Angkasa adalah CEO sukses yang sudah beristri. Rumah tangganya terlihat sempurna di mata semua orang.
Tapi di balik kesempurnaannya, ia harus berjuang setiap hari.
Dikelilingi oleh perempuan-perempuan yang menyayanginya dengan caranya masing-masing.
Ada yang menyayanginya seperti seorang ibu, ada yang mencintainya dengan gairah, ada yang memujanya dengan ketulusan, dan ada yang menantangnya dengan kebencian yang berubah menjadi cinta.
Godaan datang tanpa diduga. Di kantor, di rumah, bahkan di saat ia paling lengah.
Mampukah Angkasa menjaga rumah tangganya tetap utuh?
Mampukah ia menghalau setiap godaan dan tetap menjadi suami yang setia?
Dan mampukah ia bersabar menunggu... sampai akhirnya ia dipanggil dengan sebutan "AYAH"?
Karena menjadi CEO itu mudah.
Menjadi suami yang setia dan ayah yang dirindukan? Itu pertaruhan sesungguhnya.
Siimak kisah lengkapnya, hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 : SISI LAIN DEVAN
Gak apa-apa,” Bintang tetap nyusul ikut masuk ke kamar Biru yang biru itu.
Saat Devan mau buka popok Biru yang bau asem itu, HP Bintang bunyi lagi.
Angkasa.
Bintang reflek mengangkat telepon dari Angkasa yang sejak kemrin sudah berhasil di cuekinnya.
“Halo Sa …”
“Hoek.” Sumpah Bintang tidak tahan dengan bau pup Biru.
“Tang … kamu kenapa?” suara Angkasa terdengar panik di Seberang sana.
Devan sudah kehilangan kesopanannya. Mendorong lembut tubuh Bintang agar keluar dari kamar Biru. Menutup pintu, membiarkan Bintang menerima telepon itu dengan lebih jelas.
“Kamu masih sakit?”
“Atau sakit lagi?” pertanyaan beruntun dari Angkasa.
“Gak. Aku gak apa-apa. I’m good.” Mendadak Bintang ingat ia masih marah. Buru-buru menutup sambungan telepon.
Bukan Angkasa namanya kalua tidak gigih.
Angkasa justru melakukan panggilan Video.
“Tang …” ucapnya geram. Sebab itu sudah panggilan VC ke tiga.
Sampai- sampai Devan sudah selesai saja menganti popok Biru.
Balita itu bahkan sudah berganti baju.
Setelah menutup panggilan Angkasa, Bintang masuk lagi ke kamar Biru. Ia sungguh ingin melihat cara Devan mengganti popok dan membersihkan tubuh bayi yang sudah tertawa-tawa pada devan.
“Ihh … gemes banget siih kamu, Biru.”
“Bii aja panggilnya aunty.” Sahut Devan pada Bintang.
“Bii … ingetin nih wajah aunty, inget yaa. Aunty baik lo, jangan nangis kejer lagi kalo aunty gendong.” Bintang masih berusaha pedekate pada Biru.
Sementara ponselnya terus berbunyi.
“Bu … HPnya di angkat dulu.” Pinta Devan dengan tangan yang cekatan membersihkan seluruh tubuh biru, membalurnya dengan minyak telon. Lalu memasang pakaian bersih yang baru, sudah tentu wangi.
“Berisik banget ya …” kesal Bintang melihat nama yang melakukan panggilan itu.
“Apa sih, Sa?” gak ada sapaan manis dari Bintang.
“Tang, serius kamu gak apa-apa? Tadi mual lagi?”
“Iya. Gak apa-apa.”
“Tadi hoek itu, kanapa? Kamu lagi di mana?” Mata Angkasa Lelah memindai sejak tadi. Ia kira istrinya sibuk di Gudang. Tapi sejak kapan Gudang jadi berwarna seba biru seperti itu. Itu bagian Gudang yang mana?
“Tadi … gak sengaja nyium bau gak sedap aja. Udah aman kok.” Jawab Bintang malas.
“Kamu di mana?”
Hiii haa hhhihaa
Buka jawaban dari Bintang, tapi suara tawa ceria Biru yang merasa lucu melihat wajah Devan, yang sengaja mencandai bayinya.
“Suara apa?”
“Kok kayak suara bayi ketawa.” Angkasa maha peka. Belum tuli juga untuk menangkap suara di sekitar.
“Iya … udah ya.” Bintang tidak merasa wajib menjawab pertanyaan Angkasa.
“Tang, ini bukan di Gudang. Kamu di mana?”
“Aku d Sidoarjo.”
“Iya tau, tapi itu Dimana? Kamu lagi sama siapa?” desaknya.
“Gak usah kepo. Urus yang mau kamu urus aja. Gak usah urus aku.” Tut tut tut.
Kali ini, tidak hanya ia putuskan sambungannya. Tetapi HPnya langsung Bintang matikan. Habis perkara.
“Yang telepon tadi, bapak?” Dengan sungkan Devan bertanya. Kini Biru ia letakan dalam box, dan sedang ia beri susu.
“Bintang menghela nafas sambil mengangguk.
“Maaf. Ibu sedang berantem sama bapak?” Bagaimana pun repotnya Devan selalu menjaga sopan santunnya.
“Maaf bu, gak usah di jawab. Mungkin pertanyaan saya terlalu pribadi. Lupakan saja.” Lanjutnya lagi, tanpa menunggu Bintang untuk jujur.
Penunjuk waktu sudah lewat dari pukul 10 pagi. Tidak terasa, sudah hampir 2 jam ia di rumah Devan. Ia bahkan tak melihat kapan pria itu makan atau minum.
“Bayi Bii …?” tanya Bintang saat melihat Devan keluar kamar Biru lalu menutupnya.
“Stt … dia sudah tidur. Durasinya kalo rejeki bisa sampai 2 jam. Sekarang saatnya beraksi di dapur.” Senyum Devan terulas, ia melangkah ke dapur mengambil sebotol air mineral dan menenggaknya hingga tandas.
“Kamu bisa masak juga?” sisi lain Devan yang lagi-lagi di temu Bintang.
Bersambung …
bagus Tang......biarkan angkasa merasakan kesendiriaannya tanpa bintang......masihkah Bintang diperlukan atau semakin bebas dengan para wanitanya......
siapa tahu.....mah kamu awal kehamilan.....bulan depan ga datang tuh tamu bulanan mu......