Senja, seorang Arsitek berbakat dengan karier gemilang di Bali, memilih melepaskan proyektor dan penggarisnya demi sebuah janji suci. Ia jatuh cinta pada Rangga, mantan pengamen jalanan yang ia temui di tikungan parkir kantornya.
Demi "merajakan" sang suami, Senja resign dari firma arsitek, menguras tabungan untuk memodali karier Rangga menjadi DJ, hingga rela belajar memasak demi memanjakan lidah suaminya. Bagi Senja, rumah pribadinya adalah istana tempat ia mengabdi sepenuhnya.
Namun, saat Rangga mulai sukses dan dipuja banyak orang, dia lupa siapa yang membangun panggungnya. Rumah hanya dijadikan tempat "numpang makan" dan ganti baju, sementara hatinya jajan di kamar hotel setiap luar kota.
Senja tidak akan menangis bombay. Jika Rangga hanya butuh pelayanan gratis tanpa kesetiaan, dia salah alamat. Senja siap menendang benalu itu dari rumahnya!
"Aku istrimu, Mas. Bukan Warteg tempatmu numpang makan saat lapar, lalu kau tinggalkan setelah kenyang!"
Jam update:07:00-12:00-20:00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Umpan untuk Sang Pahlawan
Hujan rintik-rintik membasahi kaca sebuah kafe kecil di sudut kota Semarang. Rangga duduk di pojok ruangan, sengaja memilih meja yang remang-remang. Penampilannya hari ini benar-benar dipikirkan matang-matang: kemeja yang sedikit pudar warnanya, wajah yang tampak belum bercukur dua hari, dan tatapan mata yang kosong seolah menanggung beban dunia.
Tak lama kemudian, pintu kafe berdenting. Sinta masuk dengan terburu-buru, matanya mencari-cari sosok yang mengiriminya pesan penuh permohonan bantuan sejam yang lalu. Begitu melihat Rangga, langkah Sinta melambat, ada guratan rasa iba yang jelas terpancar dari wajahnya.
"Mas Rangga?" sapa Sinta ragu.
Rangga mendongak, lalu buru-buru berdiri dengan gerakan yang sengaja dibuat agak limbung. "Sinta... terima kasih sudah mau datang. Aku nggak tahu lagi harus minta tolong ke siapa."
Sinta duduk di depan Rangga, hatinya mencelos melihat pria yang dulu ia anggap sombong kini tampak seperti pengemis. "Mas, kenapa sampai begini? Aku lihat di berita dan postingan Facebook Ibu Lastri... apa bener Senja setega itu?"
Rangga menunduk, memutar-mutar gelas kopi kosong di depannya. "Aku nggak mau jelek-jelekin Senja, Sin. Bagaimanapun dia masih istriku. Tapi... ya kamu lihat sendiri. Semua alat kerjaku diambil. Motor yang biasa aku pakai cari nafkah ditarik. Aku sekarang tinggal di kosan yang kalau hujan bocor. Aku nggak masalah hidup susah, tapi aku sedih lihat Ibuku yang sudah tua harus ikut menanggung malu."
Sinta menghela napas panjang, tangannya bergerak menyentuh punggung tangan Rangga sejenak sebagai tanda simpati—gerakan yang langsung membuat Rangga tahu bahwa umpannya telah dimakan.
"Senja memang berubah sejak sukses jadi arsitek di sini, Mas. Dia jadi dingin banget. Aku berkali-kali nasehatin dia di grup kantor, tapi malah aku yang disemprot," keluh Sinta, merasa mendapatkan kawan senasib dalam "menghadapi" Senja.
"Mungkin aku memang salah, Sin," Rangga mulai melancarkan jurus gaslighting-nya. "Aku mungkin kurang perhatian karena terlalu sibuk cari koneksi buat masa depan kami. Tapi apa salah kalau aku butuh dukungan? Wanita yang di video itu... dia cuma teman curhat, Sin. Dia satu-satunya orang yang mau dengerin keluh kesahku saat Senja sibuk sama denah-denahnya. Aku khilaf karena merasa kesepian, tapi Senja langsung hukum aku seolah aku ini kriminal kelas kakap."
Sinta mengangguk-angguk setuju. "Iya, Mas. Manusia itu tempatnya salah. Harusnya Senja kasih kesempatan kedua. Apalagi kalian sudah menikah. Pernikahan itu kan ibadah, bukan cuma kontrak bisnis kayak yang Senja pikirkan sekarang."
Rangga menghapus air mata imajinernya. "Sekarang aku cuma pengen kerja lagi, Sin. Tapi gimana mau kerja kalau alat DJ-ku saja dijual sama dia? Aku mau beli alat baru, tapi uangku nggak ada. Semuanya habis buat renovasi rumah Senja dan bantu sekolah Doni dulu. Aku benar-benar nol sekarang."
Sinta terdiam sejenak. Ia melihat Rangga sebagai sosok "pria yang butuh diselamatkan". Ada ego di dalam diri Sinta yang merasa bahwa dia bisa menjadi pahlawan yang lebih baik daripada Senja. Dia ingin membuktikan bahwa dia adalah wanita yang lebih berhati mulia, lebih pengertian, dan lebih "shalehah" dibandingkan Senja yang dianggapnya sombong.
"Mas, kebetulan aku ada sedikit tabungan. Dan di rumahku ada ruang kosong di lantai dua, bekas gudang tapi sudah aku bersihkan. Kalau Mas mau... Mas bisa pakai buat latihan sementara. Dan aku ada kenalan pemilik kafe yang mungkin butuh DJ," tawar Sinta dengan mata berbinar-binar.
Rangga pura-pura terkejut, aktingnya luar biasa sempurna. "Lho, jangan Sin. Aku nggak mau nambah beban kamu. Nanti apa kata Senja kalau tahu?"
"Nggak usah pikirin Senja! Dia sudah nggak peduli sama kamu, kan? Dia sudah buang kamu kayak sampah. Aku nggak tahan lihat orang dizolimi begini, Mas. Anggap saja ini bantuanku sebagai sesama manusia. Aku percaya, kalau orang beneran mau berubah, pintu rezeki pasti dibuka."
Rangga tersenyum dalam hati. Sangat lebar. Ternyata Sinta jauh lebih mudah dikelabui daripada yang ia bayangkan. "Terima kasih, Sinta. Kamu benar-benar malaikat. Kamu beda banget sama Senja... kamu punya hati yang sangat lembut."
Pujian itu masuk ke telinga Sinta seperti melodi yang indah. Sinta merasa menang atas Senja dalam hal "kualitas moral".
Malam harinya, Mbak Sari menelepon Senja dengan nada suara yang hampir meledak karena marah.
📞"Senja! Kamu tahu nggak apa yang baru saja dilakukan Sinta si sok suci itu?"
Senja yang sedang memeriksa gambar teknis proyek galerinya hanya bergumam kecil.
📞"Apa lagi, Mbak? Dia nasehatin aku lewat Mbak lagi?"
📞"Lebih parah! Dia jemput Rangga pakai mobilnya dari kosan, terus dia bawa ke rumahnya! Katanya dia mau 'menampung' Rangga karena kasihan lihat Rangga terlunta-lunta. Dia bahkan posting di status WhatsApp, foto Rangga lagi makan di rumahnya dengan caption: 'Tugas kita adalah memanusiakan manusia, bukan membuangnya saat sudah tidak berguna.' Gila nggak tuh?!"
Senja meletakkan pensilnya. Ia terdiam sejenak. Bukannya marah, Senja justru merasakan sebuah firasat yang sangat nyata.
📞"Mbak Sari, biarkan saja," ucap Senja tenang.
📞"Lho? Kok biarkan saja? Dia itu teman kita, Ja! Dia sama saja menjilat ludahnya sendiri. Dulu dia yang paling ketus nanya saldo Rangga, sekarang dia malah mungut Rangga?"
📞"Mbak, orang kayak Sinta itu butuh pembuktian. Dia merasa dia lebih hebat dari aku. Dia merasa dia bisa mengubah Rangga. Biarkan dia mencoba. Dia belum tahu saja kalau dia bukan sedang menampung manusia, tapi sedang menampung bom waktu," Senja menarik napas panjang. "Aku nggak mau buang energi buat ngurusin Sinta. Aku sudah kasih peringatan, kalau dia nggak mau dengar, itu urusan dia sama takdirnya."
📞"Tapi Ja, Rangga itu licik. Pasti dia bakal manfaatin Sinta buat nyerang kamu lagi."
📞"Justru itu, Mbak. Biar publik lihat sendiri nanti. Sinta mau jadi pahlawan? Silakan. Tapi pahlawan biasanya mati di akhir cerita kalau dia salah pilih orang yang mau diselamatkan."
...----------------...
Di rumah Sinta, Rangga sudah merasa sangat nyaman. Ia duduk di sofa Sinta, menikmati teh hangat dan camilan yang disediakan. Ia melihat sekeliling rumah Sinta. Memang tidak semewah rumah Senja, tapi cukup nyaman untuk tempat tinggal sementara secara cuma-cuma.
Rangga mulai menyusun rencana. Melalui Sinta, ia akan mendapatkan akses kembali ke lingkungan pergaulan Senja. Ia akan menggunakan Sinta sebagai "saksi hidup" bahwa dia adalah pria yang dizolimi oleh Senja.
"Sin," panggil Rangga dengan suara rendah saat Sinta baru saja kembali dari dapur. "Kamu baik banget. Aku nggak tahu gimana caranya balas budi."
Sinta duduk di sampingnya, merasa sangat bangga dengan dirinya sendiri. "Nggak usah dibalas, Mas. Aku cuma pengen lihat Mas Rangga sukses lagi dan buktiin ke Senja kalau dia salah sudah buang Mas."
Rangga meraih tangan Sinta, menciumnya perlahan. Sinta tersentak, tapi tidak menolak. Ada rasa bangga yang aneh di hatinya karena bisa "merebut" perhatian pria yang dulu dimiliki oleh temannya yang paling sukses itu.
"Aku janji, Sin. Aku bakal berubah demi kamu. Kamu adalah alasan aku buat bertahan hidup sekarang," ucap Rangga mantap.
Sinta tersenyum, merasa dirinya adalah wanita paling beruntung karena telah "menyelamatkan" seorang bintang yang jatuh. Ia tidak sadar, bahwa ia baru saja membuka pintu rumahnya untuk seorang parasit yang baru saja diusir karena telah menghisap inang sebelumnya sampai kering.
Dan di kejauhan, Senja Amara hanya menatap bintang dari balkon rumahnya. Ia tahu, babak baru dalam komedi putar ini baru saja dimulai. Dan dia hanya perlu duduk manis menunggu Sinta menyadari bahwa harga "kesempatan kedua" itu sangatlah mahal.
awas jangan smpai nyesel iya
rangga udah keterlaluan
bawa semua bukti" nya kalau rangga itu ga baik biar segera diproses