Judul: Di Balik Tumpukan Digit
Deskripsi:
Pernikahan Arini dan Reihan yang dulunya penuh hangat dan tawa kini mendingin di dalam sebuah rumah mewah yang megah namun terasa hampa. Terjebak dalam ambisi mengejar status dan kekayaan, Reihan perlahan berubah menjadi orang asing yang hanya mengenal angka dan prestasi kerja. Di tengah kemewahan yang melimpah, Arini justru merasa miskin akan kasih sayang. Novel ini mengisahkan perjuangan seorang istri yang berusaha meruntuhkan tembok "kesibukan" suaminya, menagih janji pelukan yang hilang, dan membuktikan bahwa dalam sebuah pernikahan, kehadiran lebih berharga daripada sekadar kemakmuran materi. Sebuah drama domestik yang menyentuh tentang titik jenuh, kesepian di tengah keramaian, dan upaya menemukan kembali detak cinta yang sempat mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syintia Nur Andriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Dermaga Penantian dan Hangat yang Menipu
Bab 18: Dermaga Penantian dan Hangat yang Menipu
Pagi itu, mentari Jakarta menyelinap malu-malu melalui celah gorden otomatis di apartemen Arini. Suasana di dalam kamar begitu tenang, sangat kontras dengan hiruk-pikuk kekuasaan yang biasanya Arini hadapi di kantor. Di bawah selimut down feather yang tebal, Arini menemukan kedamaian yang selama ini ia anggap mustahil.
Bima masih terlelap, napasnya teratur dan hangat di tengkuk Arini. Arini berbalik perlahan, menatap wajah pria yang telah menjadi pelindungnya selama setahun terakhir. Bima tidak memiliki ketajaman mata yang mengancam seperti Reihan; wajahnya memancarkan ketulusan, bahkan dalam tidurnya.
Merasa diperhatikan, mata Bima terbuka perlahan. Ia tersenyum, sebuah senyuman yang langsung menyentuh relung hati Arini yang paling dalam.
"Selamat pagi, Ratu Es," bisik Bima dengan suara serak khas bangun tidur. Ia menarik Arini lebih dekat ke dalam pelukannya, membenamkan wajahnya di rambut Arini yang harum aromaterapi.
"Panggil aku Arini saja kalau kita sedang berdua," jawab Arini pelan, jemarinya menelusuri garis rahang Bima yang kokoh.
Bima tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mulai menciumi kening Arini, turun ke kelopak matanya, lalu ke ujung hidungnya dengan kelembutan yang memabukkan. Setiap sentuhan Bima terasa seperti bisikan janji bahwa dunia di luar sana—dengan segala ancaman Reihan—tidak akan bisa menyentuh mereka di sini.
Gairah mereka terbangun kembali seiring dengan matahari yang semakin tinggi. Namun, ini bukan gairah yang didasari oleh dominasi atau kemarahan. Ini adalah tarian dua jiwa yang saling menyembuhkan. Bima mencium Arini dengan perlahan, mengeksplorasi bibirnya seolah setiap inci adalah harta karun yang harus dijaga.
Tangan Bima yang besar dan kasar karena latihan fisik, kini bergerak sangat lembut di atas kulit Arini yang halus. Ia memperlakukan tubuh Arini seolah-olah wanita itu terbuat dari porselen paling mahal di dunia. Arini merasakan sensasi panas yang menjalar, sebuah rasa nyaman yang membuatnya ingin menyerah sepenuhnya.
"Kau sangat cantik, Arini. Terlalu cantik untuk menanggung beban seberat ini sendirian," gumam Bima di sela-sela cumbuan mereka.
Mereka bercinta dengan ritme yang menghanyutkan. Di atas ranjang luas itu, Arini membiarkan dirinya tenggelam dalam setiap desahan dan sentuhan Bima. Tidak ada paksaan, tidak ada rasa sakit. Hanya ada kehangatan yang menjalar dari hati ke ujung jari. Bima memuja setiap lekuk tubuh Arini, memberikan perhatian pada bagian-bagian yang dulu pernah disakiti oleh Reihan, seolah ingin menghapus memori kelam itu dengan kelembutan tangannya.
Puncaknya adalah sebuah ledakan emosi yang membuat Arini menangis—bukan karena sedih, tapi karena ia merasa akhirnya dihargai sebagai seorang wanita, bukan sebagai aset atau alat balas dendam. Bima memeluknya erat, membisikkan kata-kata penenang sampai napas mereka kembali teratur.
Dua jam kemudian, mereka duduk di meja makan kecil di balkon, menikmati sarapan sederhana yang disiapkan Bima. Arini mengenakan kemeja putih Bima yang kebesaran, menyesap kopi sambil menatap pemandangan kota.
"Aku bisa terbiasa dengan ini," ucap Arini dengan senyum tulus yang langka.
Bima menggenggam tangan Arini di atas meja. "Kita bisa memiliki ini setiap hari, Arini. Setelah semua ini selesai, kita bisa pergi. Tinggalkan Jakarta, tinggalkan perusahaan, dan hidup tenang di suatu tempat yang tidak mengenal nama Reihan atau Atmadja."
Arini menatap mata Bima, mencari keraguan di sana, namun yang ia temukan hanyalah kejujuran yang murni. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Arini merasa ia memiliki masa depan yang bukan berupa angka di lantai bursa saham.
"Aku ingin itu, Bima. Sangat ingin," bisik Arini.
Namun, momen romantis itu terputus saat ponsel kerja Arini bergetar di atas meja. Sebuah notifikasi dari tim IT internal perusahaannya muncul: "Aktivitas Mencurigakan Terdeteksi di Server Utama. Pengunduhan Data Massal Sedang Berlangsung dari Dalam Kantor."
Wajah Arini seketika berubah kaku. Kehangatan yang tadi menyelimutinya seolah menguap begitu saja. Ia teringat kembali pada kalung lili putih dan pesan dari Reihan.
"Ada apa?" tanya Bima, wajahnya langsung berubah menjadi mode profesional sebagai kepala keamanan.
Arini menunjukkan layar ponselnya. "Ada pengkhianat di kantorku, Bima. Seseorang sedang mencuri data-data rahasia transaksi kita untuk diberikan kepada Reihan."
Bima berdiri, ekspresinya mengeras. "Aku akan segera ke sana dan melakukan audit total. Tidak ada seorang pun yang keluar dari gedung itu sampai aku menemukan siapa pelakunya."
Arini menatap Bima yang sedang bersiap-siap dengan sigap. Tiba-tiba, sebuah pikiran gelap melintas di benaknya—sebuah racun kecurigaan yang ditanamkan Reihan di penjara kemarin. Reihan bilang dia punya orang-orang yang setia. Reihan tahu tentang malam panasnya dengan Bima. Bagaimana Reihan bisa tahu secepat itu jika tidak ada orang dalam yang sangat dekat dengan Arini yang membocorkannya?
Arini menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir pikiran itu. Tidak, tidak mungkin Bima. Bima adalah orang yang menyelamatkanku.
Namun, saat Bima berbalik untuk mencium keningnya sebelum berangkat, Arini merasakan sedikit kedinginan yang tidak biasa. Ia melihat Bima mengambil tasnya, dan ia menyadari bahwa selama ini, Bima adalah satu-satunya orang yang memiliki akses penuh ke sistem keamanannya, termasuk kamera di apartemen ini.
"Berhati-hatilah," ucap Arini, namun suaranya tidak selunak sebelumnya.
Bima mengangguk dan pergi dengan terburu-buru. Arini berdiri sendirian di tengah kemewahan apartemennya, menatap kalung lili putih yang masih tergeletak di lantai dekat tempat tidur. Kehangatan ranjang tadi pagi kini terasa seperti kenangan dari kehidupan yang berbeda.
Arini berjalan menuju komputernya sendiri, melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya: ia mulai melacak jejak aktivitas digital Bima secara diam-diam.
"Tolong, jangan kau, Bima," bisik Arini dengan air mata yang mulai menggenang lagi. "Jangan biarkan dunia ini benar-benar tidak menyisakan satu pun orang baik untukku."
Peperangan baru telah dimulai, dan kali ini, Arini harus berhadapan dengan kemungkinan bahwa pelindungnya mungkin adalah penjaga penjara yang paling berbahaya.
Suasana mulai berubah mencekam!