NovelToon NovelToon
Adik Sahabatku Tergila-Gila Padaku

Adik Sahabatku Tergila-Gila Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Crazy Rich/Konglomerat / Teen
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Moora Lunatia

Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh, Naya yang hancur melarikan diri ke bar untuk menenggelamkan kesedihannya sebelum akhirnya memutuskan menginap di rumah Nessa.
Dalam keadaan setengah sadar, Naya masuk ke rumah Nessa dan menemukan Kafka yang baru pulang dari luar negeri, tetapi karena gelap dan pengaruh alkohol ia mengira pria itu adalah "jasa hiburan" yang sengaja dipesan Nessa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Kotak beludru merah marun itu terbuka di bawah temaram lampu kamar hotel. Di dalamnya, terletak sepasang gelang emas putih berukir inisial nama mereka, bertahtakan berlian-berlian kecil yang berkilau lembut.

Naya menatap gelang itu dengan mata berkaca-kaca. Tanpa kata, Kafka mengambil gelang untuk tangan kiri Naya, menyematkannya dengan sangat hati-hati, lalu mengecup pergelangan tangan wanita itu.

"Selamat malam, Nyonya Adiraja," bisik Kafka serak, sebelum akhirnya memanjat kembali ke balkon dan menghilang ke dalam kegelapan malam, meninggalkan debar jantung Naya yang menggila dan rasa cinta yang semakin membuncah di dadanya.

Keesokan paginya, matahari Jakarta menyingsing dengan cerah, seolah ikut merestui hari paling penting dalam hidup Naya.

Sejak pukul lima pagi, kamar Presidential Suite tempat Naya berada sudah disulap menjadi salon berjalan. Para penata rambut profesional, makeup artist ternama, serta asisten wedding organizer mondar-mandir membawa gaun, jepit rambut, dan semprotan hairspray.

Naya duduk di depan meja rias, menatap pantulan dirinya. Gaun pengantin silk taffeta berwarna broken white dengan potongan off-shoulder itu sudah melekat sempurna di tubuhnya. Riasannya dibuat sangat natural namun memancarkan aura anggun seorang ratu. Di jari manisnya, cincin emerald-cut berkilau indah berdampingan dengan gelang emas putih pemberian Kafka semalam.

"Sempurna. Nona Naya, Anda benar-benar pengantin tercantik tahun ini," puji sang MUA sambil merapikan terakhir kali veil panjang berbahan tile di kepala Naya.

Nessa, yang mengenakan gaun bridesmaid berwarna dusty rose, masuk ke kamar dengan napas tersengal, membawa buket bunga lily putih. "Nay! Astaga, lo cantik banget! Kalau Kafka pingsan waktu liat lo jalan di lorong, jangan heran ya!" canda Nessa, berusaha mencairkan ketegangan di wajah Naya.

Naya tersenyum gugup, meremas buket bunga di tangannya. Tepat pukul sembilan pagi, pintu kamar diketuk. Seorang staf wedding organizer masuk dengan wajah sumringah.

"Nona Naya, waktu kita sudah tiba. Ballroom di lantai bawah sudah penuh oleh para tamu undangan, dan Tuan Kafka sudah menunggu Anda di ujung altar."

Jantung Naya berdegup kencang hingga rasanya menembus kerongkongan. Ia menarik napas dalam-dalam, memegang lengan Nessa, dan melangkah keluar menuju lift pribadi yang akan membawa mereka turun ke lantai utama tempat ballroom mewah hotel tersebut berada.

Suasana di luar koridor lantai ballroom tampak begitu megah. Alunan musik orkestra klasik mengalun lembut dari balik pintu ganda kayu jati yang raksasa. Di ujung karpet merah yang membentang luas, berdiri seorang pria berbalut tuxedo hitam dengan postur tegap dan bahu lebar. Kafka. Pria itu menunggunya dengan punggung menghadap ke arah pintu, namun Naya tahu persis betapa tajam dan sabarnya tatapan pria itu saat ini.

Pintu ganda perlahan terbuka dari dalam. Cahaya lampu kristal raksasa memantul megah menyambut langkah Naya.

Semua mata tamu undangan menoleh ke arahnya. Bisik-bisik kekaguman terdengar samar, namun perhatian Naya sepenuhnya terkunci pada satu titik: Kafka.

Pria itu perlahan berbalik. Saat manik mata mereka bertemu, napas Kafka seolah tertahan. Senyum tipis yang tulus dan penuh pemujaan terbit di bibir pria itu. Ia melangkah maju beberapa langkah, menyambut kedatangan wanitanya.

Naya melangkah perlahan, diiringi gandengan tangan ayahnya, Pak Haris, yang berjalan di sisinya dengan mata berkaca-kaca. Tinggal beberapa langkah lagi. Tinggal beberapa meter sebelum ia meletakkan tangannya di tangan Kafka dan mengucap janji suci sehidup semati.

Bum!

Suara ledakan yang begitu dahsyat tiba-tiba mengguncang seluruh bangunan hotel.

Getaran yang luar biasa kuat meruntuhkan langit-langit ballroom dalam hitungan detik. Lampu-lampu kristal raksasa berjatuhan berkeping-keping, memercikkan api dan serpihan kaca tajam ke segala arah. Jeritan histeris ribuan tamu undangan pecah seketika, berlarian menyelamatkan diri dalam kepanikan yang mutlak.

"Naya!" teriak Pak Haris, refleks mendorong putrinya menjauh saat dinding pilar marmer di sisi kanan mereka runtuh menimpa lantai.

"Bapak!" Naya menjerit histeris, terpental jatuh ke atas lantai marmer yang bergetar hebat. Debu tebal mengepul pekat, menghalangi pandangan, membuat udara seketika berubah menjadi kabut hitam yang menyesakkan.

Di tengah kepulan debu dan jatuhnya reruntuhan beton dari lantai atas, Naya melihat sesosok tubuh tinggi berlari menembus kekacauan.

Kafka.

Pria itu tidak lari keluar menyelamatkan diri. Ia berlari melawan arus kerumunan tamu yang panik, matanya hanya tertuju pada satu orang: Naya.

"Kafka! Jangan ke situ!" Naya berteriak, suaranya teredam oleh suara gemuruh bangunan yang terus runtuh.

Kafka sudah berada di hadapannya. Pria itu mengulurkan tangan, menarik tubuh Naya ke dalam dekapannya, melindungi kepala wanita itu dengan tubuhnya sendiri.

"Aku punya kamu. Kita keluar sekarang," bisik Kafka cepat di tengah deru suara reruntuhan.

Namun, sebelum langkah kaki mereka bergerak, sebuah ledakan susulan yang jauh lebih besar terjadi di bagian sayap gedung sebelah kiri.

Kracking!

Pilar utama penyangga atap ballroom patah seketika. Bongkahan beton cor berukuran raksasa runtuh dari langit-langit, jatuh tepat di atas tempat mereka berdiri.

Dengan gerakan sepersekian detik, Kafka mendorong tubuh Naya keras-keras hingga terlempar jauh ke area pinggir ruangan yang aman di balik pilar kokoh.

"Kafka—!" teriakkan Naya terhenti di tenggorokannya.

Seketika itu juga, reruntuhan beton dan besi yang berat menimpa tubuh Kafka, menguburnya dalam timbunan debu dan puing-puing bangunan yang runtuh dalam sekejap mata.

"KAFKA—!!"

Jeritan Naya membelah kesunyian yang mendadak mencekam di antara kepulan asap hitam, sebelum semuanya berubah menjadi gelap gulita.

1
none name
up ka
Hk Hk
lanjut thorrrr, semangat
Hk Hk
bagus ceritane Thorrr😍
none name
up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!