NovelToon NovelToon
Lelaki Manipulatif

Lelaki Manipulatif

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Duda / Berbaikan
Popularitas:4
Nilai: 5
Nama Author: Silviriani

Guno adalah seorang pria yang hidupnya berubah drastis dalam semalam. Istri tercintanya meninggal dunia akibat ledakan gas tragis di rumah mereka. Kejadian itu mengubah status Guno dari seorang suami menjadi duda dalam sekejap.

Sebagai seorang guru yang dikenal berdedikasi tinggi, Guno dikelilingi oleh siswa-siswi berprestasi yang baik dan simpatik. Saat kabar duka itu tersebar, seluruh penghuni sekolah memberikan simpati dan empati yang mendalam. Namun, di tengah masa berkabung itulah, muncul sebuah perasaan yang tidak biasa. Rasa peduli Guno yang semula hanya sebatas guru kepada murid, perlahan berubah menjadi obsesi terhadap seorang siswi bernama Tamara.

Awalnya, Tamara menganggap perhatian Guno hanyalah bentuk kasih sayang seorang guru kepada anak didiknya yang ingin menghibur. Namun, lama-kelamaan, sikap Guno mulai membuatnya risih. Teman-teman Tamara pun mulai menyadari gelagat aneh sang guru yang terus berusaha mendekati gadis itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan macam-macam kamu!

"Kamu pelakor?"

"Hah?" Tama mengernyitkan kening, lalu perlahan ia berdiri. "Aku bukan pelakor. Kata siapa aku pelakor?"

Indri mengeluarkan ponsel dari saku. Jari-jemarinya menari lincah di atas layar dengan tingkat kecerahan lima puluh persen. Setelah menemukan apa yang dicari, Indri langsung menyodorkan layar ponsel itu ke depan wajah Tama.

"Lihat? Ada kata 'sayang' di sini!"

Ternyata, sebuah unggahan dari akun media sosial bernama Gunogun telah membuat seisi sekolah gempar. Foto yang diambil dari arah belakang menampilkan Tama yang sedang bersalaman dengan ibunya, diunggah oleh Guno dengan cuitan....

"Selamat pagi sayang. Hari ini cerah, ya? Aku siap menjemputmu!"

Tama menggeleng-gelengkan kepala sembari berkata "Aku bukan pelakor! Aku bukan pelakor!" Sementara itu, senyum Indri makin mengembang melihat Tama yang terus membantah.

Di sisi lain, Guno justru asyik menceritakan kejadian mengesankan bersama Tama kepada guru-guru pria yang sering berkumpul di kantor pada sisa jam kerja. Di sana ada Ferdi, Usep, Dika, dan Fahri. Mereka tampak antusias menyimak cerita Guno.

"Terus? Terus?" desak Dika.

"Bayangkan, wanita sesegar Tama berada satu mobil sama gue. Beh! Lihat pahanya saja kinclong seperti piring baru dicuci, wanginya pun... deuh! Memancing keadaan yang sudah panas dari luar jadi makin panas di dalam" tutur Guno penuh ekspresi.

"Terus, lu nganu nggak sama dia?" tanya Usep dengan nada berbisik.

"Nganu? Maksudnya?" Guno tak mengerti.

Usep menguncupkan jari-jarinya lalu mengadukannya beberapa kali. Mengerti kode tersebut, Guno langsung menjawab singkat "Enggak!"

"Yah!" seru mereka serempak, terdengar kecewa karena Guno melewatkan kesempatan emas itu.

"Dia masih bocah, masa gue tega begitu?" bela Guno.

"Itu kesempatan Gun!" timpal Dika.

Guno hanya diam sejenak sembari memanyunkan bibirnya.

"Eh! Ngomong - ngomong kalian ikut grup chat campuran kelas?"

"Yang adminnya Irfan?" tanya Usep.

"Iya. Masukkin gue dong!"

Secara kebetulan Irfan melintas di dekat mereka. "Nah, itu Irfan!" seru Fahri.

Guno menoleh lalu segera menghampiri dan menepuk pundak pria itu. Irfan langsung merespons. "Eh, Gun!"

"Katanya lu buat grup chat campuran anak kelas ya?"

"Iya, kenapa?"

"Kok nggak kasih tahu gue? Masukkin gue ya. Lu punya nomor gue kan?"

"Tadinya cuma buat tempat berbagi saja, gue juga nggak menyangka isinya bakal sampai dua ratus orang" jawab Irfan.

Tiba-tiba dari belakang, Dika menyela "Fan, masukkin gue juga ya!" Irfan mengacungkan jempolnya.

"Nanti gue masukkin. Sekarang kerjaan lagi numpuk, jadi sabar ya."

"Oke, sip!" ucap Guno sembari mengacungkan jempol pada Irfan.

Namun, saat Guno hendak melangkah pergi, Irfan mendadak menahan tangannya "Gun, ada yang mau gue bicarakan."

"Apa?"

"Jangan di sini."

"Penting banget?"

"Penting sekali. Ini demi kebaikan lu dan cewek yang lu suka" Irfan menatap Guno serius "Lu suka sama Tama?" perlahan kepala Guno mengangguk.

Irfan menarik Guno ke tempat yang agak sepi setelah memastikan keadaan sekitar aman. Di sana, Irfan mulai menasihati rekannya itu.

"Begini Gun. Kita ini guru, seharusnya membimbing dan memberikan contoh positif. Unggahan lu tadi pagi mending dihapus saja. Kasihan Tama, dia dituduh pelakor dan gosipnya sudah menyebar ke mana-mana. Gue juga khawatir sama lu kalau kepala sekolah tahu, lu bisa di skors. Memangnya lu mau Pak Kepala marah?"

Guno mendongak, mengembuskan napas panjang ke udara sembari mengatupkan rahangnya. Ia kembali menatap Irfan dengan tajam.

"Bro, pertama, gue sama Pak Kepala itu nggak berteman. Kedua, gue sama Tama itu beneran jatuh cinta, nggak akan ada yang bisa memisahkan kami. Ketiga, gue nggak akan hapus unggahan itu. Sejatinya, perempuan akan merasa dicintai jika kita tergila-gila padanya. Mungkin sekarang Tama syok karena gue seniat itu, tapi gue yakin dia akan membalas cinta gue. Ingat poin kedua BENERAN JATUH CINTA!"

Guno menepuk pundak Irfan beberapa kali " Sudahlah, hari ini gue guru piket, sebentar lagi harus pencet bel." Guno melenggang pergi, meninggalkan Irfan yang mematung.

Jam pelajaran pertama usai waktunya istirahat. Sebagian besar warga sekolah berhamburan ke kantin atau perpustakaan, namun Tama memilih tetap diam di kelas. Ia duduk menunduk, tak berani menghadapi tatapan orang-orang di sekitarnya. Sesekali ia menyeka air mata. Ini pertama kalinya ia dibenci oleh orang-orang tanpa tahu apa kesalahannya.

Di tempat lain, Guno merasa heran karena Tama tak kunjung terlihat "Mana Tama? Sepuluh menit lagi masuk, apa dia nggak jajan?" gumamnya.

Guno pun bergegas ke kantin, membeli beberapa makanan, lalu membawanya ke kelas Tama. Dari ambang pintu, hatinya teriris melihat Tama duduk sendirian tanpa teman. Ia pun memberanikan diri menghampiri Tama di tengah tatapan sinis siswa-siswi lain.

"Hei" sapa Guno sambil duduk di samping Tama.

Tama mengangkat wajah. Guno langsung disuguhi pemandangan mata yang sembap dan pipi yang merah.

"Kamu kenapa menangis?"

Guno hendak mengusap air mata itu, namun Tama dengan cepat menepis tangannya hingga bungkusan makanan yang diletakkan di meja jatuh ke lantai.

Srak!

"Duh! makanannya jatuh kan?" Guno memungut makanan tersebut.

Saat hendak kembali duduk tegak, mata Guno tak sengaja menangkap sosok siswi yang sedang merekam mereka diam-diam.

"Oh, jadi ini yang bikin Tama menangis" batinnya geram.

Guno bangkit dan menghampiri murid itu. Ia merampas ponsel si murid, membuka galeri dan menghapus video rekaman tadi secara permanen. Tanpa sengaja, Guno menemukan video tak senonoh milik murid tersebut. Ia pun memperlihatkannya kepada si pemilik ponsel.

"Kalau kamu masih ingin sekolah di sini, jangan macam-macam dengan saya! Saya bisa meretas ponselmu dan menyebarkan aibmu secepat kilat, mengerti?" ancam Guno rendah "Satu lagi, pahamu itu hitam sering-seringlah luluran. Saya saja yang laki-laki bisa merawat diri, masa kamu perempuan tidak?"

Murid itu gemetar ketakutan. Ia hanya bisa mengangguk pasrah saat Guno melemparkan ponsel itu ke dadanya.

Tak!!!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!