NovelToon NovelToon
Dark Crown: Devil'S Bride

Dark Crown: Devil'S Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Obsesi / Roman-Angst Mafia / Menikah dengan Musuhku / Kriminal dan Bidadari
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Coldmaniac

‎"Aku tidak membelimu untuk dicintai. Aku membelimu untuk menghancurkan ayahmu."

‎Aria Vane hanyalah tumbal. Dijual oleh ayahnya sendiri untuk melunasi utang darah kepada Dante Moretti, pria paling kejam yang pernah memimpin sindikat Milan.
‎Dante tidak butuh istri. Dia butuh senjata.
‎Aria tidak butuh perlindungan. Dia butuh balas dendam.

‎Di atas ranjang yang sama, mereka saling mengincar nyawa. Namun, saat rahasia masa lalu mulai terkuak, Aria menyadari bahwa sang Iblis yang menikahinya adalah satu-satunya peluru yang ia miliki untuk bertahan hidup.

‎Satu pernikahan. Dua pengkhianatan. Ribuan peluru yang mengintai.

‎Di dunia Moretti, hanya ada satu aturan: Jangan jatuh cinta, atau kau akan menjadi orang pertama yang mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Coldmaniac, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Perjamuan Rahasia di Altar Dingin

SINAR matahari pagi yang menembus jendela kaca patri di kamar utama tidak terasa hangat bagi Aria Vane. Cahaya itu justru terasa seperti interogasi yang silau, memaksa matanya terbuka untuk menghadapi kenyataan yang lebih buruk daripada mimpi buruk mana pun. Ia terbangun dengan tangan yang secara otomatis meraba ke bawah bantal.

Ponsel itu masih di sana. Dingin, tipis, dan membawa pesan yang bisa meruntuhkan sisa-sisa kedamaiannya.

Aria duduk di tepi tempat tidur, membiarkan rambutnya yang berantakan menutupi wajahnya. Ia menatap sisi tempat tidur di sebelahnya. Kosong. Dante selalu bangun sebelum fajar, seolah-olah tidur adalah kemewahan yang tidak boleh ia nikmati terlalu lama. Aria bertanya-tanya, apakah Dante juga dihantui oleh suara-suara di dalam kepalanya, ataukah dia terlalu sibuk menjadi suara yang menghantui orang lain?

Ia beranjak menuju meja rias, mengambil foto lama yang ia temukan di perpustakaan. Wanita di foto itu—ibu Dante—tampak begitu tenang, namun matanya menyimpan kesedihan yang Aria kenali. Kesedihan seseorang yang terjebak dalam sangkar emas yang dibangun dari tulang-belulang.

"Siapa yang mengirim pesan itu?" bisik Aria pada pantulannya di cermin.

Suara ketukan di pintu membuatnya tersentak. Foto itu langsung ia sembunyikan di balik tumpukan kain di laci meja rias.

"Masuk," ucapnya, mencoba menstabilkan nada suaranya.

Seorang pelayan muda masuk dengan kepala tertunduk, membawa nampan berisi kopi hitam dan beberapa buah segar. "Tuan Dante menunggu Anda di ruang kerja, Nyonya. Beliau mengatakan Anda punya waktu lima belas menit untuk bersiap."

"Terima kasih, Bianca," jawab Aria. Ia memperhatikan tangan pelayan itu yang sedikit gemetar. Di rumah ini, ketakutan adalah oksigen yang dihirup semua orang.

Setelah bersiap dengan pakaian yang lebih formal—setelan blazer hitam yang memberikan kesan otoritas—Aria melangkah menuju ruang kerja Dante. Ruangan itu terletak di ujung koridor lantai dua, sebuah ruangan dengan pintu kayu ek besar yang selalu dijaga oleh dua pengawal bersenjata.

Begitu ia masuk, aroma cerutu dan kertas tua menyambutnya. Dante duduk di balik meja mahoni besarnya, sedang menatap beberapa layar monitor yang menampilkan rekaman CCTV dari pelabuhan dan beberapa titik di kota Milan.

"Duduk," perintah Dante tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

Aria duduk di kursi kulit di depan meja Dante. Ia memperhatikan profil suaminya. Pagi ini, Dante terlihat lebih tajam, lebih berbahaya. Luka gores di pipinya sudah mengering, menyisakan tanda kemerahan yang membuatnya terlihat seperti prajurit yang baru pulang dari medan perang.

"Ayahmu baru saja kehilangan tiga puluh persen dari likuiditasnya dalam satu malam," ucap Dante, suaranya terdengar puas. "Sindikat Rusia membatalkan kontrak mereka dengannya karena dianggap tidak mampu mengamankan jalur pengiriman. Sekarang, Julian Vane seperti hewan yang terpojok."

"Dan hewan yang terpojok adalah yang paling berbahaya," sahut Aria.

Dante akhirnya menoleh, menatap Aria dengan mata abu-abunya yang dingin. "Tepat sekali. Itulah sebabnya mulai hari ini, kau tidak akan pergi ke mana pun tanpa pengawalan Marco. Setiap langkahmu, setiap orang yang kau ajak bicara, aku harus tahu."

Jantung Aria berdegup kencang. Jika ia diawasi seketat itu, bagaimana ia bisa menemui si pemeras di gereja tua malam ini?

"Kau bilang aku aset, Dante. Bukan tawanan," protes Aria, mencoba tetap tenang. "Bagaimana aku bisa membantumu mengurus aspek hukum jika aku terus-menerus diikuti oleh pengawalmu yang terlihat seperti algojo?"

Dante berdiri, berjalan memutari mejanya dan berhenti tepat di depan Aria. Ia membungkuk, menaruh kedua tangannya di sandaran kursi Aria, mengurung wanita itu dalam ruang pribadinya.

"Kau adalah aset yang sangat mahal, Aria. Dan aku tidak punya kebiasaan membiarkan asetku dicuri atau rusak," bisik Dante. Napasnya beraroma kopi dan mint. "Marco adalah bayanganmu. Jika kau mencoba menghilang dari pandangannya, aku akan menganggap itu sebagai pengkhianatan. Dan kau tahu apa yang kulakukan pada pengkhianat."

Aria menelan ludah. "Apakah ini caramu memperlakukan istri, Dante? Dengan ancaman?"

Dante mengangkat satu tangannya, menyentuh helai rambut Aria dengan lembut, namun matanya tetap sedingin es. "Aku tidak pernah memintamu menjadi istri dalam arti tradisional. Aku memintamu menjadi sekutu. Dan di duniaku, kesetiaan dibuktikan dengan ketaatan, bukan dengan kata-kata manis."

Dante melepaskan Aria dan kembali ke mejanya. "Sore ini, kau akan meninjau dokumen kontrak pelabuhan yang baru. Aku ingin kau mencari celah untuk menyita sisa gudang milik ayahmu secara legal. Gunakan otakmu yang jenius itu, Aria. Tunjukkan padaku bahwa aku tidak salah memilihmu."

Aria mengangguk pelan, meskipun pikirannya sudah melayang jauh ke rencana malam ini. Ia harus menemukan cara untuk mengecoh Marco. Ia harus tahu siapa yang memerasnya.

Sore hari berlalu dengan ketegangan yang merayap. Aria menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan, dikelilingi oleh tumpukan map dan dokumen hukum. Di sudut ruangan, Marco berdiri tegak seperti patung, matanya tidak pernah lepas dari Aria.

Aria mencoba fokus pada dokumen di depannya, namun bayangan pesan misterius itu terus muncul. Ia tahu, jika ia memberitahu Dante, Dante mungkin akan membunuh si pemeras, tapi dia juga akan tahu bahwa Aria telah menyembunyikan rahasia darinya. Dante tidak akan memaafkan itu. Di sisi lain, jika ia pergi sendiri, ia mempertaruhkan nyawanya.

"Marco," panggil Aria tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen.

"Ya, Nyonya?" jawab pria itu dengan suara berat.

"Aku butuh udara segar. Apakah kita bisa berjalan-jalan di taman belakang sebentar?"

Marco ragu sejenak. "Tuan Dante mengatakan Anda harus tetap di dalam ruangan, Nyonya."

Aria menutup mapnya dengan bunyi keras, lalu berdiri dan menatap Marco dengan tatapan yang ia pelajari dari Dante—dingin dan tak terbantahkan. "Aku sudah berada di ruangan ini selama enam jam. Jika aku tidak mendapatkan oksigen, aku akan pingsan, dan itu akan menjadi masalah bagimu saat Dante bertanya kenapa aku tidak menyelesaikan pekerjaanku. Taman belakang masih berada di dalam area keamanan vila, bukan?"

Marco akhirnya mengangguk. "Baik, Nyonya. Tapi hanya lima belas menit."

Di taman belakang yang luas dan menghadap ke danau, Aria berjalan perlahan. Ia memperhatikan sistem keamanan di sana. Kamera CCTV berputar setiap tiga puluh detik. Ada celah di dekat pagar tanaman mawar yang mengarah ke gudang peralatan berkebun.

Aria menjatuhkan sapu tangan sutranya di dekat pagar itu. Saat ia membungkuk untuk mengambilnya, ia dengan cepat menyelipkan sebuah batu kecil ke dalam mekanisme gerbang otomatis yang biasanya digunakan pelayan untuk membuang sampah organik. Ia tahu itu tidak akan menghentikan gerbang selamanya, tapi akan menciptakan kegagalan sistem kecil yang cukup untuk membuatnya keluar tanpa terdeteksi kamera selama beberapa menit.

Rencananya mulai terbentuk. Ia harus beraksi tepat saat pergantian shift pengawal pukul sepuluh malam.

Pukul 21.45 malam.

Vila Moretti mulai sunyi, namun atmosfernya tetap terasa berat. Dante sedang berada di ruang bawah tanah, mungkin sedang menginterogasi seseorang atau melakukan bisnis gelap lainnya. Aria berada di kamarnya, sudah berganti pakaian dengan kaos hitam, celana jins, dan jaket kulit tipis yang ia sembunyikan di bawah gaun tidurnya yang panjang.

Ia mematikan semua lampu di kamarnya, membiarkan kegelapan menyelimuti. Dengan hati-hati, ia membuka jendela balkon. Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah akan melompat keluar dari dadanya. Ia belum pernah melakukan hal senekat ini seumur hidupnya.

Aria menggunakan tali yang ia buat dari beberapa kain seprai sutra yang ia ikat kuat-kuat—sebuah teknik klise, namun efektif di bangunan tua seperti vila ini. Ia turun perlahan, kakinya menyentuh rumput basah dengan lembut.

Ia bergerak cepat menuju gerbang sampah yang tadi ia sabotase. Beruntung bagi Aria, sistemnya masih mengalami error karena batu yang ia selipkan. Ia menyelinap keluar, menuju jalan setapak kecil yang jarang dilewati kendaraan.

Di sana, ia sudah memesan taksi melalui aplikasi di ponsel rahasianya, menggunakan nama palsu. Mobil itu sudah menunggu di balik rimbunnya pepohonan.

"Ke pelabuhan utara. Gereja San Pietro tua," ucap Aria pada sopir taksi itu.

Sepanjang perjalanan, Aria tidak berhenti melihat ke belakang, takut jika mobil hitam Moretti tiba-tiba muncul dan mengejarnya. Namun, jalanan tetap sepi. Kabut dari danau mulai merayap ke jalanan, menyelimuti segalanya dalam warna abu-abu yang suram.

Gereja San Pietro tua adalah sebuah bangunan gotik yang sudah setengah hancur, berdiri di atas bukit kecil yang menghadap ke area industri pelabuhan. Atapnya sudah runtuh di beberapa bagian, dan dinding batunya ditumbuhi lumut hitam yang tampak seperti pembuluh darah yang mati.

Aria turun dari taksi dan meminta sopirnya untuk pergi. Ia tidak ingin ada saksi.

Ia melangkah masuk ke dalam gereja. Bau kayu lapuk dan debu kuno memenuhi indra penciumannya. Hanya ada sedikit cahaya bulan yang masuk melalui lubang di langit-langit, menciptakan bayangan-bayangan panjang di antara pilar-pilar batu.

"Aku sudah di sini!" teriak Aria. Suaranya bergema di dalam ruangan yang luas itu, terdengar asing dan kecil.

Tidak ada jawaban. Hanya suara angin yang bersiul melalui celah-celah dinding.

Aria berjalan menuju altar. Di sana, di atas meja batu yang dingin, sebuah lilin kecil menyala, seolah-olah baru saja dinyalakan beberapa detik yang lalu. Di samping lilin itu, terdapat sebuah amplop cokelat.

Aria mengambil amplop itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya terdapat lebih banyak foto. Foto Dante saat masih remaja, wajahnya penuh lebam, sedang berdiri di depan makam ibunya. Dan ada satu dokumen—sebuah laporan otopsi asli yang menyatakan bahwa ibu Dante tidak mati karena sakit, melainkan karena keracunan arsenik dosis kecil selama berbulan-bulan.

Dunia Aria seolah berputar. Dante selalu mengira ibunya mati karena sakit akibat depresi. Jika dia tahu ayahnya sendiri yang meracuninya secara perlahan... Dante akan meledak menjadi monster yang tidak akan bisa dikendalikan oleh siapa pun.

"Sangat menarik, bukan?" sebuah suara terdengar dari balik bayang-bayang pilar di belakang altar.

Aria berbalik dengan cepat, tangannya meraba pisau lipat di saku jaketnya. "Siapa kau? Tunjukkan dirimu!"

Seorang pria melangkah keluar. Dia mengenakan jas abu-abu yang rapi, penampilannya kontras dengan lingkungan gereja yang kumuh. Wajahnya terlihat berwibawa, namun matanya memiliki kilat licik yang sangat familiar bagi Aria.

"Enzo?" Aria terperangah. Pria itu adalah orang kepercayaan ayahnya yang tempo hari terlihat sangat ketakutan di pelabuhan.

Enzo tersenyum miring. "Jangan terlihat begitu terkejut, Nona Aria. Ayahmu memang mengirimku ke pelabuhan sebagai tumbal, tapi aku selalu punya rencana cadangan. Aku sudah bekerja untuk keluarga Vane selama dua puluh tahun, dan aku tahu di mana semua mayat disembunyikan. Termasuk mayat di dalam keluarga Moretti."

"Kau memeras kami?" Aria mengepalkan tangannya. "Dante akan membantaimu jika dia tahu kau menyentuh masa lalunya."

"Itu masalahnya, Nona Aria. Dante tidak akan tahu jika kau melakukan apa yang kuminta," Enzo melangkah mendekat, suaranya kini lebih tajam. "Dokumen otopsi itu... itu adalah bukti bahwa ayah Dante, Lorenzo Moretti, membunuh istrinya. Dante sangat memuja kenangan ibunya. Jika berita ini tersebar, Dante akan memburu ayahnya yang sekarang berada di pengasingan, dan itu akan memicu perang saudara di dalam sindikat Moretti. Itulah yang ayahmu inginkan."

Aria tersentak. "Jadi ayahku yang menyuruhmu?"

"Ayahmu ingin kekacauan. Dia ingin Dante terganggu sehingga dia bisa mengambil kembali wilayahnya. Tapi aku?" Enzo tertawa kecil. "Aku ingin uang. Berikan aku lima puluh juta Euro, dan dokumen asli ini akan menjadi milikmu. Kau bisa menggunakannya untuk mengontrol suamimu, atau menghancurkannya. Pilihan ada di tanganmu."

"Aku tidak punya uang sebanyak itu," desis Aria.

"Kau adalah Nyonya Moretti sekarang. Kau punya akses ke akun-akun rahasia Dante yang bahkan pengacaranya tidak tahu. Aku akan memberimu waktu tiga hari. Jika uang itu tidak ada di rekeningku, aku akan mengirimkan dokumen ini ke semua musuh Dante di seluruh Eropa. Dia akan dianggap lemah karena tidak bisa membalas dendam ibunya, atau dia akan hancur karena amarahnya sendiri."

Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar dari pintu depan gereja.

BRAKK!

Pintu gereja yang sudah rapuh itu hancur berkeping-keping. Senter-senter berkekuatan tinggi menyinari ruangan, menyilaukan mata.

"Jangan bergerak!" sebuah suara yang sangat dikenal Aria menggelegar.

Dante Moretti masuk ke dalam gereja, diikuti oleh belasan pria bersenjata lengkap. Wajah Dante tidak lagi dingin—ia terlihat seperti iblis yang baru saja dilepaskan dari rantainya. Amarah yang terpancar dari tubuhnya begitu kuat hingga Aria merasa sulit untuk bernapas.

Dante berjalan lurus ke arah mereka, langkah sepatunya beradu dengan lantai batu dengan bunyi yang mematikan. Ia tidak melihat ke arah Enzo; matanya tertuju langsung pada Aria.

"Dante... aku bisa jelaskan," ucap Aria, suaranya gemetar.

Dante berhenti tepat di depan Aria. Ia tidak mengatakan apa pun. Ia hanya mengambil amplop cokelat dari tangan Aria dan melihat isinya sekilas. Rahangnya mengeras, dan pembuluh darah di lehernya tampak menonjol.

Dante melempar dokumen itu ke lantai, lalu ia berbalik ke arah Enzo. Tanpa peringatan, Dante mencengkeram leher Enzo dengan satu tangan dan mengangkatnya hingga kaki pria itu tidak lagi menyentuh tanah.

"Kau pikir kau bisa menggunakan ibuku untuk mengancamku?" suara Dante begitu rendah, menyerupai geraman binatang buas.

"T-tunggu... Dante... aku hanya..." Enzo mencoba bicara, namun suaranya tercekik.

Dante tidak memberinya kesempatan. Dengan gerakan yang sangat cepat, ia mengeluarkan pistolnya dan menembak kedua kaki Enzo.

DOOR! DOOR!

Teriakan kesakitan Enzo bergema di seluruh gereja. Dante melepaskan cengkeramannya, membiarkan Enzo jatuh tersungkur di lantai, bersimbah darah.

Dante kemudian berbalik kembali ke arah Aria. Ia mendekati wanita itu hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. Aria bisa merasakan panasnya amarah Dante.

"Dan kau," bisik Dante, suaranya mengandung ancaman yang lebih mengerikan daripada tembakan tadi. "Kau membohongiku. Kau menyelinap keluar dari rumahku untuk bertemu dengan tikus ini."

"Dante, aku mencoba melindungimu! Dia memeras kita tentang ibumu!" Aria mencoba membela diri.

Dante mencengkeram rahang Aria dengan kasar, memaksanya menatap mata abu-abunya yang kini dipenuhi oleh kegelapan yang murni. "Aku tidak butuh perlindungan dari seorang pengacara kecil sepertimu! Aku sudah tahu tentang otopsi itu sejak sepuluh tahun yang lalu, Aria! Aku sendiri yang mengubur dokumen itu agar dunia tidak tahu betapa hinanya keluargaku!"

Aria membeku. Dante sudah tahu?

"Kau mengkhianati kepercayaanku, Aria," lanjut Dante. "Kau pikir kau bisa bermain di belakangku? Kau pikir kau punya kekuatan untuk bernegosiasi denganku?"

Dante melepaskan rahang Aria dengan kasar. Ia menoleh ke arah pengawalnya. "Bawa Enzo ke ruang bawah tanah. Pastikan dia tetap hidup sampai aku bosan mendengarnya berteriak."

Lalu, Dante mencengkeram lengan Aria dan menyeretnya keluar dari gereja. "Dan kau... kau akan belajar apa artinya menjadi milik seorang Moretti yang sedang murka."

Aria terseret mengikuti langkah Dante yang lebar. Di bawah cahaya bulan yang pucat, ia menyadari bahwa malam ini ia tidak hanya gagal menyelamatkan Dante. Ia telah membuka pintu menuju sisi Dante yang selama ini pria itu coba sembunyikan—sisi yang benar-benar tidak memiliki belas kasihan.

Saat mereka masuk ke dalam mobil, Dante tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia hanya menatap lurus ke depan, tangannya mencengkeram setir dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Aria tahu, sangkar emasnya baru saja menjadi jauh lebih sempit. Dan kali ini, tidak akan ada jalan keluar.

1
Nida Saefullah
kerenn....
awesome moment
tekad yg 👍👍👍
awesome moment
👍👍👍
Nida Saefullah
👍💪
fitri ani
luar biasa
Coldmaniac: terima kasihhh
total 1 replies
awesome moment
blm slesekan? kpn lanjutnya?
Coldmaniac: ditunggu yaaaaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!