Kaburnya Alana dari rumah justru menyeretnya ke dunia Arka, lelaki berkuasa yang menjadikannya pelayan sebagai ganti rugi sebuah insiden. Kedekatan yang terlarang tumbuh diam-diam, lalu hancur oleh fitnah dan kebencian.
Tanpa penjelasan, Arka mengusir Alana. Saat ia kembali dengan kehamilan di rahimnya, hinaan menjadi balasan, anak itu dituduh milik Rafael, abang iparnya Arka, mafia berdarah dingin.
Alana pergi membawa luka dan rahasia. Namun takdir mempertemukannya kembali dengan Rafael, pria paling berbahaya yang justru menjadi pelindungnya.
Di antara cinta dan pengkhianatan, siapa yang akan menghancurkan Alana lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Empat
Sore itu, suasana rumah Arka tidak lagi setegang pagi tadi. Cahaya matahari masuk dari jendela besar ruang keluarga, memantul di lantai marmer yang dingin. Revan duduk di karpet tebal dengan beberapa mainan berserakan, sementara Alana duduk bersila di depannya, membantu bocah itu menyusun balok warna-warni.
“Ini dinosaurus terbang, Mbak,” ucap Revan semangat sambil mengangkat balok yang bentuknya sudah tak karuan.
Alana tertawa kecil. “Oh ya? Berarti ini sayapnya?” Ia menambahkan dua balok di sisi kanan dan kiri.
Revan mengangguk cepat. “Iya! Nanti dinosaurusnya lindungi Mbak Alana.”
Kalimat polos itu membuat dada Alana terasa hangat sekaligus nyeri. Ia mengusap kepala Revan pelan. “Makasih. Revan juga harus dilindungi.”
Belum sempat Revan menjawab, suara langkah kaki berat terdengar dari arah pintu depan.
Bukan langkah Arka. Terlalu ringan untuknya, tapi juga bukan langkah Bi Marni.
Alana menoleh refleks. Pintu itu terbuka.
Seorang pria masuk tanpa banyak basa-basi. Tubuhnya tinggi, bahunya bidang, rahangnya tegas dengan garis wajah yang keras. Ia mengenakan kemeja hitam lengan panjang yang digulung hingga siku, memperlihatkan lengan berotot dengan bekas luka tipis yang samar. Rambutnya sedikit panjang, disisir ke belakang asal, memberi kesan liar yang sulit dijinakkan.
Matanya tajam. Dingin. Hitam seperti lubang gelap. Tatapan itu langsung tertuju pada Revan.
“Daddy!” seru Revan spontan.
Alana membeku. "Daddy?" tanya gadis itu dalam hatinya.
Pria itu melangkah cepat, tanpa sedikit pun melirik Alana. Tangannya langsung meraih tubuh Revan dan mengangkat bocah itu ke dalam gendongannya.
“Apa kabarmu? Apa baik-baik saja?” tanya pria itu dengan suara rendah, jauh lebih lembut dibanding raut wajahnya.
Revan terkekeh, memeluk leher pria itu. “Revan sehat dan kuat. Revan lagi main sama Mbak Alana. Revan mandi sama Mbak Alana. Terus makan juga!”
Alana berdiri perlahan. Jantungnya berdegup tak beraturan. Ada sesuatu dari pria ini yang membuat bulu kuduknya berdiri, auranya terlalu gelap, terlalu berat.
Pria itu akhirnya melirik Alana. Sekilas saja. Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi. Tatapannya seperti menilai atau menghakimi.
Alana menelan ludah. “S-selamat sore,” ucapnya sopan. Tidak ada jawaban.
Pria itu kembali menatap Revan. “Kamu aman di sini?”
“Iya! Ada Mbak Alana,” jawab Revan polos.
Pria itu mengangguk pelan. “Bagus.”
Langkah kaki berat lain terdengar. Aura ruang keluarga berubah dalam sekejap.
Arka muncul dari lorong, tubuhnya tegap, wajahnya dingin. Begitu matanya menangkap sosok pria yang menggendong Revan, rahangnya mengeras. Sorot matanya berubah tajam, berbahaya.
Dia melangkah cepat mendekat.Tanpa basa-basi, Arka meraih Revan dari gendongan pria itu. Gerakannya cepat, tegas, penuh dominasi.
“Siapa yang mengizinkan kau menggendongnya?” tanya Arka dingin, nyaris berdesis.
Revan terkejut, tapi tidak menangis. Bocah itu hanya memeluk leher Arka dengan bingung. “Om .…”
Pria itu tidak terlihat marah. Justru bibirnya melengkung, membentuk senyum tipis yang penuh ejekan.
“Dia putraku,” jawabnya santai. “Tak perlu izin siapa pun.” Udara membeku.
Alana merasa tenggorokannya kering. Ia mundur setengah langkah, nalurinya menjerit agar menjauh dari dua pria ini.
Arka menatap pria itu tanpa berkedip. “Apa kau lupa,” ucapnya rendah, “jika hak asuhnya ada padaku?”
Senyum pria itu melebar, kali ini dingin dan pahit. “Itu karena cara licikmu.”
Arka tertawa pendek, tanpa humor. “Cara licik apa? Bukankah sebuah kebenaran jika kau seorang pembunuh berdarah dingin?” Ia mendekap Revan lebih erat. “Aku tak mau Revan mengikuti jejakmu.”
Pria itu mendengus. Matanya mengeras. “Aku atau kau yang pembunuh sebenarnya?”
Kalimat itu seperti pisau yang dilemparkan ke udara.
Alana merinding. Jantungnya berdetak keras, terlalu keras. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi satu hal jelas, ini bukan sekadar konflik keluarga biasa. Dua pria ini membawa bau darah dan kematian.
“Cukup,” ucap Arka dingin. “Aku tidak akan berdebat soal masa lalu denganmu di hadapan anak kecil.”
Ia menoleh sedikit. “Alana.”
Alana tersentak. “Y-ya, Tuan?”
“Bawa Revan pergi,” perintah Arka tanpa menoleh. “Ke kamar. Sekarang!”
Alana ragu. Ia melirik Revan, lalu pria itu, ayah kandungnya, jika dugaannya benar dan kembali ke Arka.
Revan memeluk Arka. “Om … apa Daddy marah?”
Arka melembutkan suaranya, meski wajahnya tetap dingin. “Tidak. Kamu ikut Mbak Alana dulu.”
Alana mendekat, mengulurkan tangan. “Ayo, Revan.”
Bocah itu menurut, meski masih menoleh ke belakang. Alana menggenggam tangan kecil itu dan berjalan menjauh, langkahnya cepat namun hati-hati.
Saat mereka hampir keluar dari ruang keluarga, suara pria itu terdengar lagi.
“Arka,” ucapnya rendah. “Kau boleh merebut hak asuh, tapi kau tidak bisa menghapus darah yang mengalir di tubuh anak itu.”
Alana menggigit bibir. Tangannya dingin.
Ia membawa Revan masuk ke kamar, menutup pintu perlahan. Begitu pintu tertutup, suara di luar berubah. Lebih keras dan tajam.
“Jangan pernah datang ke rumah ini tanpa izinku,” ucap Arka terdengar dingin, penuh tekanan.
Pria itu tertawa kecil. “Rumah ini? Jangan lucu. Semua yang kau punya berdiri di atas mayat.”
“Kau tidak berhak bicara soal moral.”
“Moral?” Pria itu mendekat. “Kau membunuh lebih banyak orang dariku, hanya saja kau pintar menyembunyikannya.”
Alana berdiri kaku di balik pintu, telinganya menangkap potongan-potongan kalimat itu. Napasnya terasa berat.
Revan duduk di ranjang, memeluk bonekanya. “Mbak Alana … Daddy sama Om berantem?”
Alana berlutut, memeluk bocah itu. “Tidak. Mereka cuma … bicara sedikit keras. Itu karena mereka pria dewasa."
“Daddy jahat?” tanya Revan lirih.
Alana terdiam. Ia tidak tahu jawabannya.
“Daddy sayang Revan,” lanjut bocah itu. “Tapi Om juga.”
Dada Alana sesak. Dia lalu mengusap rambut Revan. “Revan disayang banyak orang. Itu yang penting.”
Di luar, suara langkah kaki menjauh. Pintu depan terdengar terbuka, lalu tertutup keras.
Hening. Beberapa menit kemudian, pintu kamar diketuk.
Alana menegakkan tubuh. “Ya?”
Arka masuk. Wajahnya kembali datar, tapi Alana bisa melihat jelas, urat di lehernya menegang, rahangnya keras, matanya gelap.
Revan langsung berdiri. “Om .…”
Arka mendekat, berlutut, sejajar dengan Revan. “Kamu baik?”
Revan mengangguk. “Iya.”
Arka menghela napas pelan. “Kamu boleh istirahat.”
Revan memeluk Arka sebentar, lalu kembali ke ranjang. Arka berdiri, menoleh ke Alana. “Kau tampak ketakutan!”
Alana ragu sejenak, lalu jujur. “Sedikit.”
Arka mengangguk. “Kau tidak seharusnya mendengar itu.”
“Tuan … siapa dia?” Alana memberanikan diri bertanya.
Arka menatapnya lama. Terlalu lama. “Dia masa lalu yang seharusnya mati,” jawabnya dingin.
Alana menelan ludah. Arka melangkah keluar. “Jangan bicara tentang pria itu lagi!”
Pintu tertutup. Alana duduk di tepi ranjang, menatap Revan yang mulai terlelap. Kepalanya penuh pertanyaan, tapi hatinya tahu satu hal, ia sudah terjebak terlalu dalam.
Rumah ini bukan sekadar rumah pria kaya. Ini sarang mafia. Dan Arka bukan pria biasa.
Di ruang kerjanya, Arka berdiri di depan jendela besar, menatap kota yang mulai diselimuti malam. Tangannya mengepal.
"Aku tak akan memaafkan kamu, Rafael! Kau yang menyebabkan kematian kakakku!" ucap Arka dengan suara penuh penekanan.
alana tinggal gugat cerai aja sm arka
alana jgn mau plg ke rmh arka walaupun di jemput 🤭