Dunia telah berubah menjadi permainan maut.
Gerbang dimensi terbuka, monster meluap ke bumi, dan manusia terpilih membangkitkan kekuatan luar biasa yang disebut "Hunter". Namun, Kenzo tidak seberuntung itu. Dia hanyalah seorang Cleaner—pemulung mayat monster kelas rendah yang direndahkan dan dianggap sampah masyarakat.
Nasibnya berubah saat ia dikhianati dan dibiarkan mati di dalam Dungeon level tinggi oleh timnya sendiri. Di ambang maut, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem God Level Extraction Diaktifkan!]
[Target: Black Shadow Wolf (Grade A). Ekstraksi Berhasil!]
[Anda Mendapatkan Skill: Kecepatan Bayangan!]
Siapa sangka, pemulung yang dulunya diinjak-injak kini bisa mencuri bakat, kekuatan, hingga ingatan dari makhluk apa pun yang ia sentuh.
Satu per satu Hunter pengkhianat ia jatuhkan. Satu per satu monster penguasa ia jadikan batu loncatan. Dari pembersih sisa pertempuran, Kenzo bangkit menjadi predator puncak yang akan mengekstrak seluruh dunia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEBANGKITAN JANTUNG NAGA
Di ketinggian 30.000 kaki di atas Laut Natuna, mesin jet menderu stabil, tetapi di dalamnya, sebuah proses penghancuran dan penciptaan sedang berlangsung dengan cara yang paling brutal. Kenzo duduk mencengkeram lengan kursi kulitnya hingga material mahal itu hancur menjadi debu di bawah jemarinya.
Keringat dingin bercampur darah merembes dari pori pori kulitnya, menguap seketika sebelum sempat menetes ke lantai. Di dalam kepalanya, suara sistem tidak lagi terdengar seperti asisten yang membantu itu terdengar seperti hakim yang sedang menjatuhkan vonis mati.
“REKAN, JANTUNG NAGA INI TERLALU BESAR UNTUK TUBUH MANUSIAMU YANG LEMAH. JIKA KAU TIDAK BISA MENAHANNYA DALAM TIGA MENIT, KAU AKAN MELEDAK DAN MENJADI KEMBANG API TERMAHAL DI CAKRAWALA INI.” ucap sistem.
"Diem... lo... mesin... bangsat..." desis Kenzo. Gigi giginya bergemeletuk, hampir pecah karena tekanan rahangnya sendiri.
Rasanya seperti ada lava yang dipompakan paksa ke dalam pembuluh darahnya. Setiap kali jantungnya berdetak
DUM!
sebuah gelombang kejut energi murni menghantam tulang rusuknya dari dalam. Kenzo bisa merasakan tulang tulangnya retak, hancur menjadi serpihan kecil, hanya untuk dibangun kembali dengan kepadatan yang melampaui baja hitam.
Di tengah siksaan itu, kesadaran Kenzo mulai kabur. Dia terseret kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu. Jakarta yang kelabu. Bau sampah dan abu dari Gate liar yang meledak di pinggiran kota.
Kenzo kecil, dengan baju compang camping dan perut yang melilit karena lapar, sedang mengais di antara tumpukan rongsokan Hunter. Dia mencari sisa kristal mana seukuran kerikil hanya untuk ditukar dengan sepotong roti keras yang sudah berjamur.
"Eh, liat tuh tikus got," ejek seorang Hunter pemula berbaju zirah mengkilap yang lewat. "Bahkan monster tingkat rendah pun punya harga diri lebih tinggi dari pemulung mana kayak dia."
Kenzo kecil tidak membalas. Dia hanya menatap pantulan dirinya di genangan air berlumpur. Dia melihat seorang anak laki laki yang lemah, yang hidupnya bergantung pada sisa sisa kekuatan orang lain.
Saat itulah, kebencian itu lahir. Aku tidak ingin menjadi tikus, batinnya. Aku ingin menjadi naga yang menelan seluruh kota ini.
“ASIMILASI MENCAPAI 90%... MEMULAI RESTRUKTURISASI GENETIK.” ucap sistem.
"KENZO! Sadar, woi ah elah!" Suara Valeria menembus kabut rasa sakit.
Valeria dan Freya berdiri mematung di sudut kabin. Mereka tidak bisa mendekat karena tekanan Mana yang keluar dari tubuh Kenzo begitu besar hingga membuat botol botol minuman di bar jet itu pecah berkeping keping.
Mereka melihat pemandangan yang mengerikan: sisik-sisik hitam tipis mulai tumbuh di sepanjang lengan Kenzo, berkilau seperti berlian gelap sebelum akhirnya meresap masuk ke bawah kulitnya.
Tiba tiba, jantung Kenzo berhenti berdetak. Selama lima detik yang terasa seperti keabadian, jet itu terasa sunyi total, hanya suara deru mesin di luar. Lalu
DUAARRR!
Ledakan energi merah kehitaman meledak dari dada Kenzo. Gelombang kejutnya begitu kuat hingga jet pribadi itu miring tajam ke kiri, hampir kehilangan kendali di udara. Seluruh sistem elektronik di dalam kabin berkedip gila sebelum akhirnya stabil kembali.
[Ding! Selamat! Asimilasi Sukses.]
[Anda telah memperoleh Ras Tersembunyi: Dragon-Humanoid (Fase 1).]
[Statistik Fisik meningkat drastis. Skill Baru Terbuka: Dragon’s Breath (Rank S).]
Kenzo menarik napas panjang. Udara yang ia hirup sekarang terasa berbeda lebih kaya, lebih murni. Dia berdiri, dan setiap gerakannya terasa seringan bulu namun seberat gunung.
Bajunya sudah robek robek, memperlihatkan otot otot keras yang sekarang dilintasi garis garis merah yang bercahaya redup.
"Gila... lo beneran masih manusia, Ken?" tanya Valeria, matanya tidak bisa lepas dari dada bidang Kenzo yang masih mengeluarkan uap panas.
Kenzo tidak menjawab dengan kata kata. Dia berjalan mendekati Freya yang masih gemetar, lalu dengan gerakan yang sangat dominan, dia mencengkeram tengkuk leher Freya, menarik wajah cewek Jerman itu hingga hidung mereka bersentuhan. Mata Kenzo sekarang sepenuhnya merah menyala dengan pupil vertikal yang tajam.
"Gue ngerasa bisa ngerobek langit dengan tangan kosong, Pirang," bisik Kenzo, suaranya kini memiliki
vibrasi berat yang membuat Freya lemas seketika. Kenzo mengecup leher Freya dengan kasar, meninggalkan bekas merah yang panas di sana. "Dan sekarang, gue laper banget. Bukan laper makanan... tapi laper kekuatan."
"Simpen dulu napsu naga lo, Bos," sela Valeria sambil menyilangkan kakinya, mencoba menutupi rasa gugupnya. "IHA udah mulai nurunin jangkar di Palung Jawa. Kalau lo telat, naga purba di bawah sana keburu dijadiin pajangan sama 'The Tribunal'."
Kenzo melepaskan Freya pelan, lalu mengambil jas baru yang disediakan Elara lewat drone. "Tribunal? Caelum sama si pendeta munafik Liora itu?" Kenzo menyeringai nakal. "Bagus. Gue butuh lawan yang nggak langsung mati pas gue tiup."
Ratusan kilometer di depan mereka, sebuah kapal induk raksasa yang dilindungi teknologi kamuflase optik sedang melayang rendah di atas ombak yang mengamuk.
Di tepi landasan peluncuran, seorang pria duduk dengan tenang. Namanya Caelum. Dia mengenakan jubah putih bersih, rambut peraknya tertiup angin, dan matanya selalu terpejam.
"Kau merasakannya, Caelum?" suara seorang wanita muncul dari belakang. Liora, sang pendeta tinggi, berdiri di sana sambil memegang salib perak yang memancarkan aura suci yang menyesakkan.
"Sesuatu yang seharusnya tidak ada di buku takdir baru saja lahir," jawab Caelum tanpa membuka mata. "Ruang di sekitar jetnya tadi baru saja hancur dan terbentuk kembali. Dia baru saja melakukan asimilasi tingkat dewa."
"Hanya pria beruntung yang mendapatkan kekuatan yang salah," Liora tersenyum sinis. "Aku akan menyucikannya dalam nama Konsil sebelum dia sempat mengedipkan matanya."
"Jangan sombong, Liora. 'Naga kecil' itu datang bukan untuk menyerah," Caelum berdiri. Saat dia membuka mata, pupilnya berwarna putih bening dengan pola lingkaran rumit kemampuan manipulasi ruang Rank S+ yang legendaris.
"Biarkan armada bawah laut kita membuka Gate itu. Aku ingin melihat seberapa kuat dia sebelum aku melipat ruang di mana dia berdiri hingga dia menjadi debu kosmik."ucap caelum.
Kenzo kini duduk di depan meja holografik, menatap data yang dikirim oleh Elara.
"Bos, IHA sudah mulai masang jangkar Mana di koordinat -8.234. Itu titik terdalam di Palung Jawa," Elara menjelaskan lewat layar, suaranya terdengar cemas. "Mereka pakai teknologi penstabil dimensi buat maksa Gate Kelas S terbuka. Kalau mereka berhasil, mereka bakal punya energi buat nguasain dunia selama seratus tahun ke depan."
"Mereka nggak bakal dapet apa apa," jawab Kenzo. Suaranya kini memiliki vibrasi yang membuat Valeria dan Freya merasa ingin berlutut secara insting. "Gate itu bukan berisi kristal biasa. Jantung naga di dada gue ini bisa ngerasainnya... itu adalah penjara buat salah satu Jenderal naga purba. The Abyssal Trench."
Kenzo menoleh ke arah Freya. "Freya, siapkan tombak Gungnir mu. Di laut nanti, air bakal jadi musuh kita. Gue butuh lo ngebekuin permukaan laut pas gue berantem di bawah. Jangan biarin satu pun kapal selam mereka kabur."
"Dan gue?" tanya Valeria sambil mengasah belatinya.
"Lo pimpin unit bayangan Veteran. Susup ke kapal induk IHA. Matiin sistem navigasi mereka, bikin mereka buta. Gue mau mereka liat pas gue ngebabat habis harapan mereka, tapi mereka nggak bisa lari karena mesin mereka mati," perintah Kenzo dingin.
Kenzo berdiri dan berjalan menuju pintu jet. Dia bisa merasakan kehadiran Mana yang luar biasa besar sedang mendekat dari arah laut. Tim pembantai dari IHA, armada internasional, dan badai yang dia ciptakan sendiri semuanya berkumpul di satu titik.
"IHA mengira mereka adalah juri yang berhak menghakimi dunia," gumam Kenzo sambil memakai Mask of The Nameless nya kembali. "Saatnya mereka belajar, bahwa di hadapan naga, juri pun hanyalah mangsa yang harus dikuliti."
Jet hitam itu menukik tajam, menembus awan badai menuju koordinat maut di Selatan Jawa. Di tengah gemuruh guntur dan ombak raksasa, Sang Penguasa Bayangan yang baru saja berevolusi siap untuk memulai perjamuan darahnya yang paling megah.
“RITUAL DIMULAI... SELAMAT DATANG DI NERAKA LAUT, REKAN.” ucap sistem.