NovelToon NovelToon
Malam Terlarang Dengan Om Asing

Malam Terlarang Dengan Om Asing

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cinta Beda Dunia / One Night Stand / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nofiya Hayati

Senja terpaku saat matanya menangkap pacar dan sahabatnya bercumbu di balik semak hutan. Dengan langkah terpukul ia pergi menjauh hingga tersesat. Namun, sosok Sagara muncul, membelah kabut tebal seolah ditakdirkan menemuinya.
.
.
.
Senja mengerang pelan, refleks mendekat, menempel seperti magnet. Tangannya meraba, mencari sesuatu yang hangat. Jari-jarinya mencengkeram punggung kokoh Sagara. Napas mereka saling bercampur, tidak teratur, dan berat.

"Om…" Senja berbisik. Suaranya rapuh. "Aku dingin…"

"Aku di sini," jawab Sagara serak. "Tahan sedikit lagi."

Mereka tidak saling kenal, keduanya masih asing. Namun, malam itu... keduanya berbagi kehangatan di tengah hutan berselimut kabut tebal.

Satu malam mengubah hidup Senja.
Bukan karena cinta, melainkan karena kesalahan yang membuatnya kehilangan rumah, keluarga, dan tempat berpulang.

Sagara menikahinya bukan untuk memiliki. Ia hanya ingin bertanggung jawab… lalu pergi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17

Sagara baru saja memutar badan hendak kembali ke ruang tamu ketika sebuah suara kecil terdengar dari dalam kamar Senja.

“Ah—!”

Bukan teriakan keras. Lebih seperti pekikan refleks yang tertahan. Tapi cukup membuat langkah Sagara berhenti seketika.

Ia langsung membuka pintu. Senja berdiri di dekat meja rias, satu tangannya berpegangan pada sandaran kursi, satu kakinya sedikit terangkat karena baru saja tersandung karpet. Sebelah sandalnya terlepas. Wajahnya pucat setengah terkejut, setengah malu karena ketahuan.

Sagara mendekat dua langkah cepat. Tidak panik, tapi sigap. “Ada apa?”

“Aku… hampir jatuh,” jawab Senja pelan.

Sagara meraih pergelangan tangan kurus Senja, ringan tapi pasti. Bukan menarik, hanya memastikan tubuh Senja seimbang. Sentuhannya singkat, profesional, seperti seseorang yang terbiasa menjaga jarak namun tidak abai.

“Duduk,” katanya pendek.

Senja menurut. Ia duduk di tepi ranjang, masih menunduk. Rambutnya sedikit berantakan karena gerakan tadi.

Sagara meraih sebelah sandal yang terselip di bawah karpet, lalu dipakaikan kembali di kaki Senja. “Kepala pusing?” tanya Sagara.

“Sedikit… aku jalan terlalu cepat.”

Sagara mengangguk kecil. “Kamu tidak perlu tergesa-gesa.”

Senja menggigit bibirnya, malu. “Aku ceroboh.”

Sagara mengambil bantal tambahan dari ujung ranjang dan menyelipkannya di punggung Senja agar ia bersandar lebih nyaman. Gerakannya sederhana, tidak berlebihan, tapi penuh perhatian.

“Sekarang?” tanyanya singkat.

“Lebih enak,” jawab Senja jujur.

Hening turun menyelimuti. Bukan canggung yang berat, hanya keheningan dua orang yang sama-sama sedang belajar menyesuaikan diri.

Sagara melangkah mundur setengah langkah, menjaga jarak. “Kamu harus lebih pelan. Tubuhmu belum sepenuhnya stabil.”

“Iya, Om.”

Nada Senja masih polos, masih seperti anak yang mengakui kesalahan kecilnya.

Beberapa detik berlalu, lalu Senja berkata pelan.

“Terima kasih...”

Sagara mengangguk. “Itu kewajibanku," ucapnya datar. Tapi caranya menatap Senja memastikan ia baik-baik saja, jauh lebih lembut daripada ucapannya.

Senja tersenyum kecil. “Om selalu bilang itu kewajiban… tapi caranya seperti perhatian.”

Sagara terdiam sepersekian detik. “Itu hal yang sama.”

Senja tidak membantah. Ia hanya menunduk lagi, senyumnya sedikit lebih hangat.

Sagara berbalik hendak keluar. “Beristirahatlah. Kalau mau berdiri, panggil Bibi atau aku.”

Senja mengangguk. “Iya.”

Saat pintu hampir tertutup, Senja tiba-tiba bersuara lagi, kecil, nyaris ragu. “Om…”

Sagara menoleh.

“Terima kasih… karena tidak membuatku merasa merepotkan.”

Sagara menatapnya sejenak, lalu berkata pelan. “Kamu tidak pernah merepotkan. Kamu hanya sedang dijaga.”

Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat Senja terdiam, lalu tersenyum kecil dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.

Sagara menutup pintu perlahan. Di lorong, langkahnya kembali tenang seperti biasa. Namun, di dalam dadanya, ada sesuatu yang terasa lebih hangat dari sebelumnya. Bukan karena momen besar. Hanya karena ia sempat menahan seseorang agar tidak jatuh.

Di sudut lainnya...

Tiga hari sejak Senja pergi, rumah kecil beratap seng itu tidak menjadi lebih tenang. Justru terasa lebih berisik, lebih kusut, dan penuh keluhan.

Winarti duduk di lantai dekat meja kecil, memandangi buku arisan. Keningnya berkerut, bibirnya mengatup rapat.

“Besok arisan,” katanya ketus. “Kalau aku tidak setor, malu aku.”

Pandi yang sedang duduk di kursi bambu hanya menggerakkan kaki, malas. Mulutnya terasa kecut karena belum merokok sejak pagi.

“Ya sudah, tidak usah datang,” katanya singkat.

“Bilang saja kalau kamu tidak peduli. Giliran arisan putus aja, baru semangat minta bagian,” sahut Ibu tajam.

Bapak mendecak. "Aku cuma minta bagian hakku. Wajar."

Decakan Winarti tak kalah keras. "Hak dari Hongkong! Bapak nggak pernah bantu bayar juga."

"Aku pernah bantu," sanggah Pandi.

"Heleh, cuma bantu bayar sekali. Setelah itupun minta ganti dua kali lipat."

"Ya 'kan tahu sendiri aku baru kena PHK."

"Bukan baru lagi, Pak. Kamu udah setahun nganggur. Betah amat perasaan. Kerja apa gitu kek."

"Nyari kerjaan itu nggak mudah."

“Semua ini juga gara-gara Senja. Kalau dia tidak bikin malu, kita tidak begini," cerocos Winarti. Nama putrinya itu disebut dengan nada kesal, bukan rindu, bukan khawatir.

Dari kamar, Riyan keluar dengan wajah masam. “Bu, uang sakuku? Teman-teman pada ngajak ke warnet.”

Ibu langsung menoleh dengan napas berat. “Uang lagi, uang lagi. Dari mana, hah? Kakakmu itu sudah bikin susah, kamu malah nambah.”

Riyan menggerutu. “Biasanya Kak Senja ngasih.”

“Makanya,” potong Ibu cepat. “Kalau dia tidak hamil, tidak bikin aib, sekarang semua masih beres.”

Bapak menyambar, malas tapi menyebalkan, “Perempuan memang begitu. Dikasih bebas sedikit, langsung lupa diri.”

"Serasa sia-sia aku ngelahirin dia."

Tidak ada empati di sana sebagai keluarga. Tidak ada rasa bersalah apalagi intropeksi diri. Yang ada hanya penilaian sepihak.

Tiba-tiba Winarti teringat sesuatu. Ia beranjak menuju kamar, membuka laci dan menemukan kertas angsuran motor. “Ini belum dibayar,” katanya dengan nada panik bercampur marah.

Bapak melirik sebentar. "Bayar besok saja," ucapnya enteng, tidak ada usaha, terlalu malas sebagai seseorang yang disebut kepala keluarga.

"Kamu, usahain dong, Pak! Ini sudah telat sehari masa harus nunggu besok? Nambah banyak dendanya nanti! Takutnya motor dirampas debjolektor," seru Winarti, lalu terduduk lemas di lantai.

“Biasanya juga Senja yang urus.” Lagi-lagi Pandi bersikap terlampau santai.

Winarti menepuk keras lantai. “Ya makanya! Kenapa dia harus hamil? Kenapa dia tidak mikir? Kalau dia masih di sini, uang itu pasti sudah ada!”

Riyan ikut menyela, ketus. “Enak saja dia main pergi. Yang susah kita semua.”

Pandi menambahkan, tanpa menoleh. “Dia yang bikin masalah, dia yang lari. Tipikal.” Kalimatnya jatuh ke lantai seperti lumpur. Kotor dan kejam.

Ibu menghela napas kasar. “Coba saja dia tidak berulah. Kita ini keluarga baik-baik. Sekarang orang-orang pasti sudah ngomongin kita.”

Pandi mengangguk pelan.

“Nama baik hancur gara-gara satu anak.”

Tidak ada yang bertanya bagaimana keadaan Senja. Tidak ada yang bertanya apakah ia aman. Tidak ada yang bertanya apakah ia sakit, lapar, atau takut.

Yang ada hanya satu kesimpulan yang mereka sepakati tanpa suara, bahwa semua kesulitan ini salah Senja.

Riyan duduk bersandar, bersedekap. “Kalau dia pulang pun, percuma. Masalahnya dia hamil, pasti nggak bisa kerja, uang nggak ada.”

Ibu mendengus. “Dan jangan harap aku lembut lagi. Anak seperti itu harus dikerasin. Biar kapok.”

Bapak akhirnya berdiri, meraih jaketnya.

“Mau ke warung. Cari rokok. Pinjam dulu sama tetangga.”

“Pinjam lagi?” tanya Ibu sinis.

“Daripada tidak merokok,” jawabnya datar, seolah itu lebih penting dari apa pun. Ia melangkah keluar tanpa menoleh.

Rumah itu kembali dipenuhi dengusan kesal dan keluhan kecil yang tak pernah selesai. Di sana, Senja bukan dirindukan. Ia dijadikan kambing hitam. Sebagai alasan atas semua kekurangan, kemalasan, dan kegagalan mereka sendiri.

Bersambung~~

1
Ayuwidia
Wkkkk, mewakili gueeee. Makasih, Mak
Ayuwidia
Aku penasaran, kenapa Winarti dan Pandi bisa setega itu memperlakukan Senja. Beda banget sama perhatian mereka ke Rian 🤔
Ayuwidia
Baru diakui. Telat, terlambat!!!!
Ayuwidia
Ealah, adek nggak ada akhlak. Kok bisa, Senja punya adek semenyebalkan gini. Hidup lagi
Ayuwidia
Salah sendiri. Terlalu jumawa, sombong
Ayuwidia
Winarti serasa ditampar keras. Dan aku, tersenyum membayangkan wajahnya
Ayuwidia
Alhamdulillah, ikut senang. Semoga sakinah, mawadah, warahmah 🥰
Ayuwidia
Meski sederhana, tapi tulus dari dalam hati 🥰
NA_SaRi
kok bru diakui ya mak
NA_SaRi
lambene😩
NA_SaRi
klo Pengen dihormati, belajarnya caranya menghargai bapak🙃
NA_SaRi
Alhamdulillah 😍
NA_SaRi
netizen ya awooooohhh jempolnya kebangetan, bibirnya semoga kepedesan😩
NA_SaRi
betul, aku prnh mengalaminya
NA_SaRi
gengsi ga usah ditinggiin Napa mak😩
NA_SaRi
dari bab ini aku belajar bahwa ilmu tenang itu mahal, bahkan ga bisa dibeli dgn uang, membuat karakter seseorang jd elegan tanpa harus meninggi, aku harus banyak belajar dr om sagara
Ayuwidia
Kalimat penutup yg sangat mewakili orang2 sefrekuensi dgn Senja, keren 👍🏻
Ayuwidia
Ini selalu berlaku di kampung/ kompleks. Apalagi klw dihuni emak2 yang demen banget gibah. Ibarat kata, nggak gibah--nggak hidup
Nofi Kahza: iya, kalau nggak ada bahan gibah hidup mereka kurang seru..
total 1 replies
Ayuwidia
Part ini pasti ada yang menginspirasi
Nofi Kahza: hush! diem.
total 1 replies
Ayuwidia
Pfttttt jatuhnya pingin ngakak
Nofi Kahza: kampungnya ngampung banget🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!