Kehidupan Nadia Clarissa berubah drastis setelah sebuah tragedi merenggut keluarganya. Ia terpaksa berlindung di bawah atap kediaman megah milik pamannya, Bramantya Mahendra, seorang pria kaya raya yang dikenal dingin dan tak tersentuh. Namun, kemewahan itu terasa seperti penjara bawah tanah yang dilapisi emas.
Setiap malam, Nadia merasakan kehadiran Bramantya di ambang pintunya, mengawasi setiap tarikan napasnya saat ia terlelap. Ada rahasia kelam yang disembunyikan Bramantya di balik sikap protektifnya yang berlebihan. Nadia segera menyadari bahwa "tidur" di rumah ini bukanlah sebuah istirahat, melainkan awal dari permainan manipulasi psikologis di mana Bramantya memegang kendali penuh atas kesadarannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 SWMU
Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden beludru kamar utama, menyinari debu-debu halus yang menari di udara. Bramantya terbangun lebih dulu. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia tidak terbangun karena mimpi buruk atau rasa waspada yang berlebihan. Ia terbangun karena kehangatan tubuh Nadia yang masih meringkuk di dalam pelukannya.
Bramantya memperhatikan wajah Nadia saat tertidur. Tampak begitu polos, seolah tidak ada rencana gelap yang sedang disusun di balik kening yang cantik itu. Ia mengusap helai rambut Nadia yang menutupi pipi, membuat gadis itu mulai mengerjap pelan.
"Pagi, Sayang," bisik Bramantya, suaranya parau khas orang bangun tidur, namun terdengar sangat lembut.
Nadia membuka matanya sepenuhnya, menatap Bramantya dengan tatapan yang sengaja dibuat layu dan penuh kasih. Ia tidak langsung menjawab, melainkan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Bramantya.
"Pagi, Paman... Apa aku masih bermimpi?" gumam Nadia, suaranya teredam.
Bramantya terkekeh rendah, sebuah suara yang jarang sekali terdengar. Ia mengeratkan pelukannya. "Jika ini mimpi, aku tidak akan membiarkan kita berdua bangun."
Nadia mendongak, jemarinya merayap di dada bidang Bramantya, melacak garis-garis otot yang kini tampak lebih rileks. "Paman terlihat berbeda pagi ini. Tidak ada kerutan di dahi, tidak ada tatapan tajam yang menakutkan."
"Itu karena kau, Nadia. Kau benar-benar meracuniku dengan cara yang paling manis semalam," balas Bramantya sembari mengecup puncak kepala Nadia.
Nadia tersenyum manja, ia bangkit sedikit hingga wajah mereka sejajar. "Hanya semalam? Jadi pagi ini pengaruh racunnya sudah hilang?"
"Jangan memancingku, Nadia," Bramantya menarik pinggang Nadia agar semakin merapat. "Kau tahu aku bisa membatalkan semua jadwal rapatku hanya untuk tetap berada di tempat tidur ini bersamamu."
Nadia tertawa kecil, suara tawa yang terdengar seperti melodi indah di telinga Bramantya. "Paman adalah pria yang paling sibuk yang aku kenal. Mana mungkin seorang Bramantya Mahendra menyerah pada seorang gadis kecil sepertiku?"
Bramantya terdiam sejenak, menatap mata Nadia dengan intensitas yang dalam. "Kau bukan sekadar 'gadis kecil', Nadia. Kau adalah satu-satunya orang yang bisa membuatku merasa... manusiawi kembali. Yudhistira, bisnis, ancaman itu... semuanya terasa jauh saat aku bersamamu."
Nadia menyentuh bibir Bramantya dengan ibu jarinya. "Kalau begitu, tetaplah seperti ini sebentar saja. Jangan bicarakan mereka. Jangan bicarakan dermaga, jangan bicarakan ponsel itu. Hanya ada kita."
"Hanya ada kita," Bramantya mengulangi kalimat itu seperti sebuah janji suci. Ia kemudian membalikkan posisi, kini berada di atas Nadia, menumpu berat tubuhnya dengan kedua tangan di sisi kepala Nadia.
"Nadia," panggilnya lembut.
"Ya, Paman?"
"Jika suatu saat nanti semuanya menjadi sangat sulit... apa kau akan tetap berada di sisiku? Bukan karena terpaksa, tapi karena kau memang menginginkannya?"
Pertanyaan itu membuat jantung Nadia berdegup kencang, bukan karena cinta, melainkan karena ia menyadari betapa dalam Bramantya telah jatuh ke dalam perangkapnya. Namun, ia dengan cepat menyusun ekspresi wajah yang paling meyakinkan. Matanya berkaca-kaca, penuh dengan kepalsuan yang indah.
"Paman adalah duniaku sekarang," bisik Nadia dengan nada bergetar yang dramatis. "Setelah semua yang terjadi, ke mana lagi aku harus pergi? Paman adalah pelindungku, sekaligus tempatku pulang."
Bramantya merasa hatinya penuh. Ia mencium kening Nadia dengan penuh rasa hormat, sebuah gestur yang jauh lebih romantis daripada gairah semalam. "Aku akan menjagamu dengan nyawaku. Siapa pun yang berani menyentuhmu, atau bahkan hanya menyinggung nama ibumu, akan aku hancurkan sampai tak bersisa."
Nadia menarik kerah kemeja tidur yang dikenakan Bramantya, membawanya turun untuk sebuah ciuman pagi yang panjang dan lembut. Ciuman yang tidak lagi diburu amarah, melainkan penuh dengan manipulasi rasa yang membuat Bramantya benar-benar kehilangan logika bisnisnya hari itu.
"Aku mencintaimu, Nadia," bisik Bramantya di sela ciuman mereka.
Nadia membeku sejenak. Kata itu adalah senjata terakhir yang ia butuhkan. "Aku tahu, Paman. Aku juga... merasa sangat aman bersamamu."
Nadia tidak membalas kata 'cinta' itu, tapi bagi Bramantya yang sedang mabuk asmara, jawaban Nadia sudah lebih dari cukup. Ia tidak menyadari bahwa di balik pelukan hangat itu, Nadia sedang menghitung jam menuju kehancuran yang telah ia siapkan di dermaga utara.
"Ayo, mandi bersamaku?" ajak Bramantya dengan senyum menggoda.
Nadia tersenyum lebar, memamerkan deretan giginya yang rapi. "Tentu, Paman. Apapun yang Paman inginkan pagi ini."