DISARANKAN SUDAH CUKUP UMUR UNTUK MEMBACA CERITA INI. HARAP BIJAK MEMILIH BACAAN!!!
"Jangan terluka, karena aku bukan orang yang pantas untuk membuatmu terluka"
~ Shakti Ing Djagat
Shakti, dokter muda yang berniat menolong seorang gadis yang hendak dilecehkan oleh pacarnya, justru berakhir dengan menjadi tersangka pelecehan. Dan harus bertanggung jawab menikahi Zia, si gadis manja yang berstatus pelajar SMA.
Awalnya, Shakti menolak pernikahan itu. Karena merasa tidak bersalah. Dan yang lebih utama, karena dia memiliki janji terhadap kekasihnya. Namun, demi menyenangkan mamanya disetujuinya juga pernikahan tanpa cinta itu.
Apakah Zia mampu membantu Shakti untuk jatuh cinta padanya dalam ikatan pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps.33 Foto Mesra
Hari ini rasanya malas sekali untuk Zia berangkat sekolah. Mungkin karena masih merasa lelah, setelah kepulangannya dari kota XXX untuk honeymoon kemarin. Namun, dia harus tetap berangkat mengingat sebentar lagi akan ada tryout.
Seperti biasa, Zia diantar Shakti naik motor sportnya, karena tangan Zia sudah sembuh. Zia yang sedang berjalan di koridor sekolah, merasakan hal yang aneh. Rasanya seperti ada yang melihatnya diam-diam. Zia mempercepat langkahnya, menghilangkan fikiran negatif dari otaknya, agar cepat sampai di kelasnya.
Dilihatnya beberapa temannya sedang berkumpul bergerombol, membentuk kumpulan seperti ibu-ibu arisan. Namun, mereka tidak sedang arisa, melainkan bergosip.
Tak dihiraukannya mereka, karena hal seperti ini sudah lazim terjadi di kelasnya, berkumpul untuk bergosip. Terlebih lagi, yang mendapat julukan ratu gosip di sekolahnya adalah teman sekelasnya, yaitu Farah.
Saat Zia melewati mereka, mereka menoleh, memberikan tatapan aneh pada Zia, tapi saat Zia membalas menatap mereka, langsung mereka mengalihkan pandangan berpura-pura tidak melihat apa pun. Tak ingin pusing dengan sikap teman-temannya, Zia memilih fokus belajar untuk ujiannya. Hingga bel istirahat berbunyi, memanggil siswa untuk ke kantin.
Zia pergi ke kantin bersama Dara. Setelah memesan siomay dan es jeruk, mereka memilih bangku yang ada di pojok kantin.
Belum juga lima menit mereka duduk, Nurul teman mereka yang punya cita-cita jadi wartawan, dengan nafas yang ngos-ngosan langsung duduk dan menghabiskan es jeruk milik Dara. Zia dan Dara saling tatap melihat kelakuan Nurul.
"Woy! kalau lo minta ditraktir bilang dong! Nggak usah nyerobot es jeruk gue!" seru Dara yang kesal, es jeruknya diminum tanpa permisi.
Nurul yang sadar telah menghabiskan minuman Dara tanpa ijin, hanya bisa nyengir.
"So-sory, entar gue ganti," jawabnya sambil mengatur nafas.
"Habis nguli di mana, lo. Minum nggak kira-kira," tanya Zia.
"Gue bukan dari nguli, tapi dari cari berita. Dan, lo tau nggak berita apa yang gue bawa kali ini," tanya Nurul, supaya dua orang di depannya ini penasaran.
Tapi Zia dan Dara terlihat tidak peduli dengan berita yang dibawakan Nurul.
"Ye, malah pada cuek! beneran, lo nggak pada pengen tau. Berita ini bombastis tau, dan yang lebih bombastis lagi berita ini soal, lo, Zi!" serunya.
Zia dan Dara yang tadinya cuek langsung saja beralih memperhatikan Nurul 'si wartawan'.
"Berita apa yang lo maksud, soal Zia?" tanya Dara serius.
"Nah kalau kayak gini aja, lo baru mau serius dengerin gue," sekarang gantian Nurul yang jual mahal.
"Buruan ngomong! Gue suruh muntahin es jeruk gue baru tau rasa, lo." Dara menoyor kepala Nurul karena sikapnya yang sok jual mahal ini.
"Ish ... sakit tau Dar ! sabar napa!" Nurul mengusap-usap kepalanya yang ditoyor, tapi di jawabnya juga rasa penasaran temannya itu.
"Lo udah lihat mading belum? di sana ada berita soal, lo. Dan, sekarang jadi trending topik di sekolah." jelas Nurul.
"Memang ada berita apa? jangan berbelit belit deh, lo!" tuntut Dara.
"Makanya, lo berdua ikut gue, kita lihat ada apa di mading. Biar lo tau sendiri fakta yang gue beritakan," jawab Nurul masih dengan bahasa halunya sebagai wartawan.
Tak urung di ikutinya Nurul 'si wartawan' yang akan memperlihatkan fakta berita. Sampai di depan mading, Zia dan Dara terlonjak kaget dengan apa yang mereka lihat.
Di mading, terpajang foto-foto Zia bersama Shakti, ada foto pas mereka berboncengan naik motor. Foto saat mereka di Mall, Zia ingat betul saat itu, saat ia di tuduh mesra-mesraan oleh ibu-ibu yang tak dia kenal.Tidak di sangkanya selain dituduh yang tidak-tidak, ada juga orang yang diam-diam memotret dirinya.
Ada juga foto saat Zia dan Shakti masuk ke apartemennya. Yang lebih mengagetkan, ada foto saat ia di bandara, juga foto saat ia memasuki hotel di kota XXX untuk honeymoon. Dan semua foto-foto itu diambil dari angle yang tepat sehingga terkesan mesra.
"Zi ini beneran foto lo sama laki lo kan?" tanya Dara memastikan.
Zia mengangguk membenarkan.
"Tapi,siapa yang udah nyebarin foto ini dan dari mana juga orang ini dapet foto-foto lo ini."
Zia hanya menggeleng, dia sendiri bingung dari mana foto-foto ini berasal, dan untuk apa orang ini menyebarkan fotonya.
Terlebih kata-kata yang di tulis sebagai caption dari foto itu 'SIMPANAN OM-OM'.
Zia ingin sekali marah atas apa yang di lihatnya, tapi pada siapa dia harus marah? dia saja tidak tau pelakunya.
Nurul yang berada dekat dengan Zia dan Dara, sempat mendengar apa yang di katakan Dara
"Maksud lo apa Dar, apa yang difoto ini memang pacarnya Zia. Lo bener jadi simpanan om-om, Zi?" cerocos Nurul.
Zia menoleh,menatap Nurul dengan marah.
"So--sory Zi, kan gue cuma nanya," Nurul yang mengerti arti tatapan Zia langsung menyesalinya.
"Makanya jaga tu bacot lo, jangan asal jeplak aja," sungut Dara.
Nurul seketika menampar-nampar mulutnya sendiri seperti orang yang salah ucap.
"Jadi yang di foto ini siapa?" tanya Nurul lagi yang masih penasaran.
"Dia memang cowok gue, CALON SUAMI GUE!" jawab Zia dengan nada marah dan menegaskan pada kata calon suami, supaya orang-orang di sekitarnya mendengar apa yang ia ucapkan.
Zia baru menyadari sikap aneh orang-orang di sekitarnya hari ini. Tadi pagi saat ia merasa ada yang diam-diam melihatnya, dan teman-temannya yang berkumpul layaknya ibu-ibu arisan, padahal sedang bergosip. Ternyata dia sendirilah yang menjadi topik pergosipan.
Zia melepas foto-foto dirinya yang terpajang di mading, lalu membawanya kembali ke kelas. Saat ini, hanya ini yang ia bisa lakukan karena dia tidak tau siapa pelakunya.
"Punya wajah cantik cuma buat jadi simpenan om-om doang, kalau gue sih, mendingan nggak punya pacar dari pada jadi simpenan!" sindir Farah saat Zia memasuki kelasnya.
"Jaga ya bacot lo! maksud lo apa ngomong kayak gitu?" Zia yang tau kalau dirinyalah yang di maksud oleh Farah tak terima dengan sindiran Farah.
"Nah,lo sadar diri kalau lo jadi simpenan om-om. Secara gue nggak nyebut nama lo tadi." jawab Farah.
Zia menahan emosinya kali ini, tidak ingin bertindak gegabah. Memang benar, tadi Farah tidak menyebut namanya. Zia akhirnya memilih duduk dan tidak menanggapi Farah.
Farah terlihat senang dengan sikap diam Zia, dia langsung tersenyum licik pada Caca sahabatnya.
"Zi, lo, dipanggil Bu Norma di ruangannya," ucap teman sekelas Zia yang baru datang.
Zia langsung kaget dengan pesan yang di sampaikan Luna teman sekelasnya ini.
"Buat apa?" tanya Zia memastikan, tidak mungkin kan berita dan foto-foto tadi sudah sampai pada Bu Norma. Yang merupakan guru BK.
"Gue nggak tau,tapi denger-denger dari anak-anak sih lo dipanggil gara-gara foto-foto yang di mading itu."
"Lo cepet kesana deh, udah ditungguin sama Bu Norma."
Zia hanya mengangguk dan langsung berdiri menemui Bu Norma.
"Lo yakin nggak mau gue temani," tawar Dara yang merasa kasihan pada sahabatnya ini.
"Nggak usah, gue berani kok. Lo, tunggu sini aja."
Zia pun masuk ke ruangan bu Norma dengan mengetuk pintu sebelumnya.
"Maaf, apa ibu memanggil saya?" tanya Zia sopan.
"Oh, Alinzia. Silahkan masuk, saya memang sudah menunggu kamu," panggil Bu Norma.
"Duduk," perintah bu Norma pada Zia yang masih berdiri.
"Ada apa ya, Bu?
" tanya Zia hati-hati.
"Bisa kamu jelaskan foto-foto ini," Ibu Norma menunjukkan foto-foto yang sama dengan yang di mading tadi.
Zia terlihat kaget, bukannya tadi foto-foto itu sudah dia ambil. Tapi Bu Norma kok bisa punya juga foto yang sama.
"Alinzia, kamu itu sudah kelas XII dan kamu termasuk murid yang pandai. Bagaimana bisa kamu bertingkah laku seperti ini. Kamu tidak berencana menikah setelah lulus SMA kan?" tanya Bu Norma, lagi karena Zia tidak menjawab.
"Bu, semua tidak seperti berita yang tersebar, saya bukan simpanan om-om. Saya akui, yang di foto itu saya tapi yang difoto itu adalah tunangan saya," jelas Zia.
"Lalu apakah kalau sudah bertunangan bisa seenaknya tinggal bersama, bahkan kalian pergi ke hotel. Alinzia, Ibu tidak pernah melarang anak didik ibu pacaran.Yang ibu larang adalah, perbuatan-perbuatan di dalam pacaran itu, yang bisa saja lepas kendali, dan akhirnya akan merugikan kalian sendiri," ucap Bu Norma memberi nasehat.
"Apa lagi kamu sudah kelas XII, kamu harus fokus dengan ujian kamu bukannya pacaran."
"Iya, Bu. Saya mengerti dan sampai sekarang saya bisa menjaga diri saya. Saya juga bisa menjelaskan tentang foto itu."
"Foto yang ini saya sedang main aja bu ke apartemen tunangan saya," bohongnya sambil menujuk foto saat Zia dan Shakti memasuki apartemen.
"Dan yang ini, saya memang pergi ke kota XXX untuk menghadiri acara keluarga dan kami menginap di satu hotel, tapi kami tidak tidur bersama," jelas Zia menunjuk foto dirinya yang memasuki hotel.
"Ibu juga bisa meminta keterangan dari Mami atau tunangan saya," lanjut Zia meyakinkan.
"Baiklah saya akan buatkan surat panggilan untuk orang tua kamu dan juga tunangan kamu, karena Ibu harus tahu fakta yang sebenarnya." Bu Norma pun menyuruh Zia menunggu sebentar untuk menyiapkan surat panggilan sebelum menyuruh Zia meninggalkan ruangannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
tengkyu❤❤❤sayang hee
pasti ad sesuatunya tuh di susunya🙈
apalagi Zia
pass banget
keren Thor 👍👍
jadi mau ngakak....boleh doong Thor...?