih kelakuanya = Rangga 😄