Arga Maheswara, mengira bahwa kepindahannya ke rumah tua peninggalan keluarga, akan menyembuhkan luka akibat pengkhianatan istri. Namun sejak malam pertama, sosok wanita cantik bergaun putih selalu muncul di bawah sinar bulan tersenyum sendu, seolah telah lama menunggunya.
Safira Aluna. Kehadirannya yang lembut perlahan mengobati hati Arga yang hancur. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta yang tulus. Tapi ketika kebenaran terungkap, Arga terkejut Safira bukan manusia. Ia adalah jin muslimah yang terikat kutukan masa lalu, menunggu puluhan tahun untuk menemukan cinta sejatinya.
Meski menakutkan, Arga tak sanggup melepaskan Safira. Mereka menikah dalam ikatan dua alam yang terlarang. Namun cinta mereka adalah kutukan itu sendiri semakin dalam Arga mencintai Safira, semakin cepat nyawanya terkikis.
Akankah cinta mereka bertahan melawan takdir?
Atau salah satu harus berkorban untuk yang lain?
Selamat menyaksikan kisah cinta beda alam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ratih yang Kembali Mengintai
Ratih tidak bisa tidur.
Sudah tiga minggu sejak dia melihat Arga menikah dengan wanita itu. Tiga minggu dia mencoba melupakan. Mencoba move on. Mencoba menerima kenyataan bahwa Arga sudah bukan miliknya lagi.
Tapi tidak bisa.
Setiap malam dia terbayang wajah Safira. Wajah cantik yang terlalu sempurna. Terlalu pucat. Terlalu... aneh.
"Siapa sih dia sebenarnya?" gumam Ratih sambil menatap layar laptop di kamar kosnya yang gelap. Hanya cahaya layar yang menerangi wajahnya yang kurus karena stress tiga minggu terakhir.
Di layar terbuka profil media sosial yang dia cari dengan nama Safira Aluna.
Tidak ada.
Tidak ada satupun.
Dia coba cari di berbagai platform. Instagram, Facebook, Twitter, bahkan LinkedIn. Nihil. Seperti wanita itu tidak pernah eksis di dunia digital.
"Aneh..." Ratih menggigit kuku jempolnya, kebiasaan buruk yang muncul saat dia stress. "Jaman sekarang mana ada orang yang nggak punya media sosial? Bahkan nenek-nenek aja punya Facebook."
Dia coba cara lain. Googling nama Safira Aluna. Hasilnya? Tidak ada yang relevan. Hanya artikel random yang tidak ada hubungannya sama sekali.
Ratih bangkit dari kursi, mondar-mandir di kamar sempit itu dengan pikiran yang kacau. Tangannya gemetar, napasnya tidak beraturan.
"Arga... Arga bodoh. Dia pasti ditipu sama wanita itu. Pasti. Tidak mungkin dia jatuh cinta beneran sama orang yang baru dikenal beberapa bulan. Pasti ada yang salah."
Besoknya, Ratih mengambil cuti dari kantor. Dia naik kereta menuju desa tempat Arga tinggal sekarang. Perjalanan tiga jam yang dia habiskan dengan mondar-mandir di gerbong, bikin penumpang lain ngeliatin dia dengan tatapan aneh.
Tapi Ratih tidak peduli.
Dia harus tahu siapa Safira sebenarnya.
***
Ratih sampai di desa saat matahari sudah tinggi. Panas. Berkeringat. Tapi tekadnya bulat.
Dia tidak langsung ke rumah Arga. Terlalu bahaya. Arga pasti akan mengusirnya lagi seperti terakhir kali. Jadi dia harus cari informasi dulu.
Ratih berjalan ke warung kecil di pinggir jalan desa. Warung Mbok Yem, tulisan di papan kayu yang sudah pudar. Di dalam ada seorang nenek tua sedang duduk sambil mengipas-ngipasi diri dengan kipas dari anyaman bambu.
"Permisi, Mbah," sapa Ratih sambil tersenyum manis meski hatinya dag dig dug.
Nenek itu mengangkat wajahnya. Keriput di wajahnya dalam sekali, matanya sayu tapi tatapannya tajam. "Eh, ada tamu. Silakan masuk, nona. Mau beli apa?"
"Anu, Mbah. Saya... saya mau nanya-nanya aja. Boleh?"
Nenek itu mengangguk sambil menyuruh Ratih duduk di kursi plastik lusuh di depan warung. "Mau nanya apa, nak?"
Ratih duduk, tangannya meremas-remas tas yang dia pegang. "Mbah tahu rumah Pak Arga yang di ujung desa sana?"
"Oh, rumah besar tua itu? Tahu. Kenapa, nak?"
"Anu... Pak Arga itu kan baru nikah ya, Mbah? Sama wanita bernama Safira?"
Wajah nenek itu langsung berubah. Senyumnya memudar, digantikan ekspresi was-was yang jelas terlihat. "Kok nona tahu?"
"Saya... saya teman Pak Arga," bohong Ratih. "Saya penasaran sama istrinya. Orangnya gimana, Mbah?"
Nenek itu terdiam lama. Lalu dia mendekat, berbisik dengan suara yang gemetar. "Nona... jangan dekat-dekat sama wanita itu."
Ratih tersentak. "Kenapa, Mbah?"
"Wanita itu... wanita itu tidak normal, nak. Wargamu di sini pada takut. Dia sering muncul tiba-tiba, menghilang tiba-tiba. Saat dia lewat, hawanya dingin banget. Dan yang paling aneh... anak-anak kecil di sini selalu nangis kalau lihat dia. Seperti mereka lihat sesuatu yang kita tidak lihat."
Bulu kuduk Ratih berdiri mendengar itu. "Maksud Mbah... dia... dia hantu?"
"Entahlah, nak. Tapi yang jelas, wanita itu bukan manusia biasa. Pak Arga itu... kasihan. Dia seperti kena guna-guna. Matanya kosong kalau sama wanita itu. Seperti orang kesurupan."
Ratih merasakan jantungnya berdegup kencang. Firasat buruknya ternyata benar. Ada yang tidak beres dengan Safira.
"Mbah tahu dukun yang bisa bantu?" tanya Ratih tiba-tiba.
Nenek itu menatap Ratih dengan tatapan curiga. "Kenapa nona cari dukun?"
"Saya... saya mau bantu Pak Arga. Dia teman saya. Saya tidak mau dia kenapa-kenapa."
Nenek itu terdiam sebentar. Lalu dia mengangguk pelan. "Ada. Mbah Darmo. Dia tinggal di pinggir hutan, rumah paling ujung. Tapi hati-hati, nak. Mbah Darmo itu orangnya... aneh."
"Terima kasih, Mbah," Ratih langsung bangkit dan pergi dengan langkah tergesa.
***
Rumah Mbah Darmo benar-benar di pinggir hutan. Gubuk kayu tua yang dindingnya penuh lumut. Di halaman depan ada tengkorak binatang digantung di pohon, dan asap kemenyan mengepul dari dalam rumah.
Ratih menelan ludah. Seram. Tapi dia sudah sampai sini. Tidak mungkin mundur sekarang.
Dia mengetuk pintu kayu yang rapuh. Tok tok tok.
"Masuk," suara berat terdengar dari dalam.
Ratih membuka pintu pelan. Di dalam gelap, hanya diterangi lilin-lilin yang tersebar di lantai. Di tengah ruangan, duduk seorang kakek tua dengan rambut putih panjang acak-acakan, mata melotot, dan senyum yang membuat Ratih bergidik.
"Kau datang mencari jawaban tentang wanita yang menikahi mantanmu, kan?" tanya kakek itu tanpa Ratih sempat bicara.
Ratih membeku. "Ba... bagaimana Mbah tahu?"
"Aku bisa melihat," kakek itu tertawa, suaranya seperti batuk kering. "Duduk. Ceritakan padaku."
Ratih duduk dengan gemetar. Dia menceritakan semuanya. Tentang Arga. Tentang pernikahan mereka yang hancur. Tentang Safira yang tiba-tiba muncul dan menikahi Arga dalam waktu singkat. Tentang keanehan yang dia rasakan.
Mbah Darmo mendengarkan sambil memainkan tasbih hitam di tangannya. Matanya terpejam. Lalu setelah Ratih selesai cerita, kakek itu membuka matanya dan menatap Ratih dengan tatapan yang membuat Ratih ingin lari.
"Wanita yang kau selidiki itu bukan manusia, nona."
Ratih merasakan darahnya seperti berhenti mengalir. "Bukan... bukan manusia? Maksudnya?"
"Jin," jawab Mbah Darmo datar. "Jin muslimah yang sudah lama tinggal di rumah itu. Dia menyamar jadi manusia dan menikahi mantanmu. Tujuannya... entah. Tapi yang jelas, mantanmu dalam bahaya besar."
"Bahaya? Bahaya seperti apa?"
"Ikatan antara jin dan manusia itu terlarang. Pasti ada konsekuensinya. Mungkin nyawa. Mungkin kewarasan. Entahlah. Tapi yang jelas, laki-laki itu tidak akan selamat kalau terus bersama jin itu."
Ratih merasakan hatinya remuk. Arga... Arga dalam bahaya. Dan dia... dia yang menyebabkan semua ini. Kalau dia tidak selingkuh dulu, Arga tidak akan kabur ke desa ini. Tidak akan ketemu jin itu. Tidak akan dalam bahaya seperti sekarang.
"Bagaimana... bagaimana cara menyelamatkan dia, Mbah?" tanya Ratih dengan suara gemetar, air matanya mulai mengalir.
Mbah Darmo tersenyum. Senyum yang menyeramkan. "Bongkar rahasianya. Bongkar di depan umum bahwa istrinya itu jin. Kalau identitasnya terbongkar, jin itu akan pergi sendiri. Tidak bisa bertahan lama di dunia manusia kalau identitasnya sudah diketahui banyak orang."
"Tapi... tapi bagaimana caranya? Siapa yang akan percaya kalau saya bilang istrinya jin?"
"Bawa bukti," Mbah Darmo berdiri, mengambil sesuatu dari rak kayu di sudut ruangan. Sebuah kamera tua. "Potret dia saat dia sedang tidak waspada. Jin yang menyamar jadi manusia itu kalau difoto dengan kamera khusus ini, wujud aslinya akan terlihat. Atau setidaknya, ada keanehan yang terlihat. Bayangan yang tidak sesuai, mata yang bercahaya, atau tubuh yang transparan."
Ratih menerima kamera itu dengan tangan gemetar. "Ini... ini beneran bisa?"
"Coba saja," Mbah Darmo tertawa lagi dengan suara yang membuat bulu kuduk Ratih merinding. "Tapi ingat. Kalau kau gagal, jin itu akan tahu. Dan dia... bisa melakukan apapun pada kau."
Ratih menelan ludah. Tapi tekadnya sudah bulat.
Dia harus menyelamatkan Arga.
Apapun risikonya.
***
Malam itu Ratih mengintai rumah Arga dari balik semak-semak di seberang jalan. Gelap. Dingin. Kakinya kesemutan karena berjongkok terlalu lama. Tapi dia tidak bergerak.
Menunggu.
Menunggu momen yang tepat.
Di dalam rumah, terlihat cahaya lampu menyala di ruang tamu. Bayangan dua orang bergerak di balik tirai. Arga dan Safira.
Ratih merasakan dadanya sakit melihat itu. Mereka terlihat... bahagia. Arga tertawa. Sesuatu yang jarang Ratih lihat saat mereka masih bersama dulu.
"Tidak... tidak boleh tertipu dengan penampilan," gumam Ratih sambil memegang kamera erat-erat. "Itu semua palsu. Jin itu cuma manfaatin Arga."
Satu jam. Dua jam. Tiga jam.
Akhirnya, pintu rumah terbuka. Safira keluar sendirian dengan gaun putih tipis. Rambutnya tergerai, bergoyang pelan ditiup angin malam.
Ini kesempatan.
Ratih mengangkat kamera, membidik Safira yang sedang berdiri di teras sambil menatap langit.
Klik.
Cahaya flash menyala terang.
Dan saat itu juga, Safira menoleh.
Menatap langsung ke arah semak-semak tempat Ratih bersembunyi.
Mata Safira... berubah. Bukan mata manusia lagi. Bercahaya kebiruan. Tajam. Seperti mata predator yang menemukan mangsa.
Ratih membeku.
Tidak bisa bergerak.
Tidak bisa bernapas.
Safira melangkah turun dari teras. Pelan. Sangat pelan. Setiap langkahnya membuat hawa di sekitar Ratih semakin dingin.
"Siapa di sana?" suara Safira terdengar lembut. Tapi ada nada mengancam yang tersembunyi.
Ratih langsung berdiri, berlari sekencang-kencangnya dengan kamera masih di tangan.
Jantungnya berdegup kencang. Kakinya hampir tersandung beberapa kali. Napasnya tersengal.
Dan saat dia menoleh ke belakang, dia melihat sesuatu yang membuat jiwanya nyaris lepas.
Safira berdiri di tengah jalan.
Tidak mengejar.
Hanya berdiri.
Menatap Ratih dengan tatapan yang sangat dingin.
Lalu dia tersenyum.
Senyum yang membuat Ratih tahu.
Jin itu tahu.
Jin itu tahu apa yang Ratih rencanakan.
Dan itu... itu sangat berbahaya.
***
Ratih berlari sampai ke penginapan kecil tempat dia menginap di desa tetangga. Masuk kamar, mengunci pintu, menutup jendela, dan langsung jatuh terduduk di lantai dengan napas terengah-engah.
Tangannya gemetar hebat saat membuka kamera dan melihat hasil fotonya.
Dan saat foto itu muncul di layar kamera, Ratih merasakan seluruh tubuhnya membeku.
Di foto itu, Safira berdiri di teras.
Tapi bayangannya...
Bayangannya bukan bayangan manusia.
Bayangan itu punya tanduk kecil di kepala. Tangan yang lebih panjang. Dan mata yang bercahaya seperti api.
"Ya Tuhan..." bisik Ratih dengan suara gemetar. "Beneran... dia beneran jin..."
Air matanya jatuh membasahi pipi. Tapi kali ini bukan karena sedih.
Karena takut.
Sangat takut.
Tapi di balik ketakutan itu, ada sesuatu yang lain.
Kepuasan.
Dia punya bukti sekarang.
Bukti bahwa Safira bukan manusia.
Dan besok... besok dia akan membongkar semuanya.
Di depan Arga.
Di depan warga desa.
Di depan semua orang.
Dia akan menyelamatkan Arga.
Dan mungkin... mungkin Arga akan kembali padanya setelah tahu istrinya adalah jin penipu.
Ratih tersenyum di antara air matanya.
Tersenyum dengan rencana jahat yang sudah matang di kepalanya.
Tidak tahu bahwa apa yang dia rencanakan... akan membawa malapetaka yang lebih besar.
Bukan hanya untuk Arga dan Safira.
Tapi juga untuk dirinya sendiri.