NovelToon NovelToon
Ketika Pengkhianatan Mempertemukan Dua Hati

Ketika Pengkhianatan Mempertemukan Dua Hati

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Tamat
Popularitas:17.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Tiyas adalah seorang istri yang setia dan penuh cinta, namun dunianya hancur seketika saat ia mendapati suaminya, Gio, berselingkuh dengan Mia—yang tak lain adalah saudara sepupunya sendiri. Pengkhianatan berlapis ini meremukkan hatinya, memaksa Tiyas untuk menelan kepahitan dan mengumpulkan serpihan harga dirinya yang tersisa.
Di tengah badai kekecewaan tersebut, takdir mempertemukannya dengan Narendra, yang bernasib serupa sebagai suami Mia yang juga dikhianati. Berawal dari rasa sakit dan luka yang sama, Tiyas dan Narendra perlahan menemukan ruang aman untuk saling menguatkan, menumbuhkan kenyamanan, serta merajut harapan baru di atas reruntuhan masa lalu mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Notifikasi panggilan dari Imelda terputus tiba-tiba, menyisakan suara dengung hening yang menyengat telinga Narendra.

Di tengah koridor kantor yang ramai, langkah Naren terhenti mendadak.

Suara gemetar Imelda yang menyebut nama Tiyas dengan histeris masih bergema tajam di dalam kepalanya.

Firasat buruknya terbukti. Tanpa memedulikan Sekretaris dan tim klien dari Bali yang baru saja melangkah keluar dari ruang rapat untuk menyambutnya, Naren memutar tubuhnya kasar.

"Pak Naren? Berkasnya sudah siap—"

Naren tak mendengar lagi. Ia berlari kencang menerobos lorong, menuruni tangga darurat tanpa memedulikan lift, dan langsung melompat masuk ke dalam mobilnya.

Pedal gas diinjaknya habis-habisan. Mobil sports hitam itu melesat membelah jalanan kota dengan kecepatan membahayakan.

Tangan Naren yang memegang kemudi gemetar hebat, matanya memerah menahan arus kepanikan yang menghantam dadanya.

Sementara itu di rumah Tiyas, raungan sirene ambulans dan mobil patroli polisi berbunyi nyaring, memecah kepanikan warga yang berkerumun di halaman.

Petugas medis berhamburan keluar membawa dua tandu darurat.

"Nadi pasien sangat lemah! Pendarahan hebat di area temporal! Siapkan tabung oksigen dan balut tekan sekarang!" teriak tim medis membentak panik saat mengangkat tubuh Tiyas yang kaku dan dingin.

Darah segar masih terus mengucur menembus perban darurat, membasahi kain tandu.

Imelda yang mulai sadar digotong warga dalam keadaan syok berat, menangis histeris menunjuk-nunjuk ke arah dalam rumah.

Petugas kepolisian mengisolasi tempat kejadian perkara dengan garis kuning police line.

Di lantai dua, kamar utama terlihat luluh lantak; lemari terbongkar, dan brankas besi terbuka kosong.

Tepat saat petugas hendak memasukkan Tiyas ke dalam ambulans, derit rem mobil Naren bergema keras di depan rumah.

Naren keluar dari mobil, berlari kencang menerobos kerumunan warga dan polisi.

"MASUKKAN PASIEN KE AMBULANS SEKARANG! KITA KEHABISAN WAKTU!" teriak petugas medis.

Naren membeku. Matanya menatap lurus ke arah wajah Tiyas yang pucat pasih bagai mayat, tertutup sebagian oleh masker oksigen, sementara gaun rumah yang dikenakannya telah berlumuran darah pekat.

"TIYAS!" jerit Naren melengking.

Dunia di sekitar Naren terasa runtuh seketika saat ia melihat ceceran darah calon istrinya membasahi lantai teras yang baru beberapa jam lalu menjadi tempat mereka tertawa bersama

Narendra menerobos barikade polisi tanpa memedulikan teriakan para petugas yang menahannya.

Ia berlutut di samping tandu, mencengkeram tangan Tiyas yang terasa sedingin es.

Tangan yang beberapa jam lalu menggenggamnya hangat, kini terkulai tanpa tenaga.

"Tiyas! Sayang, bangun! Lihat aku!" jerit Naren, serasa tercekik oleh keputusasaan yang membakar dadanya.

Air mata pria itu menetes deras, jatuh menimpa pipi Tiyas yang pucat pasih bercampur noda darah pekat.

"Pak, tolong beri kami jalan! Pasien mengalami pendarahan intrakranial, detak jantungnya makin melemah!" bentak petugas medis seraya mendorong tandu naik ke dalam ambulans.

Naren memanjat masuk tanpa berpikir panjang. Pintu belakang ambulans dibanting tutup, dan kendaraan darurat itu langsung melesat membelah jalanan dengan sirine meraung histeris.

Di dalam, suasana berubah menjadi medan tempur antara hidup dan mati.

BEEP... BEEP... BEEP...

Suara monitor detak jantung berbunyi tidak beraturan, makin melambat dan melemah.

"Tekanan darah drop! 70/40! Pasien kritis!" teriak perawat seraya memompa kantong oksigen secara manual.

"Dokter, pasien mengalami penurunan kesadaran total!"

Naren mengguncang pelan tubuh Tiyas, memeluk kepala calon istrinya yang terbebat kain kassa berdarah.

Perasaan bersalah mencabik-cabik jantungnya. Mengapa ia harus meninggalkan Tiyas pagi ini? Mengapa ia tidak berada di sana untuk melindunginya?

"Jangan tinggalkan aku, Tiyas. Tolong, jangan." bisik Naren di dekat telinga Tiyas, suaranya bergetar hebat.

"Kita mau menikah, Sayang. Kamu sudah janji mau tunggu aku pulang."

Garis di monitor kardio mendadak merata beberapa detik, memicu bunyi melengking yang menakutkan.

BEEEEEEP!

"Asistol! Siapkan alat kejut jantung sekarang!" perintah perawat panik.

Naren dipaksa mundur saat petugas medis menempelkan dayung defibrilator ke dada Tiyas.

Tubuh lemah wanita itu terhentak keras saat aliran listrik ditembakkan.

"Satu... dua... tiga... SHOCK!"

Tubuh Tiyas melonjak, lalu terkulai kembali tanpa respon.

Naren mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri, menatap lurus wajah Tiyas dengan tatapan liar bercampur keputusasaan yang teramat sangat.

Di luar sana, ambulans menerobos lampu merah menuju IGD rumah sakit terdekat, membawa nyawa Tiyas yang berada di ambang kematian.

SHOCK!

Tubuh Tiyas kembali melonjak keras saat daya listrik kedua dihantamkan ke dadanya.

Narendra menahan napas, matanya yang memerah membelalak menatap lurus ke arah monitor kardio yang masih menampilkan garis lurus membiru.

Di sudut pikirannya, bisikan kegelapan dan bayangan berita kematian melintas begitu nyata, merobek seluruh kewarasan yang tersisa.

Narendra menggelengkan kepalanya keras-keras, menolak mentah-mentah kenyataan buruk yang dipaksakan masuk ke kepalanya.

"Nggak mungkin!" jerit Naren histeris.

AI maju menerobos perawat, menarik tangan Tiyas yang kaku dan menempelkannya ke pipinya sendiri.

"TIYAS!! Buka mata kamu, Sayang! TIYAS!!"

Raungan keputusasaan Naren bergema di dalam ruang ambulans yang sempit, bersahut-sahutan dengan bunyi sirene di luar.

Petugas medis terus menekan dada Tiyas tanpa henti, memompa sisa kehidupan yang hampir menguap sepenuhnya.

Bip...

Satu dentingan tipis terdengar dari monitor.

Bip... Bip...

Garis lurus di layar kaca itu mendadak terangkat, membentuk gelombang kecil tak beraturan.

Grafik detak jantung Tiyas kembali muncul—sangat lemah, namun perlahan menemukan iramanya kembali.

"Detak jantung pasien kembali! Tekanan darah stabil di angka minimal!" teriak perawat dengan napas lega yang tertahan.

"Pak, tahan! Kita sudah sampai di IGD!"

Pintu belakang ambulans dibanting terbuka lebar. Tandu Tiyas didorong kencang menerobos pintu kaca rumah sakit, dikelilingi belasan dokter dan perawat yang berlarian.

Narendra terus menempel, memegang erat jemari Tiyas sampai dorongan tandu itu terhalang oleh pintu ganda ruang operasi yang tertutup rapat, menyisakan Naren seorang diri di lorong dingin bertuliskan lampu merah menyala: RUANG OPERASI.

Lampu merah bertuliskan RUANG OPERASI menyala terang, memantulkan bayangan dingin di lorong rumah sakit yang sepi.

Narendra berdiri mematung di depan pintu ganda yang tertutup rapat, napasnya masih memburu kasar.

Kedua tangannya gemetar hebat, bernoda darah merah pekat milik Tiyas yang mulai mengering dan terasa kaku di kulitnya.

Pria itu merosot meluruh ke lantai, menyandarkan punggungnya pada dinding putih yang dingin.

Ia meraup wajahnya dengan kasar. Bayangan tubuh Tiyas yang terkulai tak berdaya dan garis lurus di monitor jantung tadi terus berputar di ingatan, mengirimkan gelombang trauma yang amat menyiksa.

Tak lama kemudian, derap langkah kaki terburu-buru bergema di lorong.

Imelda berlari sambil memegangi kepalanya yang masih pening, didampingi oleh dua orang anggota polisi.

"Naren!" panggil Imelda dengan suara parau dan mata yang membengkak bekas menangis.

"Bagaimana Tiyas, Ren? Bagaimana kondisinya?!"

Narendra mendongak perlahan. Matanya merah padam, menyiratkan amarah dan keputusasaan yang melebur jadi satu.

"Masih di dalam, dokter lagi berusaha, Mel."

Salah satu petugas polisi melangkah mendekat, memasang raut wajah serius.

"Pak Narendra, kami dari pihak kepolisian sudah melakukan olah TKP di rumah Anda. Berdasarkan bukti di lokasi, saksi mata, serta brankas yang dibobol, pelaku penganiayaan berat dan perampokan ini sudah teridentifikasi."

Naren mendadak bangkit berdiri. Tatapannya mendadak berubah tajam dan dingin bagai pisau.

"Siapa?"

"Gio," jawab polisi itu tegas.

"Saksi melihat Gio melarikan diri dari area perumahan membawa tas besar tidak lama sebelum korban ditemukan. Kami sudah menyebar tim untuk melakukan pengejaran dan penangkapan."

Mendengar nama itu, rahang Naren mengetat keras hingga urat-urat di lehernya menonjol.

Kepalan tangannya mengepal begitu kuat sampai kuku-kukunya memutih.

Gio tidak hanya merusak rumah tangga, tetapi kini pria bangkrut itu benar-benar berniat membunuh wanita yang paling dicintainya.

"Cari dia sampai dapat," desis Naren dengan suara rendah yang amat berbahaya.

"Jangan biarkan dia lolos sedikit pun."

1
Noey Aprilia
srius end kk...
tp mksh crtanya...d tnggu crtamu yg lain y....smnggtt....😘😘😘
Noey Aprilia: Sama2....😁😁😁
total 2 replies
Ariany Sudjana
puji Tuhan, happy end 😄🙏
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Noey Aprilia
Kjdian yg bkln trs d ingt s'umr hdp y naren.....🤣🤣🤣...
Ariany Sudjana
congrats yah Narendra dan Tyas, welcome to the world the new baby boy
Ariany Sudjana
harusnya Tyas jangan banyak makan es krim waktu hamil, ya jelas bayinya besar
Noey Aprilia
Antara tegang sm pgn ktwa guling2...
yg mau lhirn msih bengong,tp suaminya udh ngibrit dluan....
jd,spa yg mau lhirn sbnrnya????🤣🤣🤣
Noey Aprilia
Sneng bgt krna msing2 udh brdmai dgn msa lalu..
Ariany Sudjana
puji Tuhan, hubungan Tyas, Narendra, Ferdy dan Mia sudah membaik
Noey Aprilia
Nah loohhh....
ondel2 kna mntal....ngaku2 jd pcr rhsia sm istri sah....🙄🙄🙄
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan, ngaku-ngaku pacar rahasia Narendra... kamu ini hanya cari masalah, dan harus dibunuh
Noey Aprilia
D omelin sih ga pa2....tp kthuan pke cd yg ada belalainya.....🙈🙈🙈
Noey Aprilia
Tnggu kjutan slnjutnya y naren....
enth istrimu ngidam apa lg besok dn strusnya...🤣🤣🤣....
mnimal,mia bnrn tobat....spa tau mreka bnrn jth cnta krna trbiasa....
Noey Aprilia
spiderman n belalai gjah woooyyyy....🤣🤣🤣
Ariany Sudjana
masak orang hamil kok ngidam makan sate? bukannya orang hamil harus menghindari makan sate, dan aneka macam menu yang dibakar? karena tingkat kematangan meragukan
Noey Aprilia
Mnimal ada yg lbih parah dr km y naren....kl mukanya yg d ttup,brsa jd maling....🤣🤣🤣
Noey Aprilia
Udh d blangin msti siap2 plus stik sbar yg bnyak......nmanya ngidam tu ga cma mslh mkanan,tp jg yg lain...
tuh buktinya....k kntor pke sarung....🤣🤣🤣....
mngkn nnti d sruh pke baju sm celana pink smua.....
Noey Aprilia
Brhrap aja smga tyas ga ngidam aneh2,atw mlah mual liat muka suaminya.....🤣🤣🤣
Noey Aprilia
Waahhh....
slmt y buat klian brdua....akhrnya stlh skian lma,bntr lg bkln nmbah anggota kluarga yg baru....
naren stok sbr yg bnyak,krna ibu hmil pst bnyak maunya...siap2 jg kl ngidam....😁😁😁
Ariany Sudjana
Tyas hamil ini
Noey Aprilia
Mngkn dgn brjlnnya wktu,bs bkin mreka yg awalnya cnggung jd trbiasa...mlupakn sseorng yg d cntai emng ga mdah,tp hdp hrs ttp brjlan kn???apa lg ada bayi yg btuh ksih syng orngtuanya.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!