NovelToon NovelToon
I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Nouna Vianny

Elia menikah dengan Dave karena perjodohan, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Di malam pertama, Dave membuat perjanjian pernikahan yang menegaskan bahwa Elia hanyalah istri di atas kertas. Hari-hari Elia dipenuhi kesepian, sementara Dave perlahan menyadari bahwa hatinya mulai goyah. Saat penyesalan datang dan kata “I’m sorry, my wife” terucap, akankah cinta masih bisa diselamatkan, atau semuanya sudah terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nouna Vianny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

First Kiss?

Pagi menjelang, Elia bangun dengan tersenyum saat melirik ke sebelah nya. Ia merasa seperti mimpi dapat tidur satu ranjang meski tidak saling bersentuhan. "Saat tidur pun kau terlihat sangat tampan" gumam Elia dalam hati. Ia memperhatikan wajah suaminya itu beberapa saat, sebelum kemudian turun dan keluar dari kamar.

Elia juga memeriksa ibu mertua nya di kamar. Wanita paruh baya itu masih sangat nyenyak dengan selimut yang membalut tubuhnya. Pintu di tutup kembali tanpa menimbulkan suara. Kini Elia tengah bergegas untuk ke dapur menyiapkan sarapan.

Saklar lampu dinyalakan. Elia melihat Lisa yang ternyata sudah terbangun dan tengah menikmati roti serta secangkir teh hangat. Setiap pagi setelah bangun tidur, Lisa memang terbiasa melakukan itu. Sebuah kebiasaan yang terbentuk dari arahan Elia sendiri.

“Pagi, Lisa,” sapa Elia ramah.

“Pagi, Nyonya,” jawab Lisa sambil tersenyum.

Elia segera membuka kulkas besar itu, matanya menelusuri isi di dalamnya sambil menimbang-nimbang bahan apa yang akan dijadikan menu sarapan pagi ini.

“Masak apa, ya?” gumamnya pelan.

Tak butuh waktu lama hingga sebuah ide muncul di benaknya. Ia terpikir membuat khao tom, nasi rebus hangat yang ringan di perut. Sajian itu terasa pas, terutama untuk penderita maag seperti Dave.

Dengan telaten, Elia mulai menyiapkan menu tersebut. Ia menambahkan beberapa irisan dada ayam fillet dan telur agar hidangan itu terasa lebih mengenyangkan.

Lisa yang sedang menikmati roti dan tehnya kemudian menawarkan bantuan. Seperti biasa, Elia menolak tawaran itu dengan halus. Penolakan lembut itu justru membuat Lisa merasa sedikit tidak enak, meski ia sudah sangat terbiasa dengan sikap majikannya yang selalu ingin mengerjakan segalanya sendiri.

Matahari mulai meninggi dan masuk ke dalam rongga-rongga udara. Menyorot setiap wajah yang masih terlelap tidur. Bianca terbangun sambil memegangi kepala nya yang terasa pengar. Wajah nya memerah dan rambutnya berantakan. Disebelahnya ada Clara, teman nya itu menginap di apartemen nya karena tak sanggup untuk pulang dalam keadaan mabuk.

Bianca mengedarkan pandangan nya untuk mencari ponsel. Memeriksa notifikasi yang mungkin ia terima dari Dave. Namun harapan nya itu tidak sesuai ekspektasi. Justru, ia menerima dari nomer yang belum tersimpan.

"Siapa ini?" gumam nya saat meng-klik foto profil nya. Bianca terdiam sejenak. Ia baru ingat saat malam tadi Erik memaksa nya untuk bertukar nomer telepon. "Ah, kenapa tidak Albert yang mengirimi ku pesan" ujarnya.

Alis Bianca sedikit berkerut. Ia terdiam sejenak saat ingatannya melayang ke kejadian semalam—Erik yang dengan setengah memaksa mengajaknya bertukar nomor telepon.

Pesan itu berbunyi:

Pagi, Bianca. Kepalamu masih baik-baik saja? Semalam kau terlihat sangat mabuk. Aku hanya ingin memastikan kau pulang dengan selamat.

Bianca menarik napas pelan. Tatapannya kembali tertuju pada layar ponsel, namun perasaannya justru terasa hambar.

“Argghh!”

Bianca melempar ponselnya ke atas karpet. Dadanya terasa sesak. Paginya benar-benar kacau hanya karena satu hal—tidak ada pesan dari Dave.

Sementara itu, Elia telah selesai menyiapkan sarapan dan menatanya rapi di atas meja makan. Setelah memastikan semuanya siap, ia bergegas menuju kamar mandi. Seperti biasa, ia memilih mandi di kamar Dave.

Namun setibanya di sana, Elia mendapati ranjang itu sudah kosong. Dave tak terlihat. Ia melirik sekeliling, lalu melangkah pelan ke arah kamar mandi dan menempelkan telinganya ke pintu. Beberapa detik kemudian, terdengar suara flush ditekan dari dalam.

Cekrek!

Pintu kamar mandi terbuka tiba-tiba. Elia terkejut dan hampir saja terjatuh jika Dave tidak sigap menahan tubuhnya. Alis Dave langsung berkerut, tatapannya menyelidik.

“Kau sedang apa?” tanyanya curiga. “Jangan bilang kau berniat mengintip ku.”

“Eh,tidak!” Elia buru-buru menggeleng. “Aku hanya kaget kau sudah tidak ada di tempat tidur. Oh iya, aku sudah menyiapkan sarapan untukmu,” ujarnya gugup.

“Nanti saja. Aku belum lapar,” jawab Dave ketus, lalu meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas.

“Atau… mau ku buatkan kopi atau susu?” Elia tak menyerah, suaranya tetap lembut.

Dave menatapnya tajam sesaat, seolah menimbang. “Ya sudah. Kopi saja,” katanya akhirnya.

Elia mengangguk cepat. “Baik,” ujarnya, lalu segera keluar dari kamar.

Saat Elia turun ke bawah untuk menyiapkan kopi, Dave membuka ponselnya. Ia mengetik pesan singkat untuk Bianca. Ia tahu wanita itu pasti akan kesal jika tidak diberi kabar.

Bunyi notifikasi membuat Bianca tersentak. Ia segera memungut ponsel yang sempat ia lempar ke karpet. Begitu membaca nama pengirim pesan itu, wajahnya langsung berubah. Senyum merekah di bibirnya. Dave menghubunginya. Pagi yang sempat terasa kacau, kini mendadak terasa jauh lebih ringan.

Sementara itu, James sudah berada di perjalanan. Hari ini menjadi hari pertamanya kembali ke rumah sakit tempat ia pernah bertugas. Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit, James akhirnya tiba. Ia memarkirkan kendaraannya terlebih dahulu sebelum melangkah masuk ke dalam gedung.

Beberapa staf yang mengenalnya segera menyambut begitu dokter spesialis kandungan itu muncul di lorong. Senyum, sapaan hangat, bahkan pelukan penuh rindu diberikan kepadanya. Maklum, sudah lama mereka tak bertemu.

“Dokter James, apa kabar?” sapa salah seorang staf yang berjaga.

“Aku baik. Bagaimana denganmu?” jawab James ramah.

“Aku juga baik. Oh iya, Dok,” lanjutnya sambil menunjuk beberapa berkas yang tersusun di atas meja. “Ini rekam medis para pasien yang hari ini akan bertemu dengan Anda.”

James menghela napas panjang, lalu tersenyum kecil. Hari pertama kembali bekerja jelas tak akan mudah, namun ia tahu harus tetap bersemangat

.

“Baiklah. Antarkan saja ke ruanganku,” ujarnya mantap.

“Siap, Dokter,” sahut staf itu sigap.

James melangkah masuk menuju ruangannya. Di kursi tunggu, ia melihat beberapa pasien yang telah lebih dulu menantikan kedatangannya. Beberapa di antaranya bahkan memandang wajah James tanpa berkedip. Wajar saja,pria berwajah tampan dengan postur tubuh atletis itu memang selalu berhasil mencuri perhatian.

“Apakah itu dokter kandungan yang baru? Tampan sekali,” bisik salah seorang wanita.

“Bukan,” sahut wanita lain. “Dia dokter lama di sini. Katanya sempat pergi ke China untuk melanjutkan sekolah.”

Patricia yang duduk tak jauh dari mereka hanya diam. Tangannya memegangi perut yang terasa nyeri, wajahnya sedikit pucat menahan rasa tidak nyaman.

Tak lama kemudian, staf yang sebelumnya menyapa James muncul sambil membawa beberapa berkas rekam medis. Ia mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam ruangan.

Tak berselang lama, seorang perawat menyusul masuk dengan langkah tergesa.

“Selamat pagi, Dok,” sapanya.

“Selamat pagi,” jawab James singkat, matanya fokus membaca salah satu berkas.

“Patricia,” gumamnya pelan. Ia lalu menoleh. “Sus, tolong panggilkan pasien bernama Patricia.”

“Baik, Dokter,” jawab perawat itu sigap.

Perawat tersebut segera keluar ruangan dan memanggil nama yang dimaksud. Patricia mengangkat tangannya, lalu bangkit berdiri.

“Nona Patricia, silakan masuk,” ucap perawat itu..

Patricia berjalan dengan langkah tertatih, menahan rasa nyeri di perutnya. Melihat kondisi itu, perawat segera menghampiri dan menuntunnya masuk ke dalam ruangan.

“Silakan duduk dulu, Nona,” ucap perawat tersebut dengan sigap.

“Terima kasih, Sus,” jawab Patricia sambil tersenyum ramah, meski wajahnya tampak sedikit pucat.

Begitu Patricia masuk, James mendongak. Sekilas ia tertegun. Wajah cantik itu langsung menarik perhatiannya, membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Sebuah reaksi spontan yang segera ia tekan dalam-dalam. "Fokus, James". Gumam nya dalam hati.

“Selamat pagi, Nona Patricia,” sapanya profesional.

“Pagi, Dok,” jawab Patricia sopan.

“Apa keluhan yang Anda rasakan saat ini?” tanya James sambil membuka rekam medis.

Patricia pun menjelaskan apa yang ia alami. Dari cara ia duduk dan ekspresi wajahnya, jelas terlihat bahwa rasa nyeri itu bukan hal sepele.

“Baik, Nona Patricia. Silakan naik ke tempat tidur pemeriksaan,” ujar James.

Patricia menuruti perintah itu. James membantu dengan hati-hati, memastikan pasiennya merasa nyaman.

Ia kemudian menyiapkan alat pemeriksaan kandungan untuk melakukan USG. Setelah semuanya siap, James mengoleskan gel pada kepala alat ultrasonik, lalu menempelkannya perlahan pada area perut Patricia yang terasa nyeri.

Patricia meringis saat alat itu sedikit menekan kulitnya.

“Tarik napas perlahan, lalu hembuskan,” ujar James lembut. “Coba rilekskan perutnya.”

Beberapa saat kemudian, pemeriksaan selesai. Patricia dibantu turun dari ranjang dan kembali duduk di kursi di hadapan meja dokter.

James menjelaskan hasil pemeriksaan dengan suara tenang. “Dari hasil USG, tidak ada kondisi yang mengkhawatirkan. Nyeri perut yang Anda rasakan masih tergolong wajar, terutama saat masa menstruasi.” Ia lalu menuliskan resep. “Saya akan memberikan obat yang perlu diminum selama tiga bulan ke depan.”

James menulis kan resep obat tersebut dengan cepat lalu menyerahkan nya pada Patricia setelah selesai.

“Selama menstruasi, hindari aktivitas fisik yang terlalu berat. Kurangi makanan pedas serta camilan yang kurang sehat.”

Patricia mengangguk paham sambil menerima resep tersebut. “Baik, Dok. Terima kasih.”

“Sama-sama, Nona. Ada lagi yang ingin ditanyakan?” tanya James.

“Cukup, Dok. Terima kasih,” jawab Patricia sekali lagi.

“Kalau begitu, semoga lekas sembuh. Hati-hati di jalan,” ucap James, sebuah kalimat yang selalu ia berikan pada setiap pasien.

Patricia mengangguk sambil tersenyum manis sebelum melangkah pergi. Senyum itu kembali membuat dada James berdebar tanpa alasan yang jelas. Ia menarik napas pelan. "Tenang, James. Kau harus tetap bersikap profesional".

Sarah tampak menikmati khao tom buatan menantunya. Raut wajahnya jelas menunjukkan betapa lezatnya masakan Elia.

“Kukira Dave hanya membual saat mengatakan masakanmu mirip masakan Mom,” ujar Sarah jujur.

 “Ternyata tidak. Ini benar-benar enak, bahkan lebih enak dari buatanku sendiri.”

Elia menanggapinya dengan senyum malu-malu. Ia merasa menjadi menantu paling beruntung karena memiliki mertua seperti Sarah.

“Mom, pujian seperti itu selalu membuatku gugup,” katanya lembut.

Dave melirik arloji di pergelangan tangannya. Ia pun telah menghabiskan sarapan buatan Elia tanpa sisa.

“Lima belas menit lagi aku harus berangkat ke kantor,” ujarnya.

Mendengar itu, Elia segera mempercepat makannya. Ia bangkit, bergegas ke dapur, lalu kembali dengan sebuah tas bekal di tangannya.

“Ini, Sayang. Untuk makan siang nanti,” ucapnya sambil menyerahkan tas tersebut.

“Terima kasih, ya, Sayang,” balas Dave sambil menerima tas bekal itu.

Dari kejauhan, Lisa dan Bimbim memperhatikan pemandangan tersebut. Sopir itu bahkan telah menghabiskan dua mangkuk khao tom buatan Elia.

“Mereka terlihat seperti aktor yang sedang bersandiwara,” gumam Lisa pelan namun tetap terdengar oleh Bimbim.

“Kalau aku jadi Tuan Dave,” sahut Bimbim santai, “aku akan bersyukur setiap hari kepada Tuhan karena diberi istri sebaik Nyonya Elia.”

Lisa langsung menoleh ke arahnya. “Kau ini selalu saja muncul tiba-tiba di belakangku,” katanya dengan nada sedikit kesal.

Jarum jam di pergelangan tangan Dave tepat menunjuk angka sembilan. Ia pun segera bangkit dan berpamitan pada Sarah.

“Mom, aku berangkat dulu,” ujar Dave seraya mengecup kedua pipi wanita paruh baya itu.

“Hati-hati di jalan, ya, Sayang,” pesan Sarah.

“Pasti, Mom.”

“Biar aku antar sampai halaman depan,” ujar Elia cepat. Ia memanfaatkan momen itu selagi Sarah masih memperhatikan. Dave hanya tersenyum tipis, menyembunyikan sesuatu yang bergejolak di dalam hatinya.

Sarah ikut bangkit dan mengantar mereka dengan pandangan hingga ke halaman depan.

“Bersikaplah manis,” bisik Elia pelan pada Dave. “Mom masih memperhatikan kita dari kejauhan.”

Dave hanya melirik malas tanpa menjawab.

“Hati-hati, ya, Sayang,” ucap Elia lembut. Tanpa menunggu persetujuan, ia mengecup pipi Dave lebih dulu.

Dave berdecak kesal. Ia tahu Elia sengaja memanfaatkan situasi.

“Dave, tunggu!” seru Sarah, menghentikan langkah Dave yang hendak masuk ke dalam mobil.

Dave berbalik dan menghampiri ibunya. “Ada apa, Mom?”

“Kau ini,” tegur Sarah. “Kenapa tidak mencium Elia balik?”

Dave menghela napas kasar, menahan umpatan di dalam hati. Namun demi ibunya, ia menuruti permintaan itu. Sebuah kecupan singkat mendarat di pipi Elia, membuat wajah wanita itu seketika merona.

“Hanya cium pipi?” komentar Sarah. “Ah, payah.”

“Lalu harus bagaimana lagi?” tanya Dave datar.

Sarah mengangkat telunjuk dan menyentuh bibirnya sendiri, memberi isyarat yang jelas.

Muach!

Kecupan itu terjadi begitu tiba-tiba. Mata Elia membelalak, wajahnya memerah sempurna. Jantungnya berdegup kencang, tubuhnya meremang oleh sensasi yang tak ia duga.

“Sudah, ya. Aku benar-benar harus berangkat sekarang,” ucap Dave cepat, sebelum Sarah sempat meminta hal lain.

Dari kejauhan, Lisa diam-diam mengabadikan momen itu dengan kamera ponselnya.

“Ya ampun… pas sekali,” gumamnya tak percaya. “Tuan Dave benar-benar menyentuh bibir Nyonya Elia.”

Di dalam mobil, Dave tanpa sadar menyentuh bibirnya dengan ibu jari. Bimbim yang melihat gestur itu melalui kaca spion tersenyum penuh arti.

“Ada apa, Bim?” tanya Dave saat menyadari dirinya tengah diperhatikan.

“Ah, tidak apa-apa, Tuan,” sahut Bimbim santai.

 “Saya jadi ingin punya istri juga.”

Dave hanya menggelengkan kepala kecil, lalu mengalihkan pandangan ke luar jendela. Ia tak menanggapi lagi ucapan sopirnya itu.

Pikirannya kembali melayang pada kata-kata Elia semalam. Hatinya kembali diliputi dilema. Di satu sisi, ada perusahaan yang harus ia selamatkan dan tanggung jawab besar yang tak bisa diabaikan. Namun di sisi lain, ia tahu betul dirinya tak mampu melakukan semua itu bersama seseorang yang tidak benar-benar ia cintai.

Dave menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya, ia merasa langkah yang ia pilih tak lagi setegas biasanya.

Sesampainya di ruangannya, Dave segera menyalakan komputer. Namun sebelum benar-benar memulai pekerjaan, ia lebih dulu menghubungi selingkuhannya.

Panggilan tersambung. Tak lama kemudian terdengar suara yang masih sedikit serak dari seberang.

[Halo, Sayang]

“Halo… kenapa suaramu berbeda? Kau siapa?” tanya Dave refleks.

Bianca langsung mengalihkan panggilan ke video.

[Ini aku, Sayang] ucapnya dengan nada manja.

“Suaramu serak. Kau sakit?” tanya Dave, nada suaranya sarat kekhawatiran.

[Tidak, Sayang. Tenggorokanku hanya terasa tidak nyaman. Mungkin karena kurang minum air putih] jawab Bianca santai.

“Kalau begitu kau harus banyak minum air putih dan makan buah-buahan. Mau ke rumah sakit? Aku bisa mengantarmu.”

[Tidak perlu. Nanti juga membaik sendiri. Setelah ini aku janji minum obat] katanya sambil mengacungkan dua jari ke arah layar. Dave tersenyum kecil.

“Ngomong-ngomong, kau sedang apa? Aku merindukanmu.”

Tanpa menjawab, Bianca membalik kamera ponselnya ke arah cermin. Tubuh polosnya terpampang samar. Ia sedang berada di dalam bilik mandi.

“Oh, Sayang… jangan seperti itu. Nanti milikku bangun,” ujar Dave setengah berkelakar.

[Tidak apa-apa. Biar aku yang menidurkannya]

Dave tertawa kecil, pandangannya tak lepas dari layar. Bianca sengaja menggoda, dengan memijat bagian padat miliknya.

“Sayang, sudah cukup. Aku bisa benar-benar tidak konsentrasi bekerja,”

[Sepulang kerja, kau bisa mampir ke tempatku, kan?]

“Aku akan kabari nanti. Aku belum tahu Mom akan kembali menginap atau tidak,” jelas Dave.

Bianca mengembalikan kamera ke wajahnya. Ekspresi kesal terpancar, namun justru terlihat menggemaskan di mata Dave.

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Dave segera mengakhiri panggilan.

“Masuk!” titahnya.

Nick melangkah masuk sambil membawa sebuah amplop cokelat. “Selamat pagi, Tuan,” sapanya.

“Pagi. Ada apa, Nick?” tanya Dave sambil menatap layar komputer yang kini telah menyala.

“Sekretaris umum perusahaan mengajukan resign secara mendadak, Tuan,” lapor Nick.

Gerakan tangan Dave terhenti di udara saat hendak memasukkan sandi komputer.

“Lalu?” tanyanya. “Amplop itu?”

“Resepsionis di bawah bilang ada seorang wanita yang sedang mencari pekerjaan. Dia menitipkan surat lamaran. Setelah saya periksa, dia memiliki pengalaman sebagai sekretaris,” jelas Nick.

"Kebetulan sekali, hubungi dia dan suruh HRD untuk mewawancarai" titah Dave.

"Baik, Tuan"

1
Nnar Ahza Saputra
klw ada yg lebih baik dari Dave, mending tinggal kn..elia bisa hidup mandiri.. daripada bertahan yg ada hnya sakit hati,,
Vianny: Hallo Kak Nnar terimakasih sudah membaca tulisanku semoga suka ya dengan ceritanya. 🥰
total 1 replies
partini
hati seorang istri yg lemah lembut kaya lelembut ya gini, biar pun lihat dengan mata kepala nya suaminya lagi bercinta behhhh is ok is ok
partini: Thor komen buat karakter nya di novel bukan menerka" alurnya kalau tidak ya bagus bearti dia wanita yg BADAS 👍
total 2 replies
partini
coba nanti kalian tau kalau anakmu bermain lendir Weh,
Dave karakter sangat kuat sdngkn istri melohoyyy apa dia bias marah
kalau bisa Weh luar biasa lain ini Thor
kenal mama Reni ga
partini: author lama di sini Thor spesialis rumah tangga tiga orang ,tapi Endingnya hampir sama semua back together again
total 2 replies
Vianny
Iya😄
partini
itu tiga cogan siapa Thor, temennya Dave
lover♥️
nanti juga nyesel tuh Dave minta kesempatan yg sudah" kaya gitu bilang i love khilaf dll
Vianny: Pasti, karena penyesalan itu muncul selalu di akhir 🤭
total 1 replies
partini
oh betul ternyata bermain lendir weleh
uhhh istri sah dapat Otong sisa 🤭
Vianny: Xie xie 🥰🥰
total 3 replies
partini
menarik ini cerita,apakah setelah puas bermain lendir dengan Bianca dan sesuatu terjadi dia antar mereka berdua datang penyesalan di hati Dave dan ingin kembali ke istri bilang minta maaf ,,
semoga berbeda ini cerita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!