NovelToon NovelToon
Istri Yang Mereka Remehkan

Istri Yang Mereka Remehkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Elina bukan istri yang polos. Saat suami dan mertuanya berusaha merebut aset dan perusahaannya, ia memilih diam sambil menyiapkan perangkap.

Mereka mengira Elina tidak tahu apa-apa, padahal justru menggali kehancuran sendiri.

Karena bagi Elina, pengkhianatan tidak dibalas dengan air mata... melainkan dengan kehancuran yang terencana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah Impian

"Rumah?"

"Iya, Mas. Sebentar lagi Mas akan punya semua kekayaan Elina, kan. Kamu bisa belikan aku rumah," ucap Maya sambil menatap Ares penuh tuntutan. "Mas apa kamu gak kasihan dengan aku dan anak kita yang tinggal di lingkungan seperti kosan aku?"

Ares terdiam sesaat. Mobil melaju perlahan di tengah kemacetan sore, sementara pikirannya dipenuhi angka-angka yang tak lagi ramah. Ia akhirnya mengangguk kecil.

"Baiklah, Mas belikan kamu rumah."

Wajah Maya langsung bersinar, seolah semua kepedihan tadi lenyap seketika. "Mas, pokoknya aku mau tinggal di kawasan yang elit." Ia segera mengeluarkan ponselnya, jarinya lincah meraih rumah impiannya. Tak lama kemudian, ia memperlihatkan layar ponsel itu pada Ares. "Mas, aku mau rumah ini."

Ares menepikan mobil lebih dulu sebelum mengambil ponsel dari tangan Maya. Matanya menyapu layar, lalu alisnya mengerut.

"Harganya cuma enam miliar, Mas," sambung Maya cepat, seakan harga itu tidak berarti apa-apa.

"Sayang, ini kemahalan. Aku baru saja mengeluarkan uang dua miliar," ucap Ares dengan nada berat.

"Mas, rumah ini bisa dicicil per bulan. Lagian kamu akan dapat aset Elina yang nilainya triliunan itu. Rumah ini gak ada apa-apanya," ucap Maya dengan wajah pura-pura sedih.

Ares menghela napas kasar. Tabungannya memang terasa sedikit—semua hampir habis untuk membayar Bayu dan Dirga, belum lagi kebutuhan kedua orang tuanya yang tak pernah berkurang.

"Mas, ayolah, Mas," bujuk Maya sambil menggoyangkan lengan Ares Manja.

"Baiklah, kita cicil ya. Nanti setelah semua aset Elina di tangan aku, rumah itu kita cash," ucap Ares akhirnya, menyerah pada desakan di sampingnya.

"Iya, Mas. Yang penting sekarang aku gak tinggal di kontakan lagi," balas Maya dengan wajah penuh kegirangan, seolah masa depan mereka sudah berada di depan mata.

Ares kembali melajukan mobilnya mengikuti alamat yang ditunjukkan Maya di layar ponsel. Sepanjang jalan, Maya terus menatap foto-foto rumah itu, seolah sudah membayangkan dirinya sendiri di balkon besar dengan gaun mahal.

Tak lama, mobil Ares memasuki sebuah kawasan perumahan elit dengan gerbang tinggi dan penjagaan ketat. Satpam membuka portal setelah Ares menurunkan kaca dan menyebutkan tujuan mereka.

"Mas, lihat... jalannya aja lebar banget," ucap Maya kagum, matanya berbinar menatap deretan rumah megah di kiri-kanan.

Ares hanya mengangguk kecil, matanya menyapu lingkungan itu dengan perasaan campur aduk. Setiap meter yang mereka lewati seperti menambah beban di dadanya.

Mobil berhenti di depan sebuah rumah dua lantai bergaya modern minimalis. Dindingnya didominasi warna putih gading dengan sentuhan kayu, halaman depan tertata rapi dengan rumput hijau dan tanaman hias.

"Mas... ini dia!" seru Maya nyaris melompat dari kursinya.

Begitu Ares mematikan mesin, Maya langsung turun lebih dulu, menatap fasad rumah itu dengan mulut sedikit terbuka.

"Mas, aku jatuh cinta sama rumah ini," katanya lirih penuh takjub.

Ares turun menyusul, berdiri di samping Maya. Ia menatap bangunan itu lama, seakan menghitung-hitung risiko di kepalanya.

Pintu depan terbuka dari dalam, seorang wanita berpakaian rapi melangkah keluar dengan senyum profesional.

"Selamat siang, Pak, Bu. Saya Luna agen properti yang mengurus rumah ini."

Maya langsung menyambar lengan Ares. "Mas, rumahnya aja sudah cantik banget, apalagi dalamnya."

Luna mempersilakan mereka masuk. Begitu melangkah ke dalam ruang tamu, Maya menahan napas. Ruangan itu luas, dipenuhi cahaya dari jendela-jendela besar. Lantai marmer mengilap memantulkan bayangan mereka.

"Mas... bayangin kita pasang sofa besar di sini," ucap Maya sambil berputar kecil di tengah ruangan.

Ares berdiri di dekat pintu, memperhatikan Maya yang terlihat bahagia. Ia mengangguk pelan, meski dadanya terasa semakin sesak.

Mereka berkeliling di ruang makan, dapur modern, lalu naik ke lantai dua. Saat masuk ke kamar utama yang luas dengan balkon menghadap taman belakang, Maya langsung memeluk perutnya.

“Mas, di kamar ini anak kita nanti tidur bareng kita,” katanya dengan suara penuh harap.

Ares menelan ludah. “Iya…”

Luna tersenyum ramah. “Kalau Bapak dan Ibu serius, kita bisa mulai proses pengajuan cicilan hari ini juga.”

Maya menoleh cepat ke Ares, matanya berbinar penuh tuntutan.

Ares terdiam sesaat, lalu mengangguk.

“Siapkan berkas-berkasnya," ucap Ares.

♡♡♡♡

“Dari mana kamu, Res?” tanya Amelia saat Ares baru saja datang.

Ares tidak langsung menjawab. Ia meletakkan tas kerjanya, lalu duduk lebih dulu di sofa, seolah ingin menenangkan pikirannya yang masih penuh perhitungan.

“Aku dari membeli rumah, Mah,” jawab Ares akhirnya.

Wajah Amelia langsung berbinar. “Serius kamu, Res?”

“Iya, Mah. Untuk Maya,” ucap Ares tanpa ragu.

“Apa?” Amelia langsung kaget mendengarnya.

“Maya diusir dari kontrakan, Mah. Ibu kosnya tahu aku sering nginap di sana,” jelas Ares.

“Res…”

“Mah, sebentar lagi semua aset milik Elina jatuh ke tangan aku, dan rekening perusahaan akan mengalir ke rekening pribadiku yang Elina tidak tahu, Mah,” potong Ares cepat. “Aku sudah memproses semua, Mah. Aku sudah menyuruh orang untuk mengalihkan semuanya,” lanjutnya dengan senyum miring.

Raut kesal Amelia yang sempat muncul langsung berubah menjadi berseri. “Serius kamu, Res?”

Ares mengangguk mantap. “Iya, Mah. Jadi Mama gak usah khawatir. Rumah yang aku beli nanti aku tempati bersama Maya, dan Mama akan tinggal di rumah ini sebagai nyonya besar.”

Amelia bangkit dari duduknya, berjalan mondar-mandir di ruang tamu dengan wajah yang tak bisa menyembunyikan kegembiraan.

“Kalau begitu, rencana kita benar-benar berjalan mulus, Res,” ucapnya sambil tersenyum lebar. “Selama ini Mama sudah capek pura-pura baik sama Elina. Begitu aset itu di tanganmu, kita gak perlu lagi mengemis apa pun.”

Ares menyandarkan punggung ke sofa, menatap langit-langit dengan ekspresi puas."Semua sudah diatur, Mah. Tinggal tunggu waktu. Begitu proses pengalihan selesai, aku langsung mengajukan cerai.

Amelia menghentikan langkahnya, menatap Ares dengan mata berbinar penuh ambisi. "Dan Maya... dia sudah siap hidup sebagai istri sah kamu?"

Ares tersenyum tipis. "Dia malah gak sabar, Mah. Rumah itu sudah aku survei langsung, dan sekarang Maya juga sudah menetap di sana.

"Apa apa ini, kelihatannya kalian bahagia sekali," ucap Arman sambil menghampiri istri dan putranya.

Amelia langsung menjelaskan semuanya dengan raut wajah gembira.

"Serius, Res?" ucap Arman ingin meyakinkan.

Ares membalas dengan anggukan mantap.

"Akhirnya penantian kita segera terwujud," Arman duduk di kursi seberang Ares, wajahnya terlihat lega sekaligus puas. Ia menepuk lututnya pelan, seolah menahan luapan perasaan. "Kalau begitu, semua rencana kita tinggal menunggu hasil," ucapnya mantap. "Papa sudah capek lihat Elina merasa paling berkuasa di rumah ini."

Ares tersenyum tipis. "Sebentar lagi, Pa. Begitu aset itu resmi pindah, posisi Elina di perusahaan juga bakal goyah. Saat itu, dia gak akan punya pilihan selain menuruti kemauan kita."

Amelia ikut duduk di samping Arman. Nada suaranya berubah lebih rendah, penuh perhitungan. "Kita harus hati-hati, Res. Elina bukan perempuan bodoh. Jangan sampai dia mencium sesuatu sebelum waktunya."

Ares mengangguk. "Tenang, Mah. Semua masih terlihat normal di mata Elina. Dia pikir aku masih sibuk urus perusahaan seperti biasa."

Arman tersenyum puas. "Bagus. Semakin lama dia tidak curiga, semakin besar kejutan yang akan kita berikan."

Ares bangkit dari sofa, merapikan jasnya. "Aku ke kamar dulu, Pa, Mah. Masih banyak yang harus aku bereskan besok." Ia melangkah pergi meninggalkan ruang tamu, sementara Amelia dan Arman saling pandang dengan senyum yang tak bisa mereka sembunyikan.

Di dalam kamar, Ares berdiri di depan jendela, menatap gelap malam yang membentang di luar. Di saku celananya, ponselnya bergetar.

Nama Maya muncul di layar.

“Mas… rumahnya cantik banget,” terdengar suara Maya di seberang sana, penuh kegirangan. “Aku gak nyangka kita bisa punya tempat seperti ini.”

Ares tersenyum kecil, meski dadanya terasa berat.

“Iya, sayang. Nikmati saja dulu. Semua akan berjalan sesuai rencana.”

♡♡

"Mas, bagaimana dengan perusahaan?"

Ares menoleh ke belakang. Elina baru saja pulang; hari ini ia seharian berada di luar kota untuk proyek penting.

“Semua aman, sayang. Klien-klien kita juga puas dengan kinerja kita,” jawab Ares, nada tenangnya menutupi kebohongan—padahal seharian ini ia hanya sempat satu kali meeting.

Elina mengangguk pelan, pura-pura percaya, meski hatinya sudah mendengar kabar berbeda dari Dewa.

Ares mendekat, memeluk Elina dari belakang. Elina sedikit terkejut, ingin menyingkirkan pelukan suaminya itu, tapi menahan diri.

“Sayang… akhir-akhir ini kita sering bertengkar. Aku ingin kita kembali harmonis,” ucap Ares lembut, nada yang dibuat-buat.

Elina menepis rasa jijiknya dalam hati.

“Cih… enak saja. Gak mau aku berdamai dengan laki-laki brengsek kayak kamu,” gumamnya dalam hati.

Ia menepiskan tangan Ares perlahan, menahan ekspresi agar tetap tenang, meski dadanya terasa penuh muak.

“Mas… aku capek,” ucapnya singkat. “Perjalanan jauh itu melelahkan.”

Ares tersenyum tipis, pura-pura paham, lalu menepuk pundaknya lembut.

“Ya sudah, istirahat saja. Besok mas yang urus pekerjaanmu.”

Elina menatap mata Ares, menelusuri setiap celah kebohongan di balik tatapannya.

“Kamu yakin ingin meng-handle pekerjaan aku?” tanyanya pelan, menusuk.

Ares terkekeh kecil. “Kamu terlalu khawatir.”

Elina tersenyum—senyum yang tidak pernah sampai ke matanya.

“Mungkin aku memang terlalu khawatir… atau terlalu sering dikhianati.”

Ares diam sesaat, lalu kembali memasang ekspresi santai.

“Kamu ini, suka mikir aneh-aneh.”

Elina berbalik, melangkah ke toilet.

“Aku mau mandi.”

Saat melangkah pergi, jemarinya mengepal pelan. Dalam hati, ia sudah menegaskan satu hal: kata-kata Ares tak lagi layak dipercaya—hanya bukti yang akan ia percayai.

1
tia
lanjut Thor
Nona Jmn: Sabar yah🫶🥰
total 1 replies
Ma Em
Sudah ga sabar nunggu kehancuran Ares dan keluarganya , Elina cepat tendang para benalu yg nempel dirumah mu .
Nona Jmn: Sabar
total 1 replies
Ma Em
Duh sdh ga sabar Ares dan keluarganya diusir dari perusahaan juga rumah Elina
tia
cepat singkirkan benalu
Nona Jmn: Sabar😭😁
total 1 replies
dyah EkaPratiwi
keterlaluan area
Nona Jmn: Sabar😁
total 1 replies
kaylla salsabella
pasti si maya
kaylla salsabella
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
kaylla salsabella
anak buah dewa
kaylla salsabella
lanjut
kaylla salsabella
🤣🤣🤣🤣 res Ares
kaylla salsabella
ayah belum tahu klu Ares selingkuh
kaylla salsabella
nah khawatir kan kamu res 🤣🤣
kaylla salsabella
lanjut thor
Nona Jmn: Besok ya kakak🥰 jangan lupa vote🙏😭🫶🫡
total 1 replies
@Mita🥰
😍😍😍
Nona Jmn
Besok ya kakak🥰
tia
lanjut Thor
kaylla salsabella
ooo ku kira Elina udah yatim piatu 🤭🤭
Ma Em
Semoga Elina selamat dari para benalu yg mau menguasai semua harta kekayaan nya , jgn sampai si mokondo Ares juga keluarganya yg benalu berhasil menguasai semua harta Elina .
kaylla salsabella
lanjut
kaylla salsabella
yes ada yang baru
Nona Jmn: Jangan lupa mampir dan vote ya🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!