Kisah ini Terinspirasi dari Lengenda Urban Nenek Gerandong Di Banten Indonesia
Dulu kala Ada Ibu Muda yang sedang menyusui bayi, tiba tiba sosok nenek menyeramkan hadir membuat si ibu muda ketakutan dan pingsan. si nenek seram itu lalu menculik bayinya dan masuk ke dalam hutan dengan cara melayang
Jika bayi Ibu menyusui tak cepat ditemukan apa yang akan terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SARUNG GAME, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Penampakan Pertama Setelah Api Dendam
Desa Durian Berduri di lereng Padeglang, Banten, masih terkurung hutan lebat yang semakin ganas. Pohon-pohon durian liar kini lebih tinggi, duri-durinya seperti jari-jari kerangka yang menjulur ke langit.
Desa itu tak banyak berubah—rumah-rumah bambu reyot, jalan setapak berlumpur, dan orang-orang yang hidup dari tanah dan laut. Tapi bisik-bisik tentang "nenek pembalas" tak pernah pudar. Anak-anak dilarang bermain di pinggir hutan setelah matahari terbenam, dan setiap malam, orang tua memeriksa pintu-pintu dua kali.
Malam itu, sehabis adzan Isya bergema dari masjid kecil di tengah desa, langit seperti marah besar. Awan hitam menumpuk tebal, menyembunyikan bintang-bintang. Hujan mulai turun deras, seperti air mata Raksasa yang murka, disertai angin kencang yang menggoyang atap-atap daun rumbia. Sesekali, kilatan petir menyambar, menerangi hutan sejenak—seolah memperingatkan bahwa kegelapan bukanlah tempat yang aman.
Di salah satu rumah sederhana di pinggir desa, Sari Wangi—atau yang biasa dipanggil Teh Sari—duduk sendirian di kursi kayu tua yang sudah retak-retak. Usianya baru 19 tahun, tapi wajahnya sudah memancarkan keanggunan seorang ibu. Cantik luar biasa, dengan kulit kuning langsat yang mulus seperti sutra, tak ada noda sedikit pun. Rambut hitamnya yang panjang disanggul rapi, meninggalkan aroma minyak kemiri yang samar. Tubuhnya langsing tapi berisi di tempat yang tepat—payudara montok yang kini sedang menyusui bayinya yang berusia tiga bulan, dan pantat yang penuh, membuat jarik batiknya melengkung indah. Ia mengenakan kebaya kuning sederhana, kainnya tipis menempel di kulit yang lembab karena gerah malam tropis.
Bayinya, seorang gadis kecil bernama Lilis, mengisap susu dari payudara kiri Teh Sari dengan lahap. Teh Sari menatap wajah mungil itu dengan sayang, tangannya yang halus mengelus pipi bayi. Tapi di luar, hujan semakin ganas, angin menderu seperti jeritan hantu, dan kilat sesekali membuat bayang-bayang aneh menari di dinding rumah.
Teh Sari sendirian malam ini. Suaminya, Daeng Tasi, berusia 31 tahun, sedang melaut di Selat Sunda. Lelaki keturunan Bugis-Makassar itu—dua suku berbeda tapi satu rumpun dari tanah Sulawesi—bukan orang sembarangan. Leluhurnya, terutama kakek moyangnya, adalah salah satu dari 70.000 pasukan Kesultanan Makassar yang dipimpin Karaeng Galesong, putra Sultan Hasanuddin dari Gowa. Mereka berlayar dengan 70 kapal armada perang untuk membantu Kesultanan Banten melawan VOC Belanda. Kakek moyang Daeng Tasi bahkan membawa istrinya, seorang dayang-dayang cantik dari Kerajaan Bugis Bone, yang kini darahnya mengalir di tubuh Daeng Tasi sendiri.
Daeng Tasi kini bekerja sebagai nelayan ulung, tapi malam ini ia bergabung dengan rombongan peneliti Belanda yang sedang memburu misteri "monster laut" di perairan dalam. Bayarannya lumayan—beberapa puluh keping emas yang bisa menghidupi keluarga mereka setahun penuh. Tapi Daeng Tasi tak lupa kewajibannya: sebelum menerima upah, ia akan bayar 2,5 persen zakat ke Baitul Mal desa, dan sisanya infaq serta sedekah untuk tetangga yang membutuhkan. Teh Sari tersenyum tipis memikirkan suaminya yang gagah, tapi senyum itu pudar ketika angin menderu lebih kencang, membuat daun pintu bergoyang.
Saat Teh Sari bergeser di kursinya untuk mengubah posisi, jarik batiknya tersingkap sedikit, memperlihatkan sepasang paha mulus yang putih bersih, berkilau samar di cahaya lampu minyak yang redup. Hujan deras kini seperti tamparan di atap, dan kilat menyambar lagi, menerangi ruangan sejenak. Bulu kuduk Teh Sari tiba-tiba berdiri.
Udara terasa lebih dingin, seolah ada hembusan napas dingin dari belakang lehernya. Ia merasakan sesuatu yang aneh—seperti mata tak kasat yang mengintai dari kegelapan. Bayinya berhenti mengisap, mata kecilnya terbuka lebar, seolah juga merasakan.
Tiba-tiba, dari arah hutan yang gelap, terdengar suara tawa tinggi yang menyeramkan. Bukan tawa manusia—suara itu serak, pecah-pecah seperti kayu terbakar, bergema di antara deru hujan. Teh Sari membeku. Jantungnya berdegup kencang, tangannya memeluk bayi lebih erat. "Ya Allah..." gumamnya, suaranya gemetar. Ia ingat cerita lama yang diceritakan neneknya—tentang nenek dukun yang dibakar warga, yang jasadnya tak ditemukan, dan dendamnya yang abadi.
Dengan langkah goyah, Teh Sari berusaha berdiri. Ia harus menutup pintu, mengunci jendela. Tapi sebelum niatnya terlaksana, angin menderu masuk melalui celah pintu yang terbuka lebar. Hujan menyiprat ke dalam, memadamkan lampu minyak. Kegelapan menelan ruangan. Dan di tengah kegelapan itu, sebuah sosok melayang masuk—lambat, tapi tak terhindarkan—berhenti tepat di depan Teh Sari.
Sosok itu... mengerikan. Rambut kelabu panjang menjuntai hingga menyentuh lantai, kusut dan basah seperti rumput laut busuk. Wajahnya separuh hancur, kulitnya hitam gosong seperti bekas terbakar, dengan luka-luka menganga yang masih mengeluarkan asap samar. Matanya menyala merah seperti bara api yang tak pernah padam. Ia mengenakan daster panjang longgar berwarna putih kotor, compang-camping, robek-robek seperti kain kafan yang digali dari kubur. Bau amis kemenyan bercampur darah menyengat, membuat Teh Sari mual.
Teh Sari tercekat. Kakinya lemas, tubuhnya ambruk ke lantai dengan pelan, pingsan sambil memeluk bayinya erat-erat. Bayi Lilis mulai menangis pelan, tapi suara itu segera lenyap.
Sosok itu—Mbah Saroh, yang kini dikenal sebagai Nenek Gerandong—melayang mendekat. Tangan kurusnya yang berkeriput, dengan kuku panjang hitam, merenggut bayi dari pelukan Teh Sari. Bayi itu tak menangis lagi; seolah terhipnotis oleh mata merah itu. Dengan tawa serak yang sama, Nenek Gerandong melayang pergi, membawa bayi ke kegelapan hutan. Hujan semakin deras, menyembunyikan jejaknya, tapi desa akan segera tahu: pembalasan telah dimulai.
\*\*\*