"Jangan menghindar, Alana..."
dr. Raden Ganendra Adicandra adalah dokter bedah jenius yang dingin dan terhormat. Namun di balik pintu yang terkunci, ia adalah pria posesif yang menuntut kepatuhan mutlak.
Alana terjebak di antara rasa takut dan pesona berbahaya sang dokter. Bagi pewaris Adicandra itu, Alana adalah milik pribadi yang tak akan pernah ia lepaskan.
"Satu langkah lagi kau menjauh, Sayang... maka kau tak akan pernah keluar dari sini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhya_cha7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Bukan Lagi Perawat Biasa
Pagi yang cerah menyelimuti ruang makan keluarga Adicandra. Aroma roti panggang dan kopi memenuhi ruangan mewah itu.
Namun, suasananya terasa lebih formal dari biasanya.
Arsenio, Aristi, Raden, dan kedua orang tua Alana sudah duduk melingkar di tempatnya masing-masing.
Alana menarik napas panjang, lalu meletakkan garpunya perlahan sebelum mulai berbicara.
"Pa, Ma... Ayah, Ibu... Alana ingin menyampaikan sesuatu yang penting," ucap Alana memecah keheningan.
"Alana sudah memutuskan untuk mengundurkan diri dari rumah sakit tempat Alana bekerja selama ini."
Ayah dan Ibu Alana sempat saling pandang. Ada guratan kekhawatiran di wajah mereka.
Namun tidak bagi Arsenio. Ia justru meletakkan cangkir kopinya dan tersenyum tenang.
"Itu keputusan yang sangat tepat juga cerdas, Alana. Rumah sakit itu terlalu kecil untuk potensi yang kamu miliki," puji Arsenio penuh kekaguman.
"Benar, itu keputusan terbaik, Sayang. Kamu tidak perlu kelelahan bekerja untuk orang lain."
"Ya, walaupun rumah sakit itu masih berada di bawah kekuasaan Adicandra," timpal Mama Aristi sambil mengusap tangan Alana pelan.
Raden menggenggam erat tangan Alana di bawah meja, mencoba memberikan kekuatan.
"Mulai saat ini, Alana akan fokus mengelola klinik yang Raden berikan. Dan aku juga sudah memutuskan sesuatu," ucap Raden tegas.
"Raden tetap akan bekerja di rumah sakit utama, tapi sore hingga malam Raden akan membantu Alana di kliniknya."
"Kita akan membangun bersama-sama Alana Medical Center," lanjut Raden penuh keyakinan yang membuat orang tua Alana terharu.
Setelah sarapan selesai, Raden bersikeras mengantar Alana ke rumah sakit lama untuk menyerahkan surat pengunduran diri.
Saat ini, Alana tidak lagi menggunakan seragam perawat putihnya yang sederhana.
Ia mengenakan blazer berwarna soft blue dan celana kain senada yang membuatnya tampak seperti wanita karier kelas atas.
Akhirnya mereka tiba di rumah sakit.
Mobil sport mewah Raden berhenti tepat di lobi hingga mengundang perhatian banyak orang.
Langkah Alana terasa begitu ringan, seolah tanpa beban saat memasuki ruang perawat.
Namun seperti biasanya, suasana hangat di mansion berbanding terbalik dengan suasana di sini.
"Eh... eh... lihat guys, permaisuri kita datang nih. Tumben baru jam segini?" celetuk Suster Mia julid.
Saat itu, ia tengah berkumpul dengan gengnya di kantin kecil ruang perawat.
"Sombong banget ya sekarang. Mentang-mentang sudah dapat jackpot, jam kerja pun seenaknya," sindir Rina sambil tertawa remeh.
Mia berjalan mendekat dengan tangan bersedekap di dada.
Ia menatap sinis sekaligus iri melihat penampilan Alana yang tampak sangat mahal.
"Gaya selangit sudah kayak bos, tapi status masih perawat rendahan."
"Jangan terlalu tinggi terbang Alana, kalau jatuh itu sakit!" ucap Mia pedas.
Alana tidak terpancing sekalipun. Ia hanya tersenyum tipis, senyuman yang terlihat sangat elegan.
Tanpa memedulikan Mia, ia terus berjalan menuju meja Kepala Perawat untuk menyerahkan surat resign.
"Resign?" Kepala Perawat bertanya dengan cukup keras karena kaget.
Mendengar hal itu, Mia dan gengnya langsung mengerubung persis semut saat melihat makanan manis.
"Wah, akhirnya kamu sadar diri ya, Alana?"
"Sudah tahu bakal dipecat karena sering bolos, makanya langsung mengundurkan diri?" ejek Mia penuh kemenangan.
"Kasihan ya, cantik-cantik jadi pengangguran. Padahal sudah merayu Dokter Raden. Atau jangan-jangan sudah didepak dari keluarga Adicandra?"
Mendengar hinaan itu, Alana menoleh ke arah Mia dengan pandangan tenang namun tajam.
"Mia, sepertinya kamu salah sangka. Saya tidak mundur karena dipecat."
"Tapi saya pindah untuk mengurus klinik milik saya sendiri. Jadi, lebih baik kamu diam jika tidak tahu apa-apa. Jangan menyebar gosip," balas Alana telak.
"Klinik? Hahaha! Apa kamu sedang bermimpi, Alana? Cepat bangun, mungkin kamu sedang mengelindur!"
"Kalau pun itu benar, paling cuma klinik rumahan di gang sempit!" Tawa Mia pecah diikuti oleh rekan-rekan yang lain.
"Oh ya, aku doakan semoga kliniknya laku keras ya, agar kamu tidak mengemis untuk kerja di sini lagi!"
"Kliniknya ada di pusat kota, bahkan lebih lengkap dari ruangan ini, Suster Mia," suara dingin Raden tiba-tiba terdengar dari arah belakang.
Ternyata Raden sudah berdiri di ambang pintu dengan aura mengintimidasi.
Pria itu langsung melangkah masuk dan merangkul pundak Alana dengan sangat protektif.
"Nama tempatnya itu Alana Medical Center. Dan saya sendiri yang akan praktik di sana sebagai dokter spesialis bedah pendamping," lanjut Raden tenang.
Mia, Rina, dan Devi seketika membeku bagai es batu di dalam kulkas.
Tawa mereka seolah tersangkut di tenggorokan.
Status Alana yang sedari dulu mereka anggap rendah, kini meloncat jauh di atas mereka.
"Bu-bukan klinik kecil?" tanya Devi dengan suara bergetar.
Raden menatap tajam ke arah Mia.
"Saya harap nantinya kalian tidak perlu repot-repot untuk melamar di sana."
"Karena Alana hanya butuh orang-orang beretika. Bukan perawat seperti kalian yang mulutnya lebih sibuk daripada tangannya!"
Kepala perawat yang tadinya ikut menertawakan Alana hanya bisa terdiam.
Ia tahu saat ini dia baru saja kehilangan perawat terbaiknya sekaligus menanggung kemarahan dari pewaris Adicandra itu.
Alana mengambil tasnya dan menatap sekilas ke arah Mia untuk terakhir kalinya.
"Terima kasih untuk kerjasamanya selama ini, Suster Mia yang terhormat. Semoga kamu betah di sini," ucap Alana telak.
Alana dan Raden lalu berjalan keluar dengan kepala tegak tanpa menoleh lagi ke belakang.
Sesampainya di gedung klinik baru yang megah, Alana menghela napas panjang.
Rasa senang sekaligus lega menyelimuti hatinya.
Beban selama bekerja di bawah tekanan orang-orang julid kini sirna sudah.
"Akhirnya kamu bebas, Alana. Dan selamat datang di kerajaanmu sendiri," bisik Raden sambil mengecup keningnya.
"Mari kita buat semua orang menyesal karena pernah meremehkanmu."
*****
Catatan Penulis:
Puas banget ya lihat Alana kasih pelajaran ke Suster Mia yang mulutnya nggak sekolah itu! Akhirnya Alana resmi jadi Bos di kliniknya sendiri! Kira-kira gimana ya hari pertama Alana dan Raden kerja bareng di klinik baru?
Btw, gue juga punya karya lain yang nggak kalah seru...
Buat kalian yang suka karakter wanita yang lebih savage dan barbar lagi, yuk mampir ke novel kedua gue yang judulnya: "My Savage Wife: Mafia Juga Takut Istri".
Kalian bakal ketemu sama Zia, si dokter sekaligus pengacara yang hobi bikin suaminya si bos mafia kena mental karena tingkahnya yang kocak dan latahnya yang unik!
Yuk, langsung aja mampir ke profil gue dan 'Favoritkan' novelnya sekarang juga! Sampai ketemu di petualangan Zia dan sang mafia! 🔥✨