NovelToon NovelToon
Kebetulan Menjadi Legenda Murim

Kebetulan Menjadi Legenda Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Fantasi Timur / Epik Petualangan / Antagonis
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Drunk Cats

Geun hanya ingin cepat kaya dan hidup nyaman.

Tapi setiap kebohongan kecil dan pertarungan nekat demi uang justru melahirkan legenda baru.

Saat dunia bela diri mulai menyebutnya monster dan iblis, Geun sendiri hanya sibuk mencari kerja dengan bayaran tinggi.

Geun yang awalnya hanyalah pemuda gelandangan yang ingin hidup bebas dan nyaman, namun tanpa sadar meninggalkan jejak yang mengubah dunia bela diri selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drunk Cats, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab #29: Klinik Dadakan

Tiga hari setelah insiden "Palu dan Madu", Geun sudah kembali berjalan-jalan di halaman Balai Penjaga.

Langkahnya masih agak pincang, tapi bukan karena sakit. Itu pincang karena "hemat energi".

Di tangannya, dia menggenggam paha ayam rebus utuh, janji Baek Mu-jin yang ditepati untuk memberinya ayam setiap hari. Geun memakannya dengan lahap sambil jongkok di pinggir lapangan latihan, menonton ratusan murid Wudang yang sedang berlatih pedang di pagi hari.

Bagi orang awam, pemandangan itu memukau. Ratusan pedang bergerak serentak, membelah angin dengan suara wush-wush yang indah.

Tapi bagi Geun yang memiliki mata spesial, pemandangan itu menyakitkan untuk dilihat.

"Aduh... itu pinggangnya..." gumam Geun sambil mengunyah tulang rawan ayam.

Di mata Geun, dia tidak melihat keindahan formasi.

Dia melihat biomekanika yang kacau.

Dia melihat seorang murid berbadan besar yang memaksakan kuda-kuda rendah, padahal struktur tulang panggulnya agak miring ke kiri. Akibatnya, aliran energi di lutut kanannya merah menyala, tanda peradangan parah.

Dia melihat murid lain yang mengayunkan pedang dengan bahu kaku, membuat otot trapeziusnya melintir seperti kabel kusut setiap kali menebas.

"Mereka ini mau jadi pendekar atau mau jadi orang cacat?" komentar Geun menggelengkan kepala. "Salah urat dipelihara."

Tiba-tiba, seorang murid muda di barisan depan terjatuh saat melakukan tendangan memutar.

"Aaaargh! Kakiku!"

Murid itu memegangi betisnya, berguling-guling kesakitan. Latihan berhenti. Beberapa teman-temannya mengerumuni.

"Kram otot lagi?"

"Panggil tabib jaga!"

Geun melihat dari jauh. Dia melihat otot betis murid itu memendek mendadak dan melintir. Energi di sana macet total, membentuk simpul panas.

Otak bisnis Geun langsung menyala.

Peluang.

Geun berdiri, melempar tulang ayamnya ke semak-semak, lalu berjalan mendekat dengan gaya sok tahu.

"Minggir, minggir. Biar ahli yang lihat," kata Geun membelah kerumunan.

Para murid menoleh. Mereka mengenali Geun sebagai Tamu yang kemarin berteriak-teriak minta tolong karena kepanasan. Tatapan mereka meremehkan.

"Kau?" cibir salah satu murid senior. "Kau bukan tabib. Kau cuma orang sakit yang numpang makan. Jangan ganggu."

"Sakit?" Geun menunjuk murid yang meraung di tanah. "Dia yang sakit. Aku yang sehat. Kalian mau nunggu tabib datang sepuluh menit lagi sementara otot anak ini putus, atau mau aku beresin sekarang?"

Murid yang kesakitan itu menangis. "Tolong... sakit sekali... rasanya mau putus!"

Geun berjongkok di sampingnya.

"Dengar ya, Dik. Jasa ini nggak gratis. Tapi karena ini praktik pertamaku, aku kasih diskon satu persen. Ingat itu."

Tanpa menunggu persetujuan, Geun mencengkeram betis murid itu.

Tangan Geun terasa berbeda sekarang.

Setelah menyerap "Ramuan Sembilan Matahari" dan ditempa palu, jari-jari Geun kerasnya seperti catut besi.

Dia tidak menggunakan energi internal. Karena dia memang tidak perlu energi atau Qi untuk hal ini.

Dia menggunakan Pemahaman Anatomi Amatirnya yang dia dapat dari penglihatan matanya.

Dia melihat simpul otot yang dibaluti energi internal itu tampan kusut.

Dia melihat urat yang terjepit di antara tulang.

"Tahan napas," perintah Geun.

"Ap—"

KREK!

Geun menekan jempolnya sedalam mungkin ke pusat simpul otot itu, lalu memelintir paksa berlawanan arah jarum jam.

"HUWAAAAAAA!!!"

Jeritan murid itu begitu keras sampai burung-burung di pohon terbang kabur.

Wajahnya pucat, matanya terbalik ke atas, mulutnya berbusa sedikit. Dia pingsan saking sakitnya.

Para murid lain melotot horor.

"Kau membunuhnya?!" bentak murid senior, mencabut pedang. "Kau mematahkan kakinya!"

"Cih. Lebay," Geun berdiri, menepuk-nepuk tangannya seolah membersihkan debu. "Bangunin dia."

Murid senior itu ragu-ragu memeriksa temannya yang pingsan. Dia menepuk pipinya.

"Hei! Bangun!"

Murid itu tersentak sadar. "Hah! Sakit! Eh...?"

Dia meraba betisnya.

Wajahnya berubah bingung. Dia menekuk kakinya. Lurus. Tekuk. Lurus.

Lalu dia berdiri dan melompat-lompat.

"Lho?" Murid itu takjub. "Sembuh? Kok enteng banget? Rasanya jauh lebih ringan dari sebelum kram!"

Geun menyeringai lebar.

Tentu saja enteng. Geun bukan cuma melemaskan kramnya, dia juga menggeser sedikit posisi tulang kering anak itu agar alur ototnya lebih efisien. Itu adalah istilah medis untuk Mikro-Koreksi Biologis yang Geun sendiri tidak tahu istilah itu.

"Nah," Geun menengadahkan tangan. "Ucapkan terima kasih."

"Terima kasih, Tuan Geun! Wah, hebat sekali!"

"Bukan ucapan," potong Geun dingin. "Terima kasih dalam bentuk koin."

......................

Sore harinya.

Kamar sempit Geun di area gudang belakang berubah fungsi.

Di pintu kayu lapuk itu, tertempel kertas bertuliskan tulisan tangan cakar ayam,

[KLINIK PIJAT URAT & TULANG "PASTI BUNYI"]

[Spesialis: Salah Urat, Pinggang Encok, Leher Kaku, Tulang Geser.]

[Metode: Tanpa Qi, Tanpa Doa. Murni Kekerasan Fisik.]

[Tarif: 9 Tael Perak untuk Murid Luar, 99 Tael Perak untuk Murid Dalam.]

[Motto: Kalau Nggak Sakit, Berarti Belum Sembuh.]

[Menerima Uang Tip]

Antrean di depan kamarnya sudah mengular sampai ke kandang kuda.

Berita tentang "Pijat Ajaib" menyebar kilat. Para murid Wudang yang setiap hari menyiksa tubuh dengan latihan keras adalah pasar yang sangat haus akan penyembuhan instan.

"AAARRRGGHHHH!!!!"

"Berikutnya!" teriak Geun dari dalam.

Seorang murid masuk dengan bahu miring.

"Tuan Geun, bahu saya sakit kalau angkat pedang..."

"Duduk."

Geun tidak memeriksa nadi. Dia cuma melihat sekilas dengan mata merahnya.

"Otot bahu melintir. Sendi bahu turun setengah inci. Kurang minum air." ujar Geun.

Untuk bagian otot adalah benar, namun untuk bagian kurang minum air adalah omong kosong yang Geun ucapkan karena bibir murid itu terlihat kering.

"Wah, kok tahu?"

"Bayar dulu."

Kling. Koin ditaruh di meja.

Geun langsung beraksi.

Dia melompat ke punggung murid itu, menahan lehernya dengan siku, lalu menarik lengan murid itu ke belakang sampai batas maksimal sendi.

KRAAAK!

"AAARGHH! IBUUUU!"

Jeritan memilukan kembali terdengar. Murid-murid yang antre di luar merinding ngeri, wajah mereka pucat.

"Gila... suaranya kayak kayu patah..."

"Tapi lihat si Jin-ho yang baru keluar tadi. Dia langsung lari keliling lapangan sepuluh kali sambil ketawa-tawa."

"Benar. Katanya tenaganya naik dua puluh persen."

Di dalam kamar, Geun menendang pantat pasiennya yang masih menangis sesenggukan tapi bahunya sudah bisa berputar 360 derajat dengan lancar.

"Sudah, sana keluar. Jangan menuhin tempat. Berikutnya!"

Bisnis Geun meledak.

Dia tidak menyalurkan energi. Dia justru memperbaiki wadah energi mereka.

Para murid Wudang terbiasa mengolah Qi menjadi energi internal yang murni dengan teknik pernafasan mereka, tapi sering mengabaikan Fisik sebagai wadahnya. Geun datang sebagai "Mekanik Bengkel" yang mengetok magic chassis mereka yang penyok.

Dalam tiga hari, Geun sudah mengumpulkan 6.000 Tael Perak lebih.

Dia tidur di atas tumpukan uang koin. Makanannya bukan lagi bubur, karena dia selalu menitipkan uang ke murid dapur yang selalu belanja ke pasar untuk keperluan dapur, dimana Geun setiap hari menitip minta dibelikan daging sapi panggang setiap malam.

Julukan "Praktisi Liar yang Diselamatkan" hilang.

Sekarang dia punya julukan baru di kalangan murid muda, Tabib Iron-Finger Demon.

Iblis karena pijatannya rasanya seperti siksaan neraka. Jari Besi karena jarinya sekeras baja.

Namun, tidak semua orang senang.

Baek Mu-jin dan Seo Yun-gyeom datang berkunjung pada hari keempat, melihat antrean panjang itu dengan wajah khawatir.

"Saudara Geun," tegur Mu-jin saat Geun sedang istirahat makan siang sambil menghitung uang. "Apa yang kau lakukan ini... agak tidak etis. Kau bukan tabib resmi."

Di samping Geun ada tumpukan buku-buku anatomi tubuh manusia. Geun menyelingi waktunya sambil belajar anatomi, demi membuat diagnosis yang meyakinkan pelanggan.

"Aku tidak ngasih obat," jawab Geun santai sambil menggigit apel. "Aku cuma jasa reparasi. Kayak tukang jahit, tapi yang dijahit manusia."

"Tapi suara jeritan dari kamarmu mengganggu konsentrasi meditasi Tetua," kata Yun-gyeom. "Dan beberapa murid jadi ketagihan. Mereka memaksakan latihan berlebihan karena berpikir 'Ah, kalau rusak tinggal ke tempat Geun'."

Geun tertawa. "Itu namanya bisnisku lagi lancar."

Tiba-tiba, mata Geun menyipit menatap Mu-jin.

"Ngomong-ngomong, Saudara Baek. Itu pinggang kirimu agak kaku ya? Bekas luka dari Jo Chil-sung bikin aliran darah ke ginjalmu macet. Makanya mukamu agak pucat."

Mu-jin tersentak. Dia memang merasakan nyeri pinggang yang tak kunjung hilang meski sudah minum obat.

"Ba-bagaimana kau..."

"Diskon khusus teman," Geun menepuk dipan kayunya. "Gratis. Tapi aku nggak jamin kau nggak bakal nangis."

Mu-jin menelan ludah. Wibawanya sebagai First Rate yang sedikit lagi menembus ranah Peak dipertaruhkan.

"Aku... aku tidak akan menangis hanya karena pijatan."

Lima menit kemudian.

"UGH! HNNGG! SAUDARA GEUN! AMPUN! TULANGNYA! TULANGNYA LEPAS!!"

Suara teriakan tertahan Baek Mu-jin, idola para murid cabang, terdengar sampai ke halaman depan.

Ketika Mu-jin keluar dari kamar Geun, dia berjalan tegak, gagah, dan wajahnya segar bugar. Tapi matanya merah basah bekas menahan air mata.

"Bagaimana, Senior?" tanya Yun-gyeom cemas.

Mu-jin menarik napas dalam. Dia merasakan aliran energi internal di tubuhnya lancar tanpa hambatan sedikitpun. Sumbatan yang mengganggunya selama beberapa Minggu terakhir hilang total dihancurkan oleh jempol besi Geun.

"Dia..." Mu-jin berbisik, setengah kagum setengah ngeri. "Dia tahu letak setiap simpul kelemahan manusia. Kalau dia menggunakan pengetahuannya untuk membunuh, bukan menyembuhkan... dia akan menjadi pembunuh paling efisien di dunia."

Geun di dalam kamar tersenyum puas, memasukkan satu koin emas tips dari Mu-jin yang malu ke dalam celana dalamnya.

"Satu tael perak yang hilang di hutan sudah balik modal sepuluh kali lipat," gumam Geun bahagia. "Siapa sangka menyiksa orang bisa bikin kaya?"

Hanya dalam beberapa hari, Geun meraup untung hampir 20.000 Tael perak. Ini adalah jumlah uang yang tidak pernah dia mimpikan, namun sekarang dia memilikinya.

Semuanya berkat murid-murid Sekte Wudang yang kaya raya karena hampir dari semua murid itu adalah anak pedagang kaya atau keturunan dari tokoh-tokoh penting.

"Astaga, Sekte Cabangnya aja sekaya ini. Lalu sekaya apa coba kekayaan Sekte Pusat Wudang. Mungkin kapan-kapan aku akan mengunjungi Sekte Pusatnya." pikir Geun semangat sambil meneteskan air liur.

1
Riduanmake
bau2 heavenly demon
Noman Me
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!