NovelToon NovelToon
KAMPUNG JIN

KAMPUNG JIN

Status: tamat
Genre:Horor / Rumahhantu / Misteri / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Devi Wahyuni Halim

Arga pulang ke dusun terpencil di Banyuwangi warisan kakeknya, di kaki Gunung Raung.

Kampung itu aneh, Azan terdengar jam 3 pagi tanpa muadzin, rumah kosong tapi piring masih hangat. Warga tutup pintu sebelum maghrib.

Ternyata kampung itu dibagi dua: Jin Islam yang sholat dan menjaga, dipimpin Ustadz ghaib bernama Malik dan Jin Kafir haus tumbal yang disegel di pohon beringin Alas Purwo.

Kepulangan Arga membangunkan Jin Kafir. Sekarang dia harus pilih: kabur dan biarkan gadis yang dia suka jadi tumbal, atau sumpah setia jadi penjaga manusia untuk pasukan Jin Islam.

Kalau kalah, kampung ini akan hilang dari peta Banyuwangi selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi Wahyuni Halim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 : Jin Kafir Penunggu Sungai

Setelah Sari pingsan dan sesajen di Beringin Kembar aku bakar pakai Banyu Suci, aku kira semua selesai.

Ternyata tidak.

Sore jam 16:00.

 langit Dusun Krajan masih hitam. Asap kemenyan busuk dari Alas Purwo masih menutupi matahari. Ayam-ayam masih mati, anjing masih menggonggong ke hutan dan air, semua air di dusun masih hitam.

Aku ke sumur rumah kakek, airnya masih hitam pekat, ada rambut panjang wanita mengambang, bau anyir darah. Aku coba timba, rambut itu melilit emberku.

Warga mulai berkumpul di tengah jalan, bawa ember kosong. Mereka semua panik.

"Nak Arga, air kami semua hitam, tidak bisa buat wudhu, tidak bisa buat masak," kata Bu Lastri, mukanya pucat.

Pak Min yang dari tadi diam, tiba-tiba bilang, "Ini ulah Siluman Sungai. Lelembut Banyu. Setiap kali sesajen darah dikasih di Beringin, yang pertama bangun bukan Banaspati, tapi anak buahnya yang di sungai."

Aku ingat. Waktu tanda kampung tadi sungai di belakang dusun kering dan penuh jejak kaki cakar tiga.

Malik muncul di sampingku, tidak dengan cahaya, tapi jalan kaki seperti manusia biasa, jubah putihnya kotor kena lumpur hitam.

"Pak Min benar, Arga," kata Malik pelan. "Jin Kafir itu ada kasta. Yang paling bawah, yang jaga air. Namanya Ulo Sowo. Bentuknya ular besar tapi kepalanya wanita. Dia tinggal di Sungai Kali Buntu, sungai yang mengering itu. Dia yang bikin semua sumur di Krajan hitam, karena semua sumur di sini sumbernya dari sungai itu. Dia sekutu Banaspati."

"Kenapa dia bikin air hitam, Ustadz? tanyaku.

"Karena sesajen darah Pak Lurah tadi, darahnya tumpah ke tanah, meresap ke akar beringin, akar beringin tembus ke sungai. Darah perawan itu makanan favorit Ulo Sowo. Begitu dia makan darah itu, dia jadi kuat, dan dia kencing di semua sumber air. Kencingnya yang bikin air hitam dan berambut...."jawab Malik.

Aku mual mendengarnya.

"Jadi kalau tidak bunuh Ulo Sowo, satu kampung akan mati kehausan? tanyaku lagi.

Malik mengangguk. "Dan kalau sampai malam warga minum air hitam itu karena terpaksa, mereka akan kesurupan massal dari dalam perut. Jin akan masuk lewat air...."jawab Malik.

Aku tidak punya pilihan. Aku harus ke sungai.

Aku, Malik, Pak Min, dan 2 warga laki-laki bawa obor, parang, dan satu botol sisa Banyu Suci yang tinggal setengah. Kami jalan ke Kali Buntu, 200 meter dari dusun, melewati kebun pisang.

Sungainya memang kering. Lumpur hitamnya retak-retak. Bau busuk menyengat. Di tengah sungai, ada kubangan air kecil yang masih ada air, tapi airnya hitam pekat mendidih seperti diaduk, dan di tengah kubangan itu ada gundukan rambut.

Rambut wanita yang sangat panjang, kusut, menutupi seluruh kubangan.

Saat kami mendekat, rambut itu bergerak.

Dari dalam rambut, muncul kepala.

Kepala wanita cantik, tapi pucat, bibir hitam, matanya merah tanpa putih, rambutnya panjang sampai tiga meter menyebar ke seluruh sungai. Lehernya ke bawah, bukan tubuh manusia, tapi tubuh ular besar, hitam, sisiknya seperti piring-piring, melilit sungai.

Itu Ulo Sowo. Jin Kafir Penunggu Sungai.

Dia melihat kami, tersenyum, lidahnya bercabang menjulur satu meter.

"PENJAGA BARU... KAMU BAWA AIR ZAM-ZAM GHAIB UNTUKKU LAGI? KEMARIN DARAH GADIS ITU ENAK SEKALI..."ucap Ulo Sowo.

Suaranya seperti dua suara, suara wanita merdu dan suara ular mendesis bersamaan.

Malik maju, tongkat cendana diacungkan. "Ulo Sowo! Keluar dari sungai ini! Kau sudah langgar perjanjian 1984! ucap Malik.

Ulo Sowo tertawa, rambutnya menyebar, melilit kaki Pak Min dan 2 warga, menarik mereka ke dalam kubangan hitam.

"TOLONG! TOLONG!"

Aku panik. Aku siram Banyu Suci ke rambut yang melilit kaki Pak Min.

Ssssss! Rambut itu terbakar api putih, menjerit, melepaskan Pak Min.

Ulo Sowo marah, tubuh ularnya mengibas, lumpur hitam muncrat ke mana-mana, mengenai wajahku, perih seperti air cabai.

Malik berteriak, "Arga, tusuk matanya! Mata merahnya itu sumber sihirnya! Siram Banyu Suci ke matanya!"

Aku lari, hampir tenggelam di lumpur. Ulo Sowo membuka mulutnya lebar, mau telan aku.

Aku buka botol Banyu Suci terakhir, aku siramkan semuanya ke mata merah Ulo Sowo.

"Astaghfirullah!" ucapku.

Mata itu meledak. Bukan meledak darah, tapi meledak cahaya hitam.

Ulo Sowo menjerit sangat keras, jeritannya membuat semua pohon pisang roboh. Tubuh ularnya kejang-kejang, rambut panjangnya terbakar satu per satu jadi abu.

Dia menggelepar di sungai kering, lalu tubuhnya perlahan-lahan menjadi lumpur hitam dan menghilang, terserap ke tanah.

Dan seketika...

Air dari hulu sungai, yang selama ini tertahan oleh tubuh Ulo Sowo, mengalir deras kembali. Air bening, bersih, segar, menghantam lumpur hitam, membersihkannya.

Sumur-sumur di dusun, yang tadi hitam, dari kejauhan terdengar suara warga berteriak, "Airnya bening lagi! Bening lagi!"

Jin Kafir Penunggu Sungai mati.

Pak Min terduduk di lumpur, menangis. "10 tahun... 10 tahun sungai ini kering tiap ada sesajen... baru kali ini ada penjaga yang berani lawan..."ucap pak Min.

Malik memegang pundakku, tubuhnya gemetar karena habis bertarung. "Bagus, Arga. Kamu sudah bunuh satu pasukan Banaspati. Tapi ingat, Ulo Sowo itu cuma prajurit bawah. Di atas dia masih ada banyak. Dan Banaspati sekarang tahu, kamu tidak hanya bisa tutup segel, kamu bisa bunuh anak buahnya."

Malam itu, air di Dusun Krajan kembali bening untuk pertama kalinya setelah 10 hari. Warga bisa wudhu lagi.

Tapi di bawah Pohon Beringin Kembar, sesajen baru muncul lagi. Kali ini bukan nasi kuning. Tapi bangkai ayam hitam yang mati tadi pagi, di tata melingkar, dengan tulisan darah di tanah:

"KAMI AKAN KEMBALI - DARAH PERAWAN BELUM LUNAS"

Banaspati belum selesai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!