NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Gerobak Soto

Cinta Di Balik Gerobak Soto

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Cinta Seiring Waktu / Kaya Raya / Berondong
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Setelah diselamatkan dari penculikan maut oleh Pratama, seorang penjual soto sederhana, Luna justru terjebak fitnah warga yang memaksa mereka menikah. Situasi kian pelik karena Pratama masih terikat pernikahan dengan Juwita, istri materialistis yang tanpa ragu "menjual" suaminya seharga Rp50 juta sebagai syarat cerai.
​Demi menolong pria yang telah menyelamatkan nyawanya, Luna membayar mahar tersebut dan memilih menyembunyikan identitas aslinya sebagai putri tunggal seorang CEO kaya raya. Ia rela hidup dalam kesederhanaan dan mengaku hanya sebagai guru TK biasa. Di tengah rasa bersalah Pratama yang berjanji akan bekerja keras membalas kebaikannya, ia tidak menyadari bahwa istri barunya memiliki kuasa untuk membalikkan nasib mereka dalam sekejap mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Pagi itu, sinar matahari yang masuk ke sela-sela jendela rumah sakit tidak mampu menghangatkan hati Luna.

Setelah pemeriksaan terakhir, dokter akhirnya mengizinkan Luna untuk pulang. Namun, Luna tidak meminta diantar ke rumah besar Jati Grup; ia hanya ingin satu tempat.

"Pa, antar Luna ke kontrakan," ucap Luna dengan suara yang masih lemah namun penuh keyakinan.

Papa Jati mengerutkan kening, wajahnya tampak khawatir.

"Kamu yakin, sayang? Kondisimu belum pulih benar, dan Papa takut Pratama masih dalam keadaan emosi."

Luna mengangguk pelan sambil merapikan hijabnya.

"Kami belum cerai, Pa. Statusku masih istrinya, dan tempatku ada di sampingnya, meski dia membenciku sekarang."

Papa Jati hanya bisa menghela napas panjang dan menuruti permintaan putrinya.

Mobil mewah itu pun berhenti di depan gang sempit.

Luna turun dengan langkah yang masih sedikit goyah, meminta ayahnya menunggu di mobil agar tidak memperkeruh suasana.

Begitu sampai di depan pintu kontrakan yang terbuka sedikit, Luna melihat Pratama sedang duduk mematung di kursi kayu ruang tamu. Wajahnya kusam, matanya merah, menunjukkan bahwa pria itu tidak tidur semalaman.

"Mas..." panggil Luna lirih.

Pratama menoleh, namun tidak ada lagi binar cinta di matanya. Hanya ada kekosongan yang dingin.

"Mau apa lagi, Dik? Belum puas kamu melihatku sekacau ini? Mau memamerkan mobil mewah atau pengawalmu lagi di depan rumah kumuh ini?"

Hati Luna serasa diiris sembilu. Namun, sebelum ia sempat menjawab, tiba-tiba Juwita masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu. Wajah wanita itu tampak sangat bersemangat, seolah-olah dia mencium bau uang.

"Mas Pratama! Dengar, ini kesempatanmu!" seru Juwita tanpa tahu malu.

Ia melirik Luna dengan tatapan rakus. "Ceraikan saja wanita penipu ini, Mas! Kita rujuk lagi, tapi ada syaratnya. Minta uang satu miliar sebagai ganti rugi karena dia sudah membohongimu! Dia kan kaya raya, satu miliar itu cuma recehan buat dia!"

Pratama mengepalkan tangannya hingga gemetar.

Amarahnya memuncak bukan karena Luna, tapi karena kehinaan yang diucapkan mantan istrinya itu.

"DIAM!! KELUAR KAMU!!" bentak Pratama dengan suara menggelegar yang membuat seisi rumah seolah bergetar.

"Keluar dari rumahku sekarang juga! Jangan pernah injakkan kaki kotormu di sini lagi!"

Juwita tersentak, wajahnya pucat karena ketakutan melihat amukan Pratama yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ia segera lari terbirit-birit keluar dari kontrakan.

Luna memejamkan matanya rapat-rapat saat mendengar bentakan keras suaminya. Tubuhnya gemetar. Meski bentakan itu ditujukan untuk Juwita, Luna tahu bahwa martabat suaminya sedang terluka parah.

Suasana kembali hening, namun keheningan itu terasa jauh lebih menyesakkan daripada teriakan tadi.

Pratama kembali menatap Luna dengan napas yang memburu.

"Kamu lihat, Dik?" suara Pratama kini merendah, namun sarat akan kepahitan.

"Bahkan orang-orang sepertinya menganggap aku bisa dibeli dengan uangmu. Begitulah duniaku sekarang di mata orang lain semenjak identitasmu terbongkar."

Luna melangkah perlahan mendekati Pratama yang masih terduduk kaku.

Suaranya pecah, nyaris tak terdengar, membawa kabar yang terasa seperti vonis akhir bagi hubungan mereka.

"Maaf, Mas. Aku ke sini bukan untuk memintamu memaafkanku secara instan. Aku tahu lukanya terlalu dalam," Luna menarik napas panjang, menahan sesak.

"Nanti malam aku akan berangkat ke Kanada. Ada urusan perusahaan yang harus aku selesaikan, dan mungkin, aku tidak akan mengganggumu lagi setelah ini."

Pratama tidak bergeming. Ia tidak menoleh, namun rahangnya mengeras mendengar rencana kepergian istrinya.

"Tapi sebelum aku pergi, izinkan aku melakukan tugasku sebagai istri untuk terakhir kalinya. Izinkan aku memasak soto agar besok kamu bisa berjualan tanpa harus repot menyiapkannya," pinta Luna dengan air mata yang mulai menetes.

Tanpa menunggu jawaban dari suaminya yang masih membisu, Luna mengambil kunci motor bebek milik Pratama yang tergantung di dekat pintu.

Ia segera melangkah keluar dan melajukan motor itu menuju pasar.

Ia tidak ingin Arini atau fasilitas mewah Jati Grup mencampuri urusan ini.

Ia ingin melakukannya dengan tangannya sendiri, seperti Luna yang dulu dikenal Pratama.

Begitu deru motor Luna menjauh, Pratama bangkit.

Ia melangkah masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya dari dalam.

Ia merebahkan diri, menatap langit-langit kamar yang kusam, mencoba menulikan rungu dari suara hatinya yang sebenarnya ingin berteriak agar Luna jangan pergi.

Satu jam kemudian, Luna kembali. Dengan langkah cekatan, ia membawa kantong plastik berisi ayam kampung terbaik dan bumbu-bumbu segar.

Di dapur yang sempit itu, Luna mulai bekerja. Ia mencuci ayam, meracik bumbu, dan menumisnya hingga aroma harum rempah soto memenuhi setiap sudut kontrakan.

Air matanya beberapa kali jatuh ke dalam wastafel, namun ia segera mengusapnya.

Jam dinding terus berputar hingga menunjukkan pukul enam sore.

Panci besar berisi soto itu sudah matang sempurna, siap untuk dipanaskan besok pagi.

Luna menatap pintu kamar yang masih terkunci rapat.

Ia tahu Pratama sedang mendengarkannya dari balik kayu itu.

Luna mengambil selembar kertas dan sebuah pulpen dari atas meja.

Dengan tangan gemetar, ia menuliskan sesuatu yang singkat namun sarat akan rasa.

Setelah itu, ia meletakkan kertas tersebut di atas meja makan, tepat di samping panci soto.

Ia merapikan hijabnya, mengambil tas kecilnya, dan menatap rumah itu untuk terakhir kali.

"Aku pamit, Mas," ucapnya lirih di depan pintu kamar Pratama.

Tidak ada jawaban. Hanya kesunyian yang menyakitkan.

Luna melangkah keluar, menutup pintu rumah dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara keras.

Ia tidak menggunakan mobil mewah yang mungkin sudah menunggu di ujung gang.

Sebagai gantinya, ia melajukan motor matic milik Arini.

Motor itu melaju membelah keramaian jalan raya, membawa Luna pergi jauh dari pria yang sangat ia cintai, meninggalkan aroma soto dan sepucuk surat yang menjadi saksi bisu hancurnya sebuah kepercayaan.

Suara pintu kamar yang terbuka berderit pelan, memecah keheningan kontrakan yang terasa hampa.

Pratama melangkah keluar dengan tatapan kuyu, namun indra penciumannya langsung disambut oleh aroma rempah yang begitu akrab—aroma soto ayam kampung yang selalu menjadi favorit pelanggannya, namun kali ini terasa jauh lebih emosional.

Matanya tertuju pada meja makan. Di sana, sebuah panci besar tertutup rapat dan di sampingnya tergeletak selembar kertas putih. Pratama meraih kertas itu dengan tangan yang gemetar.

“Mas, sotonya sudah jadi. Ayamnya sudah aku suwir, sambalnya juga sudah di ulekan. Besok Mas tinggal memanaskan kuahnya saja. Maafkan aku yang tidak jujur, aku hanya ingin menjadi Luna-mu, bukan CEO itu. Aku pergi ya, Mas. Jaga kesehatanmu baik-baik.”

Setetes air mata jatuh membasahi kertas itu. Hati Pratama serasa dihantam godam besar. Ego dan kemarahan yang sejak semalam menyelimutinya runtuh seketika, digantikan oleh rasa takut kehilangan yang amat sangat.

"Bodoh kamu, Pratama! Kenapa kamu biarkan dia pergi!" umpatnya pada diri sendiri.

Tanpa membuang waktu, ia menyambar kunci motor dan berlari keluar.

Ia memacu motornya dengan kencang, membelah jalanan sore yang mulai macet, berharap Luna belum jauh.

Pikirannya kalut, matanya liar mencari sosok wanita dengan motor bebek biru milik Riana.

Tepat di perempatan besar yang lampunya baru saja berubah merah, ia melihatnya.

Sosok wanita dengan hijab yang berkibar, bahunya naik turun tanda ia sedang menangis sesenggukan sambil menatap lampu lalu lintas.

"Dik!" teriak Pratama parau di tengah kebisingan jalanan.

Luna tersentak, ia menoleh dan matanya yang sembab membelalak mendapati suaminya sudah berada di sampingnya dengan wajah penuh peluh dan penyesalan.

"Mas..." gumam Luna tak percaya.

"Pinggirkan motornya, Dik. Sekarang," perintah Pratama tegas namun lembut.

Begitu sampai di bahu jalan yang agak sepi, Luna turun dari motornya dengan tubuh lemas.

Belum sempat ia mengucap sepatah kata pun, Pratama langsung melangkah maju dan menarik pinggang istrinya ke dalam dekapan yang sangat erat.

Ia membenamkan wajahnya di pundak Luna, menghirup aroma istrinya yang bercampur wangi rempah soto.

"Jangan pergi, Dik. Tolong jangan pergi. Maaf. Maafkan Mas," bisik Pratama dengan suara yang pecah oleh tangis.

Luna membeku, air matanya mengalir semakin deras mendengar suara suaminya yang kembali melunak.

"Mas juga salah," lanjut Pratama sambil melonggarkan pelukan namun tetap menggenggam kedua tangan Luna.

"Mas terlalu mementingkan harga diri sampai lupa bahwa kamulah yang paling menderita menanggung semua rahasia ini sendirian. Mas egois. Mas hanya tidak mau kehilangan sosok Luna yang sederhana, tapi Mas sadar, mau kamu CEO atau guru TK, kamu tetap istriku."

Luna membalas genggaman tangan Pratama dengan erat, menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu.

"Aku cuma ingin jadi istrimu, Mas. Hanya itu."

Lampu perempatan kembali hijau, kendaraan berlalu lalang di samping mereka, namun bagi Pratama dan Luna, dunia seolah berhenti sejenak.

Malam itu di pinggir jalan yang berisik, sebuah kebohongan besar akhirnya luruh, digantikan oleh kejujuran yang akan mengikat mereka lebih kuat dari sebelumnya.

Dari kejauhan, sebuah mobil sedan hitam terparkir tenang di bawah bayangan pohon peneduh.

Di dalamnya, Papa Jati menyaksikan adegan mengharukan antara putri dan menantunya itu dengan mata yang berkaca-kaca.

Sesekali ia mengusap sudut matanya, merasa lega sekaligus terharu melihat keras kepala Pratama akhirnya luruh oleh cinta.

Arini yang duduk di kursi kemudi, menoleh pelan. Ia merogoh tasnya dan mengulurkan sehelai sapu tangan bersih berwarna biru muda kepada pria di sampingnya itu.

"Sudah, jangan menangis lagi. Bukankah ini yang Mas Jati inginkan? Mereka sudah berbaikan," ucap Arini dengan suara yang sangat lembut, jauh lebih hangat daripada nada bicaranya saat di sekolah TK.

Papa Jati menerima sapu tangan itu, menyeka air matanya, lalu menggenggam jemari Arini dengan erat.

"Iya, sayang. Terima kasih ya. Kalau bukan karena kamu yang meminjamkan motor dan memberitahuku kapan Luna akan berangkat, mungkin ceritanya akan berbeda."

Arini tersenyum manis, membiarkan jemarinya berpaut dengan tangan pria yang selama ini menjadi rahasia terbesarnya.

Siapa yang menyangka bahwa di balik kesederhanaan Arini sebagai sekretaris pribadi Luna.

Ia adalah wanita yang berhasil meluluhkan hati sang pemilik Jati Grup yang sudah lama menduda.

"Kita harus tetap merahasiakan hubungan ini sebentar lagi, kan? Luna bisa pingsan kalau tahu Papanya berpacaran dengan teman sekantornya sendiri," goda Arini sambil tertawa kecil.

Papa Jati terkekeh, mencium punggung tangan Arini engan penuh kasih.

"Biarkan mereka menyelesaikan badai mereka dulu. Setelah semuanya tenang, baru kita beri mereka kejutan yang tak kalah besar."

Di pinggir jalan sana, Pratama dan Luna masih berpelukan, tidak menyadari bahwa di dalam mobil tidak jauh dari mereka, ada sepasang kekasih lain yang juga sedang merajut rencana masa depan.

1
tiara
itu pingsan kaget apa karena hamil ya🤭🤭🤭
awesome moment
pratama tu org dgn banyak potensi tp tersembunyi dalam kekisminan
Nabila Nabil
itu pingsan karna papa jati mau dipanggil opa dan arini dipanggil oma.... 🤣🤣
awesome moment
kpm tertangkap tu mokondo 2 ekor
awesome moment
lambe turah g punya obyek julid lg n
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
tiara
semoga Dirga dan Noah lekas tertangkap ya,agar papa Jati cepat menikah
my name is pho: iya kak
total 1 replies
tiara
pa Wandi ga bisa lagi gangguin Pratama tuh, hilang juga pemasukan ya kasian deh tukang nyinyir
my name is pho: 🤭🤭 hehe
total 1 replies
awesome moment
smg luna g kaget klo arini dan papa jati jujur.
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Anto D Cotto: sama2 👌👍
total 2 replies
Setiawan
kog aneh yah ?? bukannya td pratama lg di jln pulang br bs nolongin luna ?? itu kesian amat mtr bebek tua nya di tggl di jln 🤭🤭🤭
awesome moment
whoah...sama2 virgin ternyata
awesome moment
smg pratam slain kejujuran punya kecerdasan bisnis yg keyen. biar g njomplang bgts sm luna
awesome moment
udh terhura dluan
awesome moment
dih...juwita tu perempuan model p c
awesome moment
👍👍👍luna panggil arini, mama dunk😄😄😄
tiara
wah ternyata Arini menjalin hubungan dengan papa Jati toh, seru nih nantinya
Nabila Nabil
ini nanti ceritanya Luna yg gantian manggil bu ke arini🤣🤣🤣🤣🤣 kocak sih... 🤣🤣🤣
deepey
saling support ya kk. 💪💪
deepey
paginya gulingnya sdh pindah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!