NovelToon NovelToon
White Dream With You?

White Dream With You?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Misteri / Horror Thriller-Horror / Horor / Spiritual / Romantis
Popularitas:640
Nilai: 5
Nama Author: Cokocha

Judul: White Dream With You

Sinopsis:
Sarendra selalu merasa dirinya tidak cukup menonjol. Dengan postur yang sedikit bungkuk dan rambut belah tengahnya yang rapi, ia lebih suka tenggelam dalam deretan angka di jurusan Akuntansi SMK Pamasta daripada harus berurusan dengan keramaian. Namun, sebuah insiden tali rafia yang putus di bawah terik matahari Surabaya mempertemukannya dengan Vema—gadis TKJ yang aromanya seperti sabun bayi dan keberaniannya setinggi langit.
Apa yang dimulai dari bantuan kecil di bawah pohon kersen, tumbuh menjadi rasa yang perlahan namun pasti. Butuh waktu tujuh bulan bagi Rendra untuk mengumpulkan keberanian, dan bagi Vema untuk membuka pintu hatinya. Mereka adalah dua kutub yang berbeda, namun saling menguatkan di tengah rintangan yang datang silih berganti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cokocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Perspektif Nadin

Suasana kelas 10 TKJ 2 pagi ini benar-benar mewakili kekacauan yang terorganisir. Kabar mengenai absennya Pak Bambang di jam pertama dan kedua karena urusan dinas disambut sorak-sorai oleh penghuni kelas yang mayoritas adalah laki-laki. Dalam sekejap, ruangan ini berubah menjadi arena e-sport dadakan. Suara teriakan instruksi permainan daring, tawa yang meledak, hingga bunyi gesekan kursi yang ditarik asal menjadi latar suara yang sangat mengganggu ketenangan.

Aku menghela napas, menyesuaikan posisi dudukku di samping Vema. Kami berdua adalah pulau kecil di tengah samudera maskulinitas yang bising ini.

"Berisik sekali ya, Vem?" ucapku sambil mencoba memblokir suara teriakan di belakang kami.

Vema tidak segera menjawab. Ia sedang menekuni buku sketsanya, namun sebuah senyum kecil terukir di wajahnya. "Setidaknya mereka bahagia dengan cara yang sederhana, Din."

Kami pun mulai tenggelam dalam obrolan kami sendiri. Jam kosong seperti ini adalah kemewahan bagi kami untuk saling bertukar cerita. Kami bicara tentang banyak hal, mulai dari hal-hal konyol seperti kucing sekolah yang berat badannya seolah naik setiap minggu, hingga mimpi-mimpi yang kami simpan rapat di balik seragam sekolah ini.

Vema kemudian menggeser buku sketsanya ke arahku. "Lihat ini, Din. Ini rencana jangka panjangku."

Mataku membulat menatap gambar di hadapanku. Itu adalah sebuah sketsa rumah dengan arsitektur minimalis namun terasa sangat hangat. Detailnya luar biasa; Vema bahkan menggambar tekstur kayu pada kusen jendela dan jenis tanaman yang ingin ia tanam di halaman depan.

"Aku ingin tinggal di sini suatu saat nanti," bisik Vema dengan binar mata yang jarang ia tunjukkan. Ia mulai menunjuk setiap sudut ruangan di sketsa itu dengan jari rampingnya. "Di sini akan menjadi ruang kerjaku, penuh dengan perangkat komputer terbaru namun tetap rapi tanpa kabel yang berantakan. Lalu di pojok ini, aku ingin ada kursi baca yang sangat empuk, menghadap ke taman kecil di samping rumah. Aku akan mengisi setiap sudutnya dengan perabotan yang tidak menakutkan... maksudku, perabotan yang benar-benar kupilih karena aku menyukainya."

Aku mendengarkan dengan saksama. Aku tahu, rumah impian ini adalah antitesis dari rumah masa kecilnya yang penuh dengan aura gelap mesin jahit dan ketakutan. Vema sedang mencoba mendesain kebahagiaannya sendiri di atas kertas.

Namun, momen hangat itu terhenti ketika sebuah bayangan besar menaungi meja kami. Seorang teman sekelas laki-laki, yang aku tahu bernama Doni, berdiri di sana dengan wajah tanpa dosa.

"Vem, boleh pinjam LKS-mu? Aku belum mengerjakan tugas Pak Bambang yang kemarin. Boleh ya?" tanyanya dengan nada yang lebih mirip perintah daripada permintaan.

Dalam hitungan detik, aku melihat perubahan drastis pada sahabatku. Vema yang tadi bercerita dengan penuh gairah tiba-tiba menciut. Bahunya merosot, tatapan matanya jatuh ke meja, dan tangannya sedikit gemetar. Karakter people pleaser-nya mengambil alih kendali.

"Oh... iya, boleh. Tunggu sebentar," jawab Vema dengan suara yang hampir tak terdengar.

Ia segera merogoh tasnya, mengeluarkan buku LKS yang sudah terisi penuh dengan jawaban akurat, dan menyerahkannya pada Doni.

"Makasih ya, Vem! Kamu memang paling baik di kelas ini!" seru Doni sambil berlalu pergi menuju gerombolannya.

Aku menatap Vema dengan rasa kasihan yang mendalam. Aku kagum pada kecerdasannya, namun aku merasa sesak melihat bagaimana ia tidak mampu mempertahankan batasannya sendiri hanya karena takut dianggap sombong atau tidak berguna.

"Vem, kamu tahu kan kamu boleh bilang tidak kalau kamu sedang lelah?" tegurku pelan.

Vema hanya tersenyum getir, mencoba kembali ke buku sketsanya. "Tidak apa-apa, Din. Hanya meminjam buku. Aku tidak ingin ada masalah di kelas."

Untuk mengalihkan suasana yang mendadak canggung, Vema tiba-tiba menutup buku sketsanya dan menatapku. "Ngomong-ngomong... bagaimana menurutmu soal Sarendra?"

Aku langsung memasang seringai jahil. "Oh, jadi sekarang kita membahas sang Auditor itu?"

Vema merona. "Bukan begitu. Aku hanya merasa... dia orang yang sangat unik. Dia memperhatikan hal-hal kecil yang tidak dilihat orang lain. Seperti saat dia membawakan payung kemarin, dia lebih memilih bahunya basah supaya aku tetap kering."

"Wah, wah," aku mulai menggoda dengan nada suara yang sengaja dilebih-lebihkan. "Sepertinya ada yang mulai jatuh hati pada sang ahli akuntansi itu. Hati-hati, Vem, nanti kalau dia sibuk menghitung neraca saldo, kamu bisa dilupakan!"

"Nadin! Tidak seperti itu!" Vema memprotes, namun wajahnya semakin merah. Ia tampak sedikit cemburu atau mungkin malu karena rahasia hatinya dikuliti.

Aku terus menggodanya, mengingatkan momen-momen di mana mereka terlihat sangat serasi. Karena gemas dan tidak tahan lagi, Vema tiba-tiba menjulurkan tangannya dan memegang kedua pipiku.

"Berhenti, Nadin!" serunya sambil menarik-narik pipiku dengan lembut.

Kami tertawa bersama. Betapa imutnya sahabatku ini jika dia sedang lepas seperti ini. Di balik kecerdasannya soal jaringan, Vema tetaplah seorang gadis remaja yang bisa tersipu karena hal-hal romantis.

Setelah tawa kami mereda, Vema kembali fokus pada gambarnya, menambahkan beberapa detail kecil pada ruang tamunya. Aku, di sisi lain, mulai merasa bosan. Keramaian di kelas semakin tidak terkendali. Suara umpatan dari permainan game teman-teman cowok di belakang mulai membuat telingaku panas. Aku merasa terisolasi dalam kebisingan ini.

Tepat saat aku hendak mencari kegiatan lain, ponsel di atas meja bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk.

Sarendra: Nadin, bisa bertemu di kantin belakang sekarang? Ada sesuatu yang ingin kutanyakan tentang Vema. Tolong jangan beritahu dia dulu.

Aku membaca pesan itu dua kali. Ada nada urgensi yang tertata rapi dalam kalimatnya. Aku melirik Vema yang masih asyik dengan sketsanya. Aku tahu ini adalah kelanjutan dari kejadian kemarin. Sarendra, dengan segala sifat analitisnya, pasti menyadari ada yang salah dengan reaksi sosial Vema.

Aku segera membalas pesan itu dan memasukkan ponsel ke saku.

"Vem," panggilku.

Vema mendongak. "Ya, Din?"

"Aku harus keluar sebentar. Tadi aku dapat panggilan guru, sepertinya ada urusan mendadak. Kamu tidak apa-apa sendirian sebentar?" bohongku dengan wajah sedatar mungkin.

"Oh, tentu. Pergilah," jawabnya tulus, kembali pada dunianya sendiri.

Aku berdiri, meninggalkan Vema yang kini tampak seperti titik tenang di tengah badai keributan kelas. Aku berjalan keluar menuju kantin belakang, bersiap untuk menjelaskan pada Sarendra tentang labirin kepribadian yang dihuni oleh sahabatku.

...****************...

Udara di koridor menuju laboratorium komputer terasa sedikit lebih sejuk setelah kami meninggalkan area kantin belakang yang pengap. Aku melangkah di samping Vema, memperhatikan siluet sahabatku itu yang sesekali menunduk, seolah sedang menata kembali frekuensi pikirannya setelah pertemuan tidak terencana dengan Sarendra tadi. Aku tahu, meskipun tadi kami berhasil menutupi topik pembicaraan yang sebenarnya, Vema bukanlah gadis yang mudah dikelabui. Ia memiliki intuisi yang tajam, meski sering kali ia memilih untuk menyimpannya sendiri demi menjaga harmoni.

​"Sarendra tadi... penampilannya rapi sekali ya untuk ukuran jam istirahat," aku memulai percakapan dengan nada yang sengaja kubuat ringan, memancing reaksi yang sudah bisa kuprediksi.

Vema menoleh, matanya sedikit menyipit. "Dia selalu rapi, Nadin. Kamu tahu sendiri bagaimana kedisiplinan anak Akuntansi."

"Tapi tatapannya padamu tadi tidak menunjukkan kedisiplinan sama sekali, Vem. Lebih menyerupai seseorang yang sedang mengagumi artefak berharga," godaku lagi. Aku bisa melihat rona merah mulai merayap di pipinya, sebuah reaksi fisiologis yang selalu gagal ia sembunyikan setiap kali nama Sarendra disebut dalam konteks yang personal.

"Nadin, hentikan. Kita hampir sampai di lab," bisiknya pelan, namun nada suaranya menunjukkan kegelisahan yang manis—sebuah campuran antara rasa malu dan kecemburuan yang tipis karena aku terus-menerus menguliti perasaannya.

"Mengapa? Kamu takut kalau aku benar? Atau kamu cemburu karena aku yang tadi mengobrol berdua dengannya?" tantangku sambil tertawa kecil.

Vema tidak menjawab dengan kata-kata. Secara spontan, ia menjulurkan tangannya dan mencubit kedua pipiku, menariknya dengan kekuatan yang cukup untuk membuatku mengaduh namun tetap terasa penuh kasih sayang. Reaksi salting-nya selalu sama; ia akan mencoba membungkamku dengan tindakan fisik yang menggemaskan ini. Kami berdua tertawa di depan pintu laboratorium, sebuah momen singkat yang sejenak melupakan beban berat yang pernah kami pikul di semester lalu.

Di dalam laboratorium, suasana berubah menjadi lebih teknis. Bau kabel dan sirkuit elektronik menyambut indra penciuman kami. Pak Bambang memberikan instruksi untuk melakukan praktik instalasi jaringan lokal (LAN). Kami duduk bersebelahan di depan unit komputer masing-masing. Di hadapan kami berserakan kabel UTP, konektor RJ45, dan crimping tool.

Aku harus mengakui, meskipun kami berada di jurusan yang sama, Vema berada di level yang berbeda dalam hal pemahaman teknis. Saat aku masih kebingungan menyusun urutan warna kabel standar TIA/EIA-568B, jemari Vema sudah bergerak dengan presisi yang menakjubkan.

"Putih-oranye, oranye, putih-hijau, biru..." gumamnya pelan, mengurutkan delapan helai tembaga kecil itu dengan sangat rapi sebelum memasukkannya ke dalam konektor.

"Vem, kenapa kabelku selalu gagal saat diuji di LAN tester?" keluhku sambil menatap kabelku yang berantakan.

Vema menghentikan pekerjaannya sejenak, lalu mendekat ke arahku. Ia mengambil kabel dari tanganku dengan lembut. "Masalahnya ada di tekanan saat kamu memotong kulit kabelnya, Din. Kalau terlalu kuat, tembaga di dalamnya bisa ikut tergores. Dan pastikan ujungnya benar-benar rata sebelum masuk ke konektor."

Ia membimbing tanganku, menjelaskan setiap detail dengan kesabaran yang luar biasa. Kekagumanku padanya semakin bertambah; ia adalah perpaduan antara kecerdasan teknis dan empati yang tinggi. Baginya, membantu orang lain bukanlah sebuah beban, melainkan sebuah cara untuk memastikan bahwa semua orang berada di frekuensi yang sama. Kami menyelesaikan tugas tersebut bersama-sama, dan seperti yang sudah kuduga, hasil pekerjaan kami mendapatkan nilai sempurna karena sentuhan presisi Vema.

Setelah jam praktikum selesai, kami kembali ke ruang kelas. Namun, suasana di sana kembali sunyi dari kehadiran guru. Ternyata, guru mata pelajaran berikutnya berhalangan hadir karena ada agenda mendadak di kantor pusat, yang berarti kami mendapatkan jam kosong kedua hari ini. Di tengah keriuhan teman-teman laki-laki yang kembali fokus pada layar ponsel mereka, aku dan Vema memilih untuk duduk di barisan belakang, menatap ke luar jendela yang menampilkan pemandangan lapangan sekolah.

Kami mulai berbicara tentang masa depan—sebuah topik yang biasanya kami hindari karena terlalu abstrak, namun hari ini terasa sangat nyata.

"Aku ingin melanjutkan ke teknik informatika, Din," ujar Vema sambil menatap awan. "Aku ingin membangun infrastruktur digital yang aman. Aku ingin orang-orang merasa terlindungi di dunia maya, karena aku tahu rasanya tidak memiliki tempat yang aman di dunia nyata."

Aku mengangguk, memahami kedalaman maknanya. "Aku yakin kamu bisa, Vem. Kamu punya kemampuan itu."

Vema tersenyum, lalu ia melanjutkan dengan nada yang lebih santai, namun secara tidak sengaja ia mengucapkan sesuatu yang membuat atmosfir di sekitar kami mendadak berubah. "Kadang aku membayangkan, kalau nanti sudah memiliki karir yang stabil, aku ingin membangun rumah yang tadi kugambar. Di sana, aku ingin menjalani kehidupan yang tenang, mungkin memasak untuk seseorang setelah pulang kerja, dan menjalani kehidupan setelah menikah dengan penuh kedamaian tanpa harus takut pada masa lalu..."

Vema tiba-tiba terdiam. Matanya membelalak menyadari apa yang baru saja ia ucapkan. Kata "menikah" seolah menjadi bom atom dalam percakapan kami.

Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. "Wah, kehidupan setelah menikah? Dengan siapa, Vem? Apakah orang itu adalah seorang auditor yang sangat teliti dalam menghitung anggaran rumah tangga?"

"Nadin! Bukan begitu maksudku!" seru Vema,

wajahnya kini merah padam sepenuhnya. Ia benar-benar menunjukkan reaksi salting yang paling hebat sejauh ini. Rasa cemburu pada dirinya sendiri karena telah keceplosan bicara membuat gerak-geriknya menjadi serba salah.

"Oh, jadi kamu sudah merencanakan masa depan sejauh itu dengan Sarendra? Luar biasa. Aku tidak menyangka sahabatku sudah memikirkan tentang institusi pernikahan di kelas sepuluh," aku terus menggodanya dengan nada formal yang dibuat-buat, yang justru membuatnya semakin frustrasi sekaligus malu.

Vema kemudian membuang muka, pura-pura ngambek dan melipat tangannya di dada. "Aku tidak mau bicara lagi denganmu hari ini, hmph."

Melihatnya bersedekap seperti itu justru membuatku tertawa. Aku tahu dia tidak benar-benar marah. Aku mendekat, menyenggol bahunya dengan halus. "Ayolah, Vem. Itu adalah impian yang indah. Tidak ada yang salah dengan menginginkan kebahagiaan bersama seseorang yang bisa menjaga kita. Dan kita tahu, Sarendra adalah orang yang tepat untuk itu."

Aku memberikan kata-kata penenang yang tulus, dan perlahan pertahanan "ngambek"-nya runtuh. Ia menoleh kembali padaku dengan senyum malu-malu yang sangat manis.

Tiba-tiba, suara pengeras suara sekolah berbunyi. Informasi dari bagian kurikulum menyatakan bahwa seluruh siswa dipulangkan lebih awal karena para guru akan mengadakan rapat pleno mengenai persiapan Kunjungan Industri (KI) untuk kelas sepuluh. Sorak-sorai kembali pecah di kelas.

"Vem, karena kita pulang awal, bagaimana kalau kamu main ke rumahku?" ajakku. "Kita bisa melanjutkan sketsamu atau sekadar menonton film. Aku ingin kamu merasa santai hari ini."

Vema tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk setuju. "Ide yang bagus, Din. Aku juga sedang ingin suasana baru."

Kami membereskan tas dan berjalan menuju gerbang sekolah. Di sana, kami melihat Sarendra sedang berdiri di bawah naungan pohon peneduh, tampak seperti sedang menunggu sesuatu. Begitu melihat kami, ia melangkah mendekat.

"Vema, Nadin," sapanya dengan suara bariton yang stabil. "Kalian pulang sekarang? Mau pulang bareng? Kebetulan aku sedang menunggu jemputan orang tuaku, mungkin kita bisa searah."

Aku memperhatikan tatapan Sarendra. Ada sebuah rasa nyaman dan protektif yang ia pancarkan khusus untuk Vema. Kedekatan mereka berdua, meski tanpa banyak kata, sudah cukup untuk menceritakan segalanya. Namun, Vema menolak dengan cara yang sangat halus.

"Terima kasih tawarannya, Dra. Tapi hari ini aku mau ke rumah Nadin dulu untuk mengerjakan beberapa tugas tambahan," jawab Vema dengan senyum sopan.

Sarendra mengangguk paham, tanpa ada sedikit pun rasa tersinggung. "Baiklah. Hati-hati di jalan kalau begitu. Nadin, tolong jaga Vema ya."

"Siap, Pak Auditor!" sahutku sambil memberikan hormat pramuka yang membuat Sarendra sedikit tersenyum tipis sebelum ia kembali ke posisi tunggunya.

Kami pun berjalan menuju rumahku yang tidak terlalu jauh dari sekolah. Selama di rumahku, Vema tampak sangat asyik. Kami makan camilan, mendengarkan musik, dan ia kembali menggambar di buku sketsanya. Aku mengamati setiap gerak-geriknya. Vema terlihat sangat bahagia, tertawa lepas atas leluconku, dan seolah-olah tidak ada masalah yang membebaninya.

Namun, di balik tawa itu, aku menyadari sesuatu yang mendalam. Sebagai teman dekatnya, aku tahu bahwa Vema masih menyimpan sebuah ruang hampa di hatinya—sebuah trauma dan ketakutan dari masa lalu yang ia kunci rapat-rapat. Meskipun ia bisa terbuka tentang mimpi pernikahannya atau rasa sukanya pada Sarendra, ia tidak pernah sekali pun membawa luka masa lalunya ke dalam percakapan kami. Ia memilih untuk memikulnya sendiri, menutupi bekas luka itu dengan senyuman yang ia berikan kepada dunia.

Aku merasa terkesan sekaligus haru. Vema adalah orang yang paling kuat yang pernah kukenal. Ia memilih untuk fokus pada masa depan yang terang, tanpa membiarkan bayangan masa lalu merusak kebahagiaan orang-orang di sekitarnya. Dan sore itu, di ruang tamuku yang sederhana, aku berjanji dalam hati untuk selalu menjadi sahabat yang bisa ia andalkan, bahkan jika ia tidak pernah menceritakan sisi gelapnya padaku. Karena terkadang, dukungan terbaik bukanlah dengan bertanya, melainkan dengan tetap ada di sana saat ia tertawa maupun saat ia terdiam.

1
Kustri
alur'a bikin penasaran
ada apa dgn vema
lanjuuut...
cokocha
bagus banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!