NovelToon NovelToon
Exclusive My Executor

Exclusive My Executor

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Mengubah Takdir
Popularitas:578
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

​Di dunia bawah yang kelam, nama Reggiano Herbert adalah eksekutor paling mematikan yang dikenal karena ketenangannya. Seorang pria yang akan memperbaiki kerah bajunya dan tidak mungkin menutup mata sebentar sebelum mengakhiri nyawa targetnya.

Baginya, hidup hanyalah rangkaian tugas yang dingin, hingga ia menemukan "Flower's Patiserie".

​Toko itu sangat berwarna-warni di tengah kota yang keras, tempat di mana aroma Strawberry Tart yang manis berpadu dengan keharuman mawar segar. Sang pemilik, Seraphine Florence, adalah wanita dengan senyum sehangat musim semi yang tidak mengetahui bahwa pelanggan setianya yang selalu berpakaian rapi dan bertutur kata manis itu baru saja mencuci noda darah dari jas abu-abunya sebelum mampir.

Tetapi, apakah itu benar-benar sebuah toko biasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 33 : Mimpi buruk pemburu

Malam belum sepenuhnya usai ketika akar-akar Yggdrasil kembali bergetar pelan—kali ini bukan merah peringatan, melainkan ungu kebiruan, warna yang menandakan pengintaian.

Seraphine menghentikan gerakannya. Senyum lembutnya meredup, berganti dengan ketenangan seorang penjaga yang telah hidup jauh lebih lama daripada yang ia perlihatkan. Ia menutup mata sejenak, telapak tangannya menyentuh tanah yang berdenyut.

“Mereka tidak menyerang,” bisiknya. “Mereka… mengamati.”

Reggiano berdiri, reflek lama kembali mengambil alih tubuhnya. Sabit emasnya tidak ia angkat, hanya didekatkan ke sisi tubuh—siap, namun tidak mengancam. “Pemburu?”

“Bukan pemburu biasa,” jawab Seraphine. “Mereka menyebut diri mereka Kurator Kekosongan. Makhluk yang percaya bahwa emosi adalah cacat dalam struktur realitas. Mereka memburu sumber-sumber kehidupan murni untuk ‘ditenangkan’.”

Caspian menyeringai miring. “Kedengarannya seperti orang-orang yang tidak pernah merasakan cokelat panas di malam hujan.”

“Justru itu masalahnya,” sahut Seraphine. “Mereka ingin dunia seperti itu.”

Di luar, pintu depan Flower’s Patisserie berderit pelan, seolah disentuh angin yang ragu. Bayangan tipis melintas di kaca—tidak berbentuk manusia sepenuhnya, lebih seperti siluet yang terbuat dari kabut dan garis-garis geometris.

Elena memeluk lengan Reggiano. “Kak… mereka jahat?”

Reggiano menunduk, suaranya hangat. “Tidak semua yang datang membawa bahaya, El. Tapi yang ini… kita harus hati-hati.”

Seraphine melangkah ke depan pot Mawar Kenangan. Cahaya kelopaknya berdenyut lebih terang, seolah merespons. “Reggiano, mawar ini bukan hanya kenangan. Ia adalah jangkar. Selama ia mekar, tempat ini diakui sebagai rumah—bukan anomali.”

“Dan aku?” tanya Caspian, kali ini tanpa nada pamer.

“Kau adalah jembatan,” jawab Seraphine jujur. “Otoritas di dalam dirimu—yang sudah kita saring—mampu berbicara pada mereka. Bukan dengan ancaman, melainkan dengan bukti.”

Caspian menghela napas, lalu mengangguk. “Baik. Tapi aku lakukan dengan caraku. Tanpa trik murahan.”

Ia melangkah ke tengah ruangan. Akar-akar Yggdrasil merunduk sedikit, memberi jalan. Caspian mengangkat tangannya—bukan memanggil cahaya emas, melainkan kehangatan sederhana, seperti aroma roti yang baru keluar dari oven.

“Dengar,” ucapnya ke arah pintu. “Kalian mencari dunia tanpa emosi. Kami menemukan dunia dengan perawatan. Di sini, rasa tidak dipaksakan. Ia tumbuh.”

Siluet di balik kaca bergetar. Sebuah suara tanpa gema menjawab, datar namun penasaran. “Bukti.”

Reggiano melirik Seraphine. Ia lalu mengambil sepotong roti gandum—biasa, tanpa sihir—dan meletakkannya di ambang pintu. “Ini bukan obat. Ini hasil kerja tangan, waktu, dan kesabaran. Cobalah. Jika kalian tetap ingin ‘menenangkan’ tempat ini setelahnya, kami akan mendengarkan.”

Hening. Lama.

Kemudian, bayangan itu memudar sedikit. “Kami akan kembali.”

Pintu menutup sendiri, lembut.

Napas yang tertahan akhirnya dilepas. Elena bersorak kecil, Caspian tertawa lega, dan Reggiano menurunkan bahunya.

“Sepertinya,” kata Caspian sambil menyeringai, “aku baru saja bernegosiasi dengan konsep kehampaan menggunakan roti.”

Seraphine tersenyum, matanya hangat. “Itu karena kau akhirnya memahami inti kekuatanmu, Caspian. Bukan mengatur perasaan… melainkan memberi ruang agar perasaan bisa tumbuh sendiri.”

Mawar Kenangan berkilau pelan, seolah menyetujui.

Malam itu berakhir tanpa pertempuran. Namun mereka semua tahu: hari esok akan menuntut kebijaksanaan yang lebih besar daripada kekuatan. Dan di dalam hutan cahaya yang hidup di Flower’s Patisserie, sebuah keluarga—tak sempurna namun utuh—bersiap menghadapinya bersama.

Fajar datang dengan cara yang aneh di Flower’s Patisserie. Matahari tidak lagi masuk lewat jendela—ia difilter oleh kanopi daun perak Yggdrasil, memecah cahaya menjadi serpihan keemasan yang jatuh seperti debu bintang ke lantai kayu.

Reggiano sudah bangun lebih dulu.

Ia berdiri sendirian di depan oven, menggulung lengan baju, menimbang tepung dengan ketelitian yang sama seperti saat ia menilai medan pertempuran. Tapi ada sesuatu yang berbeda pagi ini. Tangannya tidak lagi kaku. Napasnya stabil. Sabit emasnya masih tergantung di balik meja—namun untuk pertama kalinya, ia lupa bahwa benda itu ada.

“Selamat pagi, Eksekutor yang pensiun sementara.”

Caspian muncul sambil menguap, rambutnya berantakan, membawa keranjang daun yang gugur dari malam tadi. “Aku membersihkan lantai seperti perjanjian kita. Aku merasa ini momen bersejarah.”

Reggiano mendengus kecil. “Jangan buat aku menyesal membiarkanmu hidup.”

Caspian tersenyum—tapi senyumnya tidak lagi penuh pamer. Ia menaruh keranjang, lalu menghirup udara dapur. “Baunya beda.”

“Karena kau tidak mencampuri adonan,” jawab Reggiano datar.

“Karena aku belajar,” sahut Caspian, kali ini tanpa nada bercanda. “Aku mencoba… mendengarkan.”

Mereka bekerja dalam keheningan yang nyaman. Tidak ada cahaya aneh, tidak ada frekuensi dimensi—hanya suara adonan dipijat, api oven, dan daun yang berbisik di langit-langit.

Di lantai atas, Seraphine membuka matanya dengan pelan.

Ia duduk di tepi ranjang kecil yang tidak pernah benar-benar ia gunakan untuk tidur. Energi di tubuhnya terasa lebih ringan pagi ini—tanda bahwa beban yang ia serap semalam telah berkurang. Mawar Kenangan di pot besar berdenyut stabil, kelopaknya terbuka lembut.

Namun sesuatu mengganggu ketenangannya.

Bukan ancaman.

Kesedihan.

Ia menyentuh tanah di sekitar pot. Getaran halus menjalar ke telapak tangannya—pesan dari akar-akar jauh di bawah Distrik 7.

“Ada yang tersesat,” bisiknya.

Bel pintu berbunyi.

Reggiano dan Caspian saling pandang. “Belum jam buka,” gumam Caspian.

Reggiano mengangguk dan berjalan ke pintu. Saat ia membukanya, yang berdiri di sana bukan Kurator, bukan pemburu, bukan makhluk dimensi.

Hanya seorang wanita muda.

Pakaiannya sederhana, matanya cekung karena kurang tidur, dan tangannya gemetar saat memegang roti kecil yang sudah mengeras. Di belakangnya, tidak ada aura ancaman—hanya kehampaan yang terlalu sunyi.

“Aku… maaf,” katanya lirih. “Aku dengar tempat ini… bisa membuat orang merasa hangat.”

Caspian menelan ludah. Ia mengenali tatapan itu. Tatapan orang yang kehabisan pegangan, bukan orang yang ingin dimanipulasi.

Seraphine turun dari tangga tanpa suara. Ia berdiri di samping Reggiano, wajahnya lembut. “Masuklah,” katanya. “Kau tidak perlu membeli apa pun.”

Wanita itu hampir menangis.

Mereka duduk di meja dekat jendela. Reggiano menyajikan roti gandum hangat—biasa. Caspian menuangkan teh herbal tanpa sihir. Seraphine duduk di seberang wanita itu, mendengarkan tanpa menyela.

Wanita itu bercerita tentang kehilangan, tentang kota yang bergerak terlalu cepat, tentang pagi-pagi yang terasa hampa. Tidak ada ledakan emosi. Tidak ada keajaiban instan.

Hanya didengar.

Saat ia selesai, bahunya sedikit turun. Tangannya berhenti gemetar.

“Aku tidak merasa ‘bahagia’,” katanya ragu. “Tapi… aku tidak merasa sendirian lagi.”

Seraphine tersenyum. “Itu sudah cukup untuk hari ini.”

Wanita itu pergi dengan langkah yang lebih ringan.

Caspian memandang pintu yang tertutup lama setelahnya. “Reggi,” katanya pelan. “Kurator salah.”

Reggiano menoleh.

“Dunia tanpa emosi bukan dunia yang stabil,” lanjut Caspian. “Itu dunia yang kosong. Tapi emosi yang dipaksakan juga sama buruknya.”

Seraphine mengangguk. “Kalian mulai memahami.”

Elena turun sambil mengucek mata. “Pagi… apakah hari ini kita jual roti biasa lagi?”

Reggiano mengangkatnya dan mendudukkannya di meja. “Iya, El. Roti biasa.”

Elena tersenyum puas. “Yang biasa rasanya aman.”

Mawar Kenangan berkilau lembut—bukan karena lonjakan energi, melainkan karena keseimbangan.

Di luar, jauh di balik realitas Distrik 7, sesuatu mengamati. Bukan dengan niat menyerang, bukan dengan niat menguasai.

Melainkan dengan kebingungan.

Karena untuk pertama kalinya, sebuah titik kecil di peta dimensi menunjukkan anomali yang tidak bisa diklasifikasikan sebagai senjata, sumber daya, atau ancaman.

Ia tercatat sebagai:

“Tempat di mana kehidupan memilih untuk bertahan.”

Dan itu… jauh lebih berbahaya bagi Kekosongan daripada kekuatan apa pun.

Siang itu, Flower’s Patisserie akhirnya dibuka.

Bukan dengan lonceng besar atau pengumuman megah—hanya papan kayu kecil yang digantung Reggiano di pintu:

BUKA — roti hangat, waktu pelan.

Pelanggan pertama masuk dengan ragu. Mereka berhenti di ambang pintu, menatap akar-akar perak yang merambat di dinding, spora bercahaya yang melayang seperti debu sore, dan aroma roti gandum yang jujur—tidak manis berlebihan, tidak memabukkan.

“Ini… aman?” tanya seorang pria.

Reggiano mengangguk singkat. “Aman.”

Itu saja. Tidak ada promosi. Tidak ada janji bahagia.

Dan entah mengapa, itu cukup.

Di balik konter, Caspian bekerja dengan fokus yang belum pernah Reggiano lihat sebelumnya. Tidak ada pameran, tidak ada lelucon berisik. Ia menimbang bahan, mencatat suhu, mencicipi adonan dengan serius—lalu berhenti.

“Reggi,” katanya pelan. “Aku bisa merasakannya.”

Reggiano tidak menoleh. “Apa?”

“Godaan itu,” jawab Caspian jujur. “Dorongan untuk… menyentuh. Mempercepat. Membuat mereka tersenyum sekarang juga.”

Ia mengepalkan tangan, lalu membukanya. “Dan aku memilih tidak melakukannya.”

Reggiano akhirnya menoleh. Tatapannya tajam—lalu melembut sedikit. “Itu keputusan yang tepat.”

Seraphine mengamati dari sudut ruangan. Akar-akar Yggdrasil berdenyut stabil. Tidak menyerap berlebihan. Tidak meluap. Seimbang.

Namun keseimbangan jarang dibiarkan lama.

Menjelang sore, udara berubah. Bukan dingin—hampa. Daun-daun perak berhenti berbisik. Spora cahaya melambat, seolah menunggu. Mawar Kenangan bergetar satu kali—peringatan sunyi.

Seraphine berdiri. “Mereka kembali.”

Pintu tidak dibuka.

Ia menghilang.

Lantai kayu di depan konter tampak retak, lalu membentuk garis-garis geometris sempurna. Dari sana muncul sosok tinggi berkerudung kabut, tanpa wajah—hanya simbol-simbol yang bergeser di tempat seharusnya ada mata.

Kurator.

“Lokasi ini terklasifikasi ulang,” ujar suara itu, datar. “Bukan sumber daya. Bukan ancaman langsung. Deviasi stabil.”

Caspian menelan ludah. “Kedengarannya… buruk?”

“Deviasi yang bertahan cenderung menyebar,” lanjut Kurator. “Penyebaran emosi non-terprogram meningkatkan ketidakpastian.”

Reggiano melangkah maju satu langkah. Tidak mengangkat sabit. “Apa yang kalian inginkan?”

Kurator berhenti di depan Mawar Kenangan. “Validasi.”

Seraphine berdiri di samping pot. “Validasi apa?”

“Bahwa kehidupan tanpa regulasi emosional tidak berujung pada kehancuran.”

Hening.

Caspian tertawa kecil—bukan mengejek, bukan gugup. “Kalian datang jauh-jauh hanya untuk bukti hidup?”

Kurator memiringkan kepalanya. “Bukti harus diuji.”

Reggiano mengepalkan tangan. “Bagaimana caranya?”

Kurator mengangkat satu jari kabut. “Kami akan tinggal.”

Sunyi jatuh seperti kain basah.

“Tidak sebagai penjaga. Tidak sebagai penguasa,” lanjutnya. “Sebagai pengamat. Selama satu siklus.”

Elena muncul dari balik tangga, memegang boneka kain. Ia menatap sosok kabut itu, lalu bertanya polos, “Kalau tinggal… harus cuci tangan sebelum makan roti?”

Waktu seolah berhenti.

Kurator menatap Elena. Simbol-simbol di wajahnya bergetar—bukan karena marah, melainkan karena kebingungan murni.

“Protokol kebersihan… relevan,” jawabnya akhirnya.

Elena mengangguk puas. “Bagus. Kak Reggi galak soal itu.”

Caspian menutup mulutnya agar tidak tertawa. Reggiano berdehem.

Seraphine tersenyum tipis. “Baiklah. Kalian boleh tinggal. Tapi ada aturan.”

Kurator menoleh. “Sebutkan.”

“Tidak mengubah siapa pun,” kata Seraphine tenang. “Tidak menyerap, tidak menekan. Hanya… mengamati.”

Kurator diam lama.

“Disetujui.”

Malam itu, Flower’s Patisserie menjadi tempat paling aneh di Distrik 7.

Manusia, akar dunia, dan Kekosongan—duduk di ruang yang sama.

Kurator berdiri di sudut, mencatat tanpa alat. Caspian menyajikan sup sederhana. Reggiano menutup toko tepat waktu. Elena tertidur di kursi, bonekanya di pelukan.

Mawar Kenangan memancarkan cahaya lembut.

Dan untuk pertama kalinya sejak keberadaannya, seorang Kurator tidak mencatat data tentang kehancuran, efisiensi, atau penyeragaman.

Ia mencatat satu kalimat yang tidak ada dalam kamus mereka:

“Keutuhan tidak selalu berarti ketiadaan rasa.

Kadang, ia berarti keberanian untuk merawatnya.”

Di luar, Kekosongan bergeser—sedikit.

Dan itu… adalah awal dari sesuatu yang tidak pernah mereka rencanakan.

Malam berganti larut, dan Kurator tetap berdiri di sudut ruangan—tidak bergerak, tidak bernapas, namun jelas hadir. Cahaya spora menempel di jubah kabutnya seperti bintang yang ragu untuk jatuh.

Seraphine mematikan sebagian lampu. “Waktu istirahat,” katanya lembut, bukan perintah—undangan. “Pengamatan juga butuh jeda.”

Kurator memproses. “Jeda… tidak produktif.”

“Tidak,” sahut Reggiano sambil menyeka meja. “Tapi perlu.”

Caspian menguap, meletakkan celemek. “Kau bisa berdiri di sana sepanjang malam kalau mau. Tapi jangan tatap roti seperti sedang menilai senjata.”

Kurator menoleh—atau setidaknya, simbol-simbol di wajahnya bergeser ke arah Caspian. “Roti… adalah hasil proses lambat.”

“Selamat,” kata Caspian. “Kau baru saja memahami hidup setengah langkah.”

......................

Menjelang tengah malam, sesuatu berubah—bukan di ruangan, melainkan di dalam Kurator.

Data yang dikumpulkannya tidak menyatu. Tidak ada pola dominasi, tidak ada eskalasi. Emosi muncul, tapi tidak meledak. Kesedihan hadir, tapi tidak menelan. Kegembiraan ada, tapi tidak dipaksakan.

Ini… anomali yang konsisten.

Kurator menatap Mawar Kenangan lebih lama dari sebelumnya. “Objek jangkar ini,” ujarnya. “Ia memancarkan stabilitas yang tidak berasal dari kontrol.”

Seraphine mendekat. “Karena ia berasal dari pilihan.”

“Pilihan meningkatkan entropi.”

“Dan juga makna,” balas Seraphine.

Sunyi. Akar-akar Yggdrasil berdesir pelan, bukan sebagai ancaman—sebagai penegasan.

Pagi berikutnya datang tanpa insiden.

Kurator masih di sana.

Namun kini, ia duduk.

Tidak di kursi—di lantai, kaku, meniru posisi Elena yang tertidur dengan boneka kainnya. Gerakannya canggung, seolah gravitasi adalah konsep baru.

Elena membuka mata, melihat sosok kabut itu di depannya, lalu tersenyum lebar. “Oh! Kamu tidak pergi.”

“Tidak,” jawab Kurator. “Aku… menunggu.”

“Kalau menunggu,” kata Elena sambil bangun dan merapikan rambutnya, “biasanya sambil sarapan.”

Ia menarik tangan Kurator—dan berhenti sejenak, ragu. “Eh… boleh disentuh?”

Kurator memproses. “Sentuhan… tidak diperlukan.”

Elena mengangguk. “Oke.” Ia lalu meletakkan sepotong roti gandum hangat di lantai, tepat di depan Kurator. “Kalau begitu, makan saja.”

Kurator menatap roti itu lama. Simbol-simbol di wajahnya bergetar—bukan penolakan, bukan penerimaan. Ambang.

Ia tidak memakan roti itu.

Namun ia juga tidak menolaknya.

Dan bagi Seraphine, itu adalah kemajuan.

Siang hari, gangguan datang—bukan dari luar, melainkan dari dalam.

Caspian berdiri di depan etalase, menatap pantulan dirinya di kaca. “Reggi,” katanya pelan. “Kalau aku gagal nanti… kalau aku tergelincir lagi…”

Reggiano berhenti menguleni. “Kau tidak sendirian.”

“Bukan itu,” Caspian menggeleng. “Maksudku—kalau suatu hari aku ingin menggunakan kekuatan itu lagi. Untuk alasan yang terdengar benar.”

Reggiano mendekat, berdiri sejajar. “Maka kau bilang. Kita bicarakan. Kita cari jalan yang tidak merusak.”

Caspian menelan ludah. “Dan kalau tetap berbahaya?”

“Baru aku melarang mu,” jawab Reggiano datar. “Dengan sangat tegas.”

Caspian tertawa kecil. “Aneh ya. Ancaman darimu justru terasa… aman.”

Sore itu, Kurator mendekati Seraphine.

“Jika observasi ini berlanjut,” katanya, “hasilnya akan menantang doktrin kami.”

“Doktrin bisa berubah,” jawab Seraphine.

“Perubahan memicu konflik.”

“Dan juga pertumbuhan.”

Kurator diam. Lama. Lalu bertanya, pelan—nyaris tidak terdengar:

“Apakah… semua kehidupan memerlukan penjaga?”

Seraphine tersenyum. “Tidak. Tapi semua kehidupan membutuhkan yang peduli.”

Kurator mencatat. Tangannya—atau apa pun yang menyerupainya—bergetar satu kali.

Di luar, Kekosongan tidak lagi statis. Ia beriak, kecil namun nyata, seolah sebuah batu telah dilemparkan ke permukaan yang selama ini beku.

Dan di Flower’s Patisserie—di antara roti hangat, daun perak, dan tawa kecil seorang anak—sebuah kemungkinan tumbuh.

Bukan tentang kemenangan.

Bukan tentang kekuasaan.

Melainkan tentang cara bertahan tanpa kehilangan diri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!