Greta Hildegard adalah bayangan yang memudar di sudut kelas. Gadis pendiam dengan nama puitis yang menjadi sasaran empuk perundungan tanpa ampun. Baginya, SMA bukan masa muda yang indah, melainkan medan tempur di mana ia selalu kalah. Luka-luka itu tidak pernah sembuh, mereka hanya bersembunyi di balik waktu.
namun mereka tidak siap dengan apa yang sebenarnya terjadi oleh Greta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon spill.gils, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Kapten Basket Di Stanley Park
Setibanya di apartemen kecilnya yang sunyi, Greta menghela napas panjang. Ia melempar tas sekolahnya begitu saja ke atas tikar lantai yang sudah mulai menipis, lalu merebahkan tubuhnya yang terasa sangat berat.
"Kenapa banyak sekali masalah di hidupku..." gumamnya pelan pada langit-langit kamar yang kusam. Rasa lelah yang luar biasa menyergapnya, dan dalam hitungan detik, matanya mulai terpejam.
Namun, baru saja ia akan terlelap masuk ke alam mimpi, tiba-tiba...
Drrrtt... Drrrtt... (Suara dering nyaring memecah keheningan).
Greta tersentak bangun dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya. Ia meraba-raba lantai, mencari ponsel hitamnya. Di layar, muncul sebuah pesan dari nomor yang belum disimpan:
"Greta.. Ini nomor Norah.. Simpan ya.. Aku mau memberikan info besok sepulang sekolah akan ada latihan basket. Bawa baju ganti."
Greta terdiam sejenak, lalu dengan lesu mengetik balasan: "Baik Norah, terima kasih informasinya."
Ia menatap layar ponselnya dengan pandangan kosong. Bayangan tentang latihan basket besok—di mana ia akan dikelilingi oleh Norah dan Revelyn membuat perutnya terasa mual.
Namun, belum sempat ia meletakkan kembali ponselnya, perangkat itu bergetar hebat lagi. Kali ini Greta hampir menjatuhkannya ke lantai karena kaget. Di layar, sebuah nama kontak yang tadi membuatnya malu di sekolah kini berkedip-kedip: Pangeran Greta 👑.
Sebuah pesan masuk muncul:
"Halo.. Sedang apa Tuan Putri..?"
Wajah Greta yang tadi pucat karena cemas, tiba-tiba terasa hangat kembali. Ia bisa membayangkan wajah menyebalkan sekaligus tampan milik Luca saat mengetik pesan itu. Kejengkelannya pada Norah mendadak teralihkan oleh debaran jantung yang mulai tak beraturan.
Greta menahan senyum sambil mengetik balasan dengan jari yang lincah.
"Tuan putri sedang sibuk, jangan diganggu!" balasnya, mencoba terdengar ketus.
Tak butuh waktu lama sampai ponselnya bergetar lagi.
"Sedang sibuk? Tuan putri tidak pandai berbohong.." balas Luca seolah-olah ia bisa melihat kegugupan Greta dari balik layar.
Greta memutar bola matanya, meski hatinya merasa hangat.
"Pangeran tidak bisa mengerti bahasa tuan putri ya?.."
Namun, balasan terakhir Luca membuat jantungnya benar-benar berhenti berdetak sejenak.
"Karena aku tahu bahasa tuan putri, aku akan tiba di sana dalam 20 menit."
Dengan gerakan kilat, ia bergegas bangkit. Rasa kantuk yang tadi menyerangnya hilang tak berbekas, digantikan oleh adrenalin yang meledak-ledak. Ia membuka lemari kecilnya, mencari pakaian yang pantas namun tetap sederhana.
Ia akhirnya memilih outfit olahraga sederhana, Sebuah hoodie abu-abu oversized yang nyaman dan celana legging hitam. Ia menguncir rambutnya menjadi ekor kuda yang rapi, memberikan kesan segar pada wajahnya yang masih sedikit merona.
Akhirnya waktu pun tiba. Greta sudah berdiri di depan pintu masuk apartemen kecilnya, menggenggam sebuah tumblr minum berwarna pastel. Tak lama kemudian, deru mesin motor yang familiar terdengar mendekat. Luca menghentikan motor besarnya tepat di depan Greta, membuka kaca helmnya, dan menatap gadis itu dengan tatapan penuh semangat yang jarang ia tunjukkan.
"Aku baru saja mau mengajakmu latihan... tapi sepertinya kamu sudah membaca pikiranku," ucap Luca, sedikit terkejut melihat Greta sudah siap dengan pakaian olahraganya.
Greta pun berdiri tegak, lalu melangkah mantap ke arah motor Luca. Ia naik ke bangku penumpang dengan luwes dan berkata, "Tentu saja aku tahu. Kamu kan tidak pernah mengajakku jalan-jalan santai? Jadi pasti kamu mau mengajakku latihan basket karena tahu aku sedang dalam masalah dengan tim sekolah."
Luca tiba-tiba terdiam. Ia menoleh sedikit ke belakang, melihat ke arah Greta yang masih tersenyum manis namun penuh kemenangan di atas motornya. Ada jeda beberapa detik di mana Luca hanya menatap mata Greta, seolah tersadar bahwa gadis di belakangnya ini jauh lebih peka daripada yang ia kira.
Luca pun membalas dengan senyuman tipis dan menghela napas panjang—campuran antara pasrah dan rasa malu. Ia memutar kunci motornya kembali.
"Baiklah, aku mengerti, Tuan Putri". Ucap Luca sambil mengenakan helmnya.
Tanpa membuang waktu lagi, mereka pun melesat membelah jalanan kota, menuju Stanley Park. Di sana terdapat lapangan basket terbuka yang dikelilingi pepohonan besar dan udara segar, tempat yang biasa digunakan warga Vancouver untuk berolahraga di sore hari.
Sesampainya di sana, Luca memarkirkan motornya di dekat area pepohonan rimbun. Alih-alih langsung menuju ring, ia mengajak Greta ke sebuah jalan setapak yang dikelilingi pemandangan hijau yang asri.
"Baiklah, Greta... untuk bisa bertahan dalam permainan basket, kita harus mempunyai fisik yang kuat," ucap Luca dengan nada sok serius, sambil sengaja menggulung lengan kausnya dan memamerkan otot tangannya yang padat.
Greta langsung membuang muka, "Cih," desisnya sambil memeletkan lidahnya mengejek tingkah narsis Luca.
Luca yang menyadari reaksinya terlalu berlebihan langsung menurunkan lengannya dengan muka memerah malu. "Erhmm... Baiklah! Ayo kita pemanasan peregangan dulu," ucapnya mengalihkan pembicaraan.
Mereka pun mulai melakukan peregangan di bawah naungan pohon mapel yang besar.
"Ikuti gerakanku, Tuan Putri. Tarik tanganmu ke atas... setinggi mungkin," instruksi Luca. Greta mengikuti, namun karena tinggi badannya yang jauh berbeda, ia harus berjinjit. Luca diam-diam memperhatikan betapa mungilnya Greta di sampingnya. Saat melakukan peregangan kaki, Luca sempat kehilangan keseimbangan dan tanpa sengaja memegang bahu Greta untuk menopang diri, membuat keduanya membeku sesaat sebelum akhirnya tertawa canggung.
Setelah beberapa waktu berlalu dan otot mereka mulai panas.
"Oke... cukup ya," ucap Luca sambil mengatur napas. "Sekarang... aku akan menjelaskan untuk pemula sepertimu," lanjutnya sambil menunjuk gemas ke arah hidung Greta.
Greta langsung memasang wajah tersenyum namun dibuat-buat cemberut, bibirnya maju beberapa senti karena gemas dengan perlakuan Luca yang menganggapnya seperti anak kecil.
"Kita akan mencoba menyusuri jalan setapak ini dengan lari kecil, oke? Anggap saja latihan stamina supaya kamu tidak pingsan saat dikejar-kejar tim putri besok," ujar Luca. Greta mengangguk mantap, siap menghadapi tantangan itu.
"Sini, biar kubawakan air minummu." Tanpa menunggu jawaban, Luca langsung mengambil Tumblr milik Greta dari genggamannya. "Tuan putri fokus lari saja, biar pangerannya yang jadi pembawa barang."
Mereka pun mulai berlari kecil berdampingan, menyusuri jalan setapak yang dinaungi pepohonan raksasa. Udara sore Stanley Park yang segar mengisi paru-paru mereka, memberikan energi tambahan di setiap langkah.
"Greta, apa kamu pernah lari jauh sebelumnya?" tanya Luca, menyesuaikan irama langkahnya agar tetap sejajar dengan Greta.
"Seingatku tidak pernah. Aku tidak pernah mengikuti olahraga berat apa pun di sekolahku waktu di Korea juga," jawab Greta jujur, matanya fokus menatap jalan di depan.
"Baiklah, jangan terlalu memaksa ya... Kalau capek bilang saja," jawab Luca. Namun, sifat protektif itu segera berganti dengan seringai jahil yang muncul di sudut bibirnya.
Luca mulai mempercepat langkahnya sedikit, lalu berputar sehingga ia berlari mundur tepat di depan Greta. "Ayo, Tuan Putri! Fokus! Bayangkan di depanmu ada diskon gaun pesta, atau bayangkan aku adalah satu-satunya sumber oksigen di sini!"
Greta mendengus geli. "Kamu percaya diri sekali, Luca!"
"Harus dong!" Luca kemudian mengangkat tumblr milik Greta tinggi-tinggi ke udara. "Ayo, kalau kamu bisa menyentuh botol ini dalam sepuluh detik, aku akan membelikanmu es krim paling enak setelah ini!"
Greta tertantang. Ia mencoba menambah kecepatannya, namun setiap kali tangannya hampir meraih botol itu, Luca dengan lincah berkelit ke samping bak pemain bola profesional yang sedang melakukan dribble.
"Eits, tidak kena! Gerakanmu terlalu terbaca, Tuan Putri," goda Luca sambil tertawa renyah. Ia bahkan sempat-sempatnya melakukan gerakan moonwalk singkat di atas aspal sambil tetap membawa botol itu.
"Luca! Jangan lari mundur, nanti kamu jatuh!" seru Greta antara kesal dan ingin tertawa melihat tingkah konyol cowok itu.
"Oh, khawatir ya? Tenang saja, pangeranmu ini punya mata di belakang kepala—"
Sret!
Tepat saat itu, Luca hampir tersandung akar pohon yang menonjol. Ia melakukan gerakan akrobatik yang aneh untuk menyeimbangkan diri, membuat tumblr di tangannya bergoyang-goyang heboh. Greta tidak menyia-nyiakan kesempatan; ia melesat maju dan berhasil menepuk bahu Luca dengan keras.
"Kena!" seru Greta bangga.
Luca berhenti, ia terengah bukan karena lari, tapi karena terlalu banyak tertawa. Ia menatap Greta yang matanya berbinar penuh kemenangan. "Oke, oke. Aku mengaku kalah. Tuan putri ternyata punya kecepatan rahasia kalau sedang marah ya?".
Waktu pun terus berjalan, langkah kaki mereka berirama di atas aspal jalan setapak. Luca sesekali melirik ke arah jam sport di pergelangan tangannya. Angka digital itu menunjukkan mereka sudah menempuh jarak 2 km. Napas Luca mulai terasa sedikit berat, dan keringat mulai membasahi pelipisnya. Namun, saat ia menoleh ke samping, ia mendapati Greta masih berlari dengan langkah yang sangat ringan, seolah ia hanya sedang berjalan santai di mal.
"Greta... kamu udah capek?" tanya Luca, mencoba menyembunyikan nada napasnya yang mulai memburu.
"Belum Luca, kenapa?" jawab Greta polos, bahkan tanpa nada terengah sedikit pun.
Luca tersentak, lalu tertawa canggung. "Ah, tidak apa-apa... hehe. Ayo lanjut!" Ia memaksakan kakinya kembali bergerak, tidak mau terlihat lemah di depan gadis yang seharusnya ia "latih" itu.
Hingga jarak hampir menyentuh 3 km, Luca merasa paru-parunya mulai protes. Kakinya terasa seperti beton, sementara Greta? Gadis itu justru terlihat sangat menikmati suasana, sesekali bersenandung kecil sambil memandangi pepohonan hijau yang asri di sekeliling mereka.
Dia ini manusia atau apa? pikir Luca bingung. Gengsinya sebagai laki-laki dan "atlet" sekolah membuatnya tetap bertahan, meski kepalanya sudah mulai berdenyut.
Begitu melewati angka 3 km, Luca sudah tidak tahan lagi. Ia harus berhenti sebelum jantungnya melompat keluar.
"Greta...! Kamu terlihat sangat lelah... Ayo kita berhenti dulu!" seru Luca sambil tiba-tiba mencekal pelan lengan Greta, memaksa gadis itu berhenti.
Greta tersentak, ia yang sedang asyik melihat pemandangan langsung menoleh. "Eh?"
Luca segera menyodorkan tumblr minum milik Greta dengan tangan yang sedikit gemetar karena lelah. Namun, ia membuang mukanya jauh-jauh ke arah belakang, berusaha menyembunyikan wajahnya yang sudah merah padam dan napasnya yang kembang kempis tidak beraturan.
"Ini... minum dulu... nanti kamu pingsan..." ucap Luca dengan suara yang dipaksakan stabil, padahal ia sendiri yang butuh oksigen tambahan.
Greta menerima botol itu dengan bingung. Ia meminum airnya pelan-pelan, namun matanya yang jernih terus bergerak lincah, berusaha mengintip ke arah muka Luca yang disembunyikan. Ia sengaja bergeser ke kiri, Luca membuang muka ke kanan. Ia bergeser ke kanan, Luca menoleh ke kiri.
Greta pun langsung bergerak gesit, beralih tepat ke depan Luca yang sedang tidak siap. Dengan gerakan lembut, Greta mengambil sapu tangan dari sakunya dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Namun, karena perbedaan tinggi mereka yang cukup jauh, tangannya tidak sampai untuk menyentuh wajah Luca.
Luca yang tertangkap basah sedang berusaha mengatur napas, menatap Greta dengan bingung. Melihat usaha keras gadis itu, pertahanan gengsi Luca seketika luruh. Ia perlahan menundukkan kepalanya, memberikan akses penuh hingga Greta mampu mengusap keringat yang membasahi dahi dan pipinya.
Greta tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap mata Luca dalam jarak yang sangat dekat, lalu tertawa kecil—sebuah tawa yang seolah mengejek sekaligus memuji kegigihan Luca yang sebenarnya sudah hampir pingsan itu.
"Sini, biar aku sendiri!" gerutu Luca dengan wajah yang kini jauh lebih merah daripada saat ia lari tadi. Ia merebut sapu tangan itu dari tangan Greta, lalu segera membuang muka ke arah lain dan mengelap wajahnya sendiri dengan terburu-buru karena malu yang luar biasa.
Tanpa mereka sadari, dari balik sebuah pohon mapel besar di kejauhan, sepasang mata tajam sedang mengawasi interaksi manis itu. Sosok tersebut berdiri bersandar, sebagian wajahnya tertutup oleh buku komik yang sering ia bawa.
Leon Weiss menutup komiknya dengan suara pelan namun tegas. Ia tertawa kecil, sebuah tawa dingin yang tidak selaras dengan suasana hangat di antara Greta dan Luca.
"Ini tidak bisa dibiarkan lebih lama lagi..." gumam Leon pada dirinya sendiri. Sorot matanya menunjukkan bahwa ia sedang menyusun rencana yang jauh lebih besar daripada sekadar urusan basket. "Aku harus bertindak."
Leon kemudian membalikkan badan, memasukkan tangannya ke dalam saku jaket, dan melangkah pergi menyatu dengan bayang-bayang pepohonan Stanley Park yang mulai menggelap seiring matahari yang tenggelam di balik garis laut. Sosoknya menghilang di balik keramaian, meninggalkan Greta dan Luca yang masih terjebak dalam momen canggung namun manis di pinggir jalan setapak.
oke lanjut thor.. seru ceita nya