Arjuna kembali ke kampung halamannya hanya untuk menemukan reruntuhan dan abu. Desa Harapan Baru telah dibakar habis, ratusan nyawa melayang, termasuk ayahnya. Yang tersisa hanya sebuah surat dengan nama: Kaisar Kelam.
Dengan hati penuh dendam, Arjuna melangkah ke Kota Kelam untuk mencari kebenaran. Di sana ia bertemu Sari, guru sukarelawan dengan luka yang sama. Bersama hacker jenius Pixel, mereka mengungkap konspirasi mengerikan: Kaisar Kelam adalah Adrian Mahendra, CEO Axion Corporation yang mengendalikan perdagangan manusia, korupsi sistemik, dan pembunuhan massal.
Tapi kebenaran paling menyakitkan: Adrian adalah ayah kandung Sari yang menjualnya saat bayi. Kini mereka diburu untuk dibunuh, kehilangan segalanya, namun menemukan satu hal: keluarga dari orang-orang yang sama-sama hancur.
Ini kisah tentang dendam yang membakar jiwa, cinta yang tumbuh di reruntuhan, dan perjuangan melawan sistem busuk yang menguasai negeri. Perjuangan yang mungkin menghancurkan mereka, atau mengubah se
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Rahasia Kelam Sari
# BAB 7: RAHASIA KELAM SARI
Malam semakin larut. Udara di gudang itu semakin dingin sampai napas mereka terlihat seperti asap tipis. Bu Lastri sudah tertidur di sudut, tubuhnya diselimuti kardus bekas yang Pixel temukan. Dengkurannya pelan, teratur, satu-satunya suara yang terdengar normal di tempat ini.
Pixel duduk dengan laptop, masih scrolling artikel tentang Adrian Mahendra. Sesekali ia tulis sesuatu di notes, mencatat nama, tanggal, perusahaan yang terkait. Matanya sudah merah, tapi ia tidak mau tidur.
Arjuna duduk bersandar di dinding, menatap punggung Sari yang masih berdiri di jendela. Sudah hampir dua jam gadis itu di sana. Tidak bergerak. Tidak bicara. Cuma berdiri seperti patung.
"Sari," panggilnya pelan. "Kau tidak mau istirahat? Besok kita harus pikirin rencana. Kau butuh tidur."
Tidak ada jawaban.
"Sari, kumohon. Aku khawatir. Kau sudah di sana terlalu lama. Kau akan sakit kalau..."
"Aku kenal dia." Suara Sari tiba-tiba, memotong kata Arjuna. Suaranya datar. Kosong. "Aku kenal Adrian Mahendra."
Arjuna membeku. Pixel berhenti mengetik, kepalanya mendongak cepat.
"Apa... apa maksud kau?" Arjuna berdiri, jalan pelan ke arah Sari. "Kau bilang tadi kau tidak kenal dia."
"Aku bohong." Sari masih tidak menoleh. Tangannya mencengkeram bingkai jendela begitu kuat sampai buku-buku jarinya memutih. "Aku bohong karena aku... aku tidak mau percaya. Tidak mau percaya kalau orang yang menghancurkan hidup kau adalah orang yang sama yang menghancurkan hidupku."
"Sari..." Arjuna sudah di belakangnya sekarang. Ia bisa lihat bahu gadis itu gemetar. "Cerita ke aku. Tolong. Apa hubungan kau dengan dia?"
Sari tertawa. Tawa yang terdengar seperti orang kesakitan. "Hubungan? Kami tidak punya hubungan. Karena dia... karena dia membuang aku sebelum aku bahkan punya kesempatan untuk jadi anaknya."
Hening. Hanya suara angin yang berhembus lewat jendela pecah.
"Dua puluh tiga tahun lalu," Sari mulai, suaranya bergetar, "aku lahir di sebuah rumah sakit kecil di pinggiran kota ini. Ibu aku... ibu aku seorang pekerja pabrik. Miskin. Hidup pas-pasan. Dan ayah aku..."
Ia berhenti, napasnya tercekat.
"Ayah aku adalah Adrian Mahendra."
Pixel berdiri cepat, laptopnya nyaris jatuh. "Apa?!"
"Ibu aku bertemu dia saat dia masih belum kaya. Masih jadi pedagang kecil di pasar. Mereka pacaran. Ibu aku hamil. Tapi kemudian... kemudian dia bertemu dengan ayahmu, Arjuna. Bertemu Pak Hendrawan yang kasih dia kesempatan masuk ke bisnis gelap. Kesempatan untuk jadi kaya."
Sari akhirnya berbalik. Wajahnya basah oleh air mata yang mengalir deras. Matanya merah, bengkak.
"Dan saat dia mulai kaya, dia berubah. Dia bilang ke ibu aku kalau dia tidak butuh keluarga miskin yang akan merusak citranya. Dia bilang aku dan ibu aku cuma... cuma beban. Jadi dia kasih uang. Uang banyak waktu itu, mungkin puluhan juta. Dan bilang, 'Pergi. Jangan pernah hubungi aku lagi. Kalau kau bilang ke orang lain kalau aku ayah anak itu, aku akan bunuh kalian berdua.'"
Arjuna merasa dadanya seperti ditikam. "Sari..."
"Ibu aku menerima uang itu. Karena dia takut. Karena dia tidak punya pilihan. Dia bawa aku ke desa kecil, coba hidup tenang. Tapi uang itu cepat habis. Dan suatu hari..." Suara Sari makin serak, makin pecah. "Suatu hari ada orang datang. Orang-orang yang bilang mereka disuruh Adrian. Mereka bilang Adrian mau 'ambil balik' uang yang dia kasih. Dengan cara ambil ibu aku."
"Tidak..." bisik Arjuna.
"Mereka seret ibu aku. Aku cuma bisa teriak, nangis, tapi aku terlalu kecil. Cuma tiga tahun. Aku tidak bisa apa-apa." Air mata Sari jatuh makin deras, suaranya jadi raung sekarang. "Mereka bilang ibu aku akan 'kerja' untuk bayar hutang. Tapi aku tahu sekarang... aku tahu mereka jual ibu aku ke perdagangan manusia. Sama seperti orang-orang di foto itu. Sama seperti..."
Kakinya lemas. Ia jatuh, tapi Arjuna cepat menangkapnya. Memeluknya erat sebelum tubuh gadis itu menyentuh lantai dingin.
"Ibu ku... ibu ku dijual sama ayah kandungku sendiri..." Sari menangis di dada Arjuna, tangannya mencengkeram baju pemuda itu begitu kuat. "Aku tidak pernah lihat dia lagi. Tidak tahu dia masih hidup atau sudah mati. Tidak tahu dia menderita dimana. Dan aku... aku tidak bisa apa-apa..."
"Sari, maafkan aku. Maafkan aku sudah buat kau ingat semua ini." Arjuna memeluknya lebih erat, tangannya mengelus punggung gadis itu yang bergetar hebat. Matanya sendiri basah. "Aku tidak tahu. Aku tidak tahu kau sudah menderita sebegini lama."
"Setelah ibu aku hilang, tetangga bawa aku ke panti asuhan. Di sana aku besar. Di sana aku... aku belajar kalau aku tidak berharga. Kalau bahkan ayah kandungku sendiri tidak mau aku. Tidak cintai aku." Sari menatap Arjuna dengan mata yang hancur total. "Sampai Pak Hendrawan datang. Dia satu-satunya orang yang pernah bilang kalau aku... kalau aku penting. Kalau aku punya nilai."
Arjuna ingat surat ayahnya. Ingat tulisan yang bilang ayahnya mau menebus dosanya. Sekarang ia paham kenapa ayahnya ngajari anak-anak di panti. Kenapa ayahnya begitu perhatian sama Sari.
Karena ayahnya merasa bersalah. Karena ayahnya yang kasih Adrian modal untuk jadi monster. Modal yang dipakai untuk menghancurkan keluarga Sari.
"Ayahku..." bisik Arjuna, suaranya hancur juga. "Ayahku yang... yang bikin Adrian jadi seperti itu. Kalau bukan karena ayahku, Adrian tidak akan punya uang untuk beli orang. Tidak akan bisa jual ibumu. Ini... ini salah ayahku juga."
"Tidak!" Sari menggeleng kuat, tangannya menyentuh wajah Arjuna. "Jangan bilang begitu. Ini bukan salah Pak Hendrawan. Ini salah Adrian. Dia yang milih jadi monster. Dia yang milih uang lebih penting dari kemanusiaan. Pak Hendrawan... Pak Hendrawan sudah coba menebus. Sudah coba menyelamatkan orang. Tapi Adrian? Adrian terus membunuh, terus menghancurkan, sampai detik ini!"
Pixel mendekat, duduk di sebelah mereka. Wajahnya pucat. "Jadi... jadi Adrian Mahendra bukan cuma pembunuh ayah Arjuna. Dia juga penghancur keluarga Sari. Dia... dia monster yang menghancurkan kalian berdua."
"Dan berapa banyak lagi?" bisik Sari. "Berapa banyak keluarga lain yang dia hancurkan? Berapa banyak anak yang seperti aku, kehilangan orang tua karena keserakahan dia? Berapa banyak..."
Ia tidak bisa lanjut. Cuma menangis lagi, kali ini lebih keras, lebih pecah, seperti semua luka yang dia pendam selama dua puluh tahun akhirnya meledak keluar.
Arjuna memeluknya. Cuma itu yang bisa dia lakukan. Memeluk gadis yang sama terlukanya dengan dia. Gadis yang juga korban monster yang sama.
"Aku janji," bisiknya di telinga Sari. "Aku janji akan balas dendam bukan cuma untuk ayahku. Tapi juga untuk ibumu. Untuk kau. Untuk semua orang yang dia hancurkan. Aku akan buat dia membayar, Sari. Aku bersumpah."
Sari menatapnya, mata mereka bertemu. Dan untuk pertama kalinya, Arjuna lihat sesuatu di mata gadis itu yang bukan cuma kesedihan. Ada kemarahan. Kemarahan yang menyala, yang panas, yang sama berbahayanya dengan dendam Arjuna sendiri.
"Aku akan bantu kau," kata Sari, suaranya keras meski masih bergetar. "Sampai akhir. Sampai Adrian Mahendra mati atau kami yang mati. Tidak ada jalan tengah."
Mereka duduk di lantai dingin itu, saling berpelukan, berbagi luka yang sama, berbagi dendam yang sama. Pixel duduk di sebelah mereka, tangannya menyentuh bahu mereka berdua.
"Kalian tidak sendirian," katanya pelan. "Aku di sini. Dan aku... aku akan bantu sampai akhir juga. Karena setelah dengar semua ini, aku tidak bisa diam. Tidak bisa pura-pura tidak tahu."
Di sudut ruangan, Bu Lastri terbangun. Wanita tua itu diam-diam dengar semuanya. Air matanya jatuh, tapi ia tidak bilang apa-apa. Cuma berdoa dalam hati. Berdoa supaya anak-anak ini bisa selamat. Bisa menang melawan kejahatan yang begitu besar.
Tapi di hatinya, ia takut. Takut sekali.
Karena ia tahu monster seperti Adrian tidak pernah kalah dengan mudah.
***
Pagi datang dengan langit kelabu. Tidak ada matahari. Cuma awan tebal yang mengancam hujan.
Arjuna terbangun dengan leher kaku. Ia tertidur dalam posisi duduk, punggung bersandar di dinding. Sari tertidur di bahunya, napasnya teratur tapi sesekali terdengar isakannya yang tertahan bahkan dalam tidur.
Pixel sudah bangun, sedang mengutak-atik laptop. Wajahnya serius.
"Kau dapat sesuatu?" tanya Arjuna pelan, tidak mau bangunkan Sari.
"Mungkin." Pixel putar laptop supaya Arjuna bisa lihat layarnya. "Aku cek semua korban yang namanya disebut di file. Orang-orang yang 'hilang' atau 'mati kecelakaan' atau 'bunuh diri' dalam sepuluh tahun terakhir. Dan aku nemuin pola."
"Pola apa?"
"Mereka semua punya satu kesamaan." Pixel tunjuk daftar nama di layar. "Mereka semua kenal Adrian sebelum dia kaya. Mereka semua saksi masa lalunya. Masa lalunya yang kotor."
Arjuna menatap daftar itu. Ada puluhan nama. Beberapa dicoret merah dengan keterangan "Meninggal". Beberapa dicoret kuning dengan keterangan "Hilang".
"Adrian menghapus jejaknya," gumam Arjuna. "Dia bunuh semua orang yang tahu siapa dia sebenarnya. Semua orang yang bisa bongkar rahasianya."
"Termasuk ayah kau. Termasuk ibu Sari." Pixel scroll ke bawah. "Dan lihat ini. Ada satu nama yang belum dicoret. Satu nama yang masih hidup."
Arjuna membaca nama itu. "Profesor Ratna Dewi. Dosen Universitas Nasional. Ahli Kriptografi."
"Dia mantan dosen Adrian. Dosen yang ngajari dia soal keamanan digital dan enkripsi. Kalau ada orang yang tahu gimana cara bobol sistem keamanan Axion, itu dia."
"Kenapa dia masih hidup? Kenapa Adrian tidak bunuh dia?"
"Entah. Mungkin dia terlalu terkenal. Terlalu banyak orang yang kenal. Bunuh dia akan terlalu mencurigakan." Pixel tutup laptopnya. "Tapi yang jelas, dia satu-satunya saksi masa lalu Adrian yang masih bisa kita hubungi. Satu-satunya orang yang mungkin mau bantu kita."
Sari terbangun, matanya perlahan terbuka. "Profesor Ratna?" bisiknya. "Aku kenal nama itu. Pak Hendrawan pernah sebut dia. Bilang kalau dia... kalau dia orang baik yang terjebak di masa lalu yang salah."
"Kita harus ketemu dia," kata Arjuna. "Kita harus coba. Ini satu-satunya petunjuk yang kita punya."
"Tapi bagaimana?" Pixel menatap mereka. "Wajah kalian sudah tersebar di berita sebagai 'teroris' dan 'perampok'. Polisi cari kalian. Orang-orang Adrian cari kalian. Kalau kalian keluar, kalian akan ditangkap atau ditembak."
Hening.
"Maka kita harus hati-hati," kata Sari akhirnya. Ia berdiri, wajahnya sudah tidak lagi terlihat hancur seperti semalam. Sekarang ada tekad di sana. Tekad yang keras. "Kita tidak bisa menyerah sekarang. Tidak setelah kita sudah sampai sejauh ini."
Bu Lastri bangun, duduk pelan sambil memegangi pinggangnya yang sakit. "Anak-anak, dengarkan Bu. Kalian butuh makan. Butuh mandi. Butuh pakaian bersih. Kalau kalian keluar dengan kondisi seperti ini, kalian akan langsung ketahuan."
"Tapi Bu, kami tidak punya uang. Tidak punya apa-apa."
"Bu punya saudara," kata wanita tua itu. "Saudara yang tinggal di daerah seberang kota. Rumahnya kecil tapi aman. Dia tidak tahu soal kalian. Bu bisa bilang kalian teman Bu yang butuh tempat tinggal sementara."
"Tapi itu berbahaya untuk Ibu. Kalau ketahuan Ibu bantu kami..."
"Bu sudah tua, Nak. Bu tidak takut mati. Yang Bu takut adalah kalian mati sia-sia tanpa bisa balas dendam yang kalian cari." Bu Lastri tersenyum sedih. "Biarkan Bu bantu. Ini satu-satunya cara Bu bisa menebus karena tidak bisa jaga kalian lebih baik."
Arjuna menatap wanita tua itu, dadanya sesak lagi. "Terima kasih, Bu. Terima kasih untuk semuanya."
"Jangan berterima kasih dulu. Kalian harus selamat dulu baru boleh berterima kasih."
Mereka bersiap untuk pergi. Pixel sembunyikan laptop di dalam jasnya. Sari ikat rambutnya, pakai hoodie lusuh untuk sembunyikan wajahnya. Arjuna lakukan hal yang sama.
Saat mereka mau keluar, Sari tiba-tiba berhenti. Ia menatap Arjuna.
"Arjuna, ada yang harus aku bilang."
"Apa?"
"Kalau... kalau nanti kita berhadapan dengan Adrian, dan aku harus... aku harus bunuh dia..." Suaranya gemetar. "Jangan coba hentikan aku. Karena itu satu-satunya cara aku bisa bebaskan diri dari bayang-bayang dia. Dari rasa tidak berharga yang dia tanam di dalam diriku."
Arjuna menatap mata gadis itu. Mata yang penuh dengan luka, dengan kemarahan, dengan tekad yang hampir menakutkan.
"Aku tidak akan hentikan kau," bisiknya. "Aku akan bantu kau. Kita akan bunuh dia bersama-sama."
Mereka keluar dari gudang, masuk ke gang yang mulai ramai dengan orang-orang yang mulai aktivitas pagi. Tidak ada yang menatap mereka. Tidak ada yang peduli.
Karena di kota sebesar ini, tiga orang buronan bisa dengan mudah menghilang di antara jutaan wajah lain.
Setidaknya untuk sementara.
Setidaknya sampai monster itu menemukan mereka lagi.