NovelToon NovelToon
The Fault In Our Secrets

The Fault In Our Secrets

Status: tamat
Genre:Ketos / Duniahiburan / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:10
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Di dunia yang penuh sandiwara, kebenaran adalah satu-satunya hal yang paling berbahaya."
Bagi semua orang di SMA Garuda, Jenny adalah definisi kesempurnaan. Sebagai ketua pemandu sorak yang ceria dan ramah, hidupnya tampak lengkap dengan kehadiran Jonathan, ketua OSIS yang kaku namun romantis, serta Claudia, sahabat yang selalu ada di sisinya. Jenny memiliki segalanya—atau setidaknya, itulah yang ia percayai.
Namun, di balik pintu ruang OSIS yang tertutup dan senyum manis para sahabat, sebuah pengkhianatan sedang tumbuh subur. Jonathan yang ia puja dan Claudia yang ia percaya, menyembunyikan api di balik punggung mereka.
Hanya satu orang yang berani mengusik "gelembung" bahagia milik Jenny: Romeo. Sang kapten tim voli yang kasar, red flag, dan rival bebuyutan Jenny sejak hari pertama. Romeo benci kepalsuan, dan ia tahu betul bahwa mahkota yang dipakai Jenny sudah retak sejak lama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Jenny berdiri di depan cermin besar kamarnya, merapikan bando merah menyala yang menghiasi rambut bergelombangnya. Ia mengenakan cardigan merah lembut di atas seragamnya, memberikan kesan hangat, ceria, dan sangat "Jenny". Tidak ada lagi sisa air mata semalam. Abu foto-foto yang ia bakar sudah ia buang jauh-jauh.

Hari ini, Jenny memutuskan untuk memakai kembali topengnya, tapi dengan kekuatan yang berbeda. Ia tidak akan membiarkan dunia melihatnya hancur. Ia akan kembali menjadi "Golden Girl" SMA Garuda, namun kali ini, ia adalah ratu yang memegang kendali penuh.

Ia menarik napas dalam, mengembuskannya perlahan, lalu tersenyum. Senyum yang sempurna. Senyum yang akan membuat Jonathan menyesal dan Claudia merasa kerdil.

Begitu turun dari taksi di depan gerbang sekolah, Jenny tidak berjalan lesu. Ia berlari kecil memasuki koridor, langkah kakinya terdengar ringan dan bersemangat.

"Pagi, Pak Satpam! Kopinya jangan lupa diminum ya, Pak!" sapa Jenny dengan nada riang.

"Pagi, Kak Jenny! Wah, makin cantik pakai merah!" seru seorang adik kelas.

"Pagi! Kamu juga semangat ya belajarnya!" balas Jenny sambil melambaikan tangan.

Ia melewati kerumunan siswa yang tadinya sedang berbisik-bisik soal skandal kemarin. Begitu melihat Jenny yang begitu ceria dan bersinar, bisikan-bisikan itu berubah menjadi decak kagum. Jenny menyapa hampir semua orang yang ia temui; ketua klub catur, anak-anak teater, hingga bibi kantin. Ia seolah menyebarkan aura positif yang membuat orang lupa bahwa gadis ini baru saja dikhianati secara brutal.

Di depan loker kelas 12 IPA 3, Jenny berpapasan dengan Claudia. Claudia terlihat sangat kontras; matanya sembap, wajahnya kusam tanpa riasan, dan ia tampak seperti orang yang tidak tidur semalaman.

"Pagi, Claudia!" sapa Jenny dengan suara lantang dan senyum lebar.

Claudia tersentak, bahunya gemetar. Ia menatap Jenny dengan bingung dan takut. "J-jen? Pagi..."

"Aduh, kamu kok pucat banget sih? Kurang tidur ya mikirin skenario baru?" Jenny mendekat, merapikan kerah baju Claudia yang sedikit berantakan dengan gerakan yang sangat manis namun mengancam. "Jangan sedih terus dong, nanti cantiknya hilang. Padahal itu kan satu-satunya modal kamu buat narik perhatian cowok orang, kan?"

Beberapa siswa di sekitar mereka menahan tawa. Claudia hanya bisa menunduk, meremas tali tasnya kuat-kuat. Ia merasa seperti sedang dihina di depan umum dengan cara yang paling sopan di dunia.

"Aku duluan ya, banyak yang harus diurus!" Jenny melenggang pergi dengan tawa kecil, meninggalkan Claudia yang merasa semakin terisolasi.

Saat jam istirahat tiba, Jenny menuju kantin. Ia tahu dia akan menjadi pusat perhatian. Begitu ia masuk, dua orang langsung berdiri dari meja mereka masing-masing: Angga dan Jonathan.

Jonathan mencoba mencegatnya lebih dulu. "Jen, aku mau bicara soal permintaan maaf aku yang tadi malam..."

Jenny tidak berhenti. Ia hanya menepuk pundak Jonathan sekilas sambil terus berjalan. "Nanti ya, Jo. Aku lagi laper banget, nggak mau denger dongeng sedih dulu."

Ia justru berjalan menuju meja di mana Angga sudah menyiapkan kursi untuknya. Di sana juga ada Romeo yang sedang duduk santai sambil memutar-mutar ponselnya.

"Pagi, cowok-cowok hebat!" sapa Jenny sambil duduk di antara mereka.

Angga tersenyum lebar, matanya berbinar melihat penampilan Jenny yang serba merah. "Lo cantik banget hari ini, Jen. Merah bener-bener warna lo."

"Makasih, Angga. Gue butuh warna yang berani buat hari yang baru," jawab Jenny manis.

Romeo, di sisi lain, hanya mendengus, tapi matanya tidak lepas dari bando merah di kepala Jenny. "Bando lo kegedean. Kayak antena," komentar Romeo ketus, tapi ia mendorong segelas jus jeruk dingin ke arah Jenny. "Minum tuh, biar tenggorokan lo nggak kering gara-gara kebanyakan nyapa orang."

"Galak banget sih, Rom. Tapi makasih ya," Jenny menyesap jusnya.

Suasana kantin semakin panas saat Lisa datang dan melihat pemandangan itu. Lisa berjalan mendekat, wajahnya menunjukkan ketidaksukaan yang amat sangat melihat Jenny "dijaga" oleh dua bintang sekolah sekaligus.

"Lo bener-bener muka dua ya, Jen?" sindir Lisa sambil berkacak pinggang di samping meja mereka. "Kemarin jambak orang, sekarang akting jadi bidadari lagi. Lo nggak capek pakai topeng?"

Jenny meletakkan gelas jusnya perlahan. Ia berdiri, menatap Lisa dengan senyum yang sangat tenang—senyum kesayangan guru-guru.

"Lisa sayang," suara Jenny sangat lembut. "Daripada lo sibuk ngurusin topeng gue, mending lo urusin deh tuh sahabat lo, Claudia. Dia kayaknya lagi butuh temen buat nangis di pojokan perpus. Lagian, bukannya lo harusnya berterima kasih sama gue? Kalau bukan karena gue ngebuka borok mereka, lo mungkin masih bakal nganggep Claudia itu sahabat suci, kan?"

Lisa terdiam, mulutnya terbuka tapi tidak ada kata yang keluar.

"Satu lagi," Jenny mendekat ke telinga Lisa. "Gue nggak perlu akting jadi bidadari buat disukai orang. Orang-orang suka sama gue karena gue jujur sama perasaan gue. Kalau gue marah, gue jambak. Kalau gue seneng, gue senyum. Simpel, kan?"

Jenny berbalik ke arah Angga dan Romeo. "Ayo cabut. Tiba-tiba di sini udaranya jadi sesek."

.

Sambil berjalan keluar kantin, Angga menggandeng tangan Jenny dengan berani. Jenny tidak menolak, meskipun ia sempat melirik ke arah Romeo yang berjalan di sisi lainnya dengan tangan di saku jaket.

"Jen, soal tawaran gue semalem..." bisik Angga saat mereka sudah agak jauh dari keramaian.

Jenny berhenti sebentar, menatap Angga lalu menatap koridor sekolahnya yang luas. Ia melihat Jonathan yang sedang menatapnya dari jauh dengan tatapan hancur. Ia melihat Claudia yang sedang berjalan cepat menjauh dari tatapan orang-orang.

"Ngga," Jenny tersenyum manis. "Kasih gue waktu sampai pulang sekolah nanti ya? Gue mau nikmatin momen 'kembalinya' gue sebagai Jenny yang baru. Tapi satu yang pasti... gue nggak bakal balik ke masa lalu."

Romeo yang mendengar itu hanya tersenyum miring. Ia tahu, Jenny bukan lagi gadis yang bisa dipermainkan. Ia adalah badai yang dibalut dengan cardigan merah dan bando cantik.

Apa yang akan terjadi saat pulang sekolah nanti?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!