NovelToon NovelToon
Serpihan Yang Patah

Serpihan Yang Patah

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat
Popularitas:908
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dua tahun terjebak dalam neraka pelecehan dan ancaman sang kakak ipar, Markus, membuat Relia kehilangan jiwanya—terlebih saat kakak kandungnya sendiri memilih berkhianat. Di titik nadir, Relia berhasil melarikan diri dan bertemu Dokter Ariel, seorang psikiater sekaligus CEO yang menjadi pelindungnya. Melalui pernikahan yang awalnya berlandaskan rasa aman dari ancaman Markus, Ariel membimbing Relia menyembuhkan trauma parah dan kecemasannya. Ini adalah kisah tentang keberanian seorang wanita untuk memecah keheningan dan merebut kembali hidup yang sempat terenggut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Satu jam kemudian, pintu ruang operasi terbuka perlahan. Seorang perawat keluar dengan membawa map medis.

"Keluarga Nyonya Relia?" panggil perawat tersebut.

Ariel langsung bangkit dari kursinya dengan gerakan refleks.

"Saya suaminya. Bagaimana keadaannya, Sus?"

"Operasi kuretase berjalan lancar, Dokter Ariel. Pasien sedang dalam masa pemulihan dari bius total. Sekarang beliau akan kami pindahkan ke ruang nifas VVIP di lantai atas," jelas perawat itu.

Ariel mengembuskan napas lega yang terasa sangat berat.

Ia segera mengikuti brankar Relia yang didorong menuju lift khusus pasien.

Di dalam kamar VVIP yang luas dan harum aroma melati itu, Ariel menatap wajah Relia yang masih sangat pucat, namun raut ketakutan yang biasanya menghantui saat tidur kini tampak lebih samar.

Ariel duduk di sisi ranjang, mematikan dering ponselnya agar tidak mengganggu istirahat istrinya. Namun, saat ia melihat layar ponsel, ada belasan panggilan tak terjawab dari kepala keamanan mansion.

Baru saja ia ingin meletakkan ponselnya, panggilan kembali masuk. Ariel mengangkatnya dengan suara tertahan.

"Ada apa? Saya sedang di rumah sakit."

"Lapor, Dokter Ariel. Keadaan di depan gerbang mansion semakin tidak terkendali," ucap kepala keamanan dengan surat panik.

"Tuan Markus datang membawa dua mobil dan beberapa pria berbadan besar. Dia memaksa masuk sejak jam sepuluh tadi. Sekarang hari sudah mulai gelap, dan dia berteriak-teriak bahwa dia punya hak hukum atas 'istri dan calon anaknya'. Dia mengancam akan menabrak gerbang jika kita tidak mengizinkannya bertemu Anda."

Rahang Ariel mengeras. Ia melirik Relia yang masih terlelap, lalu berdiri dan berjalan menjauh ke arah balkon kamar rumah sakit agar suaranya tidak terdengar.

"Dengarkan saya, Pak. Jangan buka gerbang itu seinci pun. Hubungi kepolisian sekarang juga, laporkan atas tindakan gangguan ketertiban dan ancaman kekerasan."

"Baik, Dokter. Tapi bagaimana jika dia membawa awak media? Ada beberapa orang dengan kamera di belakang mobilnya."

"Bagus," seringai Ariel muncul di wajahnya yang lelah.

"Biarkan media merekam kegilaannya. Besok pagi, aku sendiri yang akan merilis bukti medis dan rekaman CCTV yang akan membuatnya menyesal pernah menginjakkan kaki di tanah Arkatama. Jaga gerbang itu. Jangan sampai dia tahu kami ada di rumah sakit."

Ariel menutup teleponnya. Ia kembali ke samping ranjang, menggenggam tangan Relia yang dingin.

"Dia tidak akan menyentuhmu lagi, Sayang. Tidak hari ini, tidak selamanya," bisiknya.

Tepat saat itu, kelopak mata Relia bergerak perlahan. Ia mengerang kecil, mencoba mengenali langit-langit ruangan yang berbeda.

"Mas... Ariel?" suaranya sangat serak.

"Iya, ini aku. Kamu sudah bangun, Sayang?" Ariel mengusap rambut Relia dengan penuh kasih.

Relia menatap kosong ke arah sebuah kendi kecil berbahan keramik putih yang diletakkan di atas meja kecil di samping ranjangnya. Di dalam sana, tersimpan sisa-sisa kehidupan yang singkat—jejak terakhir dari penderitaan yang hampir saja merantai masa depannya.

Matanya yang berkaca-kaca beralih menatap Ariel.

"Mas, dia sudah pergi sepenuhnya, ya?"

Ariel mengangguk pelan, menggenggam tangan Relia lebih erat.

"Iya, Sayang. Dia sudah tenang."

Relia terdiam sejenak, helaan napasnya terasa berat.

Ada pergolakan emosi yang luar biasa di matanya.

Meskipun benih itu berasal dari seorang monster, namun nyawa itu pernah berdenyut di dalam rahimnya, membagi napas yang sama dengannya selama beberapa minggu.

"Meskipun dia lahir dari kegelapan, dia tetap pernah ada di dalam tubuhku," bisik Relia parau.

"Aku tidak ingin dia pergi tanpa identitas. Aku tidak ingin dia diingat sebagai 'anak Markus'. Aku ingin dia pergi sebagai bagian dariku dan bagian darimu, Mas."

Relia menatap Ariel dengan tatapan memohon. "Mas, bolehkah aku meminta satu hal? Berikan dia nama. Nama darimu. Nama yang akan membuatnya bersinar di sana, jauh dari bayang-bayang ayahnya."

Ariel tertegun. Ia merasakan desiran hangat sekaligus pedih di dadanya.

Ia tahu, dengan memberikan nama, berarti ia secara resmi mengakui jiwa kecil itu sebagai bagian dari keluarga Arkatama, menghapus klaim Markus selamanya.

Ariel mencium kening Relia, lalu menatap kendi itu dengan tatapan hormat.

"Namanya Bintang Arkatama," ucap Ariel dengan suara yang mantap dan dalam.

"Bintang Arkatama bin Relia. Karena dia adalah cahaya kecil yang sempat mampir untuk menunjukkan betapa kuatnya kamu. Dia tidak akan membawa nama monster itu. Dia akan membawa nama keluarga kita, dan namamu sebagai ibu yang paling berani."

Air mata Relia tumpah seketika. "Bintang Arkatama bin Relia..." ia mengulang nama itu berkali-kali, seolah setiap sebutan memberikan kekuatan baru untuk jiwanya yang sempat hancur.

"Terima kasih, Mas. Terima kasih sudah memberinya tempat di keluargamu."

"Dia anakmu, Relia. Maka dia juga adalah tanggung jawabku untuk dihormati," sahut Ariel.

"Besok pagi, kita akan mengantarkannya ke tempat peristirahatan yang indah di taman belakang mansion kita. Di sana, dia bisa melihat matahari terbit setiap hari, tepat di bawah pohon pinus yang paling besar."

Malam itu, di dalam kamar VVIP yang sunyi, Relia merasa sebuah lubang besar di hatinya perlahan mulai tertutup oleh keikhlasan.

Ia meraih laptopnya yang diletakkan Ariel di sofa, lalu mengetikkan baris terakhir untuk bab hari itu.

Bab: Nama yang Menghapus Kutukan

Hari ini, aku tidak lagi menangisi apa yang hilang. Aku merayakan sebuah perpisahan. Kamu pergi dengan nama yang indah, Bintang. Kamu tidak mewarisi kegelapan ayahnya, tapi kamu membawa cahaya suamiku. Tidurlah yang nyenyak.

Ceklek!

Kedatangan perawat membawa nampan berisi bubur sumsum dan air gula jawa.

"Silahkan dimakan, Nyonya." ucap perawat.

"Terima kasih, Sus." ucap Ariel.

Ariel membuka plastik dan menuangkan air gula jawa ke mangkuk bubur sumsum.

Ariel tersenyum kecil, ia meniup sesendok bubur sumsum yang masih hangat sebelum mengarahkannya ke bibir Relia.

Dengan sabar, ia menunggu istrinya menyambut suapan itu.

"Mas, kenapa aku harus makan bubur? Tadi sebelum operasi aku makan nasi daging empal rasanya enak sekali. Kenapa sekarang harus bubur sumsum yang lembek begini?" tanya Relia dengan nada sedikit manja, namun masih tersirat sisa kelelahan di matanya.

Ariel terkekeh pelan, ia mengusap sudut bibir Relia dengan tisu.

"Sayang, kamu kan baru saja menjalani bius total. Tubuhmu, terutama sistem pencernaanmu, masih 'tertidur' karena pengaruh obat bius itu. Kalau langsung makan nasi yang keras, perutmu bisa kaget, mual, atau malah kram."

Ia menyuapkan sendok kedua dengan gerakan yang sangat hati-hati.

"Bubur sumsum ini teksturnya sangat lembut dan terbuat dari tepung beras, jadi ususmu tidak perlu bekerja keras untuk mengolahnya. Selain itu, air gula jawa ini mengandung glukosa alami yang cepat diserap tubuh untuk mengembalikan energimu yang terkuras setelah prosedur tadi."

Relia mengunyah pelan, merasakan rasa manis gurih yang menyelimuti lidahnya.

"Jadi ini biar perutku nggak kaget ya, Mas?"

"Tepat sekali. Lagipula, menurut filosofi orang tua dulu, bubur sumsum itu simbol pemulihan dan pembersihan diri. Setelah melewati peristiwa yang berat, kita makan yang lembut-lembut agar hati dan pikiran kita juga ikut tenang," tambah Ariel sambil menatap Relia dengan tatapan yang begitu dalam.

Relia terdiam, ia menelan buburnya dan menatap tangan Ariel yang terus telaten menyuapinya.

"Mas Ariel, terima kasih ya. Mas tidak hanya jadi dokterku, tapi jadi suamiku yang paling hebat. Mas tidak malu kan punya istri yang seperti ini?"

Ariel meletakkan mangkuk bubur itu di nakas sejenak.

Ia menggenggam kedua tangan Relia, lalu menciumnya lama sekali.

"Dengarkan aku, Nyonya Arkatama. Aku tidak pernah melihat satu pun alasan untuk malu. Yang aku lihat adalah seorang wanita luar biasa yang sanggup bertahan di tengah badai. Aku bangga memilikimu. Sekarang, habiskan buburnya, lalu kita istirahat. Besok, kita harus pulang untuk mengantarkan Bintang ke tempat peristirahatannya."

1
Uthie
Awal cerita yg sudah sangat mengerikan 😰
Mundri Astuti
lagi napa ngga diborgol si, kan dah bahaya banget ...dari kemarin nafsu banget mau bunuh relia juga ..
Mundri Astuti
si Markus bener" ya, masih belum jera..miskinin sekalian dia biar ngga bnyk gaya ma ga berkutik
Mundri Astuti
usut sampe tuntas Ariel, siapa" aja dibelakang Markus yg ngebantu melrikan diri ..ringkus juga si Sarah.
mudah"an relia selamat
Herdian Arya
mungkin itu lebih baik, kalaupun lahir juga akan menderita punya bapak kelainan mental seperti Markus.
Mundri Astuti
lah relia kan belum nikah sama Markus, jatuhnya anak diluar nikah calon bayi relia, dan itu nasabnya pada ibu
my name is pho: iya kak.
total 1 replies
Herdian Arya
saking bencinya dengan Markus dan sarah pengen tak kremasi hidup hidup tuh 2 manusia iblis.
my name is pho: sabar kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!