Elina bukan istri yang polos. Saat suami dan mertuanya berusaha merebut aset dan perusahaannya, ia memilih diam sambil menyiapkan perangkap.
Mereka mengira Elina tidak tahu apa-apa, padahal justru menggali kehancuran sendiri.
Karena bagi Elina, pengkhianatan tidak dibalas dengan air mata... melainkan dengan kehancuran yang terencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari yang tenang
Satu minggu berlalu.
Sudah satu minggu Elina berada di Shanghai. Di kota ini, Elina benar-benar menikmati liburan tanpa adanya embel-embel pekerjaan yang biasanya selalu membebani pikirannya. Ia berdiri di depan jendela apartemennya, menatap pemandangan kota Shanghai yang dipenuhi gedung-gedung pencakar langit.
"Sudah satu minggu aku di sini. Ini pertama kalinya aku benar-benar menikmati liburan tanpa ada pekerjaan," gumamnya pelan, nyaris seperti berbicara pada diri sendiri.
Dring! Dring!
Suara notifikasi muncul memecah keheningan. Elina melangkah ke arah meja, lalu mengambil ponselnya. Nama Rio—sepupunya, tertera jelas di layar.
"Halo, Rio."
"Elina, kamu jahat sekali," suara Rio terdengar panjang lebar di seberang sana. "Kamu sudah seminggu di Shanghai, tapi kamu tidak menghubungiku."
Elina terkekeh kecil mendengar gerutuan itu. "Aku tidak ingin mengganggu kamu," ucapnya ringan.
"Kamu selalu saja bicara seperti itu, padahal aku tidak merasa keberatan," balas Rio.
"Bagaimana liburanmu?"
"Baik. Aku sangat senang di sini, tanpa memikirkan pekerjaan, Rio," jawab Elina jujur.
"Ya, ya, ya. Kamu memang perlu liburan," ujar Rio. Nada suaranya terdengar tegas namun santai. "Sekarang bersiaplah. Aku akan menemani kamu jalan-jalan hari ini. Tidak ada penolakan. Aku tunggu di lobi apartemen kamu."
"Apa?" Elina sedikit terkejut. "Kamu sudah ada di lobi?"
"Iya. Bersiaplah."
Tut.
Panggilan terputus begitu saja. Elina menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas kecil, lalu tersenyum.
Tanpa membunga waktu, ia langsung bersiap-siap. Tak butuh waktu lama, hanya beberapa menit, Elina telah siap. Ia meraih tasnya, lalu melangkah keluar kamar dan menuju lobi apartemen untuk menemui Rio.
"Elina..."
Elina menoleh. Terlihat Rio berdiri tak jauh darinya, melambaikan tangan dengan senyum lebar di wajahnya. Tanpa ragu, Elina langsung menghampirinya.
“Elina, sepupuku…” ucap Rio dengan nada lebay, sambil merentangkan kedua tangannya, jelas meminta pelukan.
Elina pun membalas pelukan itu sesaat. “Lebay banget sih,” ucapnya sambil tersenyum, lalu melepaskan pelukan mereka.
Rio tersenyum lebar, lalu langsung meraih kunci mobil di tangannya.
“Ayo. Hari ini aku jadi tour guide pribadi kamu.”
Elina mengangkat alis. “Aku nggak pakai itinerary, lho.”
“Justru itu serunya.” Rio membuka pintu mobil untuk Elina. “Santai. Kita keliling Shanghai dulu.”
Mobil melaju meninggalkan area apartemen. Jalanan Shanghai sore itu ramai tapi tertib. Gedung-gedung tinggi berjejer, memantulkan cahaya matahari yang mulai condong ke barat.
Elina menatap keluar jendela, matanya berbinar.
“Shanghai ternyata seindah ini kalau dilihat tanpa tekanan kerja.”
Rio melirik sekilas. “Biasanya kamu lihat kota dari balik laptop, ya?”
“Elina yang dulu iya.” Elina tersenyum tipis. “Yang sekarang… lagi belajar menikmati.”
Rio tidak menanggapi, hanya tersenyum kecil sambil tetap fokus menyetir.
Beberapa menit berlalu.
“Aku mau bawa kamu ke satu tempat,” ucap Rio akhirnya.
“Kemana?”
“Kafe. Salah satu yang paling terkenal di sini.”
Elina menoleh. “Kafe?”
“Iya. View-nya langsung ke sungai. Dan—” Rio tersenyum penuh arti, “kopinya enak.”
Mobil berhenti di depan sebuah bangunan bergaya modern dengan sentuhan klasik. Papan nama kafe itu terlihat sederhana, tapi antrean pengunjung di depannya cukup ramai.
Elina turun dari mobil dan menatap sekeliling.
“Kelihatannya mahal.”
Rio terkekeh. “Tenang. Kamu kan lagi liburan.”
Mereka masuk ke dalam cafe. Aroma kopi langsung menyambut, berpadu dengan alunan musik lembut. Rio memilih meja di dekat jendela besar.
Elina duduk, matanya terpaku pada pemandangan di luar.
“Ini… cantik.”
“Aku tahu kamu bakal suka.” Rio membuka menu. “Pesan apa?”
Elina mengambil menu lalu menghela napas pelan.
“Untuk pertama kalinya… aku tidak terburu-buru.”
Rio menatapnya, lalu tersenyum hangat.
“Berarti liburanmu berhasil, Elina.”
Elina menutup menu, menatap Rio.
“Aku ingin ini saja, Rio. Kelihatannya enak,” ucap Elina sambil menunjuk salah satu menu di buku menu.
“Hm, ini memang best seller di sini, Elina,” ucap Rio, lalu memanggil pelayan untuk memesan.
Sembari menunggu pesanan mereka, Rio memulai obrolan ringan. “Bagaimana rasanya jadi CEO?”
Elina terkekeh kecil. “Aku belum benar-benar merasakannya, Rio. Aku kan lagi liburan dulu,” jawabnya sambil tersenyum. “Tapi pasti rasanya berat.”
“Iya sih, tapi aku yakin kamu bisa,” ucap Rio dengan nada meyakinkan.
“Doakan, ya,” ucap Elina.
“Tentu saja,” jawab Rio tanpa ragu.
Tak selang lama, pesanan mereka berdua pun tiba. Rio memperhatikan Elina yang sudah menyuapkan makanan ke mulutnya.
“Bagaimana?” tanya Rio.
Elina mengangguk pelan. “Enak,” jawabnya singkat.
Rio ikut mengangguk, lalu menatap Elina lebih dalam. “Elina?” ucapnya, kali ini dengan nada serius.
“Hmmm?”
“Kenapa kamu tidak memenjarakan mantan suami kamu itu? Dia sudah menggelapkan dana perusahaan, tapi kamu malah membiarkannya bebas, Elina. Dan…” Rio berhenti sejenak, rahangnya mengeras. “Dia juga menjalin hubungan dengan sahabat kamu sendiri. Brengsek memang,” ucapnya dengan nada dingin dan geram.
Elina menghentikan aktivitas makannya. Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya menatap Rio. “Rio, aku paham maksud kamu. Tapi tenang saja,” ucapnya datar. “Hukuman penjara akan tiba, tapi dia harus lebih dulu menderita dengan balasan yang sudah aku siapkan.”
Nada suaranya dingin, matanya menyimpan amarah yang tak terucap.
“Aku kira kamu akan diam saja, Elina, dengan semua yang sudah mereka perbuat ke kamu,” ucap Rio.
“Tidak, Rio. Hukuman penjara terlalu ringan untuknya.”
Rio mengangguk setuju. Apa yang Elina katakan memang benar—hukuman penjara terasa terlalu ringan untuk Ares.
Mereka pun kembali melanjutkan obrolan dengan suasana yang lebih ringan, seolah topik berat tadi sengaja ditinggalkan. Hingga saat mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba seseorang memanggil Rio.
“Rio…”