NovelToon NovelToon
Dokter Yang Mengatur Takdir

Dokter Yang Mengatur Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO / Mafia
Popularitas:325
Nilai: 5
Nama Author: Nvlin888

Alya adalah perawat muda paling berdedikasi di rumah sakit terbesar di negeri ini, RS Prawira Husada. Namun diam-diam pemilik sekaligus dokter Rumah Sakit tersebut, dr. Raze, telah mengawasi setiap langkahnya selama dua tahun terakhir. Promosi yang ia dapatkan secara tiba-tiba, apartemen "murah" yang kebetulan aman, bahkan tunangannya sendiri, semua sudah diatur, disingkirkan, atau dipertahankan sesuai kehendak Raze. Saat pertunangan Alya diumumkan, topeng dr. Raze runtuh. Dalam semalam, Alya "hilang" dari hidupnya sendiri. Dikurung di rumah yang megah, dipaksa menikah, dan dipaksa mengerti bahwa cinta pria ini tak pernah tahu batas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nvlin888, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 - Ruang yang Tidak Boleh Berisik

Ruang operasi jantung punya aturan yang tidak pernah ditulis di dinding mana pun, tapi semua orang yang bekerja di sana hafal di luar kepala seperti hafal detak jantung mereka sendiri. Tidak ada yang boleh bicara lebih keras dari bisikan begitu lampu di atas meja operasi menyala, tidak ada yang boleh menaruh instrumen dengan bunyi logam beradu logam, dan tidak ada yang boleh, dalam kondisi apa pun, berdiri di sisi kiri dr. Raze selama prosedur berlangsung, karena sisi itu adalah miliknya, satu-satunya ruang yang benar-benar hanya untuknya seorang.

Ada juga aturan yang lebih kecil, yang hanya dipahami mereka yang sudah cukup lama bertahan di tim itu. Musik klasik bervolume nyaris tak terdengar yang selalu diputar sepuluh menit sebelum operasi dimulai, jenis kopi yang harus sudah tersedia di ruang tunggu dokter tepat pukul enam pagi, dan cara seluruh instrumen harus disusun menghadap ke arah yang sama persis. Seolah kerapian itu sendiri adalah bagian dari mantra yang menjaga semua orang di ruangan tetap hidup.

Alya mempelajari aturan itu bukan dari siapa pun yang mengucapkannya secara langsung, melainkan dari cara semua orang bergerak mengelilingi ruangan itu seperti planet yang sudah lama menemukan orbitnya masing-masing. Dan di hari pertamanya sebagai bagian resmi dari tim inti, dia berdiri terlalu lama di ambang pintu sebelum akhirnya seseorang menariknya pelan ke posisi yang benar.

"Kanan," kata suara itu, singkat, tanpa menoleh. Seorang perawat bernama Wulan, yang menurut Suster Ratna sudah tiga tahun berada di tim ini dan tidak pernah sekali pun diberi ucapan terima kasih secara langsung oleh dr. Raze meski kinerjanya selalu sempurna. "Kamu berdiri di kanan. Selalu kanan. Kecuali kamu memang berniat bikin dia berhenti di tengah operasi cuma buat mindahin kamu."

"Terima kasih," Alya berbisik, bergeser cepat, dan Wulan hanya mengangguk tanpa senyum. Matanya sudah kembali fokus ke nampan instrumen di depannya, gerakannya presisi seperti orang yang sudah terlalu lelah untuk berpura-pura ramah kepada wajah baru yang, entah bagaimana caranya, bisa melompati antrean panjang yang sudah dia lalui bertahun-tahun sebelum akhirnya diterima di tim yang sama.

Dr. Raze masuk lima menit kemudian, dan seluruh ruangan seketika berubah. Seperti orkestra yang baru saja diberi aba-aba oleh konduktor yang tidak pernah perlu mengangkat tangannya lebih tinggi dari yang seharusnya. Dia mencuci tangan dengan urutan yang sama persis. Tiga puluh detik untuk setiap bagian, matanya menatap jam dinding tanpa berkedip seolah menghitung dalam kepala. bfegitu sarung tangan sudah terpasang dengan sempurna, dia melangkah ke meja operasi dengan sikap seseorang yang tidak pernah ragu pada satu keputusan apa pun yang akan dia ambil dalam beberapa jam ke depan.

Sebelum lampu di atas meja benar-benar dinyalakan, ponsel Alya bergetar sekali di dalam saku jasnya. Cukup pelan untuk tidak mengganggu siapa pun. Dia sempat mencuri satu detik untuk melihat layarnya sebelum menyimpannya kembali.

Pesan dari Bayu, singkat seperti biasa, hanya bertuliskan bahwa dia sedang di kereta menuju kota sebelah untuk urusan kerja dan akan pulang larut, disusul emoji kucing yang selalu jadi kode rahasia mereka untuk "aku baik-baik saja, jangan khawatir". Dia tersenyum tipis, menyimpan rasa hangat kecil itu di dada sebagai bekal menghadapi empat jam berikutnya, lalu kembali memusatkan seluruh perhatiannya ke meja di depannya.

"Scalpel nomor sepuluh," katanya, dan tangan Alya sudah lebih dulu bergerak sebelum kalimat itu selesai diucapkan sepenuhnya. Entah bagaimana, tubuhnya sudah mulai menghafal ritme kerja pria ini hanya dalam waktu kurang dari dua hari, seperti mempelajari lagu yang ternyata sudah pernah dia dengar sebelumnya tanpa pernah dia sadari kapan pertama kali mendengarnya.

Operasi berlangsung selama empat jam, dan sepanjang waktu itu, dr. Raze berbicara dengan efisiensi seorang komandan perang. Kalimatnya pendek, instruksinya jelas, tidak ada ruang untuk basa-basi atau keraguan yang bisa membahayakan nyawa yang terbuka di depan mereka. Namun di sela ketegangan itu, ada momen-momen kecil yang jika disatukan, mulai membentuk pola yang tidak bisa lagi diabaikan Alya begitu saja.

Caranya menyebut nama Alya, bukan sekadar "Suster", setiap kali memberi instruksi langsung kepadanya, meski kepada yang lain dia tetap memakai sebutan formal. Caranya sesekali mengoreksi posisi tangan Alya dengan menyentuh pergelangannya langsung, bukan sekadar memberi instruksi lisan seperti yang biasa dia lakukan kepada anggota tim lain, dan di satu titik ketika Alya harus menahan jaringan dengan retraktor selama beberapa menit tanpa henti, Raze berdiri lebih dekat dari yang seharusnya diperlukan. Cukup dekat hingga Alya bisa merasakan kehangatan tubuhnya di balik jas bedah, cukup dekat hingga setiap kali dia menarik napas, dada mereka nyaris bersentuhan.

"Tahan," katanya pelan, suaranya turun satu oktaf dari nada instruksi biasa. Lebih dekat ke telinga Alya daripada yang dibutuhkan untuk sekadar didengar di ruangan sesenyap itu. "Tanganmu stabil. Jangan berubah."

Alya menahan napas, bukan hanya karena instruksi itu, tapi karena cara kalimat itu diucapkan. Seperti pujian yang dibungkus perintah, seperti seseorang yang ingin memuji tapi tidak pernah belajar caranya melakukan itu tanpa terdengar seperti sedang memberi komando.

Di sela ketegangan yang menahan seluruh ototnya tetap kaku, dia bisa merasakan detak jantungnya sendiri berpindah tempat. Tidak lagi hanya di dadanya, melainkan menyebar sampai ke ujung jari yang sedang menahan retraktor itu. Seolah tubuhnya sendiri sudah mulai bereaksi terhadap kedekatan itu jauh sebelum pikirannya sempat mengizinkan.

Satu kali, ketika tangannya mulai gemetar samar karena kelelahan menahan posisi yang sama terlalu lama, jemari besar itu turun tanpa diminta. Menutupi punggung tangannya sendiri, menahan berat yang seharusnya dia tanggung sendirian. Cukup lama hingga getaran itu mereda, lalu terangkat lagi secepat kedatangannya. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa, seolah itu hanyalah bagian dari prosedur standar yang tidak perlu dipertanyakan siapa pun di ruangan itu.

Ketika operasi akhirnya selesai dan pasien dinyatakan stabil, ruangan itu meledak dalam kelegaan yang sunyi. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada sorak-sorai, hanya embusan napas panjang dari setiap orang yang baru sadar betapa lama mereka menahannya.

Dr. Raze melepas sarung tangannya satu per satu, gerakannya melambat untuk pertama kalinya sepanjang hari. Sebelum melangkah keluar ruangan, dia berhenti sebentar di samping Alya, cukup lama untuk membuat Wulan di seberang meja melirik curiga tanpa berkata apa-apa.

"Kerja bagus," katanya, dan tangannya, sekali lagi, terulur. Kali ini hanya untuk menepuk bahu Alya sekali, singkat, formal, seperti yang biasa dia lakukan kepada anggota tim mana pun setelah operasi panjang. Tapi telapak tangannya berhenti setengah detik lebih lama dari yang dibutuhkan sebuah tepukan biasa. Dan jarinya, sebelum benar-benar terangkat, sempat menekan pelan di titik yang sama di mana dia pernah menahannya kemarin di ruang tiga satu dua. Seolah ingin memastikan sesuatu yang hanya dia sendiri yang tahu maknanya.

Di koridor menuju ruang ganti, Suster Ratna sudah menunggu dengan segelas air putih dan sepotong roti yang dia sodorkan tanpa banyak bicara. Kebiasaan lama yang selalu dia lakukan untuk siapa pun yang baru keluar dari operasi panjang. Entah perawat baru maupun dokter senior sekalipun.

"Empat jam berdiri, pasti kakimu udah kayak kayu," katanya, menuntun Alya duduk sebentar di bangku dekat jendela. "Gimana rasanya, hari pertama di tim inti?"

"Berat, Bu. Tapi hmm aneh juga," Alya menjawab jujur, meremas gelas air di tangannya. "Kayak ada yang dia lihat dari saya, yang bahkan saya sendiri belum pernah sadar ada."

Ratna menatapnya lama, ekspresinya sulit dibaca, sebelum akhirnya menepuk lututnya sendiri dan berdiri. "Dulu, waktu rumah sakit ini baru dibangun, orang-orang bilang dia hafal nama setiap pasien yang pernah lewat. Bahkan yang cuma sekali datang untuk cek kesehatan biasa. Ada yang bilang itu tanda dia dokter yang peduli. Ada juga yang bilang..." Dia berhenti, seperti memutuskan untuk tidak melanjutkan kalimat itu. "Ah, sudahlah. Istirahat dulu sana, jangan kebanyakan mikir."

Dia berlalu sebelum Alya sempat bertanya kalimat apa yang sengaja dia gantung di tengah jalan. Meninggalkan pertanyaan baru yang menumpuk di atas semua pertanyaan lama yang belum juga menemukan jawabannya.

Setelahnya, Wulan menemuinya di ruang ganti . Bersandar di pintu loker dengan lengan bersilang, nada bicaranya tetap datar meski matanya penuh rasa ingin tahu yang berusaha dia sembunyikan di balik ekspresi tidak peduli. "Tiga tahun aku di tim itu," katanya, "dan aku baru dua kali dengar dia bilang 'kerja bagus' ke siapa pun. Kamu baru dua hari, udah dua kali juga."

"Mungkin kebetulan," Alya menjawab, meski dia sendiri sudah mulai lelah menggunakan kata itu setiap kali sesuatu yang aneh terjadi. Karena semakin sering dia mengucapkannya, semakin tipis rasanya kata itu bisa menampung semua yang sedang terjadi padanya.

"Mungkin," Wulan mengulang, nadanya tidak sepenuhnya percaya, tapi juga tidak terdengar seperti ingin memperpanjang perdebatan.

"Cuma hati-hati aja. Orang-orang yang terlalu cepat naik biasanya juga yang paling cepat jatuh, kalau dia berubah pikiran." Dia mengangkat bahu, lalu berjalan keluar tanpa menunggu tanggapan. Meninggalkan Alya dengan satu lagi kalimat yang harus dia simpan di sudut kepalanya yang sudah mulai terlalu penuh untuk menampung semua kecurigaan orang lain.

Seorang gadis muda bernama Tia baru saja masuk ke ruang ganti. Seorang perawat yang baru enam bulan bekerja di sana, mendengar sepotong akhir percakapan itu dan menyahut ringan sambil membuka lokernya sendiri. Nadanya jauh lebih riang dibanding Wulan. Seperti orang yang belum cukup lama berada di rumah sakit itu untuk belajar berhati-hati dalam memilih kata.

"Aku sih seneng-seneng aja ada yang baru dilirik dr. Raze. Selama ini kayaknya dia cuma peduli sama pasien, nggak pernah kelihatan peduli sama orang di sekitarnya." Dia terkekeh kecil, lalu menambahkan, setengah berbisik, "Mungkin kamu yang bikin dia jadi manusia lagi, Kak."

Alya hanya tersenyum kecil menanggapi candaan itu, tidak yakin harus merasa tersanjung atau justru semakin gelisah, karena kalimat bercanda itu. Entah kenapa, terasa lebih dekat dengan kebenaran daripada yang seharusnya dirasakan sebuah lelucon ringan di ruang ganti.

Malam itu, Alya diminta kembali ke ruang kerja lantai dua puluh dua untuk menyerahkan laporan pascaoperasi. Gedung yang sudah sepi membuat langkahnya sendiri terdengar lebih keras dari biasanya di sepanjang lorong berkarpet tebal itu. Lampu-lampu koridor sudah diredupkan separuh, hanya menyala di titik-titik tertentu seperti jejak yang sengaja disisakan untuk siapa pun yang masih tertinggal di gedung itu.

Satu-satunya suara yang menemaninya sepanjang perjalanan ke lift adalah dengung pendingin ruangan dan detak sepatunya sendiri yang terasa jauh lebih nyaring daripada siang hari. Di lantai dua puluh dua, hanya satu ruangan yang lampunya masih menyala, memantul samar dari balik kaca buram di ujung koridor, seperti mercusuar kecil yang menandai satu-satunya kehidupan di lantai yang seharusnya sudah lama kosong.

Pintu ruangan itu terbuka sedikit ketika dia sampai. Cukup untuk melihat dr. Raze berdiri membelakanginya di depan sebuah papan gabus besar yang menempel di dinding samping. Penuh dengan foto, catatan, dan potongan kertas yang tersusun rapi seperti peta investigasi dalam film detektif.

Dia berdiri diam sebentar di ambang pintu. Ragu antara mengetuk atau menunggu, dan dalam keraguan itu matanya sempat menjelajahi papan itu lebih jauh dari yang seharusnya. Ada garis benang merah yang menghubungkan beberapa titik, ada tanggal-tanggal kecil ditulis tangan di sudut beberapa kertas, dan di sudut kanan bawah papan itu. Sebelum tangannya sendiri dengan cepat menutupnya dengan selembar kain, Alya sempat melihat sesuatu yang membuat dadanya berdenyut aneh. Sebuah foto lama, agak buram, dari seorang gadis kecil berseragam sekolah dasar yang tersenyum lebar sambil memeluk pot tanaman mint di halaman rumah yang tidak asing baginya, meski dia sendiri tidak ingat pernah difoto seperti itu.

"Suster Nireva," katanya, berbalik cepat, suaranya tetap datar meski gerakannya barusan jelas terburu-buru untuk ukuran seseorang yang biasanya tidak pernah terburu-buru dalam hal apa pun. "Anda seharusnya mengetuk."

"Maaf, Dokter. Pintunya sedikit terbuka," Alya berkata, matanya masih tertinggal sesaat di kain yang kini menutupi papan gabus itu. Mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa yang baru saja dia lihat hanyalah kebetulan lain, foto anak kecil mana pun yang mungkin kebetulan mirip dengan potongan ingatan yang tidak pernah benar-benar jelas dari masa kecilnya sendiri.

"Letakkan laporannya di meja," katanya, melangkah menjauh dari papan itu seolah sedang melindungi sesuatu yang jauh lebih rapuh daripada yang terlihat dari luar. Dan untuk pertama kali sejak mengenalnya, Alya melihat sesuatu yang mendekati kegugupan di gerak-geriknya. Sesuatu yang begitu asing pada seseorang yang selama ini selalu tampak seperti tidak pernah terkejut oleh apa pun.

Dia meletakkan map itu seperti diminta, tangannya sedikit gemetar tanpa alasan yang bisa dia jelaskan dengan logis, dan ketika dia berbalik untuk pergi, suara itu memanggilnya sekali lagi, lebih pelan dari biasanya.

"Alya."

Bukan Suster Nireva. Untuk pertama kalinya, hanya namanya, tanpa gelar apa pun di depannya. Cara pengucapannya terdengar seperti sesuatu yang sudah lama dia latih dalam kepala sebelum akhirnya berani mengucapkannya keras-keras.

Dia menoleh, menunggu kelanjutannya. Tapi yang datang hanya jeda panjang, dan akhirnya kalimat yang jauh lebih pendek dari yang seharusnya dibutuhkan untuk menjelaskan apa pun yang baru saja terjadi malam itu.

"Hati-hati di jalan pulang."

Kalimat sesederhana itu seharusnya terdengar biasa saja, seperti yang diucapkan siapa pun kepada rekan kerja yang pulang larut. Tapi cara dia mengucapkannya, dengan berat yang tidak sebanding dengan lima kata sesingkat itu, membuat Alya berjalan keluar ruangan dengan satu pertanyaan baru yang menumpuk di atas semua pertanyaan lama yang belum sempat terjawab. Bagaimana mungkin ada foto masa kecil yang tidak pernah dia ingat pernah diambil, tersimpan rapi di ruang kerja seorang dokter yang baru dua hari benar-benar mengenal namanya.

Di dalam lift menuju lobi, sendirian, dia menyandarkan kepalanya ke dinding kaca yang dingin, memandangi pantulan wajahnya sendiri yang terlihat lebih lelah dari yang dia rasakan. Untuk pertama kalinya sejak insiden di ruang tiga satu dua, dia membiarkan dirinya bertanya sesuatu yang selama ini terus dia hindari. Jangan-jangan semua yang terasa seperti kebetulan sejak dua hari terakhir sebenarnya adalah bagian dari sesuatu yang sudah berjalan jauh lebih lama daripada yang bisa dia bayangkan. Sesuatu yang dimulai bukan di ruang operasi, melainkan entah kapan, entah di mana, pada versi dirinya yang bahkan tidak dia ingat pernah difoto sedang memeluk pot mint di halaman rumah yang sudah lama dia tinggalkan.

•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈❤︎ꔛ❜❤︎ꔛ❜•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈

Ada kenangan yang bukan milik kita sendiri sampai seseorang menunjukkannya kembali. Dan pada saat itulah kita baru sadar, selama ini kita bukan sedang mengingat, melainkan sedang diingatkan.

1
falea sezi
mending putus ma bayu klo lu uda gk ada rasa jangan php trs jangan Terima raze dlu soalnya kayak gk beres ini si rezek🤣
Nvlin888: tenangkan dirimu kaa 🤣🤣
total 1 replies
falea sezi
alya uda kayak lacur gampangan🤣🤣🤣 sebel liat cwek gatel gini serakah
falea sezi
serakah amat ini cwek😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!