Sejak kuliah, Kanaya sudah mengagumi seorang Narendra Atmaja, namun ia sadar akan statusnya dan mencoba membuang jauh-jauh perasaannya. Hingga suatu hari sahabatnya mendaftarkan Kanaya ke sebuah aplikasi kencan dan ia harus bertemu dengan pria yang menjadi teman kencannya, akhirnya Kanaya menemui pria tersebut dan betapa terkejutnya ia ketika mengetahui jika pria yang menjadi teman kencannya adalah pria yang ia kagumi sejak kuliah.
Bagaimana kelanjutannya? Apa yang akan terjadi pada Kanaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terima Kasih, Narendra.
Narendra hanya memberikan anggukan singkat tanpa menyentuh tangan Vania yang sudah terulur untuk bersalaman, ia langsung mengambil tempat duduk di kursi tunggal dan menjaga jarak sejauh mungkin dari wanita itu, auranya begitu dingin hingga membuat suasana di ruangan mewah itu mendadak terasa kaku.
"Hai, Narendra. Aku sering dengar cerita tentangmu dari Tante Clara," ucap Vania mencoba mencairkan suasana dengan senyum manis yang tertata rapi.
Narendra tidak membalas senyuman itu, ia justru sibuk merapikan lengan kemejanya yang sedikit kusut akibat insiden tadi.
"Oh," jawab Narendra tanpa minat dan sangat datar hingga membuat Vania salah tingkah dan menarik kembali tangannya.
Mama Clara berdehem dan mencoba menutupi kecanggungan anaknya, "Narendra, Vania ini juga punya latar belakang manajemen rumah sakit. Papa dan Mama berpikir, mungkin kalian bisa sering berdiskusi, siapa tahu Vania bisa membantu," ucap Mama Clara.
"Ada Om Rafa, Naren bisa minta bantuan Om Rafa," sahut Narendra tajam bahkan tanpa menoleh ke arah Mama Clara.
Om Rafa yang ada disana pun tersenyum tipis melihat sikap Narendra, sebenarnya Om Rafa tidak pernah kenal Vania, bahkan ia tidak berniat untuk mengenalkan Narendra pada Vania, justru Gilbert sendiri yang sering mencari perhatian ke Papa Wira dengan mengatasnamakan Om Rafa.
Disisi lain, Papa Wira yang melihat sikap Narendra pun berdehem keras dan memberikan tatapan peringatan. "Jaga bicaramu, Narendra. Kita disini hanya untuk saling kenal dan makan bersama," ucap Papa Wira.
Narendra menyandarkan punggungnya dan matanya menatap kosong ke arah lampu kristal di langit-langit, namun pikirannya terbang kembali ke kamar kos yang pengap. Narendra membayangkan Kanaya sedang meringis kesakitan saat mengoleskan salep sendirian, rasa bersalah karena meninggalkannya di sana bercampur dengan rasa muak berada di tengah perjodohan terselubung ini.
"Narendra," tegur Papa Wira.
"Sudahlah, Pa. Kalau niat Papa dan Mama kenalin aku sama Vania buat perjodohan percuma, aku nggak akan mau," ucap Narendra.
"Kenapa?" tanya Papa Wira.
"Naren, Vania ini gadis yang baik, coba kamu kenalan dulu sama Vania," ucap Mama Clara.
"Naren sudah punya perempuan pilihan Naren sendiri, Ma. Dan Naren hanya akan menikah dengan perempuan itu," jawab Narendra.
"Kamu sudah punya pacar?" tanya Mama Clara.
Belum sempat Narendra menjawab, Papa Wira sudah bersuara. "Papa ingin melihat seperti apa perempuan yang kamu pilih," ucap Papa Wira.
"Yang jelas, perempuan itu adalah perempuan yang Narendra mau, bukan Papa atau Mama mau," ucap Narendra.
Narendra bangkit dari kursinya tanpa memedulikan tatapan syok dari Mama Clara maupun raut tersinggung di wajah Vania, baginya berada di sana sedetik lebih lama hanya akan menghisap energinya yang sudah terkuras habis oleh drama di kosan Kanaya.
"Narendra! Kamu mau ke mana? Kita belum makan malam!" seru Papa Wira dengan nada otoriter yang biasanya mampu membuat siapa pun tunduk.
Narendra berhenti sejenak, namun ia tidak berbalik. "Urusan Naren lebih penting daripada sekadar makan malam yang penuh rencana ini, Pa. Maaf, Naren permisi," ucap Narendra.
Narendra melangkah lebar keluar dari rumah mewah itu, mengabaikan panggilan ibunya yang terus memanggil namanya. Begitu masuk ke dalam mobil, Narendra tidak langsung menjalankan mesin, ia memejamkan mata sejenak dan memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.
Disisi lain, Kanaya duduk bersimpuh di atas tikar dan di depannya terdapat plastik pemberian Narendra telah terbuka. Kanaya baru saja selesai membersihkan sudut bibirnya yang pecah dan mengoleskan salep memar di pipinya. Rasa perih antiseptik itu masih tertinggal, namun tidak sesakit rasa sesak di dadanya.
Kanaya menatap botol vitamin dan makanan hangat yang dibelikan Narendra dan melihat selembar nota kecil terselip di sana dengan tulisan tangan yang rapi.
[Habiskan makanannya, jangan sampai sakit]
"Narendra... Sebenarnya apa yang kamu lakukan? Kenapa sangat sulit melupakanmu? Selama lima tahun aku berusaha, tapi tetap saja aku gagal dan sekarang kamu datang dan buat aku semakin berharap," gumam Kanaya lirih.
Kanaya menyuap makanan itu perlahan, meskipun nafsu makannya hilang akibat pertengkaran tadi, ia memaksakan diri untuk menelan setiap butirnya, karena Kanaya tidak ingin Narendra kembali dan melihatnya semakin kuyu.
"Terima kasih, Narendra," gumamnya.
Pagi menyingsing dengan cahaya yang terasa terlalu terang bagi Kanaya,saat ia bercermin, pipinya yang kemarin merah kini berubah menjadi keunguan, memar yang sangat jelas dan tidak mungkin bisa ditutupi hanya dengan bedak tipis.
Sudut bibirnya pun masih tampak bengkak dan membuatnya sulit untuk berbicara, apalagi mengajar di depan kelas.
Dengan berat hati, Kanaya meraih ponselnya dan mengirim pesan kepada kepala sekolah, meminta izin untuk tidak masuk selama dua hari karena alasan kesehatan. Kanaya tidak mungkin datang ke sekolah dengan wajah penuh bekas perkelahian, itu hanya akan mencoreng citranya sebagai guru dan memicu gosip baru di lingkungan sekolah.
Setelah mengirim pesan, Kanaya kembali meringkuk di atas kasur tipisnya. Kanaya merasa sangat lelah, bukan hanya fisiknya, tapi juga jiwanya.
Kanaya mendesah pelan, ia baru saja hendak berdiri menuju kompor gas satu tungku di sudut kamarnya untuk memasak mi instan, hingga sebuah ketukan terdengar dari pintu kayu kamarnya.
Jantung Kanaya berdegup kencang, ia segera menarik rambutnya ke depan untuk menutupi pipinya yang memar keunguan lalu dengan ragu membuka kunci pintu. Begitu pintu terbuka, sosok menjulang Narendra berdiri di sana, pria itu masih mengenakan kaos lengan pendek berwarna putih dan celana kain panjang.
"Narendra...," Perkataan Kanaya terhenti saat Narendra tanpa permisi melangkah maju dan memperpendek jarak di antara mereka.
Narendra tidak bersuara, namun tangan kanannya terulur lembut dan jemarinya menyibak rambut yang menutupi wajah Kanaya. Begitu melihat memar ungu yang kontras dengan kulit pucat Kanaya, rahang Narendra mengeras.
"Masih sakit?" tanya Narendra.
"Sudah mendingan," jawab Kanaya.
"Ini aku bawa makanan, dimakan ya. Ini makanan sehat, biar lukamu cepat sembuh," ucap Narendra.
Narendra meletakkan kantong plastik berisi bubur ayam organik dan buah-buahan segar di atas meja kecil satu-satunya di kamar itu. Narendra tidak segera pergi, melainkan menarik napas panjang sambil mengamati sekeliling kamar Kanaya yang sempit dan pengap, ada rasa tidak keruan di hatinya melihat perempuan yang ia sukai harus memulihkan diri di tempat seperti ini.
"Udah makan?" tanya Narendra saat melihat piring yang sudah disiapkan Kanaya.
"Baru mau masak mi, tapi kamu datang," jawab Kanaya pelan dengan suaranya yang terdengar sengau karena bengkak di bibirnya.
Narendra langsung menatap tajam Kanaya, "Jangan makan mi dulu, tubuhmu butuh nutrisi untuk pemulihan. Makan ini, biar cepat sembuh. Aku tunggu di luar, pintu jangan ditutup," ucap Narendra dan kangsung keluar tanpa mendengar jawaban Kanaya.
.
.
.
Bersambung.....