Dibuang karena bukan anak laki-laki, Sulastri dicap aib keluarga, lemah, sakit-sakitan, tak diinginkan.
Tak seorang pun tahu, dalam nadinya berdenyut kuasa Dewi Sri, sang Dewi Kehidupan. Setiap air matanya melayukan keserakahan, setiap langkah kecilnya menghidupkan tanah yang mati.
Saat ayahnya memilih ambisi dan menyingkirkan darah dagingnya sendiri, roda takdir pun mulai berputar.
Karena siapa pun yang membuang berkah, tak akan luput dari kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sri Lestari
"Suryo Wibowo! Lepaskan keponakanku!"
Kang Jaka Hidayat berlari menerjang ke arah Suryo.
Matanya menyalang merah, tak peduli meski Suryo kini berdiri gagah di samping mobil hitam mengkilap.
Tangan Kang Jaka yang kapalan karena mencangkul itu mengepal, siap menghajar wajah licin adik iparnya yang sombong itu.
Suryo mengernyit jijik, melepaskan cengkeramannya pada lengan kecil Sulastri.
"Dasar orang kampung gila," rutuknya.
Tubuh mungil Sulastri, merosot lemas.
Kang Jaka tidak jadi memukul, ia dengan sigap menangkap tubuh keponakannya sebelum menyentuh tanah berdebu.
Lastri sudah pingsan.
Wajahnya merah padam, napasnya tersengal-sengal.
Suryo hendak maju, ingin memeriksa keadaan, tapi langkahnya dihadang oleh warga desa yang mulai berkerumun dengan wajah masam.
"Aku ini Bapaknya!"
Suryo menggeram, gigi gemeretak.
"Tolong jaga sopan santun Anda, Pak Suryo. Nduk Lastri dan Anda sudah tidak ada hubungan. Anda datang-datang bikin onar, mencekik anak kecil sampai pingsan. Kalau sampai cucu saya kenapa-napa, saya tidak takut lapor polisi, biar Anda dituntut pasal penganiayaan anak!"
Abah Kosasih Hidayat melangkah maju.
Suaranya berat dan berwibawa, meski hanya memakai baju koko lusuh dan sarung kotak-kotak.
Sejak tahu putri kesayangannya, Kinar, diceraikan dan diusir, rasa hormatnya pada menantu kaya raya ini sudah habis tak bersisa.
Sekarang dia malah menyakiti Lastri.
"Lastri... Nduk, Gusti... jangan bikin Pakdhe takut," suara Kang Jaka terdengar panik.
Mantri Supri, yang kebetulan sedang lewat naik sepeda onthel, segera dipanggil warga.
Ia memeriksa denyut nadi Lastri.
"Anak ini kaget jantungnya, napasnya sesak karena terguncang. Untung cuma sebentar. Siapa yang tega bikin anak kecil sampai apnea begini? Ini sama saja mau membunuh!" Mantri Supri memandang sekeliling dengan marah.
Semua orang tahu rasanya sesak napas itu menyiksa, apalagi bagi anak sekecil Lastri.
"Uhuk..."
Lastri terbatuk lemah, matanya mengerjap terbuka.
Begitu melihat wajah cemas Kang Jaka, bibirnya melengkung ke bawah.
Air matanya menetes besar-besar, membasahi pipi gembilnya.
"Pakdhe... Lastri takut..."
Rasanya seperti ada batu besar menindih dada.
Lastri benar-benar ketakutan.
Mendengar rintihan itu, darah Kang Jaka mendidih.
Ia menyerahkan Lastri ke gendongan Abah Kosasih, lalu bangkit berdiri.
Tanpa ba-bi-bu, ia menerjang ke arah Suryo.
"Jaka! Kamu gila?! Aku ke sini ada perlu! Aku Bapaknya Lastri, aku nggak sengaja,"
Suryo berusaha membela diri dengan nada dingin, mencoba menjaga wibawa.
Tapi mata Kang Jaka sudah gelap.
Dendam karena adiknya, Kinar, diusir dan dihina, ditambah perlakuan kasar pada Lastri barusan, membuatnya tak terkendali.
Suryo terpaksa menangkis.
Namun, saat tinju mereka beradu, Suryo terbelalak.
Dugh!
Tulang tangannya terasa ngilu.
Sejak kapan tenaga kakak iparnya ini jadi sekuat kerbau?
Suryo teringat nasib sial yang menimpanya sebulan terakhir sejak mengusir Lastri.
Proyek jembatan mangkrak, tender gagal, bahkan ban mobilnya sering pecah tanpa sebab.
Firasatnya tidak enak. Daripada bonyok melawan orang desa yang tenaganya seperti kuli pelabuhan ini, lebih baik dia mengalah. Biar terlihat sebagai korban.
Suryo tiba-tiba menurunkan tangannya, membiarkan bogem mentah Kang Jaka mendarat telak di rahangnya.
Bugh!
Suryo terhuyung, tapi ia segera menegakkan badan, sok tegar.
"Kalau kamu benci aku, pukul saja. Silakan. Kalau sudah puas, baru kita bicara baik-baik." Suryo memejamkan mata, berlagak seperti pahlawan kesiangan yang bijak.
Kang Jaka menggeram, tangannya berhenti di udara.
Tapi akalnya jalan. Alih-alih memukul lagi, tangan besarnya yang kasar langsung membekap mulut dan hidung Suryo dengan kuat.
"Mukul kamu cuma bikin tanganku kotor! Kamu bikin Lastri sesak napas, sekarang rasakan sendiri gimana rasanya nggak bisa bernapas!"
Suryo membelalak.
Ia tak menyangka Jaka senekat ini.
Bekapan tangan petani itu bau tanah dan keringat, tapi kuatnya minta ampun. Dadanya mulai sesak, wajahnya memerah padam. Ia meronta-ronta persis ikan yang diangkat dari air.
Warga desa memalingkan muka, pura-pura sibuk melihat ayam lewat atau membetulkan pagar.
Rasain lho, batin mereka.
Melihat mantan menantunya, sudah hampir kehabisan napas dan wajahnya ungu, Abah Kosasih menepuk bahu Jaka.
"Wis, Jak. Cukup. Ingat anakmu, ingat istrimu."
Kang Jaka melepaskan bekapannya, lalu meludah ke tanah dengan jijik.
Ia mundur, menjauh dari Suryo yang terbatuk-batuk rakus menghirup udara.
Jaka kembali mengambil Lastri dari gendongan Abah, memeluknya erat.
"Nduk, masih sakit dadanya?"
"Maaf, Pak Suryo yang terhormat. Ada angin apa Juragan dari Jakarta sudi mampir ke gubuk kami? Datang-datang malah nyekek anak sendiri," sindir Abah Kosasih.
Bahasanya halus, tapi tatapannya setajam belati.
Suryo merapikan kerah bajunya yang berantakan.
Ia mengatur napas, berusaha kembali terlihat berwibawa.
"Tadi itu cuma salah paham. Lupakan saja. Bagaimanapun, Lastri itu darah daging saya, trah Wibowo. Saya dengar dia sakit-sakitan, makanya saya datang mau menjenguk."
Mata Suryo menyapu sekeliling.
Ia melihat pondasi rumah yang sedang dibangun gotong-royong oleh warga untuk Kinar.
Dalam hatinya ia mencibir. Pasti uang gono-gini dariku dipakai bangun rumah jelek ini. Orang-orang kampung ini cuma benalu yang numpang makan dari uangku.
Keyakinannya makin kuat.
Lastri harus dibawa pulang.
Energinya dibutuhkan untuk bisnis keluarga Wibowo.
"Tempat ini tidak layak untuk bicara," kata Abah Kosasih datar.
Ia menoleh ke warga.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, matur nuwun bantuannya. Monggo dilanjut kerjanya atau istirahat dulu, biar kami urus masalah keluarga ini."
Kang Jaka menggendong Lastri masuk ke halaman rumah Abah, diikuti Kinar yang wajahnya pucat pasi.
Di ruang tamu rumah Abah yang sederhana, beralaskan tikar pandan dan kursi kayu jati tua, suasana tegang mencekam.
Suryo masuk tanpa permisi, seolah ini masih rumah bawahannya.
"Mau apa lagi Mas ke sini? Rumah kami tidak menerima tamu seperti Mas Suryo!"
Kinar Hidayat berdiri, suaranya bergetar tapi matanya nyalang.
Dulu, di rumah gedongan Jakarta Selatan, ia selalu menunduk, takut pada suami dan mertuanya.
Tapi di sini, di tanah kelahirannya, di samping Abah dan kakaknya, ia bukan lagi istri yang bisa diinjak-injak.
"Kinar, aku datang demi kebaikanmu dan Lastri," Suryo memasang wajah prihatin yang dibuat-buat.
"Kondisi Lastri lemah. Kamu tahu sendiri kan? Calon istri baruku itu orangnya baik, dia tidak keberatan ada Lastri. Lastri itu keturunan Wibowo, dia harus pulang. Di Jakarta, dia bisa dapat dokter terbaik, obat paling mahal. Kalau sama kamu? Mau dikasih makan apa? Singkong?"
Suryo menatap Kinar tajam.
Ia tahu kelemahan Kinar adalah putrinya.
"Kalau kamu nikah lagi, bawa anak sakit-sakitan cuma jadi beban, jadi gerowolan. Biar Lastri ikut aku. Masa depannya terjamin."
Kinar terdiam.
Hatinya perih.
Ia menatap Lastri yang kini ada di pangkuannya.
Lastri mendongak, tangan mungilnya memegang pipi ibunya.
"Ibu..."
Satu kata itu meruntuhkan keraguan Kinar.
Lastri berbisik lirih di telinganya, "Bu, Lastri nggak mau ikut Bapak. Lastri mau sama Ibu. Lastri janji makannya banyak, Lastri bakal sehat... Lastri bukan gerowolan..."
Lastri memeluk leher ibunya erat-erat, seakan takut diseret paksa.
Hati Kinar remuk redam mendengar bisikan putrinya.
Ia mencium kening Lastri sambil menahan tangis.
"Nduk, anak ayu, jangan ngomong gitu. Kamu itu nyawanya Ibu. Bukan beban."
Kinar menatap Suryo.
Tatapan ragu itu lenyap, berganti dengan sorot mata baja perempuan yang sedang melindungi anaknya.
"Tidak usah repot-repot memikirkan kami, Mas. Aku bisa menghidupi anakku. Tanganku masih utuh, kakiku masih kuat. Aku bisa jualan nasi uduk, bisa jualan jamu, apa saja. Biarpun cuma makan nasi garam, asal hatinya tenang, anakku bakal sehat. Silakan Mas pergi."
Suryo terhenyak.
Ia tak menyangka Kinar yang dulu penurut bisa senekat ini.
"Kamu mau ngasih makan apa?! Uang gono-gini itu bakal habis lama-lama buat beli obatnya! Kamu mau bunuh dia pelan-pelan di desa ini?!"
"Jaga mulutmu, Suryo!" Kang Jaka menyambar, urat lehernya menonjol.
"Yang bikin Lastri hampir mati itu tanganmu yang kasar, bukan karena tinggal di desa! Lastri di sini sehat-sehat saja, gemuk, ceria. Begitu kamu datang, dia langsung sakit. Kamu itu yang bawa hawa panas!"
"Pergi sana! Lastri itu cucu keluarga Hidayat. Kami bakal banting tulang buat dia. Nggak butuh belas kasihanmu yang palsu itu!"
Wajah Suryo merah padam menahan amarah dan malu.
Di rumah ini, uang dan jabatannya seolah tak laku.
"Kalian..." Suryo menunjuk-nunjuk dengan telunjuk gemetar.
"Kalian nekat ya. Oke. Tapi ingat, Lastri itu nama belakangnya Wibowo. Dia terdaftar di Kartu Keluarga Wibowo!"
"Soal nama, gampang diurus," potong Abah Kosasih tenang, sambil menyesap teh tubruknya.
"Karena talak sudah jatuh dan hak asuh di tangan Kinar, rasanya memang ora ilok kalau masih pakai nama Wibowo. Nanti malah jadi sawan buat anaknya."
"Abah!" Suryo membentak.
"Lastri itu anak saya!"
Abah Kosasih menatap Suryo datar.
"Anak yang sampeyan buang. Ingat, Juragan Suryo. Sampeyan pejabat, harusnya tahu hukum dan malu. Sudah dicerai, sudah diusir, kok masih ngganduli."
"Silakan keluar dari rumah kami," usir Kinar lagi, kali ini lebih tegas.
Suryo mendengus kasar.
Ia merasa harga dirinya diinjak-injak.
"Baik! Kinar, kamu bakal menyesal. Jangan sampai kamu ngemis-ngemis datang ke rumahku kalau anak ini sekarat!" ancam Suryo dengan suara dingin.
Ia berbalik, melangkah keluar dengan hentakan kaki keras.
Ia yakin, tanpa uangnya, mereka akan hancur.
Lastri menatap punggung ayahnya yang menjauh, lalu pandangannya beralih ke mobil hitam di halaman.
Keningnya berkerut.
"Kenapa, Nduk?" tanya Kinar cemas.
Lastri menunjuk mobil itu.
"Mobilnya nangis, Bu. Mesinnya sakit, panas banget... dia bilang 'haus, sakit'..."
Kinar bingung.
Mobil kok nangis? Tapi ia melihat Lastri menatap mobil itu dengan tatapan kasihan, bukan pada Suryo, tapi pada benda itu.
Kinar, yang hatinya lembut, merasa ada yang tidak beres.
Ia berlari kecil mengejar Suryo ke halaman.
"Mas! Tunggu!"
Suryo yang sudah membuka pintu mobil menoleh angkuh.
"Kenapa? Berubah pikiran? Sudah sadar kalau kamu miskin?"
Kinar menggeleng.
"Bukan. Aku cuma mau bilang... hati-hati. Radiator mobilmu sepertinya bermasalah. Lastri bilang... mobilnya 'sakit'."
Suryo tertawa meremehkan.
"Hah? Dasar orang kampung. Ini mobil Jerman, mana ngerti kalian soal mesin. Ini mobil tangguh, bukan angkot butut!"
Suryo membanting pintu mobil, menyalakan mesin yang menderu agak kasar, lalu tancap gas meninggalkan debu tebal yang menerpa wajah Kinar.
Kinar hanya menghela napas.
Pria itu memang tak pernah mau mendengar.
Dulu dia memforsir Lastri sampai sakit, sekarang mobil pun dipaksa jalan meski rusak.
Kinar kembali masuk ke rumah.
Suasana kini lebih terasa lega setelah "hawa panas" itu pergi.
"Sudahlah, Dik. Nanti sore kita bawa Lastri ke Mantri di kecamatan, sekalian beli vitamin," kata Kang Jaka menenangkan.
Abah Kosasih menatap cucu kesayangannya itu.
Ia mendekat, berjongkok di depan Lastri.
"Nduk, tadi Abah bilang soal nama. Biar buang sial, biar nggak kegawa nasib buruk Bapakmu, gimana kalau nama Lastri kita ganti?"
Kinar menahan napas.
Nama adalah doa.
Mengganti nama berarti memutus ikatan dengan masa lalu yang pahit.
Mata Lastri berbinar.
Ia mengangguk semangat.
"Mau, Mbah Kung! Lastri mau ganti nama!"
Di dalam dirinya, jiwa Dewi Sri sang Dewi kesuburan bersorak.
Nama 'Wibowo' terasa berat dan panas, seperti api yang membakar energinya.
Dia butuh nama yang sejuk, yang mengalir seperti air dan tumbuh seperti padi.
"Wah, pinter. Nduk Lastri mau nama apa?" tanya Abah lembut.
Lastri berpikir sejenak.
Bayangan tentang sawah yang hijau, air yang jernih, dan ketenangan melintas di benaknya.
"Lestari," ucapnya mantap.
"Sri Lestari. Biar Ibu rejekinya lestari, biar semuanya damai."
Nama yang sederhana, tapi penuh makna.
Sri adalah lambang padi, lambang kemakmuran.
Lestari adalah abadi.
"Sri Lestari Hidayat," gumam Abah Kosasih sambil tersenyum lebar.
"Nama yang bagus. Nyemeni, menyenangkan hati. Gusti Allah pasti ridho."
"Panggilannya siapa?" tanya Kang Jaka sambil tertawa.
"Tari," jawab Lastri, ah, sekarang Tari, sambil tersenyum.
"Tari Hidayat."
"Bagus!" seru Abah.
"Mulai hari ini, cucu Abah namanya Tari. Sri Lestari. Semoga hidupmu subur makmur, dijauhkan dari marabahaya, dan jadi penyejuk buat Ibumu."
Saat nama itu diucapkan, di pojok ruangan, karung beras yang tadinya tinggal setengah, entah bagaimana terlihat sedikit lebih penuh isinya.
Tidak ada yang melihat, tapi udara di rumah kayu itu mendadak terasa sejuk dan nyaman, seolah rumah itu baru saja diberkahi.