*"Di dalam kedalaman tanah yang menyelimuti kota Manado, ada sebuah ruang bawah tanah yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang telah 'dipanggil'. Lima belas wanita berjubah hitam berdiri melingkari lingkaran cahaya emas yang bersinar seperti darah yang baru saja mengering. Setiap malam, mereka menyanyikan doa yang tak dikenal manusia, memanggil sesuatu yang seharusnya tetap tertidur di dalam kegelapan.
Sevira, seorang dokter muda yang baru saja pindah ke Manado untuk mengobati warga miskin, tidak menyadari bahwa rumah yang dia sewa dulunya adalah bagian dari kompleks gereja kuno itu. Saat dia mulai menemukan jejak-jejak aneh – kain hitam yang tersangkut di pagar, suara nyanyian yang terdengar di malam hari, dan wajah-wajah menyakitkan yang muncul di cermin saat malam hujan – dia terjerumus ke dalam rahasia yang telah menyiksa keluarga keluarganya selama berabad-abad.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMARIN MALAM SEBELUM PURNAMA
Ayahku melompat ke dalam lingkaran dengan cepat, menendang ember tanah liat merah yang kudapatkan dari Bu Siti. Tanah merah itu menyebar ke seluruh lantai seperti darah yang mengering, dan aroma yang menyengat membuat sebagian wanita berjubah hitam menunduk kesakitan.
“Jangan mendekati dia!” teriak ayahku menunjuk padaku, matanya penuh dengan ketakutan dan kemarahan. “Mereka akan menggunakan dirinya untuk membuka pintu sepenuhnya bukan untuk menyelamatkan desa, tapi untuk menghancurkannya!”
Saat dia berteriak, pria-pria dengan senapan itu mulai mendekat. Kapten Hasan segera menembak ke arah langit untuk mengingatkan mereka, tapi mereka tidak peduli. Aku melihat salah satu dari mereka menarik pelatuknya ke arah wanita berjubah hitam yang paling depan dan sebelum aku bisa berbuat apa-apa, ada ledakan yang keras yang membuat tanah bergetar hebat.
Wanita itu jatuh ke tanah, darah merah pekat mengalir dari dadanya. Tapi kemudian sesuatu yang tak terduga terjadi tubuhnya mulai menyala dengan cahaya emas yang terang, dan dia menghilang dengan cepat seperti lilin yang padam. Dari tempat dia jatuh, muncul sehelai kain hitam yang baru saja dilepas dari tubuhnya, dengan tulisan darah: “Jangan biarkan mereka merusak ritual. Semua bergantung padamu.”
Kita mundur ke dalam rumah dengan cepat, menutup pintu dan mengunci semua jendela. Suara tembakan masih terdengar dari luar, bersama dengan suara wanita berjubah hitam yang sedang menyanyi dengan lebih keras dari sebelumnya. Aku bisa merasakan bahwa kekuatan mereka semakin kuat dengan setiap detik yang berlalu.
“Ayahku benar-benar ada di luar sana,” bisikku dengan suara yang gemetar, menempelkan wajahku pada kaca jendela untuk melihat ke luar. “Kenapa dia melakukan ini? Kenapa dia ingin mengganggu ritual?”
Kapten Hasan mendekati aku dan menempatkan tangannya di bahuku. “Aku tidak tahu,” katanya dengan lembut. “Tapi pasti ada alasan di balik semua ini. Mungkin dia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.”
Saat kita berbicara, ada suara mengetuk pintu yang lembut tapi terus-menerus. Ketuk… ketuk… ketuk… Suaranya datang dari pintu belakang yang menghadap ke halaman belakang. Aku merasakan kalung di leherku mulai bersinar dengan sangat terang, dan buku sejarah yang kudapatkan dari perpustakaan mulai bergetar di atas meja.
Aku mendekati pintu belakang dengan hati-hati dan membukanya sedikit. Di luar berdiri ayahku, wajahnya penuh dengan kesedihan dan darah yang menetes dari dahinya. “Sevira, tolong… dengarkan aku dulu,” katanya dengan suara yang lemah. “Aku tidak ingin menyakitimu. Aku hanya ingin melindungimu.”
Aku membuka pintu lebih lebar dan membiarkannya masuk. Kapten Hasan siap dengan senapannya tapi tidak menembak. Ayahku duduk di kursi tua dan menarik nafas dalam-dalam sebelum mulai berbicara.
“Ketika ibumu masih hidup, kita berdua mencoba mencari cara untuk menghindari ritual,” katanya dengan mata yang penuh air mata. “Kita tidak ingin kamu harus menjalani hidup yang sama seperti kita penuh dengan ketakutan dan pengorbanan. Jadi aku pergi untuk mencari cara untuk memutus perjanjian tanpa harus ada korban.”
Dia menjelaskan bahwa dia menemukan sekelompok orang yang mengklaim bisa membantu dia mereka mengatakan bahwa mereka bisa menghancurkan yang ada di bawah tanah dan membebaskan desa dari kutukan selamanya. Tapi setelah bekerja dengan mereka selama bertahun-tahun, dia menyadari bahwa mereka sebenarnya ingin menggunakan kekuatan dari bawah tanah untuk menguasai desa dan daerah sekitarnya.
“Saya mencoba untuk keluar dari kelompok itu tapi tidak bisa,” lanjutnya menangis. “Mereka mengikat saya dengan janji bahwa mereka akan membunuhmu jika saya tidak melakukan apa yang mereka katakan. Saya tidak punya pilihan lain selain mengikuti perintah mereka.”
Aku meraih tangannya dengan lembut. “Aku mengerti, Ayah,” kataku dengan suara yang penuh cinta. “Aku tahu kamu melakukan semua ini karena kamu mencintaiku. Dan sekarang kita bisa menyelesaikannya bersama kita bisa menunjukkan pada mereka bahwa ada cara yang lebih baik daripada kekerasan dan kekuasaan.”
Ayahku melihat ke arahku dengan mata yang penuh harapan. “Benarkah? Apakah masih ada harapan untuk kita semua?”
“Ya,” jawabku dengan tegas. “Malam esok kita akan melakukan ritual. Dan kamu bisa membantu kami kamu bisa membuktikan bahwa cinta lebih kuat dari kekuatan apapun.”
Saat kita berbicara, ada suara gemuruh yang sangat kuat dari luar rumah. Kita berlari ke jendela dan melihat bahwa tanah di halaman belakang sudah terbuka lebar membentuk lubang besar yang dalam sekali. Dari dalamnya keluar cahaya merah dan emas yang menyilaukan, dan suara orang berteriak dan merayakan terdengar dengan sangat jelas.
“Mereka telah membuka sebagian pintu!” teriak Bu Siti yang tiba-tiba muncul di depan jendela. Wajahnya sudah penuh dengan bekas luka tapi matanya tetap menyala dengan semangat. “Mereka tidak sabar menunggu malam esok! Kita harus bergerak sekarang jika kita ingin menghentikannya!”
Kita segera keluar dari rumah, membawa semua yang kita butuhkan buku sejarah, kain hitam, dan kalung Batu Hati Desa. Di halaman belakang, pria-pria dengan senapan itu sedang berdiri di sekitar lubang besar, dengan wajah yang penuh kegembiraan. Di tengah mereka ada seorang pria yang mengenakan jas hitam dengan simbol yang sama dengan yang kita kenal di dahinya.
“Kamu terlalu terlambat, Sevira,” katanya dengan suara yang menakutkan. “Pintu sudah terbuka, dan kekuatan dari bawah tanah akan segera menjadi milik kita. Desa ini akan menjadi milik kita!”
Saat dia berbicara, makhluk besar mulai muncul dari dalam lubang tubuhnya panjang seperti ular dengan kulit yang bersinar seperti logam hitam. Dari mulutnya keluar asap hitam yang membuat semua orang yang menghirupnya mulai batuk dan terjatuh ke tanah.
Ayahku segera berdiri di depan ku, siap melindungiku. “Jangan sentuh dia!” teriaknya ke arah pria itu. “Aku akan melakukan apa saja untuk melindungi anak ku!”
Pria itu hanya tersenyum dan mengangkat tangannya ke atas langit. Makhluk besar itu mulai bergerak ke arah kita dengan cepat, matanya merah menyala seperti bara api. Aku bisa merasakan bahwa tanah di bawah kaki kita mulai retak dan bergetar hebat seolah seluruh desa akan roboh kapan saja.
Kita berdiri bersama-sama aku, ayahku, Kapten Hasan, dan wanita berjubah hitam yang tersisa siap menghadapi makhluk besar itu. Kalung di leherku mulai bersinar dengan sangat terang, dan buku sejarah yang kudapatkan mulai mengeluarkan suara nyanyian yang indah.
“Waktunya sudah tiba, Sevira,” ujar nenekku yang muncul di sisiku. “Kamu harus melakukan ritual sekarang bahkan sebelum bulan purnama mencapai titik tertingginya. Ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan semua orang!”
Aku mengambil tanah liat merah yang tersisa dari lantai dan membuat simbol di dahiku dengan cepat. Kemudian aku berdiri di tengah lingkaran yang sudah rusak dan mulai mengucapkan kata-kata ritual yang kudapatkan dari buku sejarah. Suaraku terdengar jelas dan kuat di tengah kekacauan yang terjadi di sekitar kita.
Makhluk besar itu berhenti bergerak dan mulai melihat ke arahku dengan mata yang penuh rasa heran. Dan dari dalam lubang besar itu, aku bisa melihat wajah-wajah orang yang sudah hilang termasuk ibu ku dan leluhur Kapten Hasan mereka sedang menatapku dengan harapan yang dalam.
Malam esok seharusnya adalah waktunya. Tapi sekarang, aku harus melakukan ritualnya jauh sebelum waktunya. Dan aku tidak tahu apakah aku akan berhasil atau tidak.