Dua puluh kavaleri elit musuh terus bergerak mendekati lokasi persembunyian Aslan tanpa menyadari maut yang menanti. Pangeran itu telah menyiapkan jebakan mematikan melalui perhitungan sistem yang menjamin kemenangan mutlak bagi dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HUUAALAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Fajar menyingsing di Lembah Serigala Perak. Suara denting logam dari bengkel Si Tangan Besi menjadi musik pembuka hari itu. Aslan berdiri di atas balkon kayu, matanya terus memindai setiap pergerakan prajurit di bawah sana.
[Sistem: Pemindaian Sinkronisasi Unit. Keakuratan formasi kavaleri Elara meningkat 12%. Efisiensi pengisian ulang artileri uap mencapai 8 detik.]
"Kau sudah bangun sepagi ini?" tanya Elara yang baru saja menaiki tangga balkon.
"Tidur adalah kemewahan yang belum bisa aku beli, Jenderal," jawab Aslan tanpa menoleh.
Elara berdiri di sampingnya. Ia mengenakan zirah ringannya, siap untuk latihan pagi. "Para prajurit mulai membicarakanmu. Mereka bilang kau bisa melihat kesalahan posisi kaki mereka bahkan dari jarak seratus meter."
Aslan sedikit tersenyum. "Itu hanya soal memperhatikan detail yang sering diabaikan orang lain."
"Tapi detail itu menyelamatkan nyawa mereka kemarin," Elara menatap tajam wajah Aslan. "Kau bukan sekadar pangeran yang pintar berteori. Kau bertarung seolah kau sudah memprediksi setiap ayunan pedang musuh."
[Peringatan: Detak jantung subjek Elara meningkat. Terdapat fluktuasi emosional sebesar 15%.]
Aslan mengalihkan pembicaraan sebelum suasana menjadi terlalu personal. "Bagaimana dengan Lord Hektor? Apakah surat-surat itu sudah dikirim?"
"Sudah. Tiga loyalis besar di wilayah Barat telah menerima pesan itu. Mereka menunggu instruksimu di pelabuhan selatan," jelas Elara.
Tiba-tiba, suara ledakan tumpul terdengar dari kejauhan arah selatan, jauh melampaui batas lembah. Aslan segera mengaktifkan mode penglihatan jarak jauh melalui sistemnya.
[Analisis Suara: Ledakan batu inti cadangan terdeteksi. Koordinat: Pos Terdepan Perbatasan Utara. Kerusakan infrastruktur musuh: Tinggi.]
"Itu dimulai," bisik Aslan.
"Apa yang terjadi?" tanya Elara dengan wajah waspada.
"Sabotase yang kulakukan di Kota Timur akhirnya membuahkan hasil. Kael mencoba menguji meriam sihir barunya hari ini, tapi mereka justru meledakkan diri mereka sendiri," jelas Aslan dengan nada dingin.
Elara tertegun. "Kau sudah merencanakan ini sejak di Kota Timur?"
"Jika kau ingin merobohkan raksasa, kau harus membuat senjatanya berbalik menyerang dirinya sendiri," jawab Aslan.
[Sistem: Misi Baru Tersedia. Penyerbuan Celah Aridelle. Manfaatkan kekacauan di garis depan musuh.]
Aslan segera berbalik dan berjalan menuju tangga. "Kumpulkan semua perwira. Beritahu Si Tangan Besi untuk menyiapkan unit artileri uapnya. Kita akan bergerak ke Celah Aridelle dalam satu jam."
"Sekarang? Kita bahkan belum selesai melatih pasukan cadangan," seru Elara sambil mengejar langkah Aslan.
"Musuh sedang buta dan panik karena ledakan itu. Jika kita menunggu latihan selesai, mereka akan sempat melakukan konsolidasi," tegas Aslan.
Di lapangan utama, Si Tangan Besi sedang menguji tekanan pada palu godam barunya. Ia menoleh saat melihat Aslan datang dengan langkah cepat.
"Pangeran, mesin uap untuk artileri ringan sudah siap. Tapi kita hanya punya cukup bahan bakar untuk tiga jam pertempuran intens," lapor Si Tangan Besi.
"Tiga jam adalah waktu yang cukup jika kita menghantam titik yang tepat," balas Aslan.
Jax turun dari menara pengintai dengan meluncur menggunakan tali liana. "Pangeran, kavaleri Harimau Putih di perbatasan mulai mundur menuju kamp utama mereka. Mereka membawa banyak korban luka akibat ledakan tadi."
"Bayangan Merah, kau di sana?" panggil Aslan ke arah kegelapan di bawah tenda.
"Saya di sini, Tuan," sahut Bayangan Merah yang tiba-tiba muncul di belakang Aslan.
"Gunakan surat perintah evakuasi Baron Krow yang tersisa. Masuklah ke kamp logistik mereka dan bakar persediaan makanan mereka saat kami mulai menyerang dari depan," perintah Aslan.
"Dimengerti, Pangeran. Saya akan berangkat lebih dulu," Bayangan Merah menghilang secepat ia muncul.
Aslan menatap Elara yang kini sudah memegang hulu pedangnya dengan mantap. "Jenderal, kavaleri Serigala Perak akan menjadi tombak utama. Kita akan memecah formasi mereka saat mereka mencoba menyelamatkan meriam yang tersisa."
"Aku tidak akan membiarkan satu pun dari mereka lolos dari lembah ini," ucap Elara dengan penuh tekad.
Rombongan tempur itu mulai bergerak keluar dari markas tersembunyi. Aslan memacu kudanya di barisan paling depan, sementara sistem di matanya terus memproses koordinat musuh secara real-time.
[Sistem: Sinkronisasi Saraf 32%. Fitur 'Simulasi Pertempuran Massa' aktif. Menampilkan lintasan serangan kavaleri musuh dalam radius satu kilometer.]
Saat mereka mencapai puncak bukit yang menghadap ke Celah Aridelle, pemandangan kacau tersaji di bawah sana. Asap hitam mengepul dari meriam-meriam Kael yang hancur. Prajurit Harimau Putih terlihat berlarian mencoba memadamkan api.
"Tangan Besi, tembakkan artileri uap ke arah gudang amunisi mereka!" teriak Aslan.
Dua dentuman keras bergema saat proyektil bertenaga uap meluncur dengan akurasi yang mustahil. Ledakan besar kembali mengguncang kamp musuh, memicu reaksi berantai dari batu inti yang tersisa.
"Serang!" teriak Elara sambil memacu kudanya menuruni bukit.
Ratusan tentara Serigala Perak mengikuti di belakangnya dengan raungan yang menggetarkan tanah. Pasukan kavaleri yang biasanya bertarung demi emas, kini bergerak dengan koordinasi yang sangat rapi berkat panduan strategi Aslan.
Aslan tidak langsung turun ke tengah pertempuran. Ia memperhatikan seorang perwira tinggi musuh yang mencoba mengumpulkan kembali sisa-asisa pasukan pemanah di sisi kiri tebing.
"Jax, fokus pada perwira di sisi kiri. Jangan biarkan dia membentuk formasi pertahanan," perintah Aslan.
Jax melepaskan tiga anak panah sekaligus. Setiap anak panah mengenai targetnya dengan presisi, membuat para pemanah musuh kehilangan arah.
Aslan akhirnya memacu kudanya turun. Ia mencabut pedang panjangnya yang mulai berpendar biru akibat sinkronisasi sistem. Setiap ayunannya mematikan, menembus celah zirah musuh seolah ia tahu persis di mana titik terlemah mereka.
[Sistem: Musuh kehilangan moral sebesar 60%. Kapten musuh teridentifikasi di arah jam dua.]
Aslan melihat seorang pria dengan zirah emas yang sedang mencoba melarikan diri dengan kuda putihnya. Itu adalah salah satu komandan kepercayaan Kael yang bertugas mengawasi proyek meriam sihir.
"Kau tidak akan pergi ke mana-mana," gumam Aslan.
Ia menggunakan fitur 'Overload Fisik' singkat untuk memacu kudanya lebih cepat. Dalam sekejap, Aslan sudah berada di samping komandan tersebut. Dengan satu gerakan horizontal, ia menebas tali kekang kuda musuh hingga sang komandan terjatuh ke tanah.
Aslan turun dari kudanya dan menaruh ujung pedangnya di leher pria itu. "Berapa banyak batu inti yang dikirim Kael ke perbatasan ini?"
"Aku tidak akan bicara pada pangeran buangan sepertimu!" ludah sang komandan.
[Sistem: Mengaktifkan 'Tekanan Mental' level maksimal.]
Tatapan mata Aslan berubah menjadi biru pekat yang sangat dingin. Sang komandan merasa dadanya sesak, seolah ada beban ribuan ton yang menindihnya.
"Aku bisa membuat sistem sarafmu terbakar perlahan jika kau lebih suka cara itu," ancam Aslan dengan suara yang sangat tenang.
"Sepuluh... ada sepuluh peti lagi yang sedang dalam perjalanan menuju pelabuhan!" teriak sang komandan dengan wajah pucat karena rasa takut yang tidak bisa ia jelaskan.
"Terima kasih atas informasinya," ucap Aslan.
Ia memukul tengkuk pria itu hingga pingsan. Pertempuran di Celah Aridelle berakhir dengan kemenangan mutlak bagi Serigala Perak. Tidak ada satu pun prajurit Kael yang berhasil melarikan diri untuk membawa laporan.
Elara mendekati Aslan sambil membersihkan darah di wajahnya. "Kita menang, tapi mereka akan segera menyadari hilangnya satu komandan dan seluruh divisi perbatasan ini."
"Memang itu tujuannya. Kita ingin Kael merasa terancam tapi tidak tahu dari mana serangan itu berasal," sahut Aslan.
"Lalu apa langkah selanjutnya?" tanya Jax yang baru saja tiba.
Aslan menatap ke arah pelabuhan yang terletak jauh di garis pantai. "Sepuluh peti batu inti sedang menuju ke sana. Jika kita mendapatkan batu-batu itu, kita tidak hanya melumpuhkan militer Kael, tapi kita akan memiliki cukup energi untuk mengaktifkan kembali Benteng Inti Valerion yang sudah lama mati."
"Tapi pelabuhan itu adalah markas besar divisi angkatan laut Kael," Elara mengingatkan.
"Itulah sebabnya kita tidak akan menyerang secara terbuka," Aslan menatap satu per satu rekan timnya. "Unit Liberator akan melakukan infiltrasi. Kita akan mengambil apa yang menjadi milik kita dari dalam bayang-bayang."
[Sistem: Perencanaan Misi Selesai. Target: Operasi Bajak Laut Bayangan. Persentase keberhasilan dengan unit Liberator: 78%.]