Di balik rak-rak kayu ek yang menjulang tinggi, Genevieve Isolde Clara adalah cahaya yang tak pernah padam. Sebagai pustakawan, ia dikenal karena senyumnya yang merekah bagi siapa saja dan keramahannya yang membuat siapa pun merasa diterima. Namun, keceriaan itu hanyalah tirai tipis yang menutupi luka batin yang sangat dalam. Genevieve adalah ahli dalam berpura-pura—ia membalut rasa sakitnya dengan tawa, memastikan dunia melihatnya sebagai gadis yang paling bahagia, meski hatinya perlahan hancur dalam kesunyian.
Kehidupan Genevieve yang penuh kepura-puraan terusik ketika Valerius Theodore Lucien muncul. Valerius adalah seorang pria dengan aura bangsawan kuno, pucat, dan memiliki tatapan yang seolah bisa menembus waktu—ia adalah seorang vampir yang telah hidup berabad-abad. Sejak pertama kali melihat Genevieve, Valerius merasakan sesuatu yang janggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Keramaian yang Melindungi
Valerius berdiri mematung di sudut ruangan yang paling gelap, rahangnya mengeras hingga garis wajahnya tampak semakin tajam.
Selama berabad-abad, kehadirannya selalu menjadi pusat badai—ditakuti, dipuja, atau dihindari. Namun hari ini, di tangan seorang pustakawan kecil, ia tidak lebih dari sekadar udara kosong.
Kejengkelan mulai merayap di bawah kulit pucatnya. Ia ingin sekali melangkah maju, membalikkan meja sirkulasi itu, dan memaksa Genevieve menatap matanya sampai gadis itu menyadari bahwa ia tidak bisa lari dari takdir.
Namun, siang itu, takdir tampaknya sedang memihak Genevieve.
Lonceng pintu perpustakaan berdentang tanpa henti. Entah karena cuaca yang mendung di luar atau sekadar kebetulan, pengunjung datang berbondong-bondong.
Mahasiswa dengan tumpukan tugas, para orang tua yang membawa anak-anak mereka dari kelas Genevieve sebelumnya, hingga kelompok pembaca buku yang riuh.
"Miss Genevieve, boleh bantu aku mencari referensi sejarah kota?" tanya seorang pemuda dengan antusias.
"Tentu, mari ikut saya ke koridor sebelah sini," jawab Genevieve dengan nada riang yang sengaja dikeraskan.
Ia melewati Valerius dengan jarak hanya beberapa inci.
Wangi parfum mawar Genevieve sempat menyentuh indra penciuman Valerius, namun gadis itu bahkan tidak melirik ujung jubahnya. Genevieve justru sibuk tertawa kecil dan berbincang hangat dengan para pengunjung.
Ia menggunakan keramaian itu sebagai perisai. Ia tahu, di tengah banyak orang, Valerius tidak akan melakukan hal-hal yang menunjukkan jati dirinya sebagai monster.
Valerius hanya bisa melihat dari kejauhan. Setiap kali ada pria lain yang mendekati Genevieve atau menyentuh tangannya saat menerima buku, mata Valerius berkilat merah pekat. Tangannya yang tersembunyi di balik saku jas meremas kunci perak yang ia tinggalkan di kamar Genevieve semalam hingga kunci itu hampir bengkok.
Ia merasa terhina. Namun di atas semua itu, ia merasa terasing.
Bagi Genevieve, manusia-manusia fana yang berisik ini adalah rumah. Sedangkan dirinya, sang pelindung yang telah menghapus beban hidupnya, dianggap sebagai gangguan yang harus diabaikan.
"Nikmatilah kerumunanmu selagi kau bisa, Genevieve," gumam Valerius dengan suara rendah yang tertutup oleh keriuhan ruangan.
"Matahari akan segera terbenam, dan pengunjung-pengunjung ini akan pulang ke rumah mereka yang hangat. Saat itulah, kau akan menyadari bahwa hanya aku yang tetap tinggal."
Genevieve terus menyibukkan diri. Ia mengambil tangga kayu, memanjat untuk mengambil buku di rak tertinggi, dan sengaja berlama-lama mengobrol dengan pengunjung tua hanya agar ia tidak memiliki satu detik pun waktu luang untuk menyadari kehadiran pria di sudut ruangan itu.
Lonceng pintu berdentang untuk terakhir kalinya saat pengunjung terakhir keluar, namun Genevieve masih berpura-pura sibuk.
Ia menaiki tangga kayu yang sudah tua untuk mengembalikan sebuah ensiklopedia berat ke rak paling atas. Pikirannya masih kacau, terbagi antara rasa puas karena berhasil mengabaikan Valerius dan rasa takut yang mulai merayap seiring dengan matahari yang mulai tenggelam.
Karena kurang fokus, ujung sepatunya tersangkut pada anak tangga yang retak.
"Ah!"
Keseimbangannya hilang. Buku berat di tangannya terlepas, dan tubuh Genevieve limbung ke belakang. Ia memejamkan mata erat, bersiap merasakan hantaman keras lantai marmer yang dingin.
Namun, rasa sakit itu tidak pernah datang.
Dalam sekejap mata—kecepatan yang mustahil dilakukan manusia—sebuah lengan yang kokoh dan sekeras baja menangkap pinggangnya. Genevieve merasakan hawa dingin yang familiar meresap melalui kain gaunnya. Saat ia membuka mata, ia sudah berada di pelukan Valerius.
Pria itu menangkapnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menangkap ensiklopedia yang jatuh sebelum sempat menyentuh lantai. Jarak mereka begitu dekat hingga Genevieve bisa melihat urat-urat halus keunguan di bawah kulit pucat Valerius.
"Masih ingin berpura-pura aku tidak ada, Little Librarian?" bisik Valerius tepat di depan wajahnya.
Suaranya rendah, bergetar dengan kemarahan yang tertahan namun juga kepuasan karena akhirnya ia bisa menyentuh Genevieve lagi.
Genevieve terengah-engah, jantungnya berpacu liar—bukan hanya karena hampir jatuh, tapi karena tatapan mata Valerius yang kini benar-benar merah pekat, mengunci seluruh pergerakannya.
"Lepaskan aku," desis Genevieve, meski suaranya terdengar lemah.
Valerius tidak melepaskannya.
Ia justru mempererat pelukannya, membawa tubuh Genevieve turun dari tangga dengan perlahan namun pasti. Begitu kaki Genevieve menyentuh lantai, Valerius tetap tidak menjauh. Ia justru mengurung Genevieve di antara tubuhnya dan rak buku yang menjulang tinggi.
"Kau bisa mengabaikan tehku, kau bisa mengabaikan hadiahku, tapi kau tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa tanpaku, kau sudah hancur di lantai ini," ucap Valerius posesif.
Ia meletakkan buku berat itu ke meja di samping mereka tanpa sekali pun melepaskan pandangan dari Genevieve.
Genevieve menelan ludah, berusaha keras menetralkan gemetar di lututnya. Alih-alih mengucapkan terima kasih, ia justru memalingkan muka, menolak memberikan kepuasan pada pria yang terus-menerus mengusik kewarasannya itu.
"Aku bisa bangun sendiri kalaupun tadi jatuh," cetusnya ketus sambil melepaskan diri dari cengkeraman Valerius dengan gerakan kaku.
Ia merapikan gaunnya yang sedikit berantakan, lalu tanpa menoleh lagi, ia berjalan cepat menuju kereta dorong berisi tumpukan buku yang belum sempat dirapikan di tengah ruangan.
Ia mulai menyambar buku-buku itu dengan gerakan yang sedikit terlalu kasar, berusaha menulikan pendengarannya dari suara langkah kaki Valerius yang pelan namun pasti mengikutinya.
Valerius berdiri tidak jauh dari sana, bersandar pada sebuah pilar kayu dengan tangan bersedekap. Ia memperhatikan setiap gerakan Genevieve yang tampak terburu-buru.
"Gengsimu itu akan mencelakakanmu suatu hari nanti,
Genevieve," ujar Valerius dengan nada geli yang tajam. "Kau lebih memilih patah tulang daripada mengakui bahwa kau butuh bantuanku?"
Genevieve membanting sebuah buku tebal ke rak bawah hingga menimbulkan bunyi gedebuk yang keras.
"Aku tidak butuh bantuan dari seseorang yang menganggap nyawa dan ingatan orang lain sebagai barang dagangan! Aku lebih suka jatuh berkali-kali daripada berhutang budi padamu!"
Ia terus bergerak, berpindah dari satu rak ke rak lain,
menyusun buku dengan kecepatan yang tidak masuk akal hanya agar ia tidak perlu berdiri diam di dekat pria itu.
Namun, ke mana pun ia pergi, aroma dingin dan tajam milik Valerius selalu mengikuti
keren
cerita nya manis