Jangan lewatkan juga "DITAKDIRKAN MENCINTAIMU" dan "NGUMBARA CINTA"
Mengandung adegan dewasa 21+ jadi bijaklah dalam membaca.
Seorang dokter cantik bernama Ziya Almahiyra yang harus membayar hutang ayahnya dengan menjadi pembantu dirumah Aditya Dewa Bagaskoro tanpa gaji sedikitpun selama satu tahun.
Lalu bagaimana dengan cita citanya yang ingin mendirikan klinik sendiri,untuk menolong sesama, meringankan rasa sakit yang diderita pasien?
Ayahnya yang bangkrut karna hutang menggunung.Membuat sang ayah mengidap sakit jantung.Sang kakak bernama Nabila Sahara yang selalu pergi ke klub bersama teman temannya seperti tidak mau tau akan keadaan yang menimpa keluarga, adalah persoalan rumit bagaikan benang kusut yang tak mampu Ziya uraikan.
Aditya Dewa Bagaskoro menikahi Ziya. Kebahagiaan pun menghampiri keduanya. Namun apa jadinya jika ternyata ibunya tidak menyetujui pernikahan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafi', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
William mondar mandir diruang kerja miliknya, sesekali memeriksa pergelangan tangan.
Tok tok tok
Anggap saja pintu diketuk.
"Masuk."
"Selamat siang papi." Rupanya Sora yang datang membawa rantang makanan.
"Siang mi." Mencium kening istrinya.
"Papi, sini duduk dulu, kenapa papi terlihat gelisah begitu?"
William membuang nafasnya kasar, lalu duduk bersama sang istri.
"Mi..!
William menjeda ucapannya, memastikan sang istri selesai menata makanan diatas meja.
"Bicaralah pi."
Menatap serius wajah suaminya.
"Agung kembali lagi, dia mengajukan proposal baru, padahal aku sudah menarik saham dari sana."
"Darimana papi tau dia kembali."
"Nabila, dia memberi tahuku. Dan perusahaan GUSA ternyata miliknya, tapi dia tidak pernah terjun langsung, perusahaan itu ilegal."
William menatap wajah istrinya, lalu memandang kesegala arah. Sora tau saat ini William mencemaskan sesuatu.
"Apa yang papi cemaskan?"
"Kematian Mila, ada kaitannya dengan Maya, walaupun tidak disengaja, tapi Agung tau semua itu, bisa jadi nanti akan dia gunakan untuk memutar balikkan keadaan."
Masih terlihat cemas.
"Aku pikir sebaiknya papi bicara dengan Nabila pi, agar nanti tidak terjadi salah paham."
"Itu yang aku lakukan, aku juga sudah mengundang Denny untuk membawa surat perjanjian itu, agar semuanya jelas."
"Kita makan dulu pi, agar ada tenaga saat bicara dengan mereka."
William dan Sora pun makan siang. Satu jam setelahnya, datanglah Nabila dan Steven ke kantor William. Langsung diarahkan menuju ruang meeting.
Sedangkan itu, Denny datang dengan muka datar.
"Ternyata kalian sudah berada disini?" Selamat siang semuanya." Denny menyapa, lalu duduk dihadapan mereka.
"Langsung saja paman, apa yang ingin kalian sampaikan?"
Begitulah watak Nabila yang tak suka lama lama berbasa basi.
"Bagaimana penelusuran kamu tentang Agung?" William bertanya
"Kami sudah menemukan beberapa bukti, tapi sepertinya harus ada bukti baru untuk membuatnya mendekam di penjara." Nabila mengepalkan tangannya.
"Steven bisa saja membuatnya bertekuk lutut dengan cara kasar paman, tapi tujuanku bukan itu, aku ingin nama ayah dibersihkan. Jika Agung diproses secara hukum, otomatis semua kebusukan Agung akan terbongkar dengan sendirinya."
Nabila masih berapi api.
"Setahuku, ada satu orang lagi yang dekat dengan Agung, dia model majalah dewasa, namanya Marina. Dia bekas pacar Aditya. Kita bisa mendapatkan informasi darinya, tetapi kemungkinan akan sangat sulit, sifatnya sama dengan Agung." Denny memberi tahu.
William dan Nabila menatap mata Denny menyelidik, tapi Steven nampak santai saja.
"Hai, aku hanya cari info saja, agar Marina tidak lagi mengejar anakku. Dia juga hampir melukai Ziya kemarin. Ini video yang diambil anak buahku." Menyodorkan video kekerasan Ziya.
"Kenapa paman membiarkan Ziya disakiti olehnya." Nabila nampak kesal.
"Lihatlah sampai selesai, Winda datang membantunya, aku tidak mau ada yang tau jika Ziya ada yang jaga."
Denny memberitahu.
"Lalu, kantor mana yang akan kita jadikan umpan? aku kasihan jika harus milik Aditya. Dia masih baru, walau memang benar perusahaan miliknya berkembang pesat tanpa kita bantu." William
"Apa kau meragukan anakku? aku sangat yakin dengan Aditya, dia bahkan mungkin lebih handal daripada pakdenya." Denny mengejek iparnya.
"Dia pintar karna menurun dari keluarga Benitez, kau kan bodoh skripsi saja bayar orang buat mengerjakan."
William tahu betul, hubungan ayah Nabila dan Denny dekat sejak dulu karna kepintaran Ardi, Denny sering meminta bantuan mengerjakan tugas tugas kuliahnya. Ardi yang baik hati selalu membantu tanpa pamrih, bahkan Ardi hanya tahu Denny keponakan Bagaskoro, bukan pewaris tunggal.
"Paman, kalian selalu berdebat saja jika bertemu. Bagaimana kita akan menyusun strategi sekarang? aku akan pergi dengan Ziya satu jam lagi." Nabila mulai jengah.
"Seperti rencana awal saja, aku akan membantu tuan Aditya dari belakang, aku sudah menyuruh anggota gangster untuk mengawasi pergerakan Agung di dunia gelap, aku yakin tuan William juga memiliki pasukan yang handal dalam dunia mafia." Steven berbicara kali ini, membuat yang disana menatap William.
"Hai, kenapa kalian menatapku seperti itu?"
"Apa itu benar paman?" Nabila curiga.
"Itu sudah lama sekali, sejak kematian Raya, aku vakum dari sana, tapi kemungkinan untuk minta bantuan, bisa saja." Semua bernafas lega.
"Aku sudah mengerahkan pihak intelijen untuk menangani masalah ini. Tapi sebaiknya tuan Aditya di beri tahu, agar dia waspada." Steven.
"Aku setuju." William
"Baiklah, akan aku bicarakan dengan dia nanti." Denny
"Nabila, sebenarnya paman juga ingin mengatakan padamu." William menjeda omongannya.
"Ini berhubungan dengan Maya dan kematian ibumu." William menatap Nabila lekat.
"Aku sudah tahu semuanya paman." Nabila tersenyum miris. "Kami berdua tidak bisa menyelamatkan ibu." Nabila berkata lirih.
"Maksud kamu?"
"Aku melihat ibu pergi dengan tante Maya, aku juga melihat tante Maya pulang terlebih dahulu. Kesalahan tante Maya hanya satu, mengajak ibu masuk ke dalam klub, dan meninggalkan ibu sendiri disana."
"Bagaimana kau bisa tahu."
"Aku sudah menyelidikinya dari cctv di klub itu. Tapi yang terjadi di dalam kamar itu, aku tidak tahu." Nabila nampak sedih.
Apakah perlu aku jelaskan lebih detail lagi, tidak tidak nanti malah akan muncul masalah baru, biar Nabila tahu sampai itu saja. William.
"Lalu, apa yang terjadi setelah itu?" Denny ingin tahu kejadian itu versi Nabila.
"Setelah itu, aku melihat istri Tejo keluar dengan membawa serta seorang gadis, yang kemungkinan adalah anaknya. Setelah itu aku melihat ibu menyerang beberapa orang."
Waow ternyata ibu mertua bisa bela diri. Keren. Steven membatin.
"Lalu, apa yang terjadi?" Denny penasaran.
"Ibuku kalah, entah mengapa tante Maya kembali lagi, dan bodyguard tante Maya membantu ibuku. Istri Tejo juga datang membantu. Namun anak buah Agung membawa paksa Isna anak Tejo."
"Lalu?" William dan Denny bareng.
"Ibu dan istri Tejo pergi mengejar Isna." Nabila menarik nafasnya.
"Setelah itu, aku mengejar mobil ibu, tapi sampai disana, mobil ibu sudah masuk jurang."
Sebaiknya aku bicara jujur saja tentang Maya.
"Nabila. Paman ingin jujur padamu." Denny menghela nafas rendah lalu meneruskan ucapannya.
"Maya memang punya niat menjebak ibumu." Duaarrr
"Apa maksud paman, bukankah ibu dan tante Maya teman akrab?"
"Memang mereka akrab, tapi sifat Maya yang mudah terprovokasi oleh orang lain membuatnya gegabah dalam bertindak. Maya terkena hasutan Agung yang memfitnah Mila membunuh Raya." William menghirup udara yang sesak.
"Ibu tidak pernah melakukan hal buruk paman, tapi, bagaimana paman tahu."
"Maya kebetulan meneleponku." Denny bercerita.
"Maya bilang, sebelum pergi, dia mengutarakan balas dendam atas kematian Raya. Akupun mengejar Maya, dan kami bertemu di jalan, saat itu Maya sudah ingin kembali. Aku menjelaskan dan membawa bukti kematian Raya adalah sebab masa lalu kangmas William."
"Berarti tante punya niat jahat sama ibuku begitu paman." Nabila berdiri dan menggebrak meja.
"Dengarkan dulu penjelasan paman Nabila." Denny mulai panik. Tapi Nabila sudah berdiri dan pergi dari sana.
"Bagaimana ini kangmas?" Denny panik.
"Aku tidak tahu. Inilah yang aku takutkan." William nampak bingung.
Bersambung....
ending yang membanggongkan