NovelToon NovelToon
Story Of Hazel Lyra Raven

Story Of Hazel Lyra Raven

Status: tamat
Genre:Dosen / Dark Romance / Mafia / Time Travel / Reinkarnasi / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: AEERA-ALEA

Kisah seorang gadis muda bernama hazel lyra raven, anak konglomerat dari seorang kepala rumah sakit ternama. Rumah sakit swasta raven medika. pada awalnya dia di jodoh kan oleh seorang dokter bedah terkenal.

Pharma Andrian, justru perjodohan itu malah membawa petaka??, seorang wanita asing yang mengaku dirinya adalah istri sang dokter pharma pada pernikahan mereka??

kedatangan wanita misterius itu membawa petaka. konflik di mulai, tapi sayangnya wanita itu memiliki ide busuk!!..ia mendorong lyra dari lantai 20??. tapi saat terbangun. lyra malah bangun di di 3 tahun sebelum kejadian??, Dan malah bertemu laki laki lain yang dapat membantu nya!!


Tapi terbangun nya lyra ke 3 tahun sebelumnya bukan hanya untuk mengubah takdir nya, tanpa ia sadari..masalah ternyata yang datang lebih besar

Organisasi misterius yang melakukan perdagangan barang gelap mengintai rumah sakit megah, mereka telah menanam bom besar yang terpasang tepat di bawah rumah sakit itu..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 28

Lyra memekik tertahan, detak jantungnya berpacu liar melawan rasa takut yang nyaris melumpuhkan sarafnya. Melihat kondisi Loen yang begitu mengenaskan, naluri kemanusiaannya bangkit mengalahkan ego untuk segera mencari Paul. Ia tahu, jika ia membiarkan Loen di sana, asisten bedah itu hanya akan menjadi nisan di tengah reruntuhan laboratorium ini.

​"Loen, tetaplah bersamaku! Jangan tutup matamu!" seru Lyra dengan suara gemetar namun sarat dengan ketegasan yang dipaksakan.

​Narasi kehancuran di sekeliling mereka seolah membeku sesaat ketika Lyra dengan cekatan melepas jaket luarnya. Dengan gerakan yang serampangan namun penuh tekad, ia melipat jaket tersebut dan menekannya kuat-kan pada luka tusuk di perut Loen yang terus mengalirkan cairan merah pekat.

Loen mengerang, matanya terbelalak sesaat menahan rasa sakit yang luar biasa sebelum kepalanya kembali terkulai lemas.

​Lyra menoleh ke sekeliling, mencari apa pun yang bisa digunakan untuk mengevakuasi pria itu. Debu beton yang beterbangan di udara mulai menutupi pandangannya, namun ia melihat sebuah tandu lipat darurat yang tersampir di dekat pintu darurat yang sudah miring.

Dengan langkah tergesa, ia berlari menyambar tandu tersebut, mengabaikan serpihan kaca yang merobek bagian bawah sepatunya.

​"Aku akan menyeretmu keluar dari sini, Loen. Aku janji," bisik Lyra, lebih kepada dirinya sendiri untuk menguatkan mentalnya yang nyaris ambruk.

​Dengan tenaga yang entah datang dari mana, Lyra memposisikan tandu tersebut di samping tubuh Loen. Ia harus memindahkan pria yang jauh lebih berat darinya itu dengan sangat hati-hati agar tidak memperparah perdarahan internalnya.

Keringat dingin bercucuran di dahi Lyra, menyatu dengan debu semen yang menempel di kulitnya. Setiap inci pergerakan Loen diikuti oleh rintihan pedih yang menyayat hati.

​Tepat saat Lyra berhasil menaikkan tubuh Loen ke atas tandu, sebuah suara gesekan logam kembali terdengar dari sudut laboratorium yang gelap. Suaranya kini lebih jelas, lebih dekat, dan terdengar sangat berirama seperti seseorang yang sedang mengasah sebilah pisau dengan ketenangan yang mengerikan.

​Lyra membeku. Ia merasa sepasang mata sedang mengawasinya dari balik kepulan asap hitam yang bergerak lambat. Namun, ia tidak boleh berhenti sekarang.

Ia mulai menarik tandu itu menuju area yang lebih stabil, menjauhi pusat ledakan dan dinding yang memisahkan dirinya dengan Paul.

Tangannya perih, otot-otot lengannya terasa seperti akan putus, namun bayangan kakaknya dan nyawa Loen di tangannya menjadi satu-satunya bahan bakar yang tersisa.

​Di seberang sana, di balik timbunan beton yang sangat tebal, terdengar suara hantaman keras. Magnus rupanya belum menyerah. Suara pria itu terdengar sangat samar, namun penuh amarah, memanggil-manggil nama Paul dan Lyra secara bergantian.

​"Magnus! Aku di sini bersama Loen! Paul terjebak di ruang server!" Lyra berteriak sekuat tenaga, berharap suaranya mampu menembus kepadatan reruntuhan tersebut.

​Namun, teriakan Lyra justru mengundang perhatian sesuatu yang lain. Dari balik bayangan lemari kimia yang hancur, sebuah siluet perlahan mulai terbentuk. Sosok itu berdiri tegak, tak terpengaruh oleh suhu panas yang menyengat atau gas beracun yang memenuhi ruangan.

​Lyra berhenti menarik tandu. Ia berdiri perlahan, memunggungi jalan keluar, dan menatap lurus ke arah kegelapan. Untuk pertama kalinya, ia merasakan aura kematian yang begitu nyata, jauh lebih nyata daripada apa yang ia lihat dalam bayangannya di masa depan.

Di tengah laboratorium yang kini menjelma menjadi pemakaman bawah tanah itu, Lyra menyadari bahwa ia tidak hanya sedang berpacu dengan waktu, tetapi juga sedang diawasi oleh predator yang paling berbahaya.

Langkah kaki Lyra terhenti seketika, jemarinya yang gemetar masih mencengkeram erat pinggiran tandu lipat yang menopang tubuh ringkih Loen.

Di tengah hiruk-pikuk suara desis gas yang bocor dan reruntuhan beton yang sesekali jatuh berdentum, sebuah ketenangan yang tidak wajar mulai merayap keluar dari sudut laboratorium yang paling gelap.

Asap hitam yang tadinya bergulung liar seolah membelah diri, memberikan jalan bagi sesosok pria yang berjalan dengan keanggunan seorang bangsawan di tengah ladang pembantaian. Pria itu adalah Pharma, mengenakan jas putih yang meski ternoda sedikit debu, masih memancarkan aura otoritas yang mutlak dan mengerikan.

Ia melangkah keluar dari bayangan dengan perlahan, memutar sebilah pisau bedah di antara jemarinya seolah benda tajam itu adalah bagian dari anatomi tubuhnya sendiri.

Tidak ada raut panik, tidak ada ketakutan akan ledakan, yang ada hanyalah sepasang mata sedingin es yang kini tertuju tepat pada bola mata Lyra.

​"Sungguh sebuah anomali yang menarik melihatmu berada di sini, Lyra," ucap Pharma dengan nada suara yang sangat lembut, bahkan hampir menyerupai bisikan seorang ayah yang menenangkan anaknya.

Suaranya bergema di dinding-dinding laboratorium yang retak, menciptakan kontras yang menyakitkan dengan raungan sirene di kejauhan.

Lyra merasa seluruh persendiannya terkunci, seolah tatapan pria itu memiliki massa yang sanggup menghimpit paru-parunya hingga sesak. Setiap langkah yang diambil Pharma terdengar sangat berirama di atas lantai yang tergenang air, menciptakan bunyi

'klik'

yang konsisten dan mematikan. Pria itu berhenti tepat beberapa meter di depan Lyra, memiringkan kepalanya sedikit untuk mengamati kondisi Loen yang sekarat dengan ekspresi penuh rasa ingin tahu yang dingin.

​"Kau memiliki hati yang sangat murni, persis seperti yang terbaca dalam profil psikologismu, namun keberanianmu ini sebenarnya adalah sebuah kesia-siaan yang tragis," lanjut Pharma sambil menyunggingkan senyum tipis yang tidak mencapai matanya.

Ia mengabaikan fakta bahwa laboratorium tersebut berada di ambang keruntuhan total dan bahwa kepolisian sedang mengepung gedung di atas sana. Bagi Pharma, waktu seolah berhenti, dan ruangan hancur ini adalah panggung sandiwara di mana ia memegang kendali atas setiap napas yang tersisa.

Lyra mencoba mundur selangkah, namun kakinya terasa seberat timah, sementara tangannya tetap menekan luka Loen dengan sisa tenaga yang ia miliki.

Ketakutan yang dialami Lyra bukan lagi sekadar takut akan kematian, melainkan ketakutan akan keberadaan sosok yang tampaknya sudah kehilangan seluruh sisi kemanusiaannya.

​Pharma mengangkat pisau bedahnya ke arah cahaya api yang masih menyala, mengagumi pantulan merah yang memantul di logam tajam tersebut dengan kepuasan yang gila.

"Asistenku ini sudah gagal dalam tugasnya, dan kini kau mencoba menyelamatkan sesuatu yang menurut hukum medis sudah seharusnya dilepaskan," desisnya sambil melangkah satu langkah lebih dekat.

Lyra bisa merasakan hawa dingin yang terpancar dari sosok di depannya, sebuah aura predator yang sedang mempermainkan mangsanya sebelum memberikan serangan terakhir. Di balik dinding beton yang memisahkan mereka, suara Magnus yang berteriak memanggil nama Lyra terdengar semakin histeris, namun suara itu terasa sangat jauh bagi Lyra saat ini.

​Keheningan yang mematikan di antara mereka hanya dipecah oleh suara napas Loen yang semakin pendek dan berat, menciptakan ritme keputusasaan di tengah laboratorium yang hancur.

Pharma menatap Lyra dengan tatapan yang seolah mampu menelanjangi setiap rahasia yang ia simpan, termasuk rasa trauma yang menghantuinya dari bayangan masa depan.

"Kau tahu, Lyra, terkadang pengorbanan diperlukan agar sebuah kebenaran baru bisa lahir dari abu kehancuran," ujar Pharma dengan filosofi yang memuakkan.

Ia kembali menggerakkan tangannya, kali ini mengarahkan ujung pisau bedahnya tepat ke arah jantung Lyra dengan gerakan yang sangat halus namun pasti.

Lyra hanya bisa mematung, menyadari bahwa di hadapannya bukan sekadar seorang dokter yang tersesat, melainkan arsitek dari seluruh penderitaan yang baru saja dimulai.

​Setiap detik yang berlalu terasa seperti siksaan abadi bagi Lyra yang terperangkap dalam permainan mental sang dokter psikopat.

Di tengah kepulan asap yang semakin mencekik, Pharma berdiri sebagai satu-satunya entitas yang tampak berkuasa, seolah api dan ledakan adalah kawan karibnya dalam kegelapan.

Lyra menyadari bahwa untuk menyelamatkan Paul dan Loen, ia harus menghadapi sosok yang tidak mengenal rasa takut ini dengan tangannya sendiri. Namun, kekuatan Pharma bukan terletak pada ototnya, melainkan pada ketenangannya yang sanggup meruntuhkan mental siapa pun yang menatapnya.

Di dalam ruangan yang kini dipenuhi bau kematian dan bahan kimia, takdir Lyra berada di ujung pisau bedah yang berkilau dalam kegelapan.

1
A.R
banyak kata2 yg terulang Thor,
AEERA♤: ee maap, lagi blunder
total 1 replies
AEERA♤
bacaa woee
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!