NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Pendekar Dewa : Kehidupan Kedua Dunia Yang Berubah

Reinkarnasi Pendekar Dewa : Kehidupan Kedua Dunia Yang Berubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kelahiran kembali menjadi kuat / Epik Petualangan / Fantasi / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Reinkarnasi
Popularitas:391.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: Boqin Changing

Lanjutan dari novel Reinkarnasi Pendekar Dewa

Boqin Changing, pendekar terkuat yang pernah menguasai zamannya, memilih kembali ke masa lalu untuk menebus kegagalan dan kehancuran yang ia saksikan di kehidupan pertamanya. Berbekal ingatan masa depan, ia berhasil mengubah takdir, melindungi orang-orang yang ia cintai, dan menghancurkan ancaman besar yang seharusnya merenggut segalanya.

Namun, perubahan itu tidak menghadirkan kedamaian mutlak. Dunia yang kini ia jalani bukan lagi dunia yang ia kenal. Setiap keputusan yang ia buat melahirkan jalur sejarah baru, membuat ingatan masa lalunya tak lagi sepenuhnya dapat dipercaya. Sekutu bisa berubah, rahasia tersembunyi bermunculan, dan ancaman baru yang lebih licik mulai bergerak di balik bayang-bayang.

Kini, di dunia yang telah ia ubah dengan tangannya sendiri, Boqin Changing harus melangkah maju tanpa kepastian. Bukan lagi untuk memperbaiki masa lalu, melainkan untuk menghadapi masa depan yang belum pernah ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan Shang Mu

Tawa Sha Nuo perlahan mereda. Ia mengayunkan tangan seolah sedang memegang pedang tak kasatmata, matanya menyala penuh semangat.

“Kalau begitu,” katanya dengan nada ringan namun berbahaya, “untuk apa banyak berpikir? Kita hancurkan saja semua musuh di kota ini. Para antek istana, pejabat busuk, dan orang-orang yang menjual rakyat demi kedudukan.” Ia menepuk dadanya. “Serahkan itu padaku.”

Aura dingin berdenyut samar dari tubuhnya, membuat daun bambu di sekitar taman bergetar halus. Bagi Sha Nuo, solusi selalu sederhana, tebas sampai bersih, lalu semuanya akan diam.

Namun sebelum Shang Mu sempat menanggapi, suara Boqin Changing terdengar tenang.

“Itu terlalu frontal.”

Sha Nuo menoleh, alisnya terangkat.

“Frontal?” ulangnya. “Bukankah masalahnya akan selesai jika kepala ular dipenggal?”

Boqin Changing menggeleng pelan. Ia melangkah mendekat ke tepi kolam, menatap pantulan lentera yang bergoyang di permukaan air.

“Menghancurkan musuh memang mudah,” katanya datar. “Tapi apa yang terjadi setelah itu?” Ia menoleh ke arah Shang Mu. “Kita tidak bisa membunuh semua orang di kota ini lalu pergi begitu saja.”

Shang Mu terdiam, namun ekspresinya berubah serius.

“Jika kota ini kehilangan pemimpin,” lanjut Boqin Changing, “kekosongan kekuasaan akan muncul. Para pedagang, penjaga kota, bahkan rakyat biasa akan kebingungan. Kelompok kecil akan saling berebut, hukum runtuh, dan roda pemerintahan berhenti.”

Nada suaranya tetap tenang, seolah sedang membahas sesuatu yang sudah ia perhitungkan berkali-kali.

“Itu justru akan menciptakan penderitaan baru.”

Sha Nuo mendecak pelan, tidak sepenuhnya setuju, namun juga tidak membantah.

“Jadi maksudmu?” tanya Shang Mu.

“Kita temui keluarga bangsawan yang layak,” jawab Boqin Changing tanpa ragu. “Keluarga yang cukup kuat, cukup dihormati, dan mau memimpin kota ini setelah para antek istana disingkirkan.”

Ia menatap Shang Mu lurus.

“Paman Mu, adakah keluarga seperti itu di kota ini yang masih kau percayai?”

Shang Mu mengerutkan kening. Ia berpikir sejenak, menggali ingatan lama yang hampir terkubur.

“Dulu,” katanya perlahan, “tuan kota ini berasal dari Keluarga Feng.”

Nada suaranya sedikit berat.

“Mereka memimpin kota ini selama beberapa generasi. Namun setelah pergantian takhta… posisi mereka dicabut. Istana mengirim orang luar sebagai tuan kota, orang yang hanya setia pada kekuasaan, bukan pada kota ini.”

Boqin Changing mengangguk kecil.

“Itu sejalan dengan cerita Wu Ping.”

Shang Mu melanjutkan,

“Selain Keluarga Feng… ada satu lagi.”

Ia mengangkat pandangannya.

“Keluarga Ma.”

Sha Nuo menyipitkan mata, mencoba mengingat.

“Keluarga bangsawan lama?”

“Ya,” jawab Shang Mu. “Kekuatan dan pengaruh mereka sedikit di bawah Keluarga Feng. Dulu aku mengenal kepala keluarganya. Mereka bukan keluarga licik.”

Ia menarik napas pendek.

“Dari cerita Wu Ping, awalnya Keluarga Ma berada di pihakku. Mendukungku.”

Kalimat itu membuat suasana sedikit mengeras.

“Namun setelah pamanku merebut takhta,” lanjut Shang Mu, “tekanan dari istana membuat mereka terpaksa mengambil posisi netral. Jika tidak, keluarga mereka bisa musnah.”

Ia mengepalkan tangan.

“Mereka berada di posisi yang sulit.”

Boqin Changing menatapnya sejenak, lalu berkata,

“Jika Paman Mu merasa Keluarga Ma cocok, aku setuju.”

Shang Mu sedikit terkejut.

“Semudah itu?”

“Kepercayaanmu adalah faktor terpenting,” jawab Boqin Changing. “Kota ini milik rakyat Kekaisaran Shang, bukan milikku.”

Namun wajah Shang Mu kembali mengeras. Ia menghela napas panjang.

“Tapi… bagaimana jika istana menyerang Keluarga Ma?” katanya. “Jika mereka dianggap mengambil posisi sebagai tuan kota, bukankah itu sama saja mendorong mereka ke jurang?”

Ia menatap Boqin Changing dengan cemas.

“Aku tidak ingin menyeret keluarga lain ke dalam bencana.”

Boqin Changing tersenyum tipis. Senyum yang membuat Sha Nuo tanpa sadar menyeringai.

“Kalau begitu,” katanya pelan, “kita pastikan istana tidak punya waktu untuk memikirkan kota ini.”

Shang Mu mengangkat alis.

“Maksudmu?”

“Dalam perjalanan kita ke utara,” lanjut Boqin Changing, “kita buat kekacauan di tempat lain.”

Nada suaranya tetap ringan, seolah sedang membicarakan perjalanan santai.

“Jika api menyala di banyak kota, istana tidak akan cukup bodoh untuk mengirim pasukan besar kemari.”

Sha Nuo tertawa pelan.

“Mereka akan sibuk memadamkan kebakaran.”

“Benar,” Boqin Changing mengangguk. “Mereka akan melindungi kota-kota lain sebelum serangan tiba. Kekacauan akan timbul di mana-mana.”

Ia menatap Shang Mu dalam-dalam.

“Aku berharap kehadiranmu akan menyalakan api perlawanan itu. Orang-orang yang selama ini ditekan akan melihat bahwa istana bisa dilawan.”

Shang Mu menelan ludah.

“Jika itu terjadi,” lanjut Boqin Changing, “istana akan memperketat pertahanan di ibu kota. Fokus mereka terpecah.”

Ia berhenti sejenak.

“Dan Keluarga Ma… akan relatif aman.”

Shang Mu terdiam lama. Lalu ia mengangkat kepala, suaranya lebih pelan.

“Lalu… bagaimana dengan Shang Yuan?”

Nada cemas tidak bisa disembunyikan.

“Jika mereka menangkapnya lebih cepat, dan merasa posisi mereka tidak menguntungkan… bisa jadi mereka akan membunuhnya.”

Boqin Changing tertawa kecil, bukan mengejek, melainkan penuh keyakinan.

“Untuk apa kau kira kita membawa Shang Ni kembali?” katanya. Ia menatap Shang Mu dengan tatapan tajam. “Bukankah yang mereka incar adalah tubuh yin murni milik Shang Ni?”

Shang Mu tertegun.

“Walaupun energi yin murni itu sudah kupindahkan,” lanjut Boqin Changing santai, “mereka tidak tahu.”

Ia mengangkat bahu.

“Selama mereka percaya Shang Ni masih hidup dan berguna… sandera tidak akan dibunuh.”

Kata-kata itu membuat Shang Mu membeku sejenak, lalu napasnya terhembus panjang. Kekaguman perlahan muncul di wajahnya.

“Pengetahuan perangmu…” katanya lirih. “Bahkan para penasehat istana tidak akan berpikir sejauh ini.”

Sha Nuo tertawa keras.

“Pantas saja aku kalah darimu,” katanya sambil menepuk bahu Boqin Changing. “Bukan cuma tinju dan pedangmu yang berbahaya.” Ia menyeringai lebar. “Pikiranmu… jauh sekali.”

Di taman penginapan yang sunyi itu, tiga sosok berdiri dengan arah pandang berbeda, namun tujuan yang sama. Malam semakin larut, dan di balik ketenangannya, benih kekacauan mulai tumbuh. Terencana, terukur, dan tak terelakkan.

...******...

Fajar pagi menyelinap pelan ke balik jendela penginapan. Kabut tipis masih menggantung di atap-atap rumah, sementara kota belum sepenuhnya terjaga dari tidur panjangnya. Hari telah berganti.

Di ruang makan penginapan, Shang Mu bmenghadap dua sosok yang paling penting baginya, Zhiang Chi dan Shang Ni. Wajahnya tenang, namun sorot matanya menunjukkan keputusan yang telah bulat, bukan hasil dorongan sesaat.

“Aku sudah memutuskannya,” kata Shang Mu akhirnya.

Zhiang Chi, yang sejak tadi duduk dengan tangan saling menggenggam, terdiam. Alisnya terangkat, jelas terkejut. Ia mengenal suaminya, Shang Mu bukan orang yang mudah mengambil langkah berbahaya, terlebih menyangkut nyawa banyak orang.

“Keputusan apa?” tanyanya pelan, nadanya menahan kekhawatiran.

Shang Mu menoleh padanya dan tersenyum kecil. Ia mulai menceritakan segalanya.

“Ini bukan keputusan gegabah. Aku sudah memikirkannya matang-matang. Bersama Chang’er dan Tuan Nuo.”

Mendengar nama itu, Zhiang Chi tanpa sadar melirik ke arah Boqin Changing yang berdiri tak jauh, bersandar santai di tiang kayu, sementara Sha Nuo berdiri di sampingnya dengan tangan terlipat di dada.

Boqin Changing hanya mengangguk ringan, ekspresinya datar namun meyakinkan. Sha Nuo ikut mengangguk, meski senyum tipis di bibirnya menyiratkan bahwa rencana ini sama sekali tidak membosankan baginya. Jika dua pendekar itu sudah menyetujui, keraguan di hati Zhiang Chi perlahan luruh.

“Kalau begitu…” katanya akhirnya, menatap Shang Mu dalam-dalam, “aku tidak akan meragukan keputusanmu.”

Shang Ni yang sejak tadi diam juga mengangguk kecil. Matanya tenang, jauh lebih dewasa dibanding usianya. Ia sudah terlalu lama hidup dalam ketidakpastian untuk menentang arah yang jelas.

Belum sempat percakapan berlanjut, suara derap roda kayu terdengar dari luar penginapan. Dua kereta kuda berhenti di halaman depan.

Beberapa tamu penginapan menoleh penasaran. Pengendara kereta kuda itu memperlihatkan sosok Wu Ping yang turun lebih dulu, diikuti seorang pria berwajah keras dengan tatapan waspada, Ru Rang, orang kepercayaannya.

Wu Ping memandang ke arah pintu penginapan, lalu tersenyum kecil saat melihat Boqin Changing.

“Sesuai pesan kemarin,” katanya sambil menangkupkan tangan. “Dua kereta kuda. Tidak kurang.”

Boqin Changing mengangguk singkat.

“Kerja bagus.”

Shang Mu menatap kereta-kereta itu sejenak, lalu berbalik cepat ke arah Zhiang Chi.

“Kita ke kamar,” katanya. “Sekarang.”

Zhiang Chi sempat tertegun, namun segera memahami maksudnya. Ia mengangguk dan menggandeng tangan Shang Ni, lalu bergegas mengikuti Shang Mu menaiki tangga kayu menuju kamarnya yang ditempati Zhiang Chi dan Shang Ni.

Begitu pintu tertutup, Shang Mu segera mengeluarkan sebuah wadah kecil dari balik jubahnya. Di dalamnya terdapat ramuan herbal berwarna kehijauan, kental, dengan aroma tanah dan akar yang kuat.

Tanpa ragu, ia mengoleskan ramuan itu ke bagian kepala dan dagunya.

Zhiang Chi terdiam, menatap tak percaya.

Perlahan rambut hitam mulai tumbuh dari kulit kepala Shang Mu, memanjang dalam hitungan napas. Jenggot pun muncul, tebal dan rapi, mengubah wajahnya yang selama ini tampak sederhana menjadi sosok yang jauh lebih berwibawa.

Jika dirasa kurang panjang, Shang Mu kembali mengoleskan ramuan itu. Rambutnya semakin tebal, jenggotnya semakin nyata.

Dalam waktu singkat, bayangan Kaisar Kekaisaran Shang seolah berdiri kembali di hadapan Zhiang Chi. Zhiang Chi menutup mulutnya tanpa sadar.

“Ramuan apa itu…?” tanyanya kaget. “Dari mana kau mendapatkannya?”

Shang Mu tertawa kecil, suara tawanya ringan, jauh dari beban semalam.

“Siapa lagi kalau bukan Chang’er,” jawabnya santai. “Anak itu…” ia menggeleng sambil tersenyum, “…bahkan barang seperti ini saja dia punya.”

Ia menatap bayangannya di cermin perunggu, memastikan setiap detail mendekati penampilannya dulu.

“Aku harus kembali ke wujud ini,” katanya pelan namun tegas. “Jika kita ingin orang-orang mengenaliku… maka aku harus tampil sebagai Shang Mu yang dulu.”

Zhiang Chi menatap suaminya dengan mata berkilat. Bukan hanya karena perubahan fisik itu, tetapi karena tekad yang terpancar jelas. Ia juga mulai merias dirinya.

Di luar kamar, Boqin Changing berdiri diam, seolah sudah tahu apa yang sedang terjadi di dalam. Sha Nuo meliriknya dan menyeringai.

“Sekarang,” katanya, “barulah panggungnya terasa lengkap.”

Di kota yang masih terbangun perlahan itu, roda sejarah mulai bergerak kembali dan kali ini, ia bergerak menuju arah yang tidak bisa dihentikan lagi dengan Sha Nuo dan Boqin Changing yang mulai bergerak.

1
Arie Chaniago70
goooooood mantul Bangettt 🙂🙂🙂🌹🌹🌹
y@y@
⭐👍🏿👍🏼👍🏿⭐
Arie Chaniago70
goooooood mantul Bangettt semangat bogin,,, hancurkan mereka ok
Andri Iswanto
lanjut terus thor
Darwito
egk
Arie Chaniago70
👍👍👍💪💪💪💪🙂🙂🙂
Arie Chaniago70
👍👍👍👍🙂🙂🙂🌹🌹🌹
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Masuuuuk...
Nanik S
Makin seru Tor 💪💪💪
Nanik S
Perang akan menyenangkan Dasar Sha Nuo... maniak Pembantaian 🤣🤣🤣
angin kelana
peraaaaaaaaang....💪💪💪
Dar Mono
1 pikiranny cuma bertsrung dan bertarung 1 lagi smw penuh perhitungan dan hal bertarung duet yg seru ni nnti di medan perang
Ipung Umam
mantap Thor lanjutkan terus meningkat
Suwoyo Woyok
lanjut thorr seru
Daniel Simamora
Akhirnya ada updatednya juga.
Terimakasih thor.
Sarip Hidayat
waah
A 170 RI
xin da ohh xin da.. temen tapi musuh
Angga Charnado: musuh dalam selimut
total 1 replies
Darwito
wgeur
Darwito
urru
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Lanjut Up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!