NovelToon NovelToon
Dibuang Sang Pangeran, Bertahta Di Hati Kaisar

Dibuang Sang Pangeran, Bertahta Di Hati Kaisar

Status: tamat
Genre:Romansa Fantasi / Balas Dendam / Time Travel / Tamat
Popularitas:141.7k
Nilai: 5
Nama Author: hofi03

Aura Luminar bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Bangkit dari kematian akibat pengkhianatan tunangan nya dan selingkuhannya, dia datang dengan jiwa yang baru, membawa dendam untuk menghancurkan orang-orang yang sudah membunuhnya.

Kaisar Zane Caliber, dingin, dominan, dan tidak tersentuh. Pria kejam yang tidak pernah memberi ampun pada musuhnya, gila kerja, dan tidak pernah tertarik dengan wanita mana pun, membuat takhta Permaisuri kosong tanpa pendamping.

Sebuah permainan berbahaya dimulai saat Aura sengaja memancing perhatian sang Kaisar, untuk belas dendam dengan mantan tunangan nya, sang Pangeran yang telah mencampakkan nya.

Akankah Zane tetap berdiri kokoh sebagai penguasa yang tak tersentuh, atau justru terjerat dalam pesona dan perangkap yang diciptakan Aura?

_____________

"Lahirkan keturunan untuk ku, akan kuberikan kekuasaan di bawah kaki mu."~ Kaisar Zane Caliber

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PUSAT PERHATIAN

Malam perjamuan di istana kekaisaran tampak begitu megah dan berkilau.

Lampu gantung kristal raksasa yang tergantung di langit-langit aula utama memantulkan cahaya keemasan, menerangi puluhan bangsawan yang sedang bercengkerama sambil memegang gelas anggur.

Di tengah kerumunan para tamu, dua sosok manusia tiba-tiba melangkah masuk melalui pintu utama aula yang terbuka lebar, seketika berhasil merampok seluruh perhatian mata orang-orang di ruangan tersebut.

Aura melangkah anggun dengan gaun malam berwarna zamrud tua yang memeluk tubuhnya sempurna, dihiasi permata hijau kecil yang berkilau setiap kali terkena pantulan cahaya lampu.

Rambut panjangnya ditata setengah ke atas dengan jepit rambut, membuat leher jenjang dan wajah cantiknya tampak semakin memukau.

Di sampingnya, Ethan berjalan gagah mengenakan seragam militer upacara berwarna hitam dengan lencana emas berkilau di dadanya, lengan kokohnya terulur sebagai tempat bersandar bagi tangan lentik Aura.

Seketika itu juga, bisik-bisik riuh langsung terdengar bergemuruh di setiap sudut aula.

"B-bukankah itu Lady Aura Luminar?"

"Iya! Dan pria di sampingnya... itu Tuan Muda Ethan dari keluarga militer, kan? Kapan dia kembali dari perbatasan?"

"Wah, baru saja diputuskan oleh Pangeran Luis, sekarang dia sudah menggandeng perwira muda yang jauh lebih tampan dan gagah! Berani sekali wanita itu!"

Aura mengabaikan semua bisik-bisik iri dan penasaran di sekitarnya.

Sebaliknya, gadis itu justru mendongakkan dagunya semakin tinggi, memamerkan senyuman miring paling anggun yang membuat para wanita bangsawan mendadak merasa tersaingi.

Ethan melirik sekilas ke arah Aura yang tampak sangat percaya diri, lalu tersenyum kecil.

"Lihat, baru saja kita masuk, para tikus-tikus pembuat gosip itu langsung bungkam melihat kita," bisik Ethan tepat di samping telinga Aura.

Aura mendengus pelan, melayangkan tatapan tajam menyapu seisi ruangan.

"Biar saja mereka bicara sepuasnya," jawab Aura santai.

"Aku ke sini bukan untuk mendengarkan omong kosong mereka," lanjut Aura malas.

Sementara itu, Kaisar Zane duduk di singgasana nya, dengan aura yang membuat seluruh isi ruangan merasa segan.

Mata elangnya yang tajam sedari tadi mengawasi setiap gerak-gerik pintu masuk.

Begitu melihat sosok Aura melangkah masuk berdampingan dan merangkul lengan seorang pria, raut wajah Kaisar Zane seketika berubah dingin.

Genggaman tangannya pada gelas kristal berisi anggur merah mengerat, hingga buku-buku jarinya memutih menahan emosi.

Nico, yang berdiri setia di samping singgasana, mendadak merinding saat merasakan suhu udara di sekitar Kaisar turun drastis dalam hitungan detik.

Nico melirik ke arah pandangan sang Kaisar, lalu menelan ludahnya susah payah saat melihat siapa pria yang digandeng oleh Lady Aura.

"Y-Yang Mulia... itu Tuan Muda Ethan, baru kembali dari perbatasan kemarin," cicit Nico pelan, mencoba memberi informasi sebelum atasannya itu mengamuk.

Kaisar Zane tidak menjawab.

Pria berambut perak itu menyipitkan matanya tajam, menatap lurus ke arah Ethan yang tampak tersenyum akrab pada Aura.

"Berani sekali bocah jelek itu menyentuh milikku," gumam Kaisar Zane dengan suara rendah yang terdengar seperti geraman singa kelaparan.

Nico mengusap tengkuknya yang terasa dingin.

"Milik Anda, Yang Mulia? Bukankah Lady Aura bahkan menolak mentah-mentah hadiah dan tawaran Anda kemarin?" batin Nico protes dalam hati, tapi dia tidak cukup bernyali untuk mengatakannya keras-keras.

Di bawah sana, Aura dan Ethan sedang berjalan santai menuju meja hidangan ringan, sama sekali tidak menyadari kalau sepasang mata elang penuh kecemburuan sedang menatap tajam ke arah punggung mereka.

"Aura, sepertinya tatapan para menteri tua itu mau memangsa kita hidup-hidup," bisik Ethan terkekeh kecil, mengambil dua gelas anggur dari nampan pelayan yang lewat.

Aura menerima satu gelas anggur, lalu menyesapnya perlahan dengan anggun.

"Biarkan saja," jawab Aura cuek.

"Mereka cuma iri karena tidak punya nyali untuk berbuat ulah seperti kita," cibir Aura menyunggingkan senyum miring.

Tiba-tiba, seorang pelayan istana berlari tergesa-gesa menghampiri posisi mereka dengan napas terengah-engah.

"T-Tuan Muda Ethan... Lady Aura Luminar..." panggil pelayan itu gugup.

Aura menaikkan sebelah alisnya, menatap pelayan itu sinis.

"Ada apa? Jangan bilang ada orang penting yang mau protes karena gaunku terlalu bagus?" tanya Aura, percaya diri.

Ethan hampir sama meledakan tawanya, mendengar jawaban Aura yang terdengar sangat percaya diri itu.

Sementara pelayan itu menggeleng cepat, lalu membungkuk hormat dalam-dalam dengan tubuh bergetar.

"B-bukan, Lady... Yang Mulia Kaisar... Kaisar memanggil Anda berdua menghadap ke singgasana sekarang juga!" ucap pelayan itu terbata-bata.

Deg

Mendengar nama Kaisar dipanggil, jantung Aura seketika berdegup kencang.

Senyum santai di wajahnya mendadak membeku.

Ethan yang tadinya tersenyum santai langsung mengerutkan keningnya, menatap pelayan itu dengan sorot mata curiga.

"Kaisar memanggil kami berdua?" ulang Ethan memastikan.

"B-benar, Tuan Muda," jawab pelayan itu ketakutan.

Aura mengembuskan napas kasarnya pelan, mengepalkan jemarinya di balik lipatan gaun zamrudnya.

"Pria tua gila itu, pasti sengaja cari gara-gara lagi!" batin Aura menggerutu kesal di dalam hatinya.

Ethan menoleh ke arah Aura, menyadari raut wajah sahabatnya itu yang mendadak berubah tegang.

"Aura, kamu kenapa? Wajahmu pucat begitu," tanya Ethan heran.

Aura menarik napas panjang, berusaha menetralkan debaran jantungnya yang mendadak tidak normal.

"Tidak apa-apa," jawab Aura cepat, mencoba memasang ekspresi setenang mungkin.

"Ayo kita temui kaisar, kalau kita menolak panggilan Kaisar, urusannya bisa makin panjang," ucap Aura, melangkah lebih dulu mendahului Ethan.

Ethan mengangguk patuh, lalu berjalan tepat di samping Aura dengan posisi siaga, menjaga sahabatnya itu.

"Tenang saja, kalau Kaisar macam-macam, aku pasang badan di depan," bisik Ethan menyakinkan.

Aura melirik Ethan sekilas, lalu tersenyum tipis meskipun perasaannya sedang tidak keruan.

"Jangan sombong dulu, yang mau diajak bicara itu penguasa kekaisaran, bukan prajurit rendahan di perbatasan," sindir Aura pelan.

"Yah, setidaknya aku punya pedang untuk melindungi mu," jawab Ethan terkekeh kecil.

Ethan tidak tahu saja kalau Aura bukan takut dengan Kaisar, dia lebih ke kesal dengan pria itu, wajar saja Ethan berpikir begitu, memang siapa yang akan menyangka Aura dan Kaisar akan memiliki hubungan.

Semua mata di dalam aula besar itu kini tertuju pada Aura dan Ethan yang berjalan berdampingan menuju panggung singgasana utama.

Di singgasana nya, Kaisar Zane duduk dengan posisi tegak, sorot matanya menatap tajam ke arah dua sosok yang semakin mendekat.

Aura bisa merasakan aura dingin dan mencekam yang menguar langsung dari tubuh sang Kaisar, membuat bulu kuduknya sedikit meremang.

Begitu tiba di hadapan singgasana, Ethan langsung membungkuk hormat dengan satu tangan di dada, sementara Aura melakukan gestur hormat ala bangsawan dengan sedikit mengangkat ujung gaunnya.

1
miss blue 💙💙💙
ini yg di maksud ibu kandungnya julian apa di yg dulu 🤔🤔🤔
miss blue 💙💙💙: laahh, napa aq komen di lapak ini 🤣🤣🤣 perasaan td masih di sono 🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️🤣🤣🤣
total 1 replies
miss blue 💙💙💙
otw kak
Putri Kemuning
bagus banget
hampir terkecoh pas endingnya
Septi Wijaya
siaaaaapp akak 😍
Tiara Bella
otw Thor...gk pke lama🤭😍
sasa adzka
hohoho tidak akan tunduk bro kaisar🤣🤣 secara jiwa modern sebagai pengacara anti laki laki gak akan luluh begitu saja 😄😄
sasa adzka
jangan mau aura sama tua tua keladi🤣🤣🤣 iss kaisar bikin bucin lah kak, biar gimana gitu ntar pandangan prajurit sama tangan kanan nya pada melongo😂😂
Osie
emang kudu di matiin nih si luis biar berkurang orang jahat
mery harwati
Zane Zane ada cuti kerja juga bwt kaisar seperti dirimu ya 😀
mery harwati
Zane ini ada vote bwt mu agar jangan mlehoy menghadapi musuh²mu Zane 💪
mery harwati
Bagus Zane, penggal kepala Luis & juga kepala ibu kandung Luis serta ayah kandung Luis juga
kaylla salsabella
di tunggu karya terbaru nya mak 😍😍😍 sehat selalu😍😍😍
kaylla salsabella
alhamdulillah akhirnya happy ending😍😍😍😍 terimakasih atas karya " mal thor....
kaylla salsabella
akhirnya mati juga si luiz
kaylla salsabella
tak.... kepala terlepas🤣🤣🤭🤭
kaylla salsabella
alhamdulillah cuman mimpi
Choirul Ipanani
di tunggu karya barunya Thor sukses selalu buat mu Thor 💪💪
Tiara Bella
ehhh udh tamat aja ditunggu cerita lainnya Thor sehat selalu.....😍
Pa Muhsid
kaisar eror beraninya lagi tidur😴 coba kalau lagi melek berani gak tuh
miss blue 💙💙💙
kaaaakkk, kamu bikin gelisah 😭😭😭😭
IG : hofi03_skrniii: tenang kak, tenangggg😆
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!