NovelToon NovelToon
Miranda Istri Yang Diabaikan

Miranda Istri Yang Diabaikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Selingkuh / Nikah Kontrak
Popularitas:15.6k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Miranda menikah selama 2 tahun berbakti pada suami
membantu suami keluar dari kebangkrutan
sayang sekali setelah sukses suaminya selingkuh
bagaimana kehidupan miranda selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mia 32

Miranda duduk dengan punggung tegak di sebuah ruangan luas milik pengacara Lutfi Hakim. Ruangan itu tampak mewah, namun tidak berlebihan. Lemari kayu jati tua berjajar rapi di sudut ruangan, penuh dengan benda-benda antik yang terawat. Di dinding tergantung beberapa foto besar. Foto-foto itu memperlihatkan Lutfi Hakim sedang berjabat tangan dengan klien-klien ternama, pejabat tinggi, dan tokoh penting yang wajahnya sering muncul di televisi.

Miranda sempat merasa canggung. Ia bukan orang yang terbiasa berada di tempat seperti ini. Namun ia menenangkan diri. Ia datang bukan untuk pamer, melainkan untuk menuntut haknya.

“Saya hanya ingin hak saya, tidak ada yang lain,” ucap Miranda dengan suara tenang, meski matanya menyiratkan kelelahan panjang setelah menceritakan seluruh kronologis kasus yang ia alami.

Lutfi Hakim menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ia menautkan kedua jarinya, lalu tersenyum tipis.

“Ini kasus yang mudah sekali, Miranda,” katanya santai. “Apalagi ada akta notaris yang sah. Posisi kamu sangat kuat.”

Nada bicara Lutfi sudah jauh dari kesan formal. Setelah hampir satu jam berbincang, jarak di antara mereka terasa mencair. Tidak ada lagi sekat klien dan pengacara yang kaku.

Miranda menarik napas pelan. Ada satu hal yang sejak tadi mengganjal di pikirannya.

“Apa Bapak tidak meragukan dari mana asal-usul uang saya?” tanyanya hati-hati.

Lutfi tertawa kecil, lalu menggeleng.

“Seseorang yang mampu mengeluarkan Sanjaya Grup dari krisis besar tentu orang yang kompeten,” jawabnya. “Uang sebesar itu justru terbilang kecil bagi orang berbakat seperti kamu, Miranda.”

Miranda terdiam. Ia tidak menyangka akan mendapat kepercayaan semudah itu. Ia menatap Lutfi dengan sorot heran.

“Apa Bapak menyelidiki saya sebelumnya?” tanyanya.

“Tentu saja tidak,” jawab Lutfi mantap. “Saya baru bertemu kamu hari ini. Tapi saya sudah berkali-kali menangani kasus seperti ini. Kompetensi seseorang tidak selalu ditentukan oleh gelar atau pendidikan formal. Orang yang sudah melewati proses membangkitkan perusahaan bangkrut hingga berdiri kokoh seperti sekarang, mana mungkin saya meragukannya.”

Kata-kata itu membuat dada Miranda terasa lebih lapang. Ia tersenyum kecil. Rasanya jauh lebih nyaman berdiskusi dengan orang yang benar-benar paham substansi, bukan dengan mereka yang hanya sibuk membanggakan status dan titel tanpa kemampuan nyata.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Miranda merasa tidak sendirian.

Sementara itu, di ruang tamu rumah Rizki, suasana jauh berbeda. Ketegangan terasa kental di udara.

Rizki mondar-mandir dengan wajah kesal. Raut mukanya menunjukkan kekecewaan karena mereka ternyata salah memilih orang.

“Tenang saja, Pak Rizki,” ujar seorang pria berkacamata bernama Lutfi Kurniawan. “Kalau Anda percaya pada saya, kasus ini masih bisa Anda menangkan.”

Rizki menghentikan langkahnya. Ia menatap tajam.

“Berarti Anda akan melawan senior Anda sendiri?” tanyanya sinis. “Dan setahu saya, satu firma tidak bisa menangani dua kasus yang saling berlawanan.”

Lutfi Kurniawan tersenyum tipis, seolah sudah menduga pertanyaan itu.

“Saya baru dua bulan di sini,” jawabnya. “Senior saya itu terlalu kuno dalam menyelesaikan perkara. Selain itu, saya juga terdaftar di firma Robert. Pak Robert itu paman saya sendiri. Anda tahu kasus korupsi yang kemarin heboh, yang koruptornya akhirnya bebas?”

Rizki mengangguk. Kasus itu memang sempat ramai dan menuai kemarahan publik.

“Pengacaranya Pak Robert,” lanjut Lutfi Kurniawan dengan nada yakin.

Saras yang sejak tadi diam kini tampak antusias.

“Jadi Anda yakin bisa memenangkan kasus ini?” tanyanya cepat.

Lutfi Kurniawan terdiam. Ia tampak berpikir cukup lama sebelum akhirnya berbicara.

“Sebenarnya ini berat,” katanya jujur. “Butuh biaya besar. Kalau saran saya, lebih baik Anda berikan saja enam miliar itu pada Miranda.”

Rizki dan Saras saling pandang. Mereka jelas terkejut. Pendapat Lutfi berubah drastis.

Namun Rizki bukan orang polos. Ia tahu betul ini bukan sekadar saran. Ini adalah tawar-menawar.

“Kalau kami ingin menang,” kata Rizki dingin, “berapa yang harus kami keluarkan?”

Lutfi Kurniawan menghela napas berat, seolah sedang menimbang sesuatu yang sulit.

“Kurang lebih empat miliar,” ucapnya akhirnya. “Tapi jika kasus ini dimenangkan, nama baik keluarga Sanjaya akan terangkat. Itu tentu berdampak baik pada bisnis Anda. Sebaliknya, jika Anda mengalah, sebenarnya tidak ada dampak besar. Hanya saja rekan bisnis akan menganggap Sanjaya Grup tidak tahu diri. Setelah keluar dari krisis, malah mencampakkan orang yang menyelamatkan perusahaan.”

Ucapan itu menghantam ego Rizki dan Saras tepat sasaran.

Mereka terdiam lama.

Sebenarnya, memberi enam miliar pada Miranda bukan masalah besar. Mereka masih sangat mampu. Namun gengsi mereka jauh lebih mahal daripada uang. Dikalahkan oleh Miranda terasa seperti kekalahan mutlak.

“Baiklah,” ucap Rizki akhirnya. “Kami sepakat.”

“Kalau begitu,” kata Lutfi Kurniawan, “transaksi kita lakukan di firma Robert. Tidak di sini.”

Di tempat lain, Baron dan Luki melaju kencang dengan sepeda motor menuju Pelabuhan Merak. Angin malam menghantam wajah mereka. Di kepala mereka hanya ada satu tujuan, kabur setelah menerima uang seratus juta dari Anton.

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.

“Gila, ada yang mengejar kita,” teriak Baron panik.

Luki memacu motor lebih kencang. Mereka berbelok tajam, masuk ke gang sempit, lalu keluar lagi ke jalan lain.

“Tenang, Bos,” kata Luki sambil terengah. “Ini jalan yang sudah saya hafal.”

Mereka berhenti sejenak di ujung gang untuk mengatur napas.

“Sepertinya Anton mengejar kita,” ujar Baron dengan suara rendah.

“Kalau begitu kita foto saja ponsel Miranda,” saran Luki. “Bilang kalau kita tahu rahasianya.”

Baron menggeleng. “Anton bukan orang bodoh. Foto ponsel saja tidak cukup. Kecuali kita bisa membuka kodenya.”

Mereka terdiam. Rencana berubah. Mereka memutuskan kembali ke Lampung. Di sana banyak saudara. Mereka akan lebih aman.

“Lanjutkan saja, Bang,” kata Luki. “Sepertinya sudah aman.”

Mereka kembali melaju, melewati jalan persawahan yang sepi. Hampir tidak ada kendaraan lain.

Tiba-tiba, sebuah mobil pengantar paket melintang di depan mereka.

“Ah, sial,” gerutu Luki. “Putar baliknya jauh.”

Dua orang tampak berjongkok di dekat ban mobil.

“Kita bantu saja,” kata Baron. “Daripada mutar jauh.”

Mereka mendekat. Baru beberapa langkah, tiba-tiba pukulan keras menghantam tengkuk mereka.

Gelap.

Beberapa jam kemudian, Baron dan Luki terbangun. Langit-langit kusam penuh sarang laba-laba menyambut pandangan mereka. Tangan mereka terikat kuat.

Lampu menyala. Sorotnya menyilaukan.

“Bos, mereka sudah bangun,” ujar suara seorang pria.

Langkah kaki mendekat. Seorang laki-laki berdiri di hadapan mereka. Tatapannya tajam, dingin, penuh intimidasi.

“Di mana ponsel Miranda?” tanyanya datar.

“Kami tidak tahu,” jawab Baron cepat.

Baron akan mempertahankan ponsel itu bagaimanapun juga..karena kalau ponsel itu sudah terbuka akan bernilai tinggi.

Pria itu tersenyum tipis, senyum yang tidak membawa kehangatan apa pun.

“Tio,” katanya pelan. “Ambilkan arang, gunting, dan besi coran. Aku akan menempelkan ke mereka sampai mereka mengaku.”

1
THAILAND GAERI
loh,,katanya hp nya hilang diambil Baron Ama kuki,,trs kok Miranda ditelp berkali2 ma org???apa beli hp baru ambil nomor sama ke Telkomsel GraPARI?
THAILAND GAERI
terlalu slow motion nih ceritanya..tp bikin curious🤣
Umi Asijah
ditunggu kelanjutannya
putmelyana
semangat Thor
putmelyana
lanjut terus ceritanya Thor aku nungguin chapter nya banyak dulu baca awal³ bikin sakit hti gak sanggup aku
cinta semu
bisa ny cuman curiga ...kalo g bisa ngatasi mending pergi aja knp ...biar g di bodohi terus
cinta semu
Miranda ny memang aneh ,, kebanyakan ngelamun 😁😁
cinta semu
Miranda bermain cantik berikan saja Amora pada keluarga raka ...u bisa ngatur strategi buat cari info suami u
falea sezi
MC nya goblok cerita muter teros
falea sezi
novel bkin mood anjlok maaf q ksih rating jelek
falea sezi
novel bertele tele
THAILAND GAERI: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
falea sezi
novel banyak teka teki jadi male baca g sat set/Drowsy/
falea sezi
MC nya goblok oon
sutiasih kasih
lnjut thor
sutiasih kasih
keluarga sundel....
awas klo mngemis pda miranda🙄🙄
sedayu
bikin naik darah si Rizky Sarah ini ...eh dukung aku Thor di sarjana undercover
sedayu
saras kudu si San tet 🤣
sutiasih kasih
kpan org tua durjana dpt karma ya🤔🤔🤔
trus para manusia" laknat kpan jga musnah n brhnti mngusik hidup miranda..🙄🙄
sutiasih kasih
ank kndung di sia"kn... ank pungut di ratukan...
ya sallam..... dunia memang suka trbalik dan lucu...
🙄🙄
Ma Em
Ayo Miranda hancurkan Anton dan Melisa jgn biarkan hdp nya tenang , apalagi si anak pungut Melisa itu buat dia menyesal seumur hdp nya serta Joni dan Ratna biar mereka tau bahwa anak yg dia sayangi itu hanya seorang penipu .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!