Alya menikah dengan Arga bukan karena harta, melainkan cinta dan harapan akan keluarga yang hangat. Namun sejak hari pertama menjadi menantu, Alya tak pernah benar-benar dianggap sebagai istri. Di mata keluarga suaminya, ia hanyalah perempuan biasa yang pantas diperintah—memasak, membersihkan rumah, melayani tanpa suara. Bukan menantu, apalagi keluarga. Ia diperlakukan layaknya pembantu yang kebetulan menyandang status istri.
Takdir mempertemukan Alya dengan seorang pria yang tak pernah menilainya dari latar belakang—Sultan Rahman, pengusaha besar yang disegani, berwibawa, dan memiliki kekuasaan yang mampu mengubah hidup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 Jalan yang Bercahaya
Pagi di desa Sukamaju datang dengan langkah yang sama lembutnya, namun kali ini ada sentuhan berbeda yang menyelimuti setiap sudut desa. Cahaya matahari tidak hanya merambat di sela pepohonan, melainkan juga menyinari gerbang baru yang sedang disiapkan di depan balai desa—sebuah simbol bahwa perubahan sungguh telah tiba. Burung-burung berkicau lebih riang, seolah meriahkan awal dari babak baru yang mereka saksikan tumbuh perlahan.
Alya terbangun dengan rasa yang lebih dari sekadar legaan. Ada semangat yang menyala dalam dirinya, seperti benih yang baru saja tumbuh tunas setelah musim hujan panjang. Ia melihat Sultan sudah tidak ada di sampingnya; dari arah kamar mandi terdengar suara aliran air yang lembut. Ia berdiri dan mendekati jendela, menarik tirai dengan perlahan agar sinar matahari bisa masuk lebih banyak. Udara pagi membawa aroma baru selain tanah dan rumput basah—aroma kayu yang sedang dipoles untuk meja baru di balai desa, dan sedikit aroma bunga kamboja yang tumbuh di halaman depan rumah tetangga.
Ia turun ke dapur dan menemukan Satria sedang berdiri di dekat kompor, dengan wajah penuh fokus sedang mencoba mengocok telur untuk membuat telur dadar. Tangan kecilnya sedikit gemetar, tapi ia tetap gigih menggerakkan whisk dengan hati-hati.
“Jangan terlalu banyak mengocok, Nak,” ujar Alya dengan lembut, menyentuh bahu anaknya. “Kalau terlalu banyak udara, telurnya akan mudah hancur saat dimasak.”
Satria menoleh dengan wajah yang sedikit merah karena kesalahan, tapi segera tersenyum. “Aku mau bantu Bunda membuat sarapan. Tadi aku melihat Pak Haji Mansur membawa beberapa telur dari kandangnya. Katanya untuk kita semua.”
Alya tersenyum hangat. Ia mengambil wajan dan menyalakan kompor dengan perlahan. “Baiklah, kamu bisa menambahkan daun bawang yang sudah kupotong di atas meja. Tapi hati-hati ya, pisau itu tajam.”
Saat mereka sedang sibuk dengan sarapan, Ratna masuk ke dapur dengan tangan membawa sebuah baskom kecil berisi buah nangka muda yang sudah dipotong-potong. “Aku melihat pohon nangka di belakang rumah sedang berbuah banyak. Aku pikir bisa kita olah jadi sambal atau lalapan,” katanya dengan suara yang tenang namun penuh rasa ingin berbagi.
Alya mengangguk. “Itu ide bagus. Nanti setelah sarapan kita bisa membuat sambalnya bersama. Satria suka sekali sambal nangka muda yang kamu buat kemarin.”
Ratna melihat Satria yang sedang fokus menaburkan daun bawang ke dalam mangkuk telur, dan senyumannya menjadi lebih hangat. “Kalau begitu, aku akan mempersiapkan cabai dan bawangnya nanti.”
Tak lama kemudian, Sultan masuk ke dapur dengan beberapa berkas di tangan. Ia menyimpan berkas itu di atas meja dan kemudian mencium pelukan Alya di dahinya. “Pagi, Sayang. Tadi aku sudah berbicara dengan Pak Holil, kepala desa. Dia bilang bahwa bantuan modal dari kelompok tani luar daerah sudah mulai masuk. Kita bisa segera memulai pembelian benih dan alat-alat pertanian yang dibutuhkan.”
Alya mengangkat alisnya dengan senang. “Benarkah? Itu kabar baik sekali. Sudahkah kamu membicarakan tentang pembagian zona tanam dengan kelompok warga?”
“Saya sudah bahas dengan beberapa ketua kelompok,” jawab Sultan sambil mengambil secangkir teh hangat yang sudah Alya sediakan. “Mereka sepakat untuk memulai dengan zona yang tanahnya paling subur terlebih dahulu. Bu Siti dan kelompok pengrajin juga sudah siap untuk memulai pelatihan anyaman bambu bagi warga yang ingin ikut.”
Sarapan berjalan dengan suasana yang hangat dan penuh harapan. Satria tidak henti-hentinya bercerita tentang rencana dia untuk membuat gambar peta desa yang lebih lengkap, dengan menambahkan gambar pohon-pohon besar dan sungai yang ada di sekitar desa. Ratna juga berbagi tentang rencana dia untuk mengajak beberapa teman dari kota untuk datang ke desa dan memberikan pelatihan tentang cara memasarkan produk hasil kerajinan desa secara online.
Setelah sarapan, mereka semua berjalan menuju balai desa bersama-sama. Di jalan, mereka bertemu banyak warga yang sedang bergerak dengan penuh semangat—beberapa sedang membawa alat pertanian menuju sawah, beberapa lagi sedang membawakan bahan-bahan untuk kerajinan ke balai desa. Suasana desa benar-benar berbeda dari beberapa minggu yang lalu; dulu ada kesedihan dan ketidakpastian yang mengelilingi desa, tapi sekarang hanya ada semangat dan harapan yang menyala terang.
Ketika mereka tiba di balai desa, mereka melihat bahwa banyak warga sudah berkumpul di sana. Bu Siti sedang menunjukkan contoh anyaman bambu yang baru saja selesai dibuat kepada beberapa warga muda yang ingin belajar. Di sisi lain, beberapa warga sedang membantu memasang rak-rak baru untuk menampilkan produk kerajinan desa. Papan gambar yang pernah Satria lihat sekarang sudah dilengkapi dengan catatan-catatan baru dan gambar-gambar yang menggambarkan rencana desa untuk masa depan.
Haji Mansur mendekati mereka dengan wajah yang penuh kegembiraan. “Selamat pagi, semuanya. Kita punya kabar baik lagi. Seorang pengusaha dari kota besar ingin berkunjung ke desa kita minggu depan. Dia tertarik untuk membeli produk kerajinan kita secara besar-besaran dan mungkin juga akan membantu kita membangun pusat pembelajaran yang lebih modern.”
Semua orang merasa sangat senang mendengar kabar itu. Ratna mengambil langkah maju dan berkata, “Jika itu benar, saya bisa membantu menyusun presentasi tentang produk desa dan rencana pengembangannya. Saya juga bisa menghubungi beberapa teman saya yang bekerja di bidang desain untuk membantu kita merancang kemasan produk yang lebih menarik.”
Alya melihat Ratna dengan rasa kagum dan penghargaan yang mendalam. Ia tahu bahwa perubahan yang terjadi pada Ratna tidaklah mudah, tapi ia sangat bersyukur bahwa akhirnya mereka bisa bekerja bersama untuk kebaikan desa dan semua warganya.
Rapat kecil segera dimulai. Kali ini, tidak hanya Alya dan Sultan yang berbicara, tapi banyak warga yang turut memberikan ide dan pendapat mereka. Ada diskusi yang hangat tentang bagaimana cara mengelola modal yang diterima, bagaimana cara membagikan pekerjaan agar semua orang bisa mendapatkan manfaat, dan bagaimana cara memastikan bahwa pengembangan desa berjalan dengan berkelanjutan dan tidak merusak alam sekitar.
Alya mendengarkan dengan saksama setiap kata yang keluar dari mulut warga. Ia mengambil catatan dengan hati-hati di buku catatannya, namun kali ini tidak seperti sebelumnya yang merasa harus menang atau menunjukkan bahwa dia adalah yang paling tahu. Kali ini, ia merasa bahwa setiap ide dan pendapat adalah bagian penting dari puzzle yang sedang mereka susun bersama-sama.
Setelah rapat selesai, Alya berdiri di ambang pintu balai desa dan memandang pemandangan desa yang indah. Matahari sudah mulai berada di tengah langit, menyinari sawah-sawah yang hijau dan pepohonan yang rindang. Ia melihat Sultan sedang berbicara dengan beberapa warga tentang rencana pembangunan jalan baru, Ratna sedang mengajari beberapa anak-anak cara membuat tas rajut sederhana, dan Satria sedang duduk di bawah pohon besar dengan beberapa teman sebaya, sedang menggambar peta desa yang mereka impikan.
Ia merasakan rasa syukur yang mendalam memenuhi hatinya. Ia tahu bahwa masih banyak tantangan yang akan datang di masa depan. Tidak semua masalah akan teratasi dengan mudah, dan tidak semua rencana akan berjalan sesuai yang diharapkan. Namun, dia juga tahu bahwa sekarang dia tidak lagi sendirian dalam menghadapi semua itu. Dia memiliki keluarga yang mencintainya, teman-teman yang bisa dipercaya, dan warga desa yang bersatu padu untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Sultan mendekatinya dan menyandarkan tangannya di pundaknya. “Kamu sedang berpikir apa?” tanyanya dengan lembut.
Alya menoleh dan melihat wajah suaminya yang penuh cinta dan dukungan. “Aku hanya berpikir betapa beruntungnya aku bisa berada di sini, bersama kamu semua. Aku pernah merasa bahwa masa lalu akan selalu menjadi beban bagiku, tapi sekarang aku tahu bahwa masa lalu itu adalah bagian dari diriku yang membuatku menjadi orang yang aku sekarang ini. Dan dengan bantuan semua orang di sini, aku tahu bahwa kita bisa menciptakan masa depan yang lebih baik untuk desa Sukamaju dan semua orang yang tinggal di sini.”
Sultan tersenyum dan mencium bibir Alya dengan lembut. “Kamu benar, Sayang. Kita akan selalu bersama-sama dalam setiap langkah yang kita tempuh. Desa ini adalah rumah kita, dan kita akan menjaganya dan membangunnya bersama-sama.”
Malam datang dengan cepat di desa Sukamaju. Lampu-lampu kecil mulai menyala di setiap rumah, menerangi jalan-jalan desa yang tenang. Di halaman depan rumah Alya, keluarga dan beberapa teman dekat sedang berkumpul bersama-sama. Mereka makan makanan yang lezat yang dibuat bersama-sama, bercerita tentang pengalaman mereka sepanjang hari, dan merencanakan masa depan dengan penuh semangat.
Ratna duduk di samping Alya dan memberikan padanya segelas jus buah segar. “Terima kasih, Alya,” katanya dengan suara yang penuh perasaan. “Terima kasih telah memberikan aku kesempatan kedua. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku akan menjadi jika aku tidak datang ke desa ini dan tidak bertemu denganmu semua.”
Alya menjabat tangan Ratna dengan erat. “Kamu tidak perlu berterima kasih padaku, Ratna. Kamu juga telah memberikan banyak hal bagi desa ini dan bagi kami semua. Kita adalah keluarga sekarang, dan keluarga selalu saling membantu dan mendukung satu sama lain.”
Di sudut lain halaman, Satria sedang menunjukkan gambar peta desa yang sudah selesai dibuatnya kepada beberapa anak-anak. Mereka tertawa dan berteriak kegirangan saat melihat gambar-gambar pohon besar, sungai yang jernih, dan gedung-gedung baru yang akan dibangun di desa. Suara mereka terdengar seperti musik yang indah di malam hari yang tenang.
Alya melihat semua itu dengan hati yang penuh damai dan kedamaian. Ia tahu bahwa esok hari akan membawa tantangan baru dan kesempatan baru. Tapi dia tidak takut lagi. Karena dia tahu bahwa dia memiliki orang-orang terkasih di sisinya, dan bersama-sama mereka akan mampu menghadapi segala sesuatu yang datang dan membangun masa depan yang lebih baik untuk desa Sukamaju dan semua orang yang tinggal di sana.
Di langit malam yang penuh dengan bintang-bintang yang bersinar terang, Alya merasa bahwa semua hal yang telah terjadi padanya—baik suka maupun duka—adalah bagian dari rencana yang lebih besar. Dan dia bersedia untuk menerima setiap langkah dari perjalanan itu dengan hati yang terbuka dan penuh harapan.