Lin Feng, pendekar tampan berilmu tinggi, menjadi buronan kekaisaran setelah difitnah membunuh seorang pejabat oleh Menteri Wei Zhong. Padahal, pembunuhan itu dilakukan Wei Zhong untuk melenyapkan bukti korupsi besar miliknya. Menjadi kambing hitam dalam konspirasi politik, Lin Feng melarikan diri melintasi samudra hingga ke jantung Kerajaan Majapahit.
Di tanah Jawa, Lin Feng berusaha menyembunyikan identitasnya di bawah bayang-bayang kejayaan Wilwatikta. Namun, kaki tangan Wei Zhong terus memburunya hingga ke Nusantara. Kini, sang "Pedang Pualam" harus bertarung di negeri asing, memadukan ilmu pedang timur dengan kearifan lokal demi membersihkan namanya dan menuntut keadilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perburuan tujuh pedang naga part 13
Di sore yang tenang di Trowulan, seekor elang putih dengan ikat kain merah di kakinya menembus awan dan mendarat tepat di hadapan Lin Feng. Dengan tangan gemetar, Lin Feng membaca surat dari Guru Lu. Isinya singkat namun sangat mendesak: “Langit Tiongkok sedang mendung. Serigala hitam telah mencium aroma Shenlong. Datanglah sebelum gerhana, atau rahasia ini akan musnah selamanya.”
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Lin Feng bergegas menemui Mahapatih Gajah Mada untuk meminta izin berangkat. Dyah Ayu Kirana yang mendengar kabar itu langsung berdiri di samping Lin Feng. "Aku ikut. Pedang putihku tidak akan membiarkan Naga Bumi berjuang sendirian di negeri jauh," tegasnya.
Setelah menempuh pelayaran panjang yang melelahkan, mereka akhirnya mendaki tangga batu menuju puncak Gunung Huashan. Di gerbang utama kuil yang sakral, mereka disambut oleh para biksu pejuang dan tiga pendekar legendaris penjaga kuil.
Di dalam aula utama yang harum oleh dupa, Guru Lu duduk menanti. Lin Feng langsung bersujud di hadapan gurunya, sementara Kirana memberikan penghormatan dengan keanggunan seorang pendekar Majapahit.
"Guru, kami datang secepat yang kami bisa," ucap Lin Feng dengan napas masih tersengal.
Lin Feng kemudian menceritakan semua yang terjadi: tentang jatuhnya Excalibur, kebangkitan organisasi The Sovereigns of the Dragon, hingga pertemuannya dengan Sang Hyang Antaboga di alam sukma. Guru Lu mendengarkan dengan saksama, sesekali matanya melirik ke arah Kirana yang berdiri di samping Lin Feng.
Setelah suasana tegang mereda sejenak, Wang Bao, si raksasa pemilik gada besar, tiba-tiba tertawa menggelegar hingga debu di langit-langit kuil berjatuhan. Ia melangkah maju, merangkul bahu Lin Feng dengan tangan besarnya yang berat, lalu menariknya menjauh sedikit dari kerumunan.
"Wah, wah, Lin Feng muridku yang cerdas!" bisik si Adik Kedua namun suaranya tetap terdengar ke seluruh ruangan. "Pantas saja kau betah sekali merantau ke Selatan. Rupanya di sana kau tidak hanya belajar silat, tapi juga belajar memikat hati bidadari!"
Ia melirik Kirana yang cantik jelita dengan tubuh yang sangat proporsional, lalu menyenggol lengan Lin Feng dengan nakal. "Lihatlah dirimu, wajahmu merah seperti kepiting rebus! Katakan padaku, ini kekasih barumu, kan? Kecantikannya benar-benar bisa membuat naga langit sekalipun turun dari awan hanya untuk mengintip!"
Chen Hu yang memegang toya ikut terkekeh sambil menggelengkan kepala. "Lin Feng, kau pergi membawa pedang naga, tapi pulang membawa permata yang jauh lebih indah. Sepertinya kau sudah menemukan 'sarung' yang pas untuk pedangmu itu."
Wajah Lin Feng seketika merah padam hingga ke leher. Ia mencoba menjelaskan dengan gugup, "Senior... ini... ini Dyah Ayu Kirana, dia adalah pendekar aliran putih yang membantu saya menghadapi ninja di Majapahit. Dia rekan seperjuangan!"
Kirana yang mendengar itu hanya tersenyum tipis, matanya berkilat nakal menatap Lin Feng yang sedang salah tingkah, menambah suasana hangat di tengah ancaman perang yang mengintai kuil suci tersebut.
Setelah suasana hangat sesaat itu berlalu, wajah Guru Lu kembali serius. Beliau memberi isyarat dengan tangannya agar Chen Hu, Wang Bao, Lin Feng, dan Kirana mengikutinya menuju bagian paling belakang kuil, di mana terdapat sebuah patung naga raksasa yang terukir dari batu giok hitam.
"Waktu kita tidak banyak," ucap Guru Lu sambil menekan salah satu sisik pada patung tersebut.
Tiba-tiba, lantai batu di bawah patung itu bergeser, menyingkap sebuah tangga melingkar yang menuju jauh ke bawah tanah, tepat ke jantung Gunung Huashan.
Udara di bawah sana terasa sangat dingin namun murni, dipenuhi dengan energi Qi yang sangat padat. Mereka sampai di sebuah aula bundar yang dikelilingi oleh air terjun bawah tanah. Di tengah-tengah aula, melayang sebuah pedang yang terbungkus oleh rantai-rantai cahaya biru yang berpendar.
Itulah Pedang Naga Langit
Berbeda dengan Pedang Naga Bumi milik Lin Feng yang memancarkan aura merah membara dan berat, pedang ini tampak bening seperti kristal, memancarkan aura putih kebiruan yang sangat tenang namun terasa sangat tajam, seolah bisa membelah awan.
"Ini adalah segel Sembilan Langit," jelas Guru Lu. "Pedang ini tidak bisa diambil oleh sembarang orang. Hanya mereka yang memiliki kemurnian hati dan restu dari Naga Bumi yang bisa menyentuhnya tanpa terbakar oleh petir surgawi."
Lin Feng melangkah maju, merasakan getaran hebat pada pedang di punggungnya. Pedang Naga Bumi miliknya mulai bergetar dan mengeluarkan suara berdenging rendah, seolah sedang menyapa saudaranya yang telah lama terpisah.
Tepat saat Lin Feng ingin bertanya lebih lanjut, seluruh ruangan bawah tanah itu berguncang hebat. Suara ledakan terdengar dari permukaan, diikuti oleh teriakan peringatan dari para biksu di atas.
"Mereka sudah sampai di gerbang dalam!" seru Wang Bao sambil menghantamkan gadanya ke telapak tangan. "Sial, bagaimana mereka bisa menembus pertahanan luar secepat ini?"
"Pengkhianatan..." gumam Chen Hu sambil menggenggam toyanya erat-erat. "Seseorang telah membuka jalan bagi mereka."
Guru Lu menatap Lin Feng dan Kirana dengan tajam. "Lin Feng, tetaplah di sini dan jaga segel ini. Kirana, aku butuh bantuanmu untuk melindungi pintu masuk ini bersama Wang Bao. Chen Hu, ikut aku ke permukaan! Kita harus menahan mereka sebelum pemimpin mereka turun ke sini."
Kirana mengangguk mantap, wajah cantiknya kini berubah menjadi dingin dan penuh konsentrasi. "Jangan khawatir, Master. Tidak akan ada yang melewati pintu ini selama pedangku masih terhunus."
Saat Guru Lu dan Chen Hu melesat kembali ke atas, terdengar suara tawa dingin yang menggema di seluruh lorong bawah tanah. Itu adalah suara yang sangat dikenal Lin Feng—suara Sang Pemimpin Agung The Sovereigns of the Dragon.
"Lin Feng... murid yang tersesat," suara itu seolah berasal dari segala arah. "Terima kasih telah membukakan jalan menuju jantung Huashan untukku."
Lantai batu di ruang bawah tanah itu terus bergetar hebat seiring dengan suara dentuman dari permukaan yang semakin mendekat. Guru Lu dan Chen Hu telah melesat ke atas, meninggalkan Lin Feng, Kirana, dan si raksasa Wang Bao di ruang segel yang sakral itu.
Wang Bao berdiri tegak di depan lorong masuk, kakinya yang besar berpijak kokoh menghancurkan sedikit ubin batu. Ia menghantamkan gada berduri raksasanya ke lantai hingga menciptakan percikan api.
"Nimas Kirana," ujar Wang Bao dengan suara berat, "Tetaplah di belakang jangkauan gadaku. Aku akan menghantam siapa pun yang mencoba masuk, dan kau habisi mereka yang berhasil menghindar. Jangan biarkan satu kecoa pun menyentuh Lin Feng!"
Dyah Ayu Kirana mengangguk, pedang putihnya terhunus dengan anggun. Tubuhnya yang sempurna tampak lentur seperti busur yang siap melepaskan anak panah. "Mengerti, Senior Wang Bao. Pintu ini adalah garis kematian mereka."
Di tengah aula, Lin Feng duduk bersila di depan Pedang Naga Langit yang melayang. Ia harus melakukan meditasi Sinergi Dua Naga agar Pedang Naga Bumi di punggungnya tidak bergejolak liar akibat resonansi energi yang terlalu kuat. Keringat dingin mengucur di pelipisnya; ia berada dalam posisi paling rentan karena seluruh energinya terpusat pada segel.
Tiba-tiba, dari kegelapan lorong, meluncur puluhan shuriken beracun yang berpendar hijau. Wang Bao memutar gadanya dengan kecepatan luar biasa, menciptakan tameng angin yang mementalkan semua senjata rahasia itu.
"KELUAR KALIAN TIKUS-TIKUS HITAM!" raung Wang Bao.
Sekelompok ninja elit berpakaian zirah sisik ular—pasukan khusus The Sovereigns of the Dragon—merayap di dinding dan langit-langit gua. Mereka bergerak tanpa suara, menyerbu masuk dengan pedang pendek yang melengkung.
Wang Bao mengamuk. Satu ayunan gadanya menyapu tiga ninja hingga hancur berkeping-keping menabrak dinding gua. Namun, jumlah mereka sangat banyak. Beberapa ninja berhasil melewati celah ayunan gada Wang Bao dan melesat ke arah Lin Feng.
SWISH!
Cahaya putih berkilat di udara. Kirana bergerak secepat pikiran. Dengan gerakan yang sangat elegan, ia melakukan salto di udara, kakinya menendang dada seorang ninja sementara pedangnya membelah tenggorokan ninja lainnya dalam satu gerakan halus.
"Langkahmu terlalu kasar," bisik Kirana dingin. Ia berdiri di depan Lin Feng, menjadi perisai hidup bagi pemuda itu.
Di saat pertempuran kecil itu berlangsung, sosok yang lebih berbahaya muncul dari bayang-bayang. Ia adalah Jenderal Kurogane, salah satu dari tiga petinggi organisasi yang memiliki kemampuan mengendalikan bayangan.
"Wang Bao, si otot besar yang tak berguna," ejek Kurogane sambil menghunus katana hitam legam. "Dan... ah, seorang bunga cantik dari tanah Selatan. Sayang sekali wajah secantik itu harus hancur di sini."
Kurogane melesat, bukan menyerang Wang Bao, melainkan langsung mengincar Kirana dengan teknik Bayangan Membelah. Kirana menangkis serangan itu dengan tenang, namun ia terkejut karena kekuatan tenaga dalam Kurogane jauh melampaui ninja-ninja sebelumnya.
TRANG!
Dentingan logam bergema keras. Kirana terdorong mundur beberapa langkah, namun ia segera memutar tubuhnya, menggunakan momentum untuk menyerang balik. Wang Bao yang melihat Kirana terdesak mencoba membantu, namun ia tertahan oleh belasan ninja yang mengeroyoknya secara bersamaan.
"Lin Feng! Cepat selesaikan meditasinya!" teriak Wang Bao sambil menghantamkan gadanya ke kerumunan musuh.
Lin Feng mendengar teriakan itu, namun ia tidak bisa membuka matanya. Di dalam alam bawah sadarnya, ia sedang bertarung untuk menjinakkan dua energi naga yang saling bertabrakan. Jika ia gagal, seluruh puncak Gunung Huashan akan meledak menjadi debu.