NovelToon NovelToon
Salahkah Aku Mencintaimu

Salahkah Aku Mencintaimu

Status: tamat
Genre:Tamat / Cintapertama / CEO
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eka Nawa

Hasta dan Jesan menjalin hubungan tanpa di ketahui kedua orang tua Hasta karena sang Mama yaitu Sarah tidak merestui hibungan mereka karena status social yang mana Jesan hanya anak yatim piatu. Akan tetapi, Hasta tetap bertahan sampai tiga tahun lamanya membuat Sarah curiga dan mencari tau keberadaan Jesan hingga Sarah melakukan kekerasan pada Jesan hanya untuk menyuruhnya menjauhi Hasta.

Sarah menjodohkan Hasta dan Anjani sampai mereka menikah, tetapi pernikahan Anjani seperti di neraka baginya karena selama lima tahun mereka menikah Hasta tidak pernah sekalipun membalas cinta Anjani dan memilih kembali bersama dengan Jesan yang selama lima tahun tidak bertemu dan akhirnya mereka dipertemukan lagi. Lalu Hasta memutuskan menikah dengan cinta pertamanya.

Bagaimana kah nasib pernikahan Anjani, apakah gadis itu menerima jika suatu saat dirinya mengetahui pernikahan kedua suaminya?

happy reading😍

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Nawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 ( Apa kau akan percaya, Tuan )

Untuk pertama kalinya di keluarga Nugraha sedang sarapan bersama dengan keluarga yang lengkap. Hasta sangat perhatian begitu pun Sarah yang telah berubah ia begitu lembut pada Jesan.

Akan tetapi, Jesan justru makin tidak nyaman dibuatnya entah mengapa ia justru merasa itu hanya di depan Hasta jika tidak ada suaminya memang Sarah dan Vanes sibuk sendiri merasa dirinya canggung untuk melakukan apapun di rumah itu.

"Mah, papa sudah makannya. Bantu aku minum obat," pinta Adnan dan Sarah pun menurutinya. Ia membantu sang suami menuju kamarnya.

"Honey, apa papa sedang sakit? Kenapa makannya sedikit sekali?" tanya Jesan.

"Papa sudah berumur sayang jadi sudah banyak yang di rasa. Kamu ga perlu khawatir papa selalu control ke rumah sakit untuk memeriksa kan kesehatannya. Yang penyedia jangan banyak pikiran makanya sekarang aku dan Vanes yang sibuk di kantor. Kamu harap maklum yah kalau aku nanti nya terlalu sibuk," terang Hasta.

"Tenang saja, Honey aku ngerti kok. Yang penting kamu harus jaga kesehatan dan jangan sampai lupain aku," ucap Jesan sedikit manja.

"Ga akan sayangku. Kamu juga jaga kesehatan dan kalau ada apa-apa langsung hubungin aku. Walaupun aku lagi sibuk buat kamu aku akan tinggalkan kesibukan aku asal itu bikin kamu senang dan nyaman," ujar Hasta.

"Iya, Honey," sahut Jesan.

"Aduh lama-lama aku jadi obat nyamuk gara-gara ke bucinan kalian," celetuk Vanes membuat Jesan merasa tidak enak.

"Maaf," lirih Jesan.

"Ya, aku cuma bercanda, kak Jesan. Jangan terlalu kaku seperti itu," ucap Vanes.

"Vanes benar, sayang. Dia itu sebenarnya usil kamu jangan ladenin yah," seru Hasta.

"Jangan percaya kak, dia lebih usil dariku. Sudahlah ayo berangkat kita berangkat sebentar lagi kita ada meeting dengan para direksi kak," ajak Vanes.

"Aku berangkat ya sayang," pamit Hasta mencium sekilas pipi dan perut besar Jesan.

Hasta dan Vanes berangkat bersama karena Vanes tidak ingin membawa mobilnya hari ini,"Tumben mau berangkat bersama Abang," tanya Hasta bingung.

"Hmm ... Itu bang. Aku nanti pulang kantor mau ... Bertemu dengan Angga," ucap Vanes sedikit ragu.

"Kamu masih berhubungan dengannya? Lebih baik suruh Angga datang ke rumah dan membicarakan hubungan kalian sama mama dan papa," saran Hasta.

"Ga ah, bang. Aku takut nasib Angga akan berakhir seperti istrimu nanti," takut Vanes.

"Kenapa? Kamu takut itu terjadi tapi kamu ga ngerti perasaan Abang saat kamu ngelakuin itu sama Jesan," decak Hasta mengungkit masa lalu.

"Ya, aku kan udah minta maaf. Udah lah jangan diperpanjang lagi. Bantuin gitu adiknya gimana baiknya malah ungkit masa lalu," seru Vanes sedikit tidak terima.

"Bukan gak mau bantuin harusnya kalau Angga serius dia akan nemuin orang tua kita, Vanes. Tapi sekarang apa? Gak kan. Mungkin emang bener kata mama Angga bukan pria baik-baik," ujar Hasta.

"Kamu ga kenal bagaimana dia kak. Kalau kamu ngomong kayak gitu berarti sama saja Jesan juga ga baik buat kamu!" pekik Vanes.

"Berhenti pak," pinta Vanes pada sang supir lalu ia memilih keluar dari Mobil dan memberhentikan taksi.

Hasta hanya menatap sang adik yang terlihat marah, tetapi ia enggan menyusulnya,"Tidak di susul, Tuan?" tanya sang supir.

"Tidak usah lanjutkan perjalanan, aku yakin dia tidak akan ke kantor hari ini," titah Hasta.

"Baik, Tuan," sahut pak supir.

"Kenapa dia begitu marah. Aku hanya memberinya saran memang benar kan pria itu seperti bukan pria baik-baik. Aku penasaran siapa pria itu yang membuat Vanes begitu tergila-gila padanya," batin Hasta ia juga sangat mengkhawatirkan adiknya perempuan nya itu.

*

*

"Rama, apa Vanes sudah datang?" tanya Hasta yang telah sampai dan langsung mendatangi ruangan Rama bukan ruangannya.

"Belum," singkat Rama yang sedang fokus dengan laptop nya.

Hasta terdiam ia meraih ponselnya dan menghubungi Vanes,"Kamu di mana? Kenapa belum datang ke kantor?" tanya Hasta melalui telepon.

"Aku di restoran Angga. Aku malas ke kantor hari ini," seru Vanes.

"Kamu marah sama Abang?" ujar Hasta.

"Iya, Abang jahat ga ngerti perasaan aku. Abang berubah ga sayang lagi sama aku Abang sayang nya sama kak Jesan aja!" pekik Vanes kedua matanya mulai berkaca-kaca.

"Huh, baiklah. Abang minta maaf. Nanti malam Abang mau bertemu dengan kekasihmu Abang akan tanya apa dia serius denganmu atau tidak," Vanes langsung menatap Angga yang ternyata di sebelahnya.

"Yasudah nanti aku akan memberitahu dia,"

Tut Tut

"Emang Ade ga ada akhlak, main matiin ajah teleponnya. Gak sopan!" desis Hasta membuat Rama menghentikan jari jemari nya di atas keyboard karena merasa terganggu dengan suara keras Hasta.

"Ada apa, Tuan?" tanya Rama.

"Vanes membuat ku kesal. Dia ngambek aku tidak bisa membantu nya sama si Angga agar kedua orang tua ku bisa merestuinya," terang Hasta.

"Hmm, adik sama kakak sama aja masalahnya cinta tidak direstui," ujar Rama.

Tok

Tok

"Ya, masuk," pekik Rama.

"Permisi Tuan Hasta, pak Rama. Semua direksi sudah menunggu di ruang rapat," ucap Mitha sang sekretaris.

"Baiklah, kami akan kesana sekarang," jawab Rama.

"Apa Bu Vanes sudah datang, Pak?" tanya Mitha pada Rama.

"Dia tidak hadir hari ini, biarkan saja," jawab Hasta melangkah keluar dari ruangan Rama diikuti Mitha yang sedari tadi tersenyum menatap Bos nya itu.

Rama yang masih di belakang Mitha menepuk bahu sekretaris nya itu,"Heh, inget bos udah punya istri dan sebentar lagi bos akan menjadi seorang Ayah. Jadi, kau jangan macam-macam," peringat Rama.

"Loh, bukannya istrinya udah meninggal ya. Dia kan duda. Malah makin tampan lagi," puji Mitha.

"Iya yang pertama, yang kedua masih ada lagi hamil besar," ucap Rama.

"Apa?!" teriak Mitha yang mana membuat langkah Hasta terhenti.

"Kau kenapa teriak-teriak. Habis menang lotre, membuat telinga ku sakit aja!" kesal Hasta.

"Bukan, Tuan. Saya lagi patah hati untuk kedua kalinya. Kenapa Tuan menikah lagi ga ngajak saya," ujar Mitha.

Mendengar itu, Hasta langsung mempercepat langkahnya menuju ruang rapat,"Haha ... Kau itu membuat Tuan Hasta makin takut Sam kamu, Mitha," ledek Rama yang mana meninggalkan Mitha yang sedari tadi meremas tangannya karena kesal.

"Ish, nyebelin. Apa aku kurang cantik ya sampe Tuan Hasta tidak pernah melirik ku," gerutu Mitha yang menyusul ke ruang rapat.

Di sisi lain Jesan sedang kerepotan karena Sarah sedari tadi menyuruhnya ini dan itu tanpa mengerti keadaan Jesan yang sudah hamil besar.

"Lama banget si kamu. Cepat bantu Mama menyiapkan makanan untuk papa," pekik Sarah.

"I-iya, mah," sahut Jesan yang mulai mengangkat sebuah wajan berisikan makanan dan langsung menyiapkannya.

"Boleh juga sekarang antarkan ke papa. Karena mama mau pergi dulu ada urusan. Kamu Bi Yem jangan membantunya kalau ga kamu saya pecat!" ancam Sarah dan bibi itu hanya bisa menurut.

Sarah melangkah pergi dan di rasa sudah jauh Bi Yem ingin membantu Jesan yang akan membawa nampan yang cukup berat.

"Jangan, bi. Biar aku aja nanti mama liat akan marah," larang Jesan.

"Nyonya udah pergi ini berat loh, non kasian nona sedang hamil besar ga boleh bawa beban berat," Jesan tetap menolak dan bibi Yem tidak bisa mencegahnya lagi.

Vanes memutuskan kembali ke rumah, ia baru saja masuk dan melihat Jesan yang sedang membawa nampan ke arah kamar Adnan.

Dengan senyum yang menyeramkan ia perlahan menghampiri Jesan.

Bugh

Prank

Nampan itu terjatuh dan semua makanan pun berserakan di lantai,"Maap, kak. Aku ga sengaja tadi ga liat ada kakak aku fokus main ponsel," bohong Vanes.

"Gak apa-apa nanti aku yang bereskan. Lain kali hati-hati ya," ucap Jesan sangat lembut.

Jesan mencoba berjongkok dengan perutnya yang besar sehingga ia kesulitan membereskan makanan yang terjatuh.

"Aku tinggal ya, kak. Maap ga bisa bantu," ungkap Jesan dengan wajah yang tidak merasa bersalah.

"Iya, kau Istirahat saja," jawab Jesan.

Sebelum menuju kamarnya Vanes menatap tajam Bibi Yem yang ingin membantu Jesan. Membuat bi Yem diam di tempat dan mulai pergi meninggalkan Jesan yang kesusahan membereskan tumpahan makanan di lantai.

"Aku tau dia sengaja menabrak ku. Tuan, apa jika aku memberitahumu kau akan percaya padaku?" batin Jesan yang ingin menangis.

*

*

Bersambung.

1
Mak e Tongblung
adik ketemu gede
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!