Kayra Ardeane mengasingkan diri ke desa sunyi bernama Elara demi mengubur trauma masa lalunya sebagai ahli bedah. Namun, ketenangannya hancur saat seorang pria bersimbah darah menerjang masuk dengan peluru di dada. Demi sumpah medis, Kayra melakukan tindakan gila: merogoh rongga dada pria itu dan memijat jantungnya agar tetap berdenyut.
Nyawa yang ia selamatkan ternyata milik Harry, seorang predator yang tidak mengenal rasa terima kasih, melainkan kepemilikan. Di bawah kepungan musuh dan kobaran api, Harry memberikan ultimatum yang mengunci takdir Kayra.
"Pilihannya sederhana, Dokter. Mereka selamat dan kau ikut denganku, atau kita semua tetap di sini sampai musuh mengepung. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempat di mana aku tidak bisa melihatmu."
Terjebak dalam pelarian maut, Kayra menyadari satu hal yang terlambat, ia memang berhasil menyelamatkan jantung Harry, namun kini pria itu datang untuk mengincar jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Titik Buntu Elara
"Akan ... kubunuh ... kalian semua …," gumamnya liar, terjebak dalam fase delirium dan insting bertahan hidup yang brutal.
"Lepaskan! Kau akan merobek jahitanmu!" Kayra meronta, namun tenaga pria itu tetap luar biasa meski tubuhnya penuh lubang peluru.
Pria itu menarik Kayra mendekat hingga napas panasnya yang berbau logam menyentuh kulit wajah sang dokter. "Siapa ... kau?"
"Aku doktermu," jawab Kayra dengan napas tertahan. "Dan jika kau tidak melepaskan tanganku sekarang, kau akan mati sebelum sempat membunuh siapa pun."
Pria itu menatap Kayra sejenak, mencari sesuatu di balik kacamata sang dokter, sebelum akhirnya kesadarannya kembali ditelan kegelapan. Cengkeramannya terlepas, menyisakan bekas kemerahan yang mencolok di pergelangan tangan Kayra.
Kayra mundur dengan jantung berdebar kencang. Ia menatap tangannya yang memerah, lalu beralih pada pria yang kembali tak berdaya itu.
DOR! DOR! DOR!
Rentetan tembakan menghancurkan keheningan Elara. Suara kaca pecah dan teriakan kasar dalam bahasa asing meledak di ruang tunggu.
"Mereka di sini! Mobil hitam itu, mereka menembak!" teriak Freya histeris.
Pria beralis luka langsung mengokang senjata. "Jaga dia, Dokter! Jika peluru menyentuh bosku, tempat ini akan jadi kuburan massal!"
Kayra segera mematikan lampu utama, menyisakan pendar redup monitor jantung yang berdenyut lemah. Di tengah kegelapan yang dipecah kilatan mesiu, Kayra berdiri melindungi pasiennya. Pelariannya berakhir, di tangannya ada nyawa seorang iblis, dan di luar sana, maut sedang mengetuk pintu dengan peluru.
"Bawa dia ke belakang! Cepat!" Pria beralis luka itu berteriak di tengah kebisingan mesiu, suaranya parau tertutup dentuman tembakan yang mulai menghantam dinding koridor.
Kayra tidak membuang waktu. Rasa takut yang sempat melumpuhkannya kini berubah menjadi adrenalin murni. "Mia! Freya! Bantu aku dorong bed ini ke arah gudang farmasi!"
Roda brankar berderit nyaring, beradu dengan suara sepatu bot yang berlarian di lantai ubin. Di atas bed, tubuh pria yang tadi jantungnya sempat berhenti, berguncang. Selang drainase di dadanya berayun, mengalirkan darah merah gelap yang tampak menghitam di bawah pendar lampu darurat yang remang.
Kayra meremas pegangan besi brankar, berusaha menstabilkan posisi pasiennya sembari terus waspada pada suara kaca-kaca jendela puskesmas yang hancur berkeping-keping di belakang mereka.
"Dokter, mereka masuk! Mereka masuk lewat pintu samping!" pekik Mia. Suara sepatu bot yang berat terdengar mendekat dari arah koridor kiri.
DOR!
Sebuah peluru menembus pintu kayu ruang operasi yang baru saja mereka tinggalkan, meninggalkan lubang menganga yang berasap. Kayra tersentak, namun ia tidak berhenti.
"Masuk ke gudang! Sekarang!"
Kayra menendang pintu gudang farmasi hingga terbuka. Begitu brankar masuk, pria beralis luka itu langsung menutup pintu dan menggeser lemari besi berat untuk membarikadenya.
Suasana mendadak menjadi sangat sempit dan mencekam. Di dalam gudang yang dipenuhi aroma antiseptik dan debu, mereka hanya ditemani suara napas pria itu yang tersengal dan bunyi tembakan yang semakin membabi buta di luar.
"Siapa mereka?" bisik Kayra, mencoba memeriksa denyut nadi pasiennya di tengah kegelapan.
"Orang-orang yang ingin melihat kepalanya di atas nampan," geram pria beralis luka itu. Ia berdiri di dekat celah pintu dengan pistol terkokang. "Dan mereka tidak akan berhenti sampai tempat ini rata dengan tanah."
Tiba-tiba, suara tembakan mereda. Keheningan yang mengikuti justru terasa jauh lebih mengerikan. Kayra bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu. Ia menoleh ke arah monitor portabel kecil yang ia bawa, angka tekanan darah pria itu kembali merosot.
70/40…
"Dia butuh cairan. Sekarang!" bisik Kayra panik. "Freya, ambilkan kantung infus kristaloid di rak belakang!"
Namun, sebelum Freya sempat bergerak, sebuah ledakan kecil menghantam engsel pintu gudang. Pintu besi itu bergetar hebat. Seseorang di luar sedang mencoba mendobrak paksa.
"Tiarap!" teriak pria beralis luka itu.
Kayra menjatuhkan tubuhnya ke lantai, melindungi tubuh Harry dengan punggungnya sendiri. Ia bisa merasakan getaran dari lantai saat peluru-peluru mulai menghujam pintu gudang dari arah luar.
Serpihan kayu dan logam berterbangan di udara. Mia dan Freya meringkuk di bawah meja kayu, menutup telinga mereka sambil terisak.
Pria beralis luka itu menoleh ke arah Kayra di tengah hujan peluru. "Ada jalan keluar lain?"
Kayra teringat sesuatu. "Di balik rak vaksin, ada pintu kecil menuju ruang pompa air yang terhubung ke gang belakang puskesmas. Tapi jalan itu sangat sempit, kita tidak bisa membawa brankar ini!"
Pria itu mengumpat kasar. Ia melirik bosnya yang masih tak sadarkan diri, lalu menatap Kayra tajam. "Maka kita harus menggendongnya. Bantu aku!"
"Jangan gila! Jaitannya baru saja selesai! Jika kau mengangkatnya sembarangan, arteri itu akan pecah dan dia akan mati sebelum sampai ke pintu itu!" seru Kayra.
"Lebih baik dia mati karena jahitannya lepas daripada mati karena kepalanya diledakkan di sini!" Pria itu tidak memberi pilihan. Ia merengsek maju, bersiap mengangkat tubuh besar bosnya.
Kayra sadar ia berada di titik nadir. Ia meraih tas medis darurat, menyampirkannya di bahu, dan bersiap dengan skalpel di tangan. "Mia, Freya, ambil oksigen portabel! Kita pindah sekarang!"
Saat mereka mulai menggeser rak vaksin, pintu gudang akhirnya jebol. Seorang pria berpakaian hitam dengan senapan serbu muncul di ambang pintu. Pria beralis luka melepaskan tembakan beruntun, menjatuhkan musuh itu seketika, namun ia tahu lebih banyak lagi yang akan datang.
"Lari!" teriak pria itu.
Kayra memegang kepala Harry, menahannya agar tetap stabil saat pria beralis luka itu memanggul tubuh sang mafia di bahunya. Mereka merangkak masuk ke dalam lorong sempit yang pengap dan gelap. Bau tanah dan air yang merembes menyambut mereka.
Di belakang, suara ledakan kembali terdengar, menghancurkan sisa-sisa gudang farmasi yang menjadi satu-satunya tempat persembunyian mereka.
Kayra merayap di lorong yang gelap, tangannya menyentuh dinding yang dingin dan basah. Di depannya, ia bisa mendengar erangan halus dari pria itu. Guncangan hebat saat dievakuasi paksa tampaknya telah menarik kesadaran sang mafia kembali ke permukaan, meskipun tubuhnya masih di ambang kehancuran.
"Jangan menyerah …," bisik Kayra tanpa sadar.
Di ujung lorong, sebuah pintu besi kecil yang berkarat menjadi satu-satunya harapan. Namun, saat pria beralis luka itu hendak menendang pintu itu terbuka, terdengar suara tarikan pelatuk dari balik pintu tersebut.
Kayra membeku. Oksigen di paru-parunya seolah tersedot habis. Mereka tidak hanya dikepung dari depan, tapi juga dari belakang. Pelariannya dari masa lalu ternyata membawanya ke sebuah labirin maut yang tidak memiliki jalan keluar. Di tengah kegelapan total lorong itu, Kayra merasakan sebuah tangan dingin mencengkeram jas putihnya kembali.
Pria itu, sang pasien misterius, membuka matanya di tengah kegelapan. Irisnya berkilat tajam seperti mata predator yang mengintai di balik bayangan.
"Jangan ... buka ... pintunya," desis pria itu. Suaranya kini jauh lebih jernih meski sangat lemah, penuh dengan otoritas yang tak terbantahkan.