Elina bukan istri yang polos. Saat suami dan mertuanya berusaha merebut aset dan perusahaannya, ia memilih diam sambil menyiapkan perangkap.
Mereka mengira Elina tidak tahu apa-apa, padahal justru menggali kehancuran sendiri.
Karena bagi Elina, pengkhianatan tidak dibalas dengan air mata... melainkan dengan kehancuran yang terencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggung kemenangan
Tibalah hari dinanti.
Ballroom utama Anderson Group Internasional tampak berkilau di bawah cahaya lampu kristal. Dekorasi mewah tertata sempurna, memantulkan citra kekuasaan dan kejayaan perusahaan yang telah berdiri puluhan tahun.
Para tamu penting mulai berdatangan, direksi, pemegang saham, mitra bisnis, hingga tokoh-tokoh berpengaruh, semuanya hadir dengan satu tujuan yang sama: menyaksikan siapa yang akan duduk di kursi CEO baru.
Bisik-bisik halus terdengar di setiap sudut ruangan. Nama demi nama disebut pelan, spekulasi beredar, keyakinan tumbuh di wajah-wajah tertentu. Di tengah kemewahan dan senyum penuh basa-basi itu, satu keputusan besar tengah menunggu untuk diumumkan.
Tak berselang lama, mobil Ares berhenti tepat di pintu gedung. Ares, Amelia, dan Arman turun bersamaan, penampilan mereka mencolok dengan balutan busana serba mahal yang memancarkan kelas dan ambisi.
Ketiganya langsung melangkah masuk ke dalam ruangan, menuju kursi yang telah disediakan khusus untuk mereka.
Ares menatap sekeliling, sorot matanya bergerak cepat, seolah mencari satu sosok yang sejak tadi belum terlihat. Namun, Elina tak juga ia temukan di antara kerumunan tamu.
"Mas Ares lagi cari siapa sih?" sahut Maya dari belakang, suaranya lembut namun penuh rasa ingin tahu.
Ares segera menoleh, lalu tersenyum pada Maya. "Rekan bisnis aku, sayang. Sepertinya dia belum datang," jawab Ares berbohong dengan wajah tenang. Tatapannya kemudian beralih, menyapu penampilan Maya dari atas ke bawah. "Wah, May... kamu terlihat cantik malam ini," ucapnya dengan nada kagum.
Maya tersenyum malu. "Makasih, Mas."
Tak lama kemudian, suasana ballroom mendadak berubah. Deru halus mobil mewah terdengar berhenti tepat di depan pintu utama. Beberapa kepala spontan menoleh. Pintu terbuka, dan Albert turun lebih dulu dengan langkah tenang penuh wibawa. Di sampingnya, Aurelia melangkah anggun, balutan gaun elegan menegaskan pesona kelas atas yang tak pernah pudar.
Di antara keduanya, Elina muncul. Gaun yang dikenakannya sederhana namun berkelas, melekat sempurna di tubuhnya.
Leher dan pergelangan tangannya dihiasi satu set berlian yang berkilau dingin, kilau yang tak berlebihan, tapi cukup untuk langsung mencuri perhatian. Berlian itu... berlian yang selama ini menjadi incaran Maya dan Amelia.
Bisik-bisik di dalam ballroom seketika berubah arah.
"Siapa itu?"
"Istri Tuan Ares kan?"
"Kenapa auranya beda sekali malam ini..."
"Kenapa Nona Elina tidak datang bersama Tuan Ares?"
Tatapan para tamu tertuju penuh kagum pada ketiganya saat mereka melangkah masuk. Elina tersenyum tipis, tenang, seolah ia memang pantas berada di pusat perhatian itu.
Di sisi lain ruangan, Ares membeku. Matanya tak lepas dari Elina. Wajah perempuan itu anggun, dingin, berkelas, sangat jauh dari bayangan Elina yang ia yakin telah kembali.
"Itu... Elina?" gumamnya pelan, nyaris tak percaya.
Amelia dan Maya saling pandang. Mata Maya terpaku pada kilau berlian yang menghiasi Elina, sorot iri tak sempat ia sembunyikan. Sementara Amelia menggenggam tasnya lebih erat, rahangnya mengeras.
Bukan hanya karena Elina datang…
melainkan karena Elina datang dengan cara yang tak pernah mereka perkirakan.
MC melangkah ke tengah panggung. Lampu ballroom perlahan meredup, sorot cahaya tertuju ke podium. Suara percakapan para tamu mereda, digantikan keheningan penuh antisipasi.
“Selamat malam, yang terhormat Bapak dan Ibu Direksi Anderson Group Internasional,
para pemegang saham, mitra bisnis, serta seluruh tamu undangan yang kami hormati.”
MC berhenti sejenak, menatap ke arah hadirin.
“Merupakan sebuah kehormatan bagi kami dapat menyambut Anda semua di malam yang istimewa ini. Malam di mana Anderson Group Internasional akan mencatat sejarah baru.”
Beberapa tamu tampak duduk lebih tegak. Ares menyilangkan tangan di dada, wajahnya penuh keyakinan.
“Seperti yang kita ketahui bersama,” lanjut MC, “perusahaan ini telah berdiri kokoh selama puluhan tahun, melewati berbagai tantangan, dan terus berkembang di bawah kepemimpinan yang kuat.”
MC menarik napas, nada suaranya dibuat lebih dalam.
“Dan malam ini… kita akan menyaksikan siapa sosok yang dipercaya untuk melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan tersebut. Sosok yang akan membawa Anderson Group Internasional ke era berikutnya.”
Hening.
Lampu kristal berkilau pelan. Amelia menegakkan punggungnya, Maya tersenyum penuh harap ke arah Ares.
“Calon CEO baru ini,” ucap MC perlahan,
“bukan hanya dinilai dari garis keturunan, tetapi dari visi, kecerdasan, dan kemampuannya menjaga serta memperluas kejayaan perusahaan.”
Ares tersenyum tipis. Ia yakin.
MC melirik ke arah Albert yang duduk tenang.
“Tanpa berlama-lama lagi…
izinkan saya mempersilakan Chairman Anderson Group Internasional,
Bapak Albert Atmaja Anderson, untuk menyampaikan pengumuman resmi CEO baru Anderson Group Internasional.”
Tepuk tangan menggema di seluruh ballroom.
Albert berdiri.
Langkahnya mantap menuju podium. Suara tepuk tangan perlahan mereda, menyisakan ketegangan yang menggantung di udara.
Ares mengepalkan tangannya di atas lutut.
Amelia menahan senyum.
Maya menatap panggung dengan mata berbinar.
Aurelia dan Elina...
Tampak duduk tenang, wajah mereka nyaris tak menunjukkan emosi apa pun.
Detik demi detik berlalu.
Semua orang menunggu satu nama.
Albert berdiri di balik podium. Tatapannya menyapu seluruh ballroom, tenang, penuh wibawa. Satu tangan bertumpu ringan di sisi podium, yang lain memegang kartu kecil berlogo Anderson Group Internasional.
"Selamat malam. Para tamu kehormatan, jajaran direksi, pemegang saham, serta seluruh mitra bisnis yang saya hormati."
Ia berhenti sejenak. Ballroom hening sempurna.
"Terima kasih atas kehadiran Anda semua malam ini. Malam yang penting, bukan hanya bagi keluarga Anderson Group Internasional."
Albert menegakkan bahunya.
"Keputusan ini tidak diambil secara terburu-buru. Kami mempertimbangkan rekam jejak, visi jangka panjang, serta komitmen terhadap nilai-nilai perusahaan yang telah kami bangun selama puluhan tahun."
Ares duduk semakin tegak. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya.
Amelia menautkan jari-jarinya, penuh keyakinan.
Maya menahan napas.
"CEO baru Anderson Group Internasional," lanjut Albert dengan suara mantap, "adalah sosok yang kami percaya mampu memimpin, melindungi, dan membawa perusahaan ini melangkah lebih jauh, tanpa ragu, tanpa kompromi."
Ia menunduk sekilas pada kartu di tangannya. Lalu... mengangkat wajahnya kembali.
"Dengan ini, secara resmi saya umumkan—"
Hening.
Lampu kristal seolah berhenti berkilau.
"CEO baru Anderson Group Internasional adalah..."
Albert berhenti. Satu detik. Dua detik.
Lalu—
“Elina Aurelia Anderson.”
Suara itu jatuh tegas. Tanpa ragu.
Seisi ballroom terdiam sebelum akhirnya riuh oleh desah kaget dan bisik-bisik tak tertahan.
Ares membeku.
Senyum di wajahnya lenyap seketika.
“Apa…?” gumamnya nyaris tak terdengar.
Amelia menatap panggung dengan mata melebar, wajahnya memucat.
Maya terpaku, tubuhnya kaku, tatapannya beralih pada Elina—tak percaya.
Sementara itu, Elina bangkit dari tempat duduknya dengan anggun. Gaun elegannya berkilau di bawah cahaya lampu.
Elina melangkah pelan ke depan, wajahnya tenang, senyumnya tipis.
Bukan senyum kemenangan.
Melainkan senyum seseorang yang sudah tahu hasil akhirnya sejak awal.
Elina melangkah naik ke podium dengan tenang. Setiap langkahnya mantap, tanpa ragu, tanpa tergesa. Ballroom kembali hening, seolah semua napas ditahan bersamaan.
Ia berdiri di samping Albert, menerima mikrofon dengan satu anggukan kecil. Sorot lampu jatuh tepat ke wajahnya, wajah yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja merebut kekuasaan.
Elina menatap seisi ruangan.
Lalu tersenyum tipis.
“Selamat malam.”
Suaranya lembut. Terlalu lembut, namun dingin.
“Terima kasih atas kehadiran Anda semua. Malam ini… tentu membawa banyak kejutan.”
Beberapa tamu tersenyum kaku.
Di kursinya, Ares menegang. Rahangnya mengeras.
“Menjadi CEO bukanlah soal posisi,” lanjut Elina, suaranya tetap stabil,
“melainkan tentang tanggung jawab. Tentang kesetiaan. Tentang siapa yang mampu menjaga perusahaan ini, bukan memanfaatkannya.”
Tatapan Elina beralih sekilas.
Tepat ke arah Ares.
Hanya satu detik.
Namun cukup.
Ares mengepalkan tangan. Dadanya naik turun.
“Saya dibesarkan untuk percaya,” Elina melanjutkan,
“bahwa kekuasaan tidak boleh jatuh ke tangan orang yang serakah… apalagi yang tamak.”
Amelia tersentak.
Wajahnya menegang.
“Serakah ingin memiliki,” Elina berkata datar,
“tamak ingin merebut lebih dari yang pantas.”
Hening.
Menusuk.
Maya menunduk, jari-jarinya gemetar di atas gaun mahalnya.
Arman menggeser duduknya, wajahnya memerah menahan emosi.
Elina menghela napas pelan, tenang, terkendali.
“Anderson Group Internasional akan saya pimpin dengan satu prinsip,” katanya,
“tidak ada tempat bagi pengkhianatan. Tidak di rumah. Dan—”
Ia berhenti sejenak.
“tidak di perusahaan ini.”
Suasana berubah berat.
Ares menatap panggung dengan mata gelap, rahangnya mengatup keras.
Amelia menggenggam tasnya kuat-kuat, kukunya hampir menancap ke kulit.
Arman menahan amarah, sorot matanya penuh hitungan.
Maya menggigit bibir, wajahnya pucat, jantungnya berdetak tak karuan.
Sementara Elina…
tersenyum tipis sekali lagi.
“Terima kasih.
Saya harap… kita semua bisa bekerja sama dengan jujur ke depannya.”
Ia menunduk sopan.
Tepuk tangan menggema, terlambat, ragu, bercampur kagum dan ketakutan.
Elina turun dari podium dengan gerak mantap. Tepuk tangan memenuhi ballroom, bukan sekadar formalitas, melainkan dukungan yang tulus. Beberapa direksi saling bertukar anggukan, para karyawan tersenyum bangga. Di wajah-wajah itu, tak terlihat keraguan.
CEO baru mereka telah diterima.
Namun, di tengah riuh tepuk tangan itu, sebuah suara keras mendadak memotong suasana.
“Elina tidak bisa menjadi CEO!”