Di dalam Menara Terkutuk yang membelah peradaban Valenthia, kaum jelata dilemparkan ke garis depan sebagai pasukan tumbal bagi kemuliaan para bangsawan darah biru. Ren, seorang prajurit buangan, dijatuhi vonis mati di Lantai 10 saat monster Chimera menerkam barisan mereka.
Namun ketika ajalnya tiba, waktu terputar mundur puluhan detik ke belakang. Terjebak dalam lingkaran maut yang tak berujung, Ren mengumpulkan ingatan dari setiap kematian untuk memetakan jalur bertahan hidup—merobek tirani aristokrasi dan memimpin para penyintas menembus Koloseum Darah Lantai Menara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Embusan angin sejuk dan dingin menyapu pelataran Gerbang Ascensi Lantai 16, membawa aroma embun pegunungan yang asing bagi paru-paru para penjelajah lantai bawah.
Di ambang gerbang emas setinggi tiga puluh meter itu, Ren berdiri tegak menatap pemandangan yang terbentang luas di hadapannya. Untuk pertama kalinya sejak terseret ke dalam ekspedisi maut Batalion ke-7, langit-langit batu gelap, bau lumut basah, dan lorong bawah tanah yang sempit telah lenyap sepenuhnya. Di balik gerbang, terhampar samudra awan putih tak bertepi yang disinari pendar keemasan dari inti kubah menara. Pulau-pulau batu purba melayang tenang di tengah kabut udara, menyerupai raksasa-raksasa tidur yang dihubungkan oleh jembatan rantai besi raksasa yang bergoyang perlahan ditiup angin ketinggian.
Jubah kelabu tebal yang membalut bahu Ren berkibar tertiup hawa dingin pegunungan. Di pinggang kirinya, pedang perak pemberian Elise tergantung mantap di dalam sarung kulit hitam berhias pelat baja. Rasa ngilu di persendian tangannya telah mereda berkat salep herbal Shizuka, namun di balik pelipisnya, sisa-sisa ketegangan dari puluhan kali pengulangan waktu masih meninggalkan jejak letih yang mendalam di setiap serabut saraf kepalanya.
Di pelataran marmer putih yang luas di depan gerbang, para prajurit pelopor yang selamat duduk berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil. Mereka membagikan roti gandum kering, menyeduh air hangat di atas tungku portabel kecil berbahan bakar batu bara sihir, dan memeriksa kembali ikatan perban pada luka masing-masing. Udara di tempat itu terasa lengang dan damai, sangat kontras dengan jeritan maut, denging mantra tempur, dan bau darah kental yang selama berhari-hari meneror mereka di lantai-lantai sebelumnya.
Langkah kaki bersepatu besi terdengar mendekat dari arah pelataran kiri.
Paman Vargas berjalan menghampiri dengan tameng bajanya yang baru saja diperkuat dengan lempengan besi cadangan dari peti perbekalan Ravensburg. Sang veteran duduk di atas undakan batu marmer di samping Ren, meletakkan tameng beratnya di antara kedua lututnya, lalu mengeluarkan batu asah dari sakunya dan mulai menggosok mata kapak tempurnya yang sompel dengan gerakan teratur dan mantap.
“Mulai dari sini, pertempuran tidak akan pernah sama lagi, Ren,” ucap Vargas seraya melirik ke arah jurang awan di bawah jembatan rantai. Suara gesekan batu asahnya terdengar ritmis membelah kesunyian udara terbuka. “Di lantai bawah, kita bertarung di lorong sempit, parit tanah, dan aula batu. Di sana, kita bisa mengurung monster di sudut ruangan, menyergap dari balik tikungan, atau berlindung di balik barikade dinding. Tapi di atas samudra awan seperti ini… satu langkah salah berarti jatuh bebas ke kehampaan tanpa dasar.”
Ren mengangguk pelan, memperhatikan pusaran angin kencang yang berputar liar di antara celah-celah tebing batu melayang di kejauhan.
“Medan terbuka memberi keuntungan mutlak bagi kawanan monster yang bisa terbang atau menyerang dari jarak jauh,” sahut Ren seraya menganalisis kontur pulau batu terdekat. “Formasi barikade tameng rapat tidak akan efektif jika mereka menukik dari sudut atas atau menyerang dari bawah jembatan gantung. Kita tidak boleh membiarkan barisan terpecah.”
“Tepat sekali,” gerutu Vargas seraya menguji ketajaman mata kapaknya dengan ujung ibu jari yang kapalan. “Kita harus bergerak lebih lincah dan menjaga jarak aman antar-regu. Dua puluh kawan kita di belakang sudah terbiasa dengan aba-abamu di parit Lantai 15, tapi mereka harus diajari cara bertarung dengan tali pengaman di jembatan rantai ini. Jangan sampai ada yang terpancing keluar dari jangkauan saling lindung hanya karena panik.”
Di dekat mereka, Shizuka berlutut di samping tumpukan kantung kulit perbekalan. Gadis tabib itu sibuk memilah daun-daun herbal pahit penahan mual dan menyusun botol-botol cairan antiseptik ke dalam sabuk medisnya. Jemarinya yang cekatan membagi daun-daun kering berwarna hijau gelap itu ke dalam kantung kain kecil untuk masing-masing prajurit.
“Kalian berdua, kunyah daun ini sebelum kita melangkah ke jembatan rantai,” kata Shizuka seraya mengulurkan dua ikat daun kering kepada Ren dan Vargas. “Udara di atas Lantai 16 sangat tipis, kering, dan dingin. Jika kalian tidak mengunyah daun perak ini untuk melancarkan aliran darah, dada kalian akan sesak dan kepala kalian akan berputar hebat dalam waktu kurang dari satu jam.”
Vargas menerima daun itu dengan seringai tipis, memasukkannya ke dalam mulut dan langsung mengernyit saat rasa pahit getirnya menyengat lidah. “Rasanya seperti getah kulit kayu busuk bercampur lada liar, tapi memang langsung membuka rongga hidung dan melegakan tenggorokan.”
Ren mengunyah daun pemberian Shizuka perlahan. Rasa pahit yang tajam menjalari lidahnya, diikuti sensasi hangat yang menyebar cepat ke pembuluh darah di leher dan dadanya, mengusir rasa pening yang sempat menggelayuti kepalanya.
Riku berjalan mendekati mereka seraya memeriksa kelenturan tali busur kayunya yang baru dipasang. Bocah pemanah itu mencabut sehelai bulu unggas dari anak panahnya, lalu melepasnya ke udara untuk mengamati arah, pusaran, dan kecepatan hembusan angin yang melintasi bibir jurang batu.
“Angin di sekitar jembatan bertiup kencang dari arah barat laut menuju tenggara,” lapor Riku dengan sorot mata tajam seorang pengintai lapangan. “Jarak pandang di tengah lapisan kabut tebal hanya sekitar lima puluh meter. Tadi kulihat ada beberapa bayangan sayap lebar yang berputar-putar di atas pulau batu kedua. Jika ada monster pemangsa udara yang bersembunyi di balik awan tebal itu, kita baru bisa melihat wujudnya saat mereka sudah menukik dalam jarak sergap.”
“Tetap pasang mata dan telingamu di barisan paling depan bersama regu pengintai, Riku,” pesan Ren seraya menepuk bahu bocah itu. “Anak panah berisimu adalah sinyal peringatan pertama bagi seluruh pasukan. Jika kau melihat pergerakan di balik kabut, segera lepaskan panah suar tanpa menunggu mereka mendekat.”
Riku tersenyum percaya diri dan mengangguk mantap, meraba tabung panah di punggungnya. “Serahkan padaku, Ren. Busur ini tidak akan terlambat melepaskan peringatan.”
Elise melangkah mendekati mereka dari arah posko logistik di sisi timur gerbang. Jubah sutra perak yang menjadi simbol kebangsawanannya kini telah ia simpan di dalam peti. Sang putri mengenakan pakaian tempur lapangan yang ringkas dari kulit binatang menara, dilapisi rompi pelat baja perak ringan yang memudahkan gerak tubuhnya saat merapalkan sihir. Di tangannya, ia memegang sebuah tabung surat tembaga berukir segel resmi ekspedisi yang telah ditutup lilin perak.
“Regu pengawal yang membawa Julius dan kristal rekam sihir sudah mulai turun menggunakan lift menara barat,” kata Elise dengan nada suara yang tenang dan mantap. “Aku telah menginstruksikan kapten pengawal Althea untuk menyerahkan seluruh laporan resmi dan bukti kejahatan perang itu langsung ke tangan dewan garnisun tetap di Lantai 1, tanpa melalui perantara keluarga bangsawan di ibukota.”
Elise melepaskan cincin emas bertatahkan batu rubi yang menjadi stempel Wangsa Althea dari jemarinya, lalu memasukkannya ke dalam kantung kecil di balik rompinya.
“Mulai detik ini, aku tidak lagi berbicara atau bertindak atas nama perintah para tetua keluarga Althea,” lanjut Elise seraya menatap Ren dan kawan-kawannya dengan sorot mata yang jernih dan tulus. “Di atas lantai ini, aku bertarung murni sebagai seorang penyihir dan anggota regu pelopor di bawah komandomu. Menara ini menyimpan rahasia kutukan yang mengancam kepunahan dunia kita. Tugas suciku adalah memastikan kita semua bisa membuka jalan menuju puncak tanpa mengulangi kebiadaban dan kemunafikan yang terjadi di lantai bawah.”
Ren menatap Elise sejenak. Di mata sang putri bangsawan, ia melihat keteguhan jiwa yang sama dengan apa yang ia rasakan: penolakan total untuk tunduk pada kebohongan hierarki kekuasaan yang mengorbankan nyawa rakyat jelata demi tahta dan emas.
“Kita akan sangat membutuhkan sihir perlindungan dan pemurnian sucimu, Elise,” sahut Ren dengan nada jujur. “Tanpa perisai cahaya dan kemampuan analisismu, kita tidak akan sanggup menahan racun, kabut ilusi, dan kutukan purba yang menanti di wilayah tak bertuan ini.”
Dua puluh prajurit pelopor yang memutuskan untuk terus mendaki mulai bangkit dari duduk mereka dan berbaris rapi di pelataran gerbang. Di punggung mereka, ransel perbekalan telah terikat kencang dengan tali rami tebal, senjata cadangan telah diselipkan di pinggang, dan mata mereka memancarkan ketetapan hati para penyintas yang telah melewati jurang maut terdalam.
Mereka tahu persis bahwa perjalanan di depan tidak akan semakin ramah. Menara Terkutuk tidak pernah berbelas kasihan kepada siapa pun yang melangkahkan kaki di anak tangganya. Di lantai-lantai atas yang belum terpetakan, kematian bisa datang dari langit yang runtuh, racun yang tak terlihat, atau monster purba yang kekuatannya melampaui Agares.
Namun kini, mereka tidak lagi melangkah sebagai budak tanpa nama atau daging umpan murah yang digiring paksa oleh ancaman cambuk para perwira tiran. Mereka melangkah sebagai satu kesatuan pasukan merdeka yang saling mempercayakan punggung satu sama lain, di bawah arahan seorang pemimpin yang selalu berdiri dan bertarung di garis paling depan.
Ren melangkah mendekati bibir tangga marmer putih yang menghubungkan pelataran gerbang dengan bentangan jembatan rantai raksasa Lantai 16.
Di dalam kepalanya, keheningan terasa begitu pekat dan nyata. Tidak ada lagi hitungan mundur tiga puluh detik yang mendesaknya dalam kepanikan maut.
Namun Ren mengingat setiap rasa sakit, setiap dinginnya tebasan sabit algojo, dan setiap robekan taring monster yang pernah menghentikan denyut jantungnya di lantai-lantai sebelumnya. Kemampuan memundurkan waktu bukanlah kekebalan ajaib yang menjamin keselamatan tanpa pengorbanan. Itu adalah kutukan ingatan yang menuntut bayaran berupa rasa sakit jiwa yang teramat berat setiap kali ia gagal melindungi rekan-rekannya.
Jika ada rekannya yang tewas di luar rentang tiga puluh detik, kematian itu akan menjadi abadi.
Satu-satunya cara untuk membawa mereka semua pulang dalam keadaan hidup adalah dengan menjaga kewaspadaan mutlak, membaca setiap jengkal pergerakan musuh, dan tidak membiarkan maut mendekat bahkan untuk sepersekian detik.
“Kaitkan tali pengaman ke sabuk zirah kawan di samping kalian, periksa kembali kelenturan busur dan kait panjat, lalu rapatkan barisan,” seru Ren, suaranya terdengar lantang dan berwibawa di tengah desau angin fajar yang menderu di pelataran marmer.
Vargas melangkah ke barisan terdepan seraya mengangkat perisai bajanya yang kokoh. Shizuka merapatkan tas perbekalan medis di pinggang kanannya dengan napas mantap. Riku menarik tali busur panahnya separuh tarikan untuk memastikan tegangan senar tetap stabil di tengah udara dingin, dan Elise mengangkat tongkat sucinya yang mulai memancarkan pendar perak lembut memayungi barisan mereka dari hembusan angin beku.
Ren menarik pedang peraknya keluar beberapa jengkal dari sarung kulitnya, memastikan bilahnya siap terhunus dalam sekejap mata, lalu menjejakkan sepatu botnya ke anak tangga marmer pertama yang mengarah ke samudra awan di hadapan mereka.
Di bawah bentangan langit menara yang luas, misterius, dan penuh ketidakpastian, barisan kecil para pejuang jelata itu melangkah maju menembus kabut putih yang dingin. Di kejauhan cakrawala yang membentang tak bertepi, puncak menara yang terbungkus lapisan awan gelap berdiri kokoh menantang mereka, menanti kedatangan jiwa-jiwa yang menolak tunduk pada keputusasaan takdir.