NovelToon NovelToon
A Love That Grows

A Love That Grows

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Nikahmuda / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:775
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Yura, 23 tahun, adalah seorang wanita cerdas, cantik, dan tulus. Setelah kehilangan ayahnya yang selalu menjadi inspirasinya, Yura memutuskan untuk mewujudkan mimpi lama mereka membuka toko kue Prancis yang pernah ayahnya impikan.
Namun, langkahnya tak semulus yang ia kira. Di dunia bisnis, ia bertemu Arkan, CEO tajir, dingin, dan terlalu posesif. Pria yang selama ini menutup hati dari semua wanita tiba-tiba tertarik pada Yura bukan karena bisnis, tapi karena ketulusan dan keberanian yang jarang ia temui.
Pertemuan pertama mereka di restoran biasa berubah menjadi serangkaian kejadian tak terduga: mulai dari pertolongan Yura pada orang tua dan ibu hamil, hingga pertemuan bisnis yang membuat batas profesional mereka teruji.
Bisnis, mimpi, dan rasa kehilangan bercampur menjadi satu, ketika Yura harus memilih antara menjaga mimpinya, menghadapi masa lalunya, dan… menghadapi seorang pria yang mulai terlalu ingin memilikinya.
Apakah Yura akan menyerah pada bisnis dan mimpi ayahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 : Perempuan yang Tidak Memalingkan Wajah

Restoran itu ramai oleh suara sendok, tawa pelan, dan denting gelas.

Yura Gadis 23 Tahun Manajer Company Ritel ternama duduk berhadapan dengan sahabatnya, menikmati makan siang yang hampir terlambat. Wajahnya terlihat lelah, tapi matanya tetap lembut. Rambutnya diikat sederhana, tanpa riasan berlebihan cantik dengan cara yang tidak dibuat-buat.

“Akhirnya bisa makan juga,” gumam Yura sambil menghela napas.

Belum sempat suapan kedua masuk ke mulutnya, keributan kecil terdengar dari arah kasir.

Pelayan di samping kasir mendengus. “Lupa atau memang nggak punya uang, Bu?”

Seorang nenek berdiri gemetar di dekat kasir.

“Aku… aku lupa dompetku di rumah,” ucapnya Lirih.

Kasir perempuan memotong dengan nada dingin. “Bu, kami nggak bisa lepasin pelanggan yang belum bayar. Banyak yang modus begitu.”

Pelayan restoran itu menghela napas kasar. Wajahnya menegang, suaranya meninggi.

“Alasan! Nenek pikir ini tempat amal? Jangan-jangan mau nipu!”

Nada itu terlalu keras. Terlalu kejam.

Beberapa orang menoleh, tapi tak ada yang bergerak. Sang nenek tertunduk, matanya berkaca-kaca, tangannya bergetar memeluk tas usang.

Yura menoleh.

Jari Yura mengepal di atas meja.

“Yur… jangan ikut campur,” bisik sahabatnya pelan.

Namun Yura sudah berdiri.

Langkahnya ringan, tapi tegas. Jantungnya berdegup cepat bukan karena takut, melainkan karena ada sesuatu yang tidak bisa ia biarkan.

“Mas,” suara Yura terdengar tenang, tapi jelas, “tolong bicara yang sopan.”

Pelayan itu menoleh, terkejut.

“Ini urusan kami...”

“Tidak,” Yura memotong. “Ini urusan kemanusiaan. Dia lebih tua dari kamu. Cara bicaramu tidak pantas.”

Restoran mendadak sunyi.

Yura melangkah maju, berdiri di antara pelayan dan nenek itu.

“Apa yang kurang, Bu?” tanyanya lembut.

Nenek itu bergetar. “Dompet saya… tertinggal di rumah.”

Yura mengangguk, lalu menoleh ke kasir.

“Makanannya saya yang bayar.”

Ia membayar tanpa banyak bicara. Tanpa ingin diperhatikan. Tanpa berharap pujian.

Baginya, itu hanya hal yang seharusnya dilakukan.

Di sudut lain restoran, seorang pria menghentikan pembicaraan bisnisnya.

Arkan Mahendradatta.

Usianya awal tiga puluhan. CEO perusahaan pengembangan teknologi aplikasi yang namanya sering muncul di majalah bisnis Arkan Tech Solutions. Hidupnya rapi, terkontrol, dan sunyi. Bertahun-tahun sendiri. Tanpa keluarga. Tanpa siapa pun yang benar-benar tinggal.

Baginya, kepemilikan adalah hal berbahaya. Jika ia memiliki sesuatu ia akan menjaganya berlebihan. Terlalu posesif. Terlalu dingin untuk melepaskan.

Wanita?

Tidak pernah menarik perhatiannya.

Yang ia temui selama ini hanya mengincar nama, uang, dan status.

Pertemuan bisnis penting sedang berlangsung di mejanya. Grafik, angka, dan presentasi terpampang di layar. Tapi semua itu kehilangan arti sejak matanya tertuju pada satu hal.

Seorang perempuan.

Tidak berteriak.

Tidak membuat keributan.

Tapi berdiri di tengah situasi tidak adil… dan memilih untuk tidak memalingkan wajah.

Arkan menyandarkan punggungnya ke kursi. Tatapannya tajam, dingin namun ada sesuatu yang retak di dalamnya.

Kenapa dia peduli?

Perempuan-perempuan yang ia kenal akan menghindar. Takut repot. Takut salah. Atau justru mencari kesempatan dilihat.

Perempuan itu tidak. Ia bahkan tidak tahu ada yang memperhatikannya.

“Mr. Arkan?” suara klien terdengar ragu.

Arkan tidak menjawab.

Matanya masih tertuju pada Yura pada caranya menenangkan sang nenek, pada sorot mata tulus yang sama sekali tidak dibuat-buat.

Ada perasaan asing menyusup ke dadanya. Tidak nyaman. Tidak bisa dijelaskan.

Dan Arkan membenci perasaan yang tidak bisa ia kendalikan.

Arkan menarik napas pelan.

Ia memalingkan wajah dari arah restoran dan kembali menatap layar laptop di depannya. Nada suaranya kembali dingin, profesional seolah kejadian barusan tidak pernah ada.

“Lanjutkan,” katanya singkat.

Klien itu kembali menjelaskan strategi kerja sama. Angka, target, dan tenggat waktu kembali mengisi ruang pikirannya. Arkan mengangguk seperlunya, sesekali menyela dengan pertanyaan tajam.

Ia membenci gangguan.

Dan perempuan itu seharusnya hanya menjadi salah satunya.

Meeting berakhir tepat waktu. Tidak ada kesalahan. Tidak ada celah emosi yang ia perlihatkan.

Arkan berdiri, mengenakan jasnya, lalu melangkah keluar restoran tanpa menoleh ke belakang.

Yura kembali ke mejanya, duduk seolah tidak terjadi apa-apa. Sahabatnya menatapnya dengan campuran kagum dan cemas.

“Kamu sadar barusan semua orang lihat kamu?” bisiknya.

Yura mengangkat bahu kecil. “Aku cuma nggak tega.”

Yura baru saja selesai dengan makan siang nya tak lama ponsel nya bergetar.

Satu panggilan masuk.

Nama perusahaan tempat ia bekerja masih terpampang jelas di layar. Dadanya refleks menegang, seolah keputusan yang sudah ia ambil tetap punya cara untuk mengejarnya.

“Yur, kamu harus ke kantor sekarang,” suara di seberang terdengar terburu-buru. “Ada hal penting yang perlu dibahas.”

Yura menutup mata sejenak.

“Baik,” jawabnya singkat.

Panggilan berakhir. Ia menoleh ke arah depan restoran, melihat seorang pria berjas gelap melangkah keluar tanpa menoleh ke belakang. Entah kenapa, langkah pria itu terlihat tegas dingin dan asing. Tapi Yura tak memikirkannya lebih lama.

Ia meraih tasnya, berpamitan pada sahabatnya, lalu keluar dari restoran.

Udara luar terasa panas, kontras dengan dinginnya ruangan tadi. Yura melangkah di trotoar, menyusuri pinggir jalan raya. Di seberang sana, halte bus sudah terlihat tempat yang harus ia tuju untuk segera sampai ke kantor.

Ia mempercepat langkah.

Namun langkahnya melambat ketika matanya menangkap sesuatu di depan.

Seorang ibu hamil berdiri di tepi zebra cross. Perutnya besar, napasnya terlihat berat. Di kedua tangannya tergantung beberapa kantong belanjaan yang tampak terlalu penuh untuk dibawa seorang diri.

Yura berhenti.

Ia menoleh ke kanan. Ke kiri. Jalanan ramai. Kendaraan melaju tanpa peduli. Tidak ada seorang pun di samping ibu itu.

Suaminya ke mana?

Pikiran itu melintas cepat, diikuti rasa sesak yang tidak nyaman.

Tanpa berpikir panjang, Yura berbalik arah.

“Mbak,” panggilnya lembut sambil mendekat. “Mau nyebrang?”

Ibu hamil itu menoleh, sedikit terkejut. “Iya, Dek… tapi barangnya berat.”

“Biar saya bantu.”

Yura langsung mengambil sebagian kantong belanjaan dari tangan ibu itu. Berat lebih berat dari yang ia bayangkan. Tapi ia tidak mengeluh.

Ia melangkah lebih dulu ke zebra cross, mengangkat tangannya memberi isyarat pada kendaraan agar berhenti. Beberapa mobil melambat, ada yang mengklakson, tapi Yura tetap berjalan pelan, menyesuaikan langkah ibu hamil itu.

“Pelan-pelan aja, Mbak,” katanya menenangkan.

Langkah demi langkah. Detik demi detik.

Jantung Yura berdetak lebih cepat, bukan karena takut, melainkan karena rasa waspada. Ia memastikan tubuhnya sedikit di depan, seolah menjadi perisai kecil dari lalu lintas yang tak sabar.

Akhirnya, mereka sampai di seberang.

Ibu hamil itu menghela napas lega. “Terima kasih banyak, Dek. Kalau nggak ada kamu, saya nggak tahu harus gimana.”

Yura tersenyum. “Sama-sama, Mbak. Hati-hati ya.”

Ia mengembalikan kantong belanjaan itu, lalu melangkah mundur. Baru saat itulah Yura sadar tangannya sedikit gemetar. Bukan karena berat, tapi karena adrenalin yang baru saja turun.

Yura menghembuskan napas pelan.

Ia menoleh ke arah halte bus, lalu melangkah pergi tidak tahu bahwa dari kejauhan, ada sepasang mata yang sejak tadi mengikuti setiap langkahnya.

Dan Yura tetap berjalan.

Seperti biasa.

Tanpa menyadari, bahwa kepeduliannya yang sederhana… telah menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit dari yang pernah ia bayangkan.

15 menit yang lalu... (Pov Arkan)

Mobil hitam itu melaju perlahan di tengah kepadatan siang hari.

Arkan bersandar di kursi belakang, jasnya masih rapi, ekspresinya datar. Ponsel di tangannya menampilkan jadwal rapat berikutnya padat, terstruktur, dan membosankan.

Hari ini seharusnya berjalan normal.

Sampai mobil berhenti mendadak.

“Lampu merah, Pak,” ujar sopirnya.

Arkan tidak langsung menjawab. Pandangannya tertarik ke depan, ke zebra cross yang dipenuhi orang-orang ragu. Lalu lintas padat, klakson terdengar tak sabar.

Ia mendesah pelan.

Selalu sama. Semua ingin cepat. Tak ada yang mau berhenti.

Lalu matanya menangkap satu sosok.

Seorang ibu hamil berdiri di tepi jalan. Perutnya besar. Kedua tangannya penuh kantong belanjaan. Terlalu berat. Terlalu berbahaya.

Sendirian.

Belum sempat pikirannya berlanjut, seseorang melangkah mendekat ke ibu itu.

Perempuan yang sama dari restoran.

Arkan langsung mengenalinya.

Ia menurunkan ponsel perlahan.

Perempuan itu Yura tanpa ragu mengambil sebagian barang belanjaan dari tangan ibu hamil itu. Tanpa menoleh ke sekitar. Tanpa memastikan ada yang memperhatikannya.

Ia melangkah lebih dulu ke zebra cross, mengangkat tangannya memberi isyarat pada kendaraan agar berhenti.

Berani.

Atau ceroboh.

Mobil Arkan berhenti tepat sebelum garis putih zebra cross. Sopirnya menoleh sebentar.

“Lampu hijau, Pak.”

“Diam,” ucap Arkan singkat.

Matanya tidak lepas dari pemandangan di depannya.

Yura menunduk sedikit saat berjalan, memastikan langkah ibu hamil itu aman. Sesekali ia menoleh ke arah lalu lintas, memastikan tidak ada kendaraan yang nekat menerobos.

Tidak ada kepanikan di wajahnya.

Hanya kepedulian yang terasa… terlalu tulus untuk dunia sekeras ini.

Beberapa detik kemudian, mereka sampai di seberang. Ibu hamil itu tersenyum lebar, terlihat mengucapkan terima kasih berkali-kali.

Yura hanya mengangguk kecil, lalu berbalik pergi seolah apa yang ia lakukan hanyalah hal biasa.

Padahal bagi seseorang di dalam mobil hitam itu…

Itu tidak biasa sama sekali.

Arkan menyandarkan tubuhnya ke kursi belakang. Ponsel di tangannya telah lama padam, namun ia belum berniat menyalakannya kembali.

“Jalan,” katanya singkat.

Mobil melaju.

Tapi pikirannya tertinggal beberapa detik di belakang tepat di tengah zebra cross itu.

Perempuan itu tidak berteriak. Tidak mencari perhatian. Bahkan tidak menunggu ucapan terima kasih lebih lama.

Ia hanya datang… lalu pergi.

Dan entah sejak kapan, Arkan menyadari satu hal yang membuatnya tidak nyaman:

ia ingin tahu lebih banyak.

Dadanya terasa aneh. Tidak nyaman. Tidak bisa dijelaskan.

Dia tidak mencari perhatian, pikirnya.

Dia memang seperti itu.

Untuk pertama kalinya, Arkan merasa ada sesuatu yang ingin ia miliki bukan sebagai benda, bukan sebagai status.

Melainkan… sebagai sesuatu yang ingin ia pahami.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, sebuah keinginan muncul dingin, jujur, dan berbahaya:

Jika aku memiliki sesuatu… aku tidak suka melepaskannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!