NovelToon NovelToon
Janji-janji Yang Tertelan Kekeras Kepala

Janji-janji Yang Tertelan Kekeras Kepala

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Slice of Life
Popularitas:289
Nilai: 5
Nama Author: Ningsih Niluh

Dewi ingat janji-janji manis Arif saat menikah: melindungi dan membuatnya bahagia. Tapi kekeras kepala dan kecanduan judi membuat janji itu hilang – Arif selalu sibuk di meja taruhan, tak mau mendengar nasihat.

Arif punya kakak laki-laki dan adik perempuan, tapi ia dan adik perempuannya paling dicintai ibunya, Bu Siti. Setiap masalah akibat judi, Bu Siti selalu menyalahkan Dewi.

Dewi merasa harapannya hancur oleh kekeras kepala Arif dan sikap mertuanya. Akhirnya, ia harus memutuskan: tetap menunggu atau melarikan diri dari perlakuan tidak adil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Niluh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peluang di Balik Kerinduan

Hari berikutnya, matahari sudah mulai tinggi menyinari langit ketika Dewi berangkat ke pasar pagi. Tas kain bergaris yang selalu ia gunakan tergantung di pundaknya, sementara tangan kanannya memegang daftar belanja yang sudah ia tulis dengan rapi. Pasar yang ramai dengan suara pedagang berteriak-menawarkan barang dan pembeli yang berdesakan membuat udara terasa hangat dan penuh dengan aroma campuran—bumbu dapur segar, ikan yang baru tiba dari pelabuhan, dan kue-kue pasar yang masih hangat.

Dewi berjalan dengan hati-hati di antara lahan-lahan pasar yang sudah ia kenal selama bertahun-tahun. Dia berhenti sebentar di warung sayur Bu Minah untuk membeli bayam, kubis, dan cabai hijau yang masih segar. Sementara sedang memilih sayuran, suara yang akrab tiba-tiba menyapa dirinya dari belakang.

“Dewi? Apakah benar kamu ini, Dewi?”

Dewi berbalik dengan cepat, matanya yang biasanya kosong kini sedikit mengembang karena terkejut. Di depannya berdiri seorang wanita dengan rambut panjang yang diikat rapi, mengenakan baju kerja warna biru muda dengan apron putih. Wajahnya yang ceria masih sama seperti yang Dewi ingat dulu—itu adalah Lidya, teman sekelasnya saat di sekolah menengah yang sudah tidak pernah ia temui selama hampir lima tahun.

“Lidya? Betulkah kamu?” ucap Dewi dengan suara yang sedikit gemetar, rasa terkejut bercampur dengan kegembiraan yang tiba-tiba muncul dalam hatinya. “Sudah lama sekali kita tidak bertemu!”

Lidya langsung mendekat dan memberikan pelukan hangat. Suaranya penuh kegembiraan ketika berbicara. “Ya Tuhan, benar sekali kamu! Aku hampir tidak percaya mataku. Kamu masih sama saja, hanya sedikit lebih kurus mungkin. Kamu baik-baik saja kan?”

Dewi mengangguk perlahan, senyum kecil muncul di wajahnya. “Aku baik-baik saja. Kamu bagaimana? Aku dengar kamu sudah menikah dan punya anak ya?”

“Betul sekali!” jawab Lidya dengan senyum yang lebih lebar. “Aku punya dua anak lho, Dewi. Satu laki-laki dan satu perempuan. Mereka sekarang sedang sekolah. Aku sendiri bekerja di sebuah kolam renang swasta yang baru saja dibuka sekitar tiga bulan yang lalu di pinggiran kota ini. Kamu mau minum teh sebentar? Ada warung teh dingin di pojok sana yang cukup sepi.” " Baiklah tapi aku tak bisa lama-lama ya", jawab Dewi.

Mereka berjalan bersama ke warung teh dingin yang terletak di bagian paling ujung pasar, jauh dari keramaian utama. Mereka memilih tempat duduk di sudut yang teduh, dekat dengan tanaman pepaya yang tumbuh di belakang warung. Lidya memesan dua gelas teh tawar dingin dengan gula aren, sementara Dewi masih melihat sekeliling dengan mata yang penuh kagum—pasar yang sudah ia datangi berkali-kali ternyata masih memiliki sudut yang belum pernah ia kunjungi.

Setelah gelas teh datang, mereka mulai bercerita tentang kehidupan masing-masing selama ini. Lidya menceritakan bagaimana dia dan suaminya bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga, bagaimana anak-anaknya yang cerdas dan selalu membuatnya bahagia. Dewi juga menceritakan tentang kehidupannya dengan Arif, namun dia tidak menyebutkan hal-hal yang menyakitkan—hanya mengatakan bahwa mereka sedang berusaha untuk menjalani hidup dengan baik.

Setelah beberapa saat berbicara, Lidya melihat wajah Dewi dengan pandangan yang penuh perhatian. “Dewi, aku tahu kamu tidak mengatakan semua hal padaku. Dari wajahmu saja aku bisa melihat bahwa kamu sedang menghadapi banyak kesulitan. Kamu dulu kan selalu suka menyembunyikan masalahmu sendiri agar tidak menyusahkan orang lain.”

Dewi terdiam sejenak, jempolnya menggosok permukaan gelas teh yang dingin. Ia tidak bisa menyangkal kata-kata Lidya—teman lama ini memang selalu bisa membaca perasaan dirinya dengan mudah. “Aku hanya ingin bisa membantu Arif memenuhi kebutuhan rumah saja, Lidya. Kadang-kadang memang terasa berat, tapi aku harus kuat.”

Lidya menghela napas perlahan, kemudian mengambil tangan Dewi dan memegangnya dengan lembut. “Kamu tahu kan, Dewi? Di kolam renang tempat aku bekerja sedang mencari orang untuk bekerja di kantinnya. Kantin itu menjual makanan dan minuman untuk pengunjung kolam—mulai dari berbagai macam pop mie, telur rebus, ketupat, jagung rebus, Snack, roti dll. Pemiliknya adalah Bu Rury dan suaminya pak Vico. Dia mencari orang yang baik dan bisa dipercaya.”

Dewi mendengarkan dengan saksama, namun matanya menunjukkan rasa keraguan yang jelas. “Kantin ya? Tapi aku tidak punya pengalaman bekerja di kantin kolam renang, Lidya"

“Kamu tidak perlu khawatir!” jawab Lidya dengan semangat. “Bu Rury tidak terlalu memperhatikan pengalaman, yang penting kamu bisa memasak dengan baik dan bersih. Selain itu, jadwal kerjanya sangat fleksibel lho. Kamu hanya perlu bekerja setiap hari Minggu, setiap tanggal merah, dan setiap ada acara besar seperti Tahun Baru atau Lebaran. Gajinya juga cukup baik dan dibayar harian".

Dewi merasa hati nya berdebar kencang. Tawaran pekerjaan ini seperti sebuah peluang yang datang begitu saja di tengah kesulitan yang ia alami. Namun, rasa ragu tetap mengendap dalam dirinya. “Tapi aku tidak tahu apakah Arif akan menyetujuinya, Lidya. Dia biasanya tidak suka kalau aku keluar rumah terlalu lama atau bekerja di luar.”

“Kamu bisa saja membicarakannya dengan dia, kan?” ucap Lidya dengan lembut. “Aku yakin kalau kamu menjelaskan dengan baik bahwa pekerjaan ini akan membantu memenuhi kebutuhan rumah, dia akan mengerti."

Dewi terdiam sejenak, memikirkan semua kemungkinan yang ada. Bayangan tentang uang tambahan yang bisa ia dapatkan membuat hatinya sedikit bergetar—uang itu bisa digunakan untuk membeli bahan makanan yang lebih banyak, memperbaiki beberapa perabotan rumah yang sudah rusak, atau bahkan menyisakan sedikit uang untuk tabungan. Namun, rasa takut akan penolakan Arif dan kesulitan yang mungkin ia hadapi tetap membuatnya bimbang.

“Aku perlu waktu untuk memikirkannya, Lidya,” ucap Dewi dengan suara yang tenang. “Aku juga harus membicarakannya dengan Arif terlebih dahulu. Tapi terima kasih banyak ya untuk tawaran ini. Aku tidak pernah menyangka akan mendapatkan peluang seperti ini.”

Lidya mengangguk dengan senyum hangat. “Tidak apa-apa, Dewi. Kamu bisa memikirkannya dengan tenang. Bu Ratna bilang bahwa lowongan itu akan tetap terbuka selama seminggu lagi. Kalau kamu sudah memutuskan, kamu bisa hubungi aku ya. Aku akan membawamu bertemu dengan Bu Rury dan menjelaskan tentang kamu.”

Setelah itu, mereka membayar tagihan teh dan berpisah di pintu warung. Lidya harus segera pulang untuk menjaga anak-anaknya yang akan segera pulang sekolah, sementara Dewi melanjutkan perjalanan belanjanya dengan hati yang penuh dengan pemikiran. Setiap langkahnya di pasar terasa lebih berat dari biasanya—otaknya terus berputar memikirkan tawaran pekerjaan dari Lidya.

Ketika akhirnya sampai di rumah, Arif ternyata sudah ada di sana. Dia sedang duduk di kursi kayu sambil bermain ponsel, wajahnya tetap kosong seperti biasa. Dewi meletakkan tas belanja di atas meja dan mulai membersihkan sayuran yang baru saja ia beli.

“Kamu pulang terlambat,” ucap Arif tanpa melihat ke arah Dewi. “Aku sudah lapar dan tidak ada makanan yang bisa dimakan.”

“Maaf,” jawab Dewi dengan suara yang lembut. “Aku bertemu dengan teman lama di pasar dan sedikit lama berbicara dengannya. Aku akan memasak segera saja.”

Sementara sedang mencuci sayuran di wastafel dapur, Dewi merasa hati nya berdebar kencang. Ia mengambil napas dalam-dalam sebelum berbalik menghadap Arif. “Arif, aku ada sesuatu yang ingin bilang padamu.”

Arif akhirnya mengangkat pandangannya dari ponsel, menatap Dewi dengan tatapan yang tidak jelas. “Apa?”

Dewi mulai menjelaskan tentang pertemuannya dengan Lidya, tentang kolam renang swasta, dan tawaran pekerjaan di kantinnya. Ia menjelaskan dengan sangat rinci tentang jadwal kerja yang fleksibel dan gaji yang ditawarkan, serta bagaimana pekerjaan itu tidak akan mengganggu pekerjaannya membuat kue untuk dijual. Selama menjelaskan, tangan Dewi terus bergerak dengan tergesa-gesa, menunjukkan betapa gugupnya dia.

Setelah Dewi selesai berbicara, ada jeda keheningan yang cukup lama di dalam rumah. Arif terdiam sejenak, menatap lantai dengan wajah yang tidak menunjukkan ekspresi apapun. Dewi merasa hati nya mulai terasa dingin kembali—dia sudah siap untuk ditolak seperti biasanya.

Namun, tak disangka, Arif mengangguk perlahan. “Baiklah. Kalau pekerjaannya memang bisa menambah penghasilan kita, aku tidak keberatan.”

Dewi merasa seperti mendapatkan hembusan udara segar setelah berada di dalam ruangan yang tertutup rapat. Matanya yang dulu kosong kini sedikit bersinar kembali. “Terima kasih, Arif.”

Arif hanya mengangguk lagi dan kembali bermain ponselnya. Meskipun ekspresinya tidak berubah dan tidak ada kata-kata pujian atau dukungan lebih lanjut, bagi Dewi itu sudah cukup. Peluang untuk memiliki penghasilan sendiri dan membantu keluarga adalah sesuatu yang ia nantikan selama ini.

Meskipun rasa bimbang masih sedikit mengendap di dalam hatinya—apakah pekerjaan itu akan benar-benar membantu atau justru membawa masalah baru—Dewi merasa ada sedikit harapan yang mulai tumbuh kembali. Ia segera mengambil ponselnya yang sudah lama digunakan dan mencari nomor telepon Lidya yang baru saja ia catat di buku catatan kecilnya. Saat jempolnya siap untuk menekan tombol panggilan, ia mengambil napas dalam-dalam sekali lagi, merasa bahwa langkah kecil ini mungkin akan menjadi awal dari perubahan besar dalam kehidupannya.

1
Nischaaa_
wahhh tulisannya rapih banget, diksinya juga bagus. Siap jadi author bertanda tangan enggak sih😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!