NovelToon NovelToon
SALAH TARGET! AKU MALAH DINIKAHI SANG MAFIA

SALAH TARGET! AKU MALAH DINIKAHI SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action / Dark Romance / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Alana, agen intelijen terbaik, melakukan kesalahan fatal saat menyamar. Bukannya mendapatkan data rahasia, ia malah tertangkap basah oleh Arkano Dirgantara, raja mafia paling berbahaya.
Hanya ada dua pilihan bagi Alana: Mati di tangan Arkano, atau menjadi istrinya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak yang penuh intrik, Alana harus berpura-pura menjadi istri yang patuh sambil terus menjalankan misinya. Namun, saat Arkano mulai menunjukkan sisi posesif yang gelap sekaligus mempesona, Alana terjebak di antara tugas negara atau perasaan hatinya.
"Kau mangsaku, Alana. Dan seorang predator tidak akan pernah melepaskan tangkapannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: JEBAKAN TAK KASAT MATA

Malam itu, hujan turun membasahi kaca jendela kamar mansion, menciptakan suasana suram yang sesuai dengan perasaan Alana. Ia duduk di lantai kamar mandi, membelakangi pintu yang sudah ia kunci rapat. Di tangannya, sebuah perangkat komunikasi kecil terhubung dengan chip yang ia curi dari laptop Arkano tadi pagi.

"Silent Cat melapor. Pengiriman data dimulai," bisik Alana pada mikrofon kecilnya.

Layar di perangkatnya menunjukkan bar proses pengiriman. 10%... 40%... 80%... Selesai.

"Bagus, Alana," suara Hendra terdengar dari seberang, dingin dan tanpa ekspresi. "Jika data ini akurat, kita bisa menghancurkan jaringan distribusi Arkano dalam waktu kurang dari sebulan. Tetap di sana dan tunggu instruksi selanjutnya."

"Komandan," panggil Alana sebelum sambungan terputus. "Arkano... dia mulai mencurigaiku. Aku tidak tahu berapa lama lagi aku bisa bertahan di sini tanpa identitas asliku terbongkar sepenuhnya."

"Lakukan apa pun yang perlu kau lakukan, Alana. Ingat sumpahmu pada negara. Jangan biarkan perasaan pribadimu mengacaukan misi ini."

Klik. Sambungan diputus sepihak.

Alana menatap dinding ubin dengan tatapan kosong. Sumpah pada negara. Kalimat itu biasanya membakar semangatnya, tapi entah kenapa, sekarang terdengar seperti beban yang sangat berat. Ia teringat tatapan Arkano di ruang kerja tadi—tatapan yang seolah bisa melihat langsung ke dalam jiwanya.

Alana segera menyembunyikan alatnya di balik ubin longgar di bawah wastafel dan keluar dari kamar mandi. Namun, ia terlonjak saat melihat Arkano sudah berdiri di balkon kamar, menatap ke arah kegelapan malam dengan segelas wiski di tangannya.

"Kau lama sekali di dalam, Sayang. Kau sakit?" tanya Arkano tanpa menoleh.

"Hanya... butuh waktu sendiri," jawab Alana pelan. Ia berjalan mendekat dan berdiri di ambang pintu balkon.

Arkano berbalik. Cahaya lampu kamar yang remang-remang membuat bayangannya tampak besar dan mengintimidasi. Ia meletakkan gelasnya di pagar balkon dan melangkah mendekati Alana. Tangannya terangkat, mengusap pipi Alana dengan ibu jari.

"Kau tahu, Alana? Di duniaku, kejujuran adalah barang mewah yang sangat mahal harganya," ujar Arkano dengan suara bariton yang rendah. "Aku bisa memaafkan pembunuhan, tapi aku sulit memaafkan pengkhianatan."

Jantung Alana berdegup kencang. Apakah Arkano sedang memberinya peringatan terakhir?

"Kenapa kau mengatakan itu?" tanya Alana, mencoba menjaga suaranya tetap stabil.

"Hanya terpikir saja," jawab Arkano. Tiba-tiba, ia menarik pinggang Alana, merapatkan tubuh mereka. "Besok, ada pesta amal yang diadakan oleh klan Dirgantara. Seluruh relasi bisnis dan beberapa pejabat tinggi akan hadir. Aku ingin kau tampil sebagai Nyonya Dirgantara yang paling anggun."

Alana mengernyit. "Pesta amal? Seorang pemimpin mafia mengadakan pesta amal?"

Arkano terkekeh. "Dunia butuh topeng, Alana. Sama seperti kau yang memakai topeng istri patuh di depanku sekarang."

Alana terdiam. Ia tahu pesta itu adalah kesempatan emas untuk mengamati siapa saja sekutu Arkano di pemerintahan. "Baiklah. Aku akan bersiap."

Keesokan harinya, mansion sibuk dengan persiapan. Alana dipaksa mengenakan gaun malam berwarna emas yang sangat mewah. Penata rias dan penata rambut bekerja berjam-jam untuk mengubah sang agen polisi menjadi seorang sosialita kelas atas.

Saat mereka tiba di aula hotel bintang lima milik klan Dirgantara, lampu kamera langsung menyambar mereka. Arkano menggandeng tangan Alana dengan erat, sebuah gestur yang protektif sekaligus posesif.

"Tersenyumlah. Kau sedang bahagia, ingat?" bisik Arkano di telinganya.

Alana memaksakan senyum terbaiknya. Namun, senyum itu memudar saat ia melihat sosok yang sangat ia kenal di antara kerumunan tamu. Rian. Sahabatnya di kepolisian yang juga merupakan rekan satu timnya dalam misi ini.

Rian tampak mengenakan setelan jas pelayan hotel, sedang membawa nampan minuman. Mata mereka bertemu sejenak, dan Alana bisa melihat kekhawatiran yang mendalam di mata pria itu.

"Siapa yang kau lihat?" suara Arkano mendadak mendingin. Ia mengikuti arah pandang Alana.

"Tidak ada. Aku hanya... merasa gerah," alibi Alana.

Arkano tidak percaya begitu saja. Ia memberi kode pada Marco yang berdiri tidak jauh dari mereka. Marco segera mengangguk dan bergerak menuju arah Rian.

"Arkano, tunggu!" Alana menahan lengan suaminya. "Jangan lakukan apa pun. Aku hanya butuh udara segar."

Arkano menatap Alana dengan tajam. "Jika aku melihatmu menatap pria lain dengan cara seperti itu lagi, aku tidak akan segan-segan membuat matanya buta, Alana. Pahami itu."

Dominasi Arkano terasa sangat menyesakkan. Alana menyadari bahwa Arkano tidak hanya ingin menguasai tubuhnya, tapi juga setiap detik perhatiannya.

Di tengah acara, Alana berhasil menyelinap ke arah toilet untuk bertemu dengan Rian secara diam-diam. Di lorong yang sepi, Rian sudah menunggunya.

"Alana! Kau tidak apa-apa? Kami melihat pergerakan aneh di sinyalmu semalam," bisik Rian dengan terburu-buru.

"Aku baik-baik saja, Rian. Kau harus pergi dari sini. Arkano dan Marco sudah mencurigaimu!" balas Alana panik.

"Dengarkan aku. Data yang kau kirim semalam... tim IT pusat sedang memeriksanya. Tapi ada yang aneh. Sepertinya itu kode terenkripsi yang bisa melacak balik lokasi pengirimnya. Kau dalam bahaya!"

Alana terbelalak. "Apa? Melacak balik?"

Tiba-tiba, suara tepuk tangan pelan terdengar dari ujung lorong.

"Pertemuan yang sangat menyentuh," suara Arkano bergema di dinding lorong.

Alana dan Rian berbalik dengan cepat. Arkano berdiri di sana, didampingi Marco dan beberapa pengawal bersenjata. Wajah Arkano tampak sangat tenang, namun ketenangan itu justru yang paling menakutkan.

"Jadi ini 'udara segar' yang kau maksud, Alana?" tanya Arkano sambil melangkah maju. Setiap hentakan sepatunya terdengar seperti detak jam menuju eksekusi.

"Arkano, ini tidak seperti yang kau pikirkan!" teriak Alana, berdiri menghalangi Rian.

Arkano berhenti tepat di depan Alana. Ia tidak melihat ke arah Rian, melainkan menatap istrinya dengan pandangan kecewa yang sangat dalam. "Kau melanggar janjimu, Alana. Aku sudah memberimu kesempatan untuk jujur."

Arkano memberi isyarat tangan. Dalam sekejap, Marco menerjang Rian dan menjatuhkannya ke lantai.

"Jangan!" jerit Alana. Ia mencoba menahan Marco, tapi Arkano menariknya dengan kasar dan memenjarakannya dalam pelukan yang sangat kuat.

"Lihat ini, Alana," desis Arkano tepat di telinganya. "Lihat bagaimana teman-temanmu tidak berdaya melindungimu dariku."

Arkano mengambil sebuah ponsel dari saku jasnya dan menunjukkan sebuah layar radar. "Data yang kau kirim semalam... itu adalah umpan. Setiap kali pusat kepolisianmu mencoba membukanya, aku mendapatkan satu koordinat lokasi markas rahasia kalian. Terima kasih sudah membantuku mencari 'tikus-tikus' itu."

Alana merasa dunianya runtuh. Ia bukan hanya gagal sebagai mata-mata, tapi ia justru menjadi alat bagi Arkano untuk menghancurkan timnya sendiri.

"Bawa pria ini ke gudang bawah tanah," perintah Arkano pada Marco. "Dan bawa Nyonya kembali ke mansion. Jangan biarkan dia keluar dari kamar tanpa izin dariku."

Arkano menarik dagu Alana agar menatapnya. "Permainan penyamaranmu sudah selesai, Alana. Sekarang, kau akan belajar bagaimana menjadi istri seorang mafia yang sesungguhnya. Tanpa rahasia, dan tanpa pelarian."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!