NovelToon NovelToon
Kesayangan Tuan Muda Mafia

Kesayangan Tuan Muda Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Selingkuh / Obsesi / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Julia And'Marian

Zivaniel Maxton de Luca adalah sosok yang ditakuti dunia bawah. Di balik wajah tampannya, ia menyimpan darah dingin dan tangan yang tak pernah ragu menumpahkan nyawa. Dengan topeng penyamaran, ia membantai musuh-musuhnya tanpa ampun, menegakkan hukum versinya sendiri dalam lingkaran mafia kelas kakap yang diwariskan padanya sejak lahir.
Tak seorang pun mengetahui identitas aslinya. Bagi dunia luar, Zivaniel hanyalah pria biasa dengan aura dingin yang sulit ditembus. Namun bagi mereka yang mengenalnya di dunia gelap, namanya adalah teror—legenda yang hidup, bengis, dan tak pernah gagal.
Hingga satu nama mampu meretakkan kekokohan hatinya.
Cherrin.
Gadis yatim piatu yang tumbuh dalam kesederhanaan setelah diadopsi oleh sang nenek. Lembut, polos, dan jauh dari dunia hitam yang melingkupi hidup Zivaniel. Sejak kecil, Cherrin adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya—alasan mengapa ia masih mengenal rasa ragu, takut dan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 35

Keheningan itu tidak langsung pecah.

Ia menggantung di kamar seperti udara yang terlalu berat untuk dihirup, menempel di dinding, di tirai yang nyaris tak bergerak, di sela-sela napas Zivaniel yang masih belum sepenuhnya stabil. Cherrin duduk di sisi ranjang, satu tangannya masih memegang sendok, tangan lain dibiarkan begitu saja—digenggam oleh Zivaniel.

Genggaman itu tidak kuat.

Bahkan nyaris tidak bisa disebut pegangan.

Namun Cherrin tahu, jika ia menarik tangannya sekarang, sesuatu di dalam diri Zivaniel akan runtuh lebih dulu daripada tubuhnya.

Ia menghela napas pelan, lalu kembali menyuapi.

“Habiskan sedikit lagi,” katanya lembut. “Setelah itu kamu tidur, Niel”

Zivaniel menurut tanpa protes.

Ia makan perlahan, sesekali berhenti bukan karena kenyang, tapi karena lelah. Setiap kali ia berhenti terlalu lama, Cherrin menunggu. Tidak mendesak. Tidak menyuruh. Hanya menunggu sampai ia siap membuka mulut lagi.

Seperti menunggu seseorang yang sedang belajar bernapas ulang.

“Cherrin,” panggil Zivaniel tiba-tiba.

“Iya?”

“Kamu nggak ke sekolah?”

Sendok berhenti di udara.

Cherrin menatapnya, lalu menurunkan sendok kembali ke mangkuk.

“Nggak,” jawabnya singkat.

Zivaniel mengernyit.

“Kenapa?”

Cherrin mengangkat bahu kecil. “Aku izin.”

“Izin kenapa?”

“Karena kamu sakit.”

Zivaniel terdiam.

Ia menatap wajah Cherrin lama—terlalu lama. Matanya menyapu lingkar gelap di bawah mata gadis itu, bahu yang sedikit turun karena lelah, rambut yang diikat asal-asalan tanpa usaha untuk rapi.

“Kamu bisa ke sekolah,” katanya akhirnya. “Aku nggak apa-apa.”

Cherrin mendengus kecil.

“Kata siapa?”

“Kata aku.”

“Kata dokter beda,” jawab Cherrin cepat. “Dan kata aku juga beda.”

Zivaniel ingin membantah.

Ia benar-benar ingin.

Tapi tubuhnya terlalu lemah untuk berdebat, dan jujur saja—ada bagian kecil di dalam dirinya yang tidak ingin Cherrin pergi. Bagian yang egois. Bagian yang selama ini ia tekan terlalu dalam.

“Aku nggak mau kamu keteteran gara-gara aku, pasti kamu banyak tugas di sekolah” katanya pelan.

Cherrin menghela napas.

“Kamu nggak minta. ini keinginan aku, Niel,” katanya. “Dan aku nggak keberatan sama sekali.”

Zivaniel menutup mata sebentar.

“Sekolah kamu penting.”

“Kamu juga,” balas Cherrin tanpa ragu.

Sunyi kembali jatuh.

Cherrin menyuapi sendok terakhir, lalu meletakkan mangkuk di nampan. Ia berdiri untuk meletakkannya di meja kecil, lalu kembali duduk.

“Sekarang tidur, ya?” katanya dengan nada lembut.

Zivaniel mengangguk patuh.

Ia menggeser tubuhnya sedikit, meringis saat luka di perutnya tertarik. Cherrin langsung bangkit, tangannya sigap menahan bahu Zivaniel.

“Pelan-pelan,” katanya lagi. “Aku bilang pelan, Niel.”

Zivaniel mendengus lemah.

“Kamu galak kalau aku sakit. Dan luka ini nggak seberapa. Ini sama sekali nggak sakit”

“Karena kamu bandel,” jawab Cherrin lalu mencibir. "nggak sakit kok kamu lesu banget." ledeknya.

Ia membantu Zivaniel berbaring lebih nyaman, merapikan selimut hingga menutupi tubuh pria itu dengan rapi. Tangannya bergerak hati-hati, seperti sedang merawat sesuatu yang sangat mudah retak.

Zivaniel menatapnya dari bawah bulu mata.

“Kamu nggak capek?”

Cherrin menggeleng, meski itu setengah bohong.

“Nggak” Sahut Cherrin. “Sekarang aku mau matiin kamu istirahat dulu. Dan cepet sembuh ”

Zivaniel menghela napas panjang.

“Kalau aku tidur… kamu jangan pergi.. Ya?”

Cherrin berhenti.

Ia menatap wajah Zivaniel—wajah seseorang yang biasanya dingin, tertutup, penuh kendali. Tapi sekarang… rapuh. Terbuka. Dan sedikit manja dengan cara yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun.

“Aku di sini,” katanya pelan. “Aku nggak ke mana-mana.”

Zivaniel mengangguk, seolah itu jawaban yang ia butuhkan.

Matanya perlahan terpejam.

Napasnya mulai melambat, menjadi lebih teratur. Bahunya yang semula tegang perlahan turun, tubuhnya menyerah pada rasa kantuk yang datang bersama obat.

Cherrin tidak bergerak.

Ia tetap duduk di sana, tangannya masih berada di dekat tangan Zivaniel—tidak disentuh, tapi cukup dekat untuk diraih jika diperlukan.

Beberapa menit berlalu.

Lima.

Sepuluh.

Zivaniel benar-benar tertidur.

Cherrin baru mengizinkan dirinya bernapas lebih dalam.

Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap wajah Zivaniel yang tertidur. Wajah itu tampak lebih muda saat tidur, garis keras di rahangnya melembut, dahi yang biasanya berkerut kini tenang.

Ia hampir kehilangan ini.

Pikiran itu datang tanpa peringatan, menghantam dadanya dengan kekuatan yang membuat napasnya tercekat.

Tangannya gemetar sedikit saat ia menyentuh ujung selimut, merapikannya lagi—gerakan kecil, nyaris tak berarti, tapi penuh kebutuhan untuk memastikan.

“Aku di sini,” bisiknya pelan. “Aku beneran di sini.”

Jam dinding berdetak pelan.

Waktu berjalan, tapi terasa seperti berjalan di atas air—lambat, berat, dan sunyi.

Menjelang siang, matahari naik lebih tinggi.

Cahaya yang masuk ke kamar menjadi lebih terang, memaksa Cherrin berdiri dan menutup tirai sedikit agar tidak menyilaukan. Ia bergerak setenang mungkin, setiap langkah diperhitungkan agar tidak menimbulkan suara.

Zivaniel bergumam pelan dalam tidurnya.

Cherrin berhenti, menoleh.

“Niel?” panggilnya pelan.

Tidak ada jawaban.

Ia mendekat, duduk kembali, menatap wajah Zivaniel yang sedikit berkerut. Keringat tipis muncul di pelipisnya.

Cherrin meraih tisu, menyekanya pelan.

“Nggak apa-apa,” bisiknya. “Tidur aja.”

Ia duduk kembali, matanya mulai terasa perih.

Kepalanya berdenyut ringan—tanda kelelahan yang mulai menuntut dibayar. Tapi ia tidak bergerak. Tidak sekarang.

Ponselnya bergetar pelan di saku.

Cherrin mengeluarkannya dengan hati-hati, memastikan layar tidak menyala terlalu terang.

Pesan dari sekolah.

Ia melirik sekilas.

Bu Dewi.

|Cherrin, kamu izin hari ini?|

Ia mengetik balasan singkat.

|Iya, Bu. Ada urusan keluarga. Maaf ya Bu, besok saya janji saya akan ikut les, dan ibu boleh kasih soal saya yang banyak.| Send Bu Dewi. Guru pembina yang akan membimbing Cherrin les untuk olimpiade matematika.

Ia mematikan layar, menyimpannya kembali.

Tidak ada rasa bersalah.

Hanya lelah.

Zivaniel terbangun lagi menjelang sore.

Kali ini lebih gelisah.

Alisnya berkerut, napasnya sedikit lebih cepat. Tangannya bergerak mencari sesuatu—kosong.

Cherrin langsung bangkit.

“Niel,” panggilnya pelan. “Aku di sini.”

Zivaniel membuka mata, berkedip beberapa kali.

“Cherrin?”

“Iya.”

Ia meraih tangan pria itu, menggenggamnya lembut.

Zivaniel menghela napas lega—reaksi yang terlalu jujur untuk disembunyikan.

“Kepala aku pusing banget” katanya.

Cherrin meraih segelas air dan obat yang sudah disiapkan sebelumnya.

“Minum dulu,” katanya. “Habis itu aku bantu kamu duduk.”

Zivaniel menurut.

Ia meneguk air pelan, lalu mengembalikan gelas dengan tangan sedikit gemetar.

Cherrin membantu Zivaniel duduk setengah bersandar, menambahkan bantal lagi.

“Kamu manja,” katanya tanpa nada mengejek.

Zivaniel mendengus lemah.

“Biarin.”

Cherrin tersenyum kecil.

“Kamu lapar lagi?”

Zivaniel mengangguk.

“Sedikit.”

“Aku ambilin sup ya,” kata Cherrin. “Jangan ke mana-mana.”

Zivaniel menatapnya.

“Kali ini jangan lama.”

Cherrin menahan senyum.

“Iya, Yang Mulia.”

Ia berdiri dan keluar kamar.

Di lorong, ia berhenti sejenak.

Bahunya terasa berat.

Kakinya pegal.

Tapi ia melangkah lagi.

Karena di kamar itu, ada seseorang yang sedang belajar bertahan hidup—dan tanpa sadar, bergantung padanya.

Saat Cherrin kembali dengan sup, Zivaniel sudah setengah tertidur lagi.

Ia membangunkannya pelan.

“Makan dulu,” katanya.

Zivaniel mengerang pelan, tapi membuka mata.

“Disuapin,” katanya tanpa malu.

Cherrin menatapnya, lalu terkekeh kecil.

“Kamu keterlaluan.”

“Tanggung,” balas Zivaniel.

Cherrin menyuapi lagi.

Pelan.

Sabar.

Seolah waktu benar-benar boleh berhenti di sana.

1
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Elran cemburu melihat kedekatan Niel dengan Cerrin ..
Julia and'Marian: 🤭🤭🤭,,
total 1 replies
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
mampir otor 🙏😊
Julia and'Marian: amiin kak, makasih doanya🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!