Ikuti saya di:
FB Lina Zascia Amandia
IG deyulia2022
Setelah hatinya lega dan move on dari mantan kekasih yang bahagia dinikahi abang kandungnya sendiri. Letnan Satu Erlaga Patikelana kembali menyimpan rasa pada seorang gadis berhijab sederhana yang ia temui di sebuah pujasera.
Ramah dan cantik, itu kesan pertama yang Erlaga rasakan saat pertama kali bertemu dengan gadis itu. Namun, ketika hatinya mulai menyimpan rasa, tiba-tiba sang mama membawa kabar kalau Erlaga akan dikenalkan pada seorang gadis anak dari leting sang papa. Sayangnya, Erlaga menolak. Dia hanya ingin mendapatkan jodoh hasil pencariannya.
Apakah Erlaga pada akhirnya menerima perjodohan itu, atau malah justru berjodoh dengan gadis yang ia temui di pujasera?
Yuk, kepoin kisahnya di "Jodoh Sang Letnan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Rasa Syukur Untuk Dua Orang Yang Berbeda
Matahari di langit Darfur, Sudan, perlahan merangkak naik, menyulut cakrawala dengan warna emas yang membakar. Di dalam bangsal pemulihan yang kini lebih tenang, aroma obat-obatan yang tajam perlahan memudar, berganti dengan aroma kopi jatah militer yang mulai diseduh di luar tenda.
Lettu Inf. Erlaga Patikelana menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal di atas brankar. Napasnya kini terasa lebih ringan, tidak lagi seberat beberapa hari yang lalu saat timah panas masih bersarang di dagingnya.
Tim dokter spesialis yang dikirim langsung dari pusat benar-benar menunjukkan dedikasi luar biasa. Dengan peralatan medis yang lebih memadai dan penanganan tanpa henti, keajaiban perlahan menghampiri sang perwira muda ini.
Erlaga menatap bahu kirinya yang terbalut perban tebal. Rasa nyeri yang menusuk, kini berubah menjadi denyutan yang samar. Sambil memandang langit-langit tenda, pikirannya mendadak terbang ke masa setahun silam di belantara Papua.
Kejadian serangan pemberontak di Sudan ini terasa seperti dejavu yang menyesakkan. Saat itu, dalam misi di pedalaman Papua, ia juga pernah tersungkur karena terjangan peluru dari kelompok KKB tepat di bahu yang sama.
Saat itu ia merasa ajalnya sudah di depan mata, namun takdir masih memberinya napas. Kini, di benua yang berbeda, ribuan mil dari tanah air, kejadian itu terulang kembali. Luka di atas luka lama.
"Sepertinya bahu kiri saya memang punya magnet untuk menarik masalah," gumam Erlaga dengan senyum getir yang sangat tipis.
Ia menghela napas panjang, meraba lehernya. Tangannya mencari-cari dog tag miliknya. Saat jemarinya menyentuh permukaan dingin separuh liontin hati yang terselip di sana, Erlaga memejamkan mata. Rasa syukur membuncah di dadanya. Bukan hanya karena ia berhasil selamat dari maut untuk kedua kalinya, tapi karena ia merasa seolah diberi kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki apa yang telah ia patahkan.
"Terima kasih, ya Allah. Engkau masih memberiku waktu untuk sekadar meminta maaf," batinnya lirih. Ia tahu, kesembuhannya ini adalah awal dari sebuah perjalanan panjang untuk pulang dan menghadapi kenyataan yang ia tinggalkan di Bandung.
***
Sementara itu, di Bandung, udara pagi terasa begitu sejuk setelah hujan semalam menyisakan tetesan air di dedaunan hijau di depan rumah Dallas.
Syafina sedang berada di dapur, membantu Syafana menyiapkan sarapan bersama Bi Dasim, ketika Dallas masuk dengan langkah yang jauh lebih ringan daripada hari-hari sebelumnya.
Ponsel Dallas masih menempel di telinga, dan wajahnya tampak berseri-seri.
"Alhamdulillah, Er! Kabar yang luar biasa!" seru Dallas ke arah ponselnya.
"Jadi, tim dokter sudah memastikan dia melewati masa kritis sepenuhnya? Syukurlah. Kami di sini ikut lega mendengarnya. Kami merasa bangga pada Erlaga yang begitu kuat."
Syafina yang sedang memegang gelas, mendadak mematung. Tangannya gemetar halus. Ia tahu siapa yang dimaksud papanya. Meski sejak kemarin ia berusaha bersikap dingin dan tidak peduli, pertahanannya roboh seketika saat kata "membaik" dan "melewati masa kritis" meluncur dari mulut Dallas.
Tanpa sadar, sebuah kalimat meluncur begitu saja dari bibir Syafina dengan sangat lirih, nyaris seperti bisikan angin.
"Alhamdulillah...."
Hatinya yang berhari-hari dilanda gelisah dan pikiran yang tidak menentu, tiba-tiba kini terasa lega. Ada sebuah getaran hangat yang menjalar dari ulu hatinya menuju seluruh aliran darahnya. Spontan, Syafina merasa beban berat yang menindih bahunya hilang begitu saja.
Ia segera meletakkan gelas itu dan berjalan menuju kamarnya dengan langkah terburu-buru, mengabaikan panggilan mamanya yang menanyakan tentang sayur lodeh yang belum dipindahkan ke mangkuk. Begitu masuk kamar, Syafina mengunci pintu.
Jantungnya berdebar kencang, bukan karena takut, melainkan karena rasa damai yang tiba-tiba merengkuh jiwanya.
Tangan Syafina seolah dituntun oleh sebuah kekuatan yang tidak terlihat, tangannya bergerak menuju lemari. Ia mengambil buku tebal yang ia gunakan untuk menyembunyikan kunci laci kemarin.
Dengan jari yang masih sedikit gemetar, ia membuka laci paling bawah dan meraih kotak cokelat mungil itu.
Syafina duduk di tepi tempat tidur, membuka kotak itu perlahan. Di sana, separuh hati miliknya tetap setia menunggu.
Ia mengambil liontin itu dan menggenggamnya erat-erat di dalam telapak tangannya. Dinginnya logam itu perlahan berubah menjadi hangat karena suhu tubuhnya.
"Kak Laga...." bisik Syafina sambil menempelkan kepalan tangannya yang berisi liontin ke dadanya.
Aneh. Benar-benar aneh. Syafina merasa kegelisahan yang menyiksanya selama berhari-hari seketika menguap. Ia merasa seolah-olah separuh hatinya yang lain, yang berada entah di mana, sedang memberikan sinyal bahwa segalanya sudah baik-baik saja.
"Di mana pun kamu berada saat ini, Kak... entah kenapa, aku merasa kamu sedang baik-baik saja sekarang," ucapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Meskipun aku masih sangat kecewa... meskipun hatiku masih perih karena kamu pergi tanpa kata dan tidak pernah lagi memberiku kabar, tapi saat ini aku merasa kamu baik-baik saja. Aku merasa bersyukur."
Syafina menghela napas panjang, mencoba menenangkan badai di dalam dirinya. Ia menatap liontin itu dengan tatapan yang lebih lembut, tidak lagi penuh kebencian seperti semalam.
"Dan untuk anaknya teman Papa... aku benar-benar turut bersyukur untukmu. Akhirnya kamu selamat. Kamu sudah melewati masa sulitmu di sana. Semoga kamu cepat pulih dan bisa kembali berkumpul dengan keluargamu yang sangat mencintaimu," lanjutnya, tulus mendoakan putra Pak Erkana yang menurutnya adalah sosok yang berbeda dari "Kak Laga"-nya.
Syafina tetap teguh pada pendiriannya. Baginya, Erlaga yang ia temui di pujasera adalah pria yang membawa luka manis di hatinya, pria yang meninggalkannya karena cemburu buta, pria yang mungkin saat ini sedang berada di suatu tempat di Indonesia sambil mencoba melupakannya.
Sedangkan Erlaga yang sedang berjuang di Sudan adalah pahlawan negara yang tidak mengenalnya sama sekali.
Ia belum sanggup membayangkan jika kedua sosok itu melebur menjadi satu. Baginya, itu adalah sebuah kemustahilan yang terlalu dibuat-buat untuk kenyataan hidupnya yang sederhana. Ia lebih memilih menjaga dua identitas itu tetap terpisah agar hatinya tidak perlu menanggung beban yang terlalu besar.
Syafina mencium liontin itu sekilas, lalu memasukkannya kembali ke dalam kotak. Namun kali ini, ia tidak mendorongnya ke sudut laci yang gelap. Ia meletakkan kotak itu di atas meja belajarnya, di samping tumpukan buku kuliahnya. Seolah ia sudah siap untuk tidak lagi bersembunyi dari kenangan itu.
Malam itu, di dua belahan dunia yang berbeda, ada kedamaian yang sama-sama bersemi. Di Sudan, Erlaga tertidur pulas untuk pertama kalinya tanpa bantuan obat tidur yang kuat, merasa jangkarnya aman di dadanya.
Sementara di sini, Syafina tertidur dengan senyum tipis yang tulus, merasa doanya telah sampai ke alamat yang tepat, meski ia belum tahu siapa sebenarnya pemilik alamat itu.
NB; bab selanjutnya setelah setahun kemudian saja ya. Tungguin ya besok. 🥰🥰🥰